On 4/18/2018 09:24:00 PM by Khairul Jasmi     No comments
Bung Karno dan cintanya, rumah tempat bung karno bersama ibu fatmawati sang sejarah indonesia. Serta Mesjid segitiga dibalik dan ujung jalan.







On 4/18/2018 09:13:00 PM by Khairul Jasmi     No comments
Surveyor indonesia de Semen Indonesia. Untuk Indonesia





On 4/18/2018 09:09:00 PM by Khairul Jasmi     No comments
 Wasit

Janji

Khairul Jasmi

Janji apa yang paling mudah diucapkan? Janji bayar hutang dan pada pacar. Asal janji itu bisa melepaskan kebat, ayo saya ucapkan. Ketika ditagih? Lidah tak bertulang.

 Jelang akhir tahun kita selalu merawat dan mengulang janji.
Memperbaharui atau menutup janji. Naik pangkat, naik gaji, beli rumah, kuat beribadah, rajin baca Quran, mau berenang olahraga Nabi. Diucapkan pada istri. Ada yang dipenuhi ada yang tak mungkin. Langsung sampik kalang, istri diam menahan sejuta kata-kata yang hendak diucapkannya. Istri juga begitu, he he...

Pada tahun baru inu saya berjanji akan meresolusi diri metamorfosi diri, hilangkan sifat negatif, kebencian, serasa mencuci ulang. Janji menjadikan diri individu sosial. Gaul.
Begitu banyaknya sehingga perlu dicatat dalam satu daftar, ditempel di dinding. Seiring waktu lemnya mengering dan kertas jatuh ke lantai.
Janji suami pada istrinya, baik dimatraikan atau diperbaharuinya tiap saat adalah janji guyah. Bisa jadi asal-asalan saja bisa pula dia pelupa karena beratnya beban kerja.
Tapi apapun berjanjilaj membahagiakan pasangan dan bahagiakan diri sendiri.

Karena itu pada 2018 ini  upgradelah diri. Misalnya soal LGBT akhiri menghujat, lakukan tindakan kemanusiaan, obati rohaninya. Jika memang dia khuntsa, yaitu dalam satu tubuh dua sifat bawaan sejak lahir. Bahkan dua alat kelamin pria dan wanita. Inilah kodrat namun banyak yang lahir normal tapi karena pengaruh ia mengubah gaya hidupnya bertentangan dengan diri sejatinya. Inilah LGBT itu.

Maka di sanalah penting berikrar pada diri sendiri untuk meningkatkan kualitas hidup. Juga iman.
" Saya dulu pernah diajarkan kekasih berjanji pada diri untuk bisa melompat dari kapasitas yang sekarang, agar kemudian bisa melakukan sesuatu yang tak dilakukan bertahun-tahun sebelumnya," kata seorang anak zaman now pada saya. Itu namanya lompatan quantum. Nanti malam kau baca Yassin kata saya padanya. Ngaji. Dan saya mau meminjam motornya sudah lama sekali tak naik motor. Kangen. Dia tertawa malah katanya aku ajari bapak main musik. Padahal saya bisa tapi waktu sekolah, sekarang tidak.

Musik adalah hal baik yang bisa mengumpulkan ribuan orang. Juga bola. Sekarang ustad Somad.
Pada lautan massa itu rerbaca ada janji yang heroik. Semacam tekad pada negara dan agama.

Ini bukan janji heroik: Sekarang atau sebentar lagi akan ada janji lain yang ditebar. Calon kepala daerah, caleg, pada tahun piljanji.  Janji palsu atau mengaslikan yang lama. Piljanji adik dari pillada dunsanak pemilu.
Begitulah khatib Jumat kemarin berkata untuk 2018 lakukanlah investasi amal jangan beli rumah saja tapi modal untuk akhirat.
Harus ada perubahan hidup kata khatib, jika tidak umat Islam dalam keadaan merugi.

Kita memang nyaris mustahil menghindari dari tahun Romawi yang dikenal sebagai tahun Masehi itu. Makin menghindar kian kacau pembukuan. Yang bisa tidak merayakan old and new, pergantian tahun. Tentu berangsur-angsur. Dalam waktu berjalan itu hapal-hapal jugalah nama bulan dalam tahun Hijriah. Tidak hapalkan? Tak cocok urutannyakan? He he ngaku sahajalah...*
On 4/18/2018 09:08:00 PM by Khairul Jasmi     No comments

Wasit

Ustad Somad Lagi

Khairul Jasmi
                     

INI tulisan kedua saya soal Ustad Somad, anak Melayu itu. Yang pertama soal jasa ustad-ustad Riau zaman lampau untuk Minangkabau. Karena itu setiap orang alim di Minang disebut urang siak, padahal dia entah dari mana. Ini bermula karena orang Siak Riau banyak menjadi guru di Minang di abad lampau.


Tulisan kedua ini saya ingin melihat Ustad Abd Somad (UAS) sebagai sosok ulama.

Pertama ia punya ilmu yang dalam. Ia membaca judul kitab saja kita tergangga terus nama pengarang dan guru-guru dari pengarang itu. Ini hampir tak pernah saya dengar dari ustad lain, di tv di youtube atau dimana saja.

Kedua, menguasai empat mashab. Ia kupas mulai dari cara berwuduk, lipat tangan waktu shalat, kunut, baca bismillah, telunjuk bergerak atau tak bergerak. Kemudian salawat, maulid, sampai pada cara masuk kamar mandi. Semua kaji itu sepintas-sepintas terngiang lagi di telinga karena sudah didengar waktu di surau dulu. Kini lebih dalam dan dilihat dari 4 mashab. Ia tak merendahkan satu mashab karena semua mashab bermula oleh ulama besar. Benar UAS.

Ketiga, tiktak, lompat pikir dan cakapnya dalam satu masalah amat cepat. Mudah mencari korelasi. Di situlah muncul lucu-lucunya. Ketika bicara takdir misalnya saat ceramah di Pangkal Pinang. Jika motor sudah dirantai kemudian diikatkan ke pokok pinang, hilang juga, itu takdir. Kalau tak dirantai, kunci kontak lupa membawa lalu motor lenyap, itu lalai bukan takdir. Kita tahu itu, namun ia menyampaikan hal tersebut untuk memberi contoh pada kaji dan kutipan ayat serta hadis.

Tatkala berbicara di Minang ia memuji Hamka. Hamka dipuji di Minang? Sama dengan menghidangkan kue bolu hangat ke rumah orang Minang pagi hari. Senanglah hatinya. Ke setiap daerah berbeda ia puji ulama setempat, yang dari zaman lampau, padahal oleh warga setempat terang-terang tanah sejarahnya, oleh UAS di luar kepala. Habislah UAS kena tepuk tangan bergemuruh. Ia menguasai sejarah Islam Nusantara. Dari ustad lain kita tidak dapat hal itu.

Keempat, orang Islam awam kalau sudah disebut nama-nama negara magribi dan negara-negara di wilayah bulan sabit Timteng sana, tegak telinganya. Apalagi menyebut nama Mekkah dan Medinah. UAS sering menyebut itu berkaitan dengan penjelasannya soal ulama, sekolah, sejarah dan kondisi kontemporer. Nama-nama ulama itu dari yang termuda bertali-temali bersanad sampai ke Nabi, lancar bak reporter bola di RRI zaman lampau kala menyebut nama pemain PSMS, PSP, Persib, PSSI. Kita dibawanya ke lapangan hijau. Ia menjerit, bersorak, bola masuk, kita yang dengar radio tegang terpukau. UAS bak reporter itu meski tak sama.

Kelima, kaji UAS ditunggu. Ditunggu isinya, ditunggu sandaran hadis dan ayat Qurannya. Didengar ia membaca. Bagai air hilir saja. Ditunggu, lagi-lagi lucunya. Hanya satu pertanyaan yang tak bisa ia jawab, bolehkah mencuri listrik untuk masjid. Ia sarankan minta fatwa MUI. Pertanyaan lain nyaris tak berpikir ia jawab. Cuma saja ribuan pertanyaan menunjukkan seperti itulah pengetahuan keislaman umat Islam di Indonesia. Nyaris tak mendalam dan tak meluas ke ayat-ayat tentang alam semesta dan korelasinya dengan iptek. Ada sih yaitu soal bumi bulat atau datar.

Keenam, wajah dan suara. Wajahnya milik rakyat, suara atau kata, kontan Melayu Riau. Sukalah umat mendengarnya. Kalau saya tak salah ingat, Cak Nur yaitu Nurcholis Madjid pernah menulis, bahasa Indonesia berasal dari Melayu dipopulerkan orang Minang dan diucapkan secara benar oleh orang Batak. Kini orang Melayu itu benar yang mengaji. Masuk!

Lucu. Kalau ini tak bisa ditulis. Lucu pokoknya. Saya menyaksikan beda reaksi jamaah Indonesia dan Malaysia jika UAS sudah melucu. Jemaah Indonesia plong lepas tawanya. Berderai-derai. Di Malaysia? Tertahan. Mungkin soal rasa bahasa yang kurang tertangkap atau karena sebab lain, saya tak tahu. Meski begitu rasa hormat umat Islam Malaysia pada UAS luar biasa.

Tujuh, saya tak melihat UAS anti NKRI. Ia ulama bukan yang lain.

Delapan,
On 4/18/2018 09:06:00 PM by Khairul Jasmi     No comments

Sumpit Beras
di Kepala Mak

Khairul Jasmi

Mak bangun mendahului subuh. Menunggu azan di sajadahnya. Mak akan pergi ke pasar, berjalan kaki sekitar 3 km.
Pagi itu ia menjujung sesumpit beras, dari padi yang ia tumbuk sendiri. Mak berdagang beras, tapi hanya sesumpit kecil. Ringan saja di kepalanya.
Pagi belum  sempurna, dingin masih memeluk, Mak telah pergi, setelah menghembus api lampu togok.
Wanita perkasa ini membelah pagi, berjalan mengiringi gerak ujung sinar matahari ke arah mudik.
Hanya dia sendiri. Ibu-ibu lain di kampung kami ke pasar pergi berbelanja bukan berjualan. Mak menjujung beras dan harus terjual habis. Segalanya ada di beras itu, termasuk uang untik beli minyak tanah dan garam.
Peluh jatuh di pipi Mak, ia biarkan. Di punggung, ia biarkan. Tadi Mak berangkat meninggalkan anak-anaknya yang masih tidur. Kini saat melalui jalan mendaki, si anak masih juga tidur.
Seorang sudah bangun, anak tertuanya. Lelaki lasak jarang mandi itu, hendak menyusul Mak ke pasar. Ia ingin menyilau Mak yang berdagang dari pasar ke pasar. Selalu sesumpit beras. Selalu.
Anak bujangnya menyusul dan dari kejauahan ia intip Mak duduk nyaris terjepit dekat tonggak. Sebelah menyebelah pedagang punya lapak, Mak tidak.
Mak ringkih di antara pedagang berlapak bagai disapu angin lintang. Mak mengimbau-imbau orang lalu.
"Beras bagus, beras bagus, belilah," kata Mak.
Satu dua ada yang menawar kemudian berlalu. Sudah 20 menit si bujang berdiri melihat Mak dari jauh baru ada satu pembeli. Hangat hati Mak ia lihat. Bergegas Mak mencupaki beras. Orang itu membeli satu gantang.
Ketika jual beli selesai orang itu berlalu dan Mak tak sengaja melihat Bujang nakalnya.
Mak mengubik. Si bujang tersenyum.
"Belilah sate, mintak daging empuk, pergilah ke sana, "kata Mak. Si bujang  sebenarnya tak hendak makan sate, ia hanya ingin melihat kondisi maknya saja.
"Pergilah satenya enak," kata Mak sambil menyerahkan uang.
Si bujang, burung kelana kecil itu menikmati sepiring sate.
Di dekat tiang segi empat Maknya duduk menjual beras. Dua atau tiga jam lagi beras itu akan habis. Biasanya wanita yang sendirian bagai ular di padang pasir itu, akan membeli kebutuhan dapur untuk ia dan anak-anaknya.
Siklus ekonominya bermula dan berakhir dari pekan ke pekan.
Enam bulan kemudian wanita tersebut tak pernah lagi terlihat di pekan manapun. Ia bangkrut, pokok sudah termakan untuk kebutuhan dapur.
Mak bangkrut dan sebentar lagi pemilu. ***
On 4/18/2018 02:12:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Wasit

2018

Tahun baru telah berjalan beberapa hari tapi bagi sebagian besar kita, baru atau bukan, tak ada masalah dan tak berarti.

Bagi yang lain sangat dinanti kareja banyak sebab, satu di antaranya mungkin pergi ke kota lain untuk sekolah atau bekerja. Bekerja tetap impian yang bagus. Bekerja untuk dunia, sepotong taman nan indah. Pada 2018 dunia kita mungkin sama atau berbeda sama sekali. Apapun itu semoga tak ada gempa di daerah kita.  Gempa jangan disebut juga, trauma kita belum terobati.
Kita memang sering diguncang gempa; ekonomi, budaya, demokrasi, kesehatan dan hujan lebat lalu banjir. Gempa ekonomi itulah yang paling merisaukan. Risau hati kalau tanggal terus berjalan uang tak juga ada. Atau uang makin menipis sementara kehidupan harus berjalan terus.
Tahun 2018 adalah rentangan masa ke depan yang bagi dunia bisnis sebuah tantangan. Pasar makin sulit sebab pemain  makin ramai. Sema mau berjualan. Apa saja dijual, termasuk kapasitas dirinya untuk jadi kepala daerah.
Itulah dia pilkada Padang, sebentar lagi akan dipilih. Siapa yang akan menang pastilah pasangan yang disukai pasar yaitu warga kota. Saat ini para pedagang sudah mulai berteriak-teriak, "belilah, belilah..."
Siapa yang akan membeli? Rakyat yang sudah berumur. Yang sudah boleh masuk bilik pemilihan. Di sana ada paku dan gambar calon pemimpin kota. Tusuk saja.
Memilih pemimpin pasti menguntungkan mereka yang menang. Masalah harapan yang ditumpangkan pada pasangan menang belum tentu akan direalisasikannya. Memenuhi janji bukanlah pekerjaan gampang.
Yang susah-susah itulah hidup. Susah kerja, susah beribadah, susah menolong dan susah minta tolong, apalagi meminjam, tapi lebih sulit membayar hutang.
Saya selalu kaget ketika sudah datang saja hari Kamis, padahal baru kemarin rasanya menulis untuk kolom Wasit Garis ini. Begitu cepatnya waktu berlalu. Itulah yang saya alami sepanjang pekan, bulan dan tahun dan sekarang sudah 2018. Betapa waktu berlalu sedemikian hebat, tajam dan ligat.
Lalu apa bekal yang dibawa ke 2018? Ada dan tak ada. Yang dibawa, pasti, harapan. Harapan atas hal-hal yang baik. Kata pemerintah Indonesia akan semakin baik namun kata orang bank, ekonomi sekarang memang sulit. Sulit ya?
Yang gampang ada, membelanjakan uang yang berlebih. Lihatlah calon-calon kepala daerah, belanja saja kerjanya. Beli ini, beli itu. Sumbang sini, sumbang sana. Lihatlah orang yang sudah kaya, atas keringatnya, ia diberi rezeki lalu menyumbang kemana-mana atau raun kapan ia suka.
Kami kemarin raun ke Danau Kembar. Menghibur hati duniawi. Salah? Apanya yang salah, benarlah. Menghibur diri dengan datang ke alam yang indah ciptaan Tuhan adalah suatu bentuk syukur. Membaca ayat-ayat alam di dunia yang luas ini.
Dunia ini belum luas benar sebab alam rayalah yang maha luas.
Bumi belum ada apa-apanya. Jika pohon-pohon di bumi jadi pena dan laut jadi tinta ditambah 7 laut lagi niscaya tdk habis-habisnya ditulis kalimat-kalimat Allah.

Saat ini diketahui ada 13 galaksi masing-masing terdiri dari miliran bintang. Ke 13 itu masih disebut galaksi kecil. Yang tertangkap teropong saat ini ada 100 juta supergalaksi. Belum lagi yang tidak terteropong.
Jadi memang bumi tak ada apa-apanya dan semua pohon dan air di bumi hanyalah "sedikit" untuk menuliskan bahwa Tuhan itu absolut.
Itulah yg hendak disampaikan oleh Surah Lukman/31:27
Nah, ebat pula saya ya.
Nikmati 2018. *
On 4/18/2018 01:39:00 AM by Khairul Jasmi     No comments
Menghadiri pisah sambut Kapolresta padang kombes Pol. Khairul Aziz  dengan AKBP Yalman Tri Himawan.






Fotografer by : Prof Garefri, Eki, Arif dan Humas Polresta.