On 12/31/2017 08:38:00 AM by Harian Singgalang     No comments

Entah kenapa belakangan saya gandrung melihat video ustad Somad di Youtube. Sesekali Tak tuntung, Takicuah di nan Tarang dan  Quizas Quizas dari Andrea Bocelli. Pada ketika lain lagu Piala Dunia Afrika,  Waka Waka oleh Shakira. Hahai. Sering pula nonton di XXI. Apalagi HBO di televisi sepulang kerja tengah malam.

Semua itu menghibur saya dengan aduhai. Video Abdul Somad? Membuat saya menangguk-angguk. Saya termasuk orang yang sok tahu soal agama tapi oleh Abdul Somad saya takluk. Tak ada kajinya yang bisa saya debat. Amat menarik. Anak Riau ini hebat dan seketika saya teringat urang siak.

Urang siak. Mungkin generasi zaman now tak tahu maksudnya. Saya anak desa dari zaman "lampau" akrab dengan sebutan itu. Jika ada hajatan dan ustad berdoa di rumah, maka ustad itu adalah urang siak. Selain urang siak saya juga kenal pakiah yaitu anak sekolah agama yang masuk kampung membawa buntil dan minta sumbangan untuk kelangsungan sekolahnya.

Di rumah orang Minang selalu ada bareh ganggam yaitu segenggam beras yang diambil dari alokasi yang akan ditanak. Beras itu disimpan dalam tabung bambu. Kalau pakiah tiba maka beras itu diberikan padanya ditambah sedikit uang. Adakalanya diajak juga makan ke rumah. Ibu-ibu Minangkabau benar-benar penyayang.

Sedang urang siak adalah kelompok ustad yang mensiarkan Islam ke sini. Urang siak artinya orang alim. Benar ungkapan ini bermula ketika orang-orang alim datang dari Siak Indragiri, Riau ke Minangkabau. Mereka mengajarkan agama di surau, masjid dan berdoa dari rumah ke rumah. Sejak itu siapapun dia disapa urang siak.

Saya teringat sebutan urang siak memang karena melihat  video ustad Abdul Somad viral. Ulama muda dari Riau itu, ayunan kajinya seirama dengan pemahaman orang Indonesia. Tak menghujat dan tak memaksakan paham tertentu. Ia lebih menjelaskan paham demi paham, ajaran imam dan imam. Jangan salah menyalahkan jangan merasa benar sendiri. Maka Abdul Somad disukai umat, meski di Bali tempo hari sempat dipersekusi.
Somad punya kutipan-kutipan ilmiah dan lucu. Pasar menghendaki ada sisi-sisi lucu dalam satu pengajian agar jemaah tidak jenuh.

Saya tak tahu apa ustad ini orang Siak, yang pasti Melayu. Ulama muda Melayu ini, menjadi menarik karena pengetahuannya luas. Jika saja dia orang Minang, betapa indahnya.

Cuma saya khawatir Somad bisa easy come, easy go, bak meteor, cepat datang, cepat pula pergi, sebab umat cepat bosan. Karena itu tentu ustad Somad harus memperkaya materi pengajiannya terus-menerus seperti ia belajar ke Mesir dan Maroko, dua negara magribi itu.

Urang siak bagi saya adalah orang alim dan Somad adalah generasi baru dari mereka. Riau ternyata punya peran besar dalam syiar Islam di Minangkabau. Buktinya itu, sebutan urang siak. Lalu kapan Minangkabau punya ustad tipikal Somad? Tentu ada masanya. Kapan? Entah***


Khairul Jasmi
Dimuat di kolom Wasit Garis Singgalang edisi Minggu 17 Desember 2017.
On 12/31/2017 01:12:00 AM by Harian Singgalang     1 comment
Ini tulisan kedua saya soal Ustad Somad, anak Melayu itu. Yang pertama soal jasa ustad-ustad Riau zaman lampau untuk  Minangkabau. Karena itu setiap orang alim di Minang disebut urang siak, padahal dia entah dari mana. Ini bermula karena orang Siak Riau banyak menjadi guru di Minang  di abad lampau.

Tulisan kedua ini saya ingin melihat Ustad Abd Somad (UAS) sebagai sosok ulama.

Pertama ia punya ilmu yang dalam. Ia membaca judul kitab saja kita tergangga terus nama pengarang dan guru-guru dari pengarang itu. Ini hampir tak pernah saya dengar dari ustad lain, di tv di youtube atau dimana saja.

Kedua, menguasai 4 mashab. Ia kupas mulai dari cara berwuduk, lipat tangan waktu shalat, kunut, baca bismillah, telunjuk  bergerak atau tak bergerak. Kemudian salawat, maulid, sampai pada cara masuk kamar mandi. Semua kaji itu sepintas-sepintas terngiang lagi di telinga karena sudah didengar waktu di surau dulu. Kini lebih dalam dan dilihat dari 4 mashab. Ia tak merendahkan satu mashab karena semua mashab bermula oleh ulama besar. Benar UAS.

Ketiga, tiktak, lompat pikir dan cakapnya dalam satu masalah amat cepat. Mudah mencari korelasi. Di situlah muncul lucu-lucunya. Ketika bicara takdir misalnya saat ceramah di Pangkal Pinang. Jika motor sudah dirantai kemudian diikatkan ke pokok pinang, hilang juga, itu takdir. Kalau tak dirantai, kunci kontak lupa membawa lalu motor lenyap, itu lalai bukan takdir. Kita tahu itu, namun ia menyampaikan hal tersebut untuk memberi contoh pada kaji dan kutipan ayat serta hadis. 

Tatkala berbicara di Minang ia memuji Hamka. Hamka dipuji di Minang? Sama dengan menghidangkan kue bolu hangat ke rumah orang Minang pagi hari. Senanglah hatinya. Ke setiap daerah berbeda ia puji ulama setempat, yang dari zaman lampau, padahal oleh warga setempat terang-terang tanah sejarahnya, oleh UAS di luar kepala. Habislah UAS kena tepuk tangan bergemuruh. Ia menguasai sejarah Islam Nusantara. Dari ustad lain kita tidak dapat hal itu.

Keempat, orang Islam awam kalau sudah disebut nama-nama negara magribi dan negara-negara di wilayah bulan sabit Timteng sana, tegak telinganya. Apalagi menyebut nama Mekkah dan Medinah. UAS sering menyebut itu berkaitan dengan penjelasannya soal ulama, sekolah, sejarah dan kondisi kontemporer. Nama-nama ulama itu dari yang termuda bertali-temali bersanad sampai ke Nabi, lancar bak reporter bola di RRI zaman lampau kala menyebut nama pemain PSMS, PSP, Persib, PSSI. Kita dibawanya ke lapangan hijau. Ia menjerit, bersorak,  bola  masuk, kita yang dengar radio tegang terpukau. UAS bak reporter itu meski tak sama.

Kelima, kaji UAS ditunggu. Ditunggu isinya, ditunggu sandaran hadis dan ayat Qurannya. Didengar ia membaca. Bagai air hilir saja. Ditunggu, lagi-lagi lucunya.  Hanya satu pertanyaan yang tak bisa ia jawab, bolehkah mencuri listrik untuk masjid. Ia sarankan minta fatwa MUI. Pertanyaan lain nyaris tak berpikir ia jawab. Cuma saja ribuan pertanyaan menunjukkan seperti itulah pengetahuan keislaman umat Islam di Indonesia. Nyaris tak mendalam dan tak meluas ke ayat-ayat tentang alam semesta dan korelasinya dengan iptek. Ada sih yaitu soal bumi bulat atau datar.

Keenam, wajah dan suara. Wajahnya milik rakyat, suara atau kata, kontan Melayu Riau. Sukalah umat mendengarnya. Kalau saya tak salah ingat, Cak Nur yaitu Nurcholis Madjid pernah menulis, bahasa Indonesia berasal dari Melayu dipopulerkan orang Minang dan diucapkan secara benar oleh orang Batak. Kini orang Melayu itu benar yang mengaji. Masuk!

Lucu. Kalau ini tak bisa ditulis. Lucu pokoknya. Saya menyaksikan beda reaksi jamaah Indonesia dan Malaysia jika UAS sudah melucu. Jemaah Indonesia plong lepas tawanya. Berderai-derai. Di Malaysia? Tertahan. Mungkin soal rasa bahasa yang kurang tertangkap atau karena sebab lain, saya tak tahu. Meski begitu rasa hormat umat Islam Malaysia pada UAS luar biasa.

Tujuh, saya tak melihat UAS  anti NKRI. Ia ulama bukan yang lain. 

Delapan, tiba-tiba saja nyaris semua umat suka dia. Di Aceh ia disambut amat meriah. Orang Aceh saja menghormatinya, apalagi daerah lain. Semua daerah basis Islam memberlakukan UAS seperti itu. Ulama dan profesor menulis soal UAS dan dibagi-bagi di medsos. Itu artinya ia milik umat. 

Sembilan, ia menyebut ibunya sesekali dalam pengajian. Menyebut ayahnya, menyebut gurunya dan teman-temannya. Sebagai wartawan saya yang tak di Riau ingin membaca reportase soal bagaimana keseharian ibu UAS.

Ustad yang sedang memberi pengajian adalah pemegang kendali seperti seorang host sedang membawa  acara di tv. Saya waktu jadi host kalau saya lucu atau tegas benar-benar berpengaruh pada audiens karena hostlah yang mereka perhatikan. UAS juga begitu, kala ia berkisah soal ibunya maka semua jemaah ingat ibunya. Ia menularkan sedang "sesuatu" yaitu hormat pada ibu.

Sepuluh, meski ada terlanjur-terlanjurnya tapi UAS cakap menjaga keseimbangan terutama soal politik. Kini ia dijaga oleh penasihat hukumnya Kapitra Ampera yang pernah jadi calon gubernur Sumatera Barat itu. 
UAS tidak mengerdilkan iptek dan politik. Katanya iptek penting bagi kemajuan umat Islam, sesuatu yang dihindari berabad-abad di mimbar sehingga umat Islam hanya tahu nama Ibnu Sina tapi tak tahu sejarahnya. Politik penting demi umat.

Sebelas, kelemahannya atau sengaja saya tak tahu, pada beberapa bagian di setiap pengajiannya ada materi yang berulang. Juga guyonnya sehingga ketika pengulangan terjadi, jemaah sudah tak tertawa. Pengulangan itu tentu tak terperhatikan oleh semua orang dan mungkin perlu. Bukankah //lanca kaji dek diulang pasa jalan dek ditampuah//.

Duabelas, suaranya merdu kalau ngaji. UAS tahu itu.

Padang 31/13/2017

KJ/Khairul Jasmi
On 11/05/2015 04:23:00 AM by Harian Singgalang Padang     1 comment
PADANG – Bedah visi dan misi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar yang diselenggarakan Forum Editor (FEd) Sumbar, Rabu (11/4) di aula gubernuran mulai agak ‘panas’.
Saat membahas pembangunan infrastruktur contohnya. Calon Gubernur No. Urut 2, Irwan Prayitno tak sependapat dengan ide pengembangan infrastruktur desa dan nagari yang dicanangkan Calon Gubernur No. Urut 1 Muslim Kasim.
Menurut Irwan, infrastruktur di nagari dan desa tanggung jawab pemerintah kabupaten dan kota. Pemerintah provinsi hanya mengkoordinasikan dan membantu alokasi anggaran. Irwan mengemukakan, pihaknya akan mengutamakan pembangunan jalan tembus antar kabupaten dan kota yang sudah mulai dikerjakan.
Sementara MK tetap bersikeras keterlibatan Pemprov dalam bentuk mendorong dan sinkronisasi. Toh, katanya selama ini gubernur dengan bupati/walikota sering jalan sendiri-sendiri. Menurutnya pembangunan itu dimulai dari nagari dan terus berkembang hingga ke Sumbar.
Begitu juga soal mitigasi bencana. Dalam dialog yang dipandu Khairul jasmi itu, calon Wakil Gubernur  Fauzi Bahar tak sepakat dengan kata sosialisasi saja bagi masyarakat yang dilontarkan Nasrul Abit. Menurutnya, diperlukan pelatihan dan simulasi, agar saat bencana terjadi masyarakat sudah tahu apa yang akan dilakukannya.(aci)
On 5/05/2015 08:35:00 PM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
“Oh Indonesia, Sumatera? Ya ya tsunami,” kata dua ibu rumah tangga asal Jepang dalam bahasa Inggris yang sama tak lancarnya dengan saya. Meski ibu rumah tangga tapi keduanya masih muda, pasutri. Salah seorang bernama Aiko Nakagawa dari Nagoya.
“Saya ingin ke Bali,” katanya yang diamini temannya. Keduanya kami temui di Paina Lanai Food Court pada mall kompleks Hotel Sheraton Waikiki, saat makan Kamis malam. Aiko dan orang Jepang lainnya mengenal Sumatera karena tsunami.
Saya memesan nasi goreng, teman-teman pesanannya berbeda pula. Orang Jepang ini memesan makanan yang saya tidak tahu namanya.
Di Hawaii saya melihat ada menu makanan bali seefood dan banyak yang suka.
Jika dari Jepang ke Honolulu ditempuh 7,5 jam maka ke Bali sekitar 9 jam jika tanpa transit. Karena jarak itu maka tak heran Hawaii dipenuhi turis Jepang. Di Hawaii ditemukan sejumlah kemudahan misalnya di Sheraton gratis menelepon satu jam ke kampung halaman turis. Juga gratis selama itu pula ke mana saja dalam negara Amerika. Ada Ipad di kamar. Semua hotel non smoking room, sarapan pagi pakai antre di pintu masuk demi menyerahkan kupon makan. Kemudian Anda kita akan diantar ke meja.
Di sini pajak pembelian barang hanya 4 persen. Di Singapura untuk barang-barang tertentu pajak akan dikembalikan pemerintah setempat kepada kita sesaat hendak pulang di bandara, asal ada struk/kuitansi pembelian.
Meski pajak 4 persen tapi semua barang harganya mahal. Teman saya membeli korek api harganya jika dirupiahkan jadi Rp25 ribu. Makan untuk lima orang terbayar 56,29 dollar atau 12 dollar per orang sekali makan ekuivalen Rp150 ribu/ orang sudah termasuk air mineral tapi tak ada tambuah.
Makan seharga Rp150 ribu sebangsa nasi goreng kalau di Padang bisa dibalikkannya meja oleh pelanggan. Namun begitulah kenyataannya kalau di Hawaii. Di Singapura juga demikian.
Semua memang mahal. Baju kaos Rp50 ribu atau Rp100 ribu di Padang di Hawaii dijual Rp500 ribu kalau bahasa lainnya setengah juta rupiah. Seorang teman melihat-lihat tarif spa di hotel; 315 dollar untuk 90 menit. Ia tak berminat, jika saja ia mau, akan saya bilang, “ancak bali sawah di kampuang lai kalau sagitu biayanyo.” He he he…
Karena itu ia bergegas saja ke kamarnya dan saya ke kamar saya menghempaskan badan di kamar senilai 500 dollar semalam atau Rp6,5 juta lebih. Ini sawah pun bisa dibeli sebab saya di Hawaii empat malam.
Meski agak lama juga di Hawaii tapi saya tak tahu nama-nama tempat. Saya juga tak pernah melihat polisi dan tentara. Tak ada baliho pejabat, tak ada spanduk kurangi makan beras dan makanlah ubi seperti di Padang.
Demikian sedikit kiriman dari Hawaii. Oleh-oleh dari Las Vegas dan San Francisco akan saya tulis sesampai di Tanah Air tercinta tentu setelah penat saya lepas sebab untuk ke Amerika saya naik pesawat 8 kali pulang pergi selama 40 jam di luar transit. (habis)
On 5/05/2015 08:34:00 PM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
Sarawa hawaii adalah celana pendek selutut atau di atasnya lagi, pakai kajai di pinggangnya. Ciri khasnya warna-warni. Tak saya temukan kisah khusus tentang celana hawaii itu. Tapi ini adalah riwayat celana yang simpel untuk berenang di pantai atau untuk sehari-hari.
Di Hawaii namanya bukan celana hawaii, seperti lauak di Padang yang di darek namanya ikan Padang. Lalu apa namanya di Hawaii? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu ada cerpen berjudul “Kisah Sebuah Celana Pendek,” karya Idrus yang menceritakan tentang Kusno yang miskin.
Tepat pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana pendek. Celana kepar 1001, made in Italia. Bertahun-tahuh kemudian ia tak mampu membeli benda serupa, meski sudah bekerja.
Begitulah pada hari ini , Rabu (8/4) saya kembali jalan-jalan di Hawaii. Ke kawasan kawah gunung yang sudah jadi kompleks perumahan elite. Gunung purba itu bukan gunung lagi karena sudah tak ada gunungnya. Meletus dengan dahsyatnya entah berapa ribu tahun silam. Pemandangan di sana memang indah. Ingin saya ke sana lagi. Apalagi di Hawaii pelangi muncul tiap hari.
Sebelumnya saya ke istana raja Hawaii yang rajanya juga sudah tidak ada. Berfoto di depan patung raja dan patung ratu. Raja Kameha Meha hanya tinggal nama. Hawaii kini adalah Amerika di tropis. Di sini segala tak boleh, penat pula saya mengikuti aturan mainnya. Tapi yang tak boleh di sini boleh di Hawaii, misalnya berpakaian dalam saja hilir mudik. Apa hendak di kata.
Dan saya sudah lapar lantas makan siang di restoran Asuka Japanese di Jalan Waialae. Hidangannya shabu-shabu, enak. Anak pemiliknya palai celana hawai, anak gadis! Selera makan saya muncul karena ada nasi mix beras putih dan merah. Dekat mana resotoran tersebut? Manalah saya tahu, tapi ada tandanya, dekat Hawaiian Bank yang sudah ada jauh sebelum bank tertua di Indonesia didirikan. Bank ini berdiri 1857.
Di kawasan ini ada restoran Meksiko, Vietnam dan tidak Indonesia. Bertemu nasi terasa indah. Selesai makan aduh mak, mau perang Amerika dan Jepang silahkan saja, terserahlah, begitu benarlah.
Di mobil saya cari-cari lagi sejarah sarawa Hawaii di google tapi tak bertemu. Yang ada “jual celana Hawaii kodian.” Atau “grosir celana Hawaii Jakarta.” Tapi di hotel tempat saya menginap orang bercelana Hawaii sansai saja hilir mudik.
Sarawa pendek saja amat terkenal sampai ke Padang. Benar-benar hebat promosi Hawaii, bahkan sudah jadi bahasa sehari-hari di kalangan kita di Indonesia, juga di Padang. Misalnya “Oi jan basarawa hawaii se kalua rumah sagan wak jo urang,” kata seorang ibu pada anak gadisnya.
Lebih bagus Bunaken
Pada Rabu (8/4) saya dan rombongan mencoba menikmati pemandangan bawah laut; Atlantis Submarine. Selama 45 menit di bawah laut dengan kapal selam kepala saya nyaris terantuk karena kantuk yang tak tertahankan. Tak ada pemandangan apapun, ikan juga tak seberapa, yang lucu hanya pemandu di kapal, juga bocah-bocah keturunan India. Oleh seseorang saya disangka ayah si bocah atau mamaknya.
“Hidung Anda mirip,” katanya. Saya jawab bukan. “Hidung kalian mancung,” katanya lagi. Ha ha ha.
Balenong 45 menit di bawah permukaan laut dan saya tak bisa menahan kantuk, itu artinya tak ada apa-apanya di sana, kecuali bangkai-bangkai kapal.
Semua orang Indonesia di kapal selam itu bilang, Bunaken di Manado jauh lebih bagus dibanding bawah laut Hawaii. Saya setuju sekali, meski belum pernah ke Bunaken. Rugi saya waktu di Manado enggan ikut bersama teman-teman ke Bunaken.
Lalu apa yang dijual orang Hawaii? Ombaknya, anginnya, pantainya, tertibnya, tariannya serta obyek wisata lainnya. Apalagi? Hotelnya, makanannya, jalanan yang rapi, bus wisata dan angkutan kota yang lalu setiap sekian menit. Apalagi?
Privasi pengunjung, informasi yang lengkap, buku dan panduan wisata ada di mana-mana. Apalagi? Apa saja yang membuat pendatang nyaman, termasuk celana hawaii yang terkenal itu. Dan celana hawaii saya, dibawa sampai ke Hawaii maka bercelana hawaii pula saya di sini he he…
Besok saya akan membuat laporan terakhir dari Hawaii, laporan selanjutnya tentang Las Vegas dan San Francisco akan disuguhkan sepulang ke Tanah Air. Menulis ke menulis saya, habis pulsa saya ha..ha..(khairul jasmi)
On 5/05/2015 08:34:00 PM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
Selasa (7/4) seorang anak lelaki, entah dari mana, tapi hati saya berdetak dia anak Amerika, serius sekali melihat maket kapal induk bangsa itu yang pada 7 Desember 1941 luluh lantak dilanyau bom-bom Jepang. Maket itu terletak dalam USS Arizona Memorial yang dibangun di atas kapal perang yang jadi sasaran Jepang. Saya menyaksikan anak itu dekat-dekat, tapi ia tak terganggu sama-sekali.
Pada Selasa kemarin (Rabu WIB), saya sampai di Pearl Harbor agak terlambat, sekira pukul 01.00. Naik kapal kecil, melaju agak ke tengah dan sampailah penumpang kapal di museum pahit itu. museum bisu tersebut menyisakan bangkai-bangkai kapal dan di dalam museum disusun nama-nama korban, pedih mata membacanya karena terlalu banyak.
Memang pada 7 Desember 1941, armada laut Jepang mengaramkan Pearl Barbor. Serangan mendadak itu, menggetarkan Washington karena instalasi militernya di Oahu, berkeping-keping, menyisakan darah. Serangan bergelombang itu berkekuatan 253 armada. Serangan pagi itu dilakukan di bawah perintah Laksamana Madya Chuichi Nagumo. Akibatnya seluruhnya, 21 kapal armada Pasifik tenggelam atau rusak, kerugian pesawat terbang 188 musnah dan 159 rusak, Orang Amerika yang tewas 2.403, termasuk 68 orang sipil. Begitulah, pokoknya Amerika tak berkutik, mati kutu di tengah laut biru itu. Baru beberapa tahun kemudian Paman Sam bisa membelas dengan menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Bom jatuh, Jepang menangis dan tak lama benar kemudian Indonesia merdeka.
Saya sudah lama ingin mendatangi situs bersejarah ini, tapi karena letaknya di Hawaii, tak mungkin saya bisa ke sana. Saya puas dengan melihat film ditambah pelajaran di bangku sekolah dulu. Tapi kini saya hadir di lokasi itu, menatap laut, melihat bangkai-bangkai kapal Amerika, memperhatikan wisatawan Jepang dan Amerika yang termagu melihat situs-situs tersebut. Saya tentu tak termagu, karena sebenarnya, museum itu adalah keniscayaan sejarah. Sebelum ke tengah laut, saya menyasikan film dokumenter tragedi Amerika itu terlebuh dahulu. Baru kemudian ke lokasi duka cita tersebut.Saya melihat rombongan siswa SMA Amerika berkunjung , sembari membawa karangan bunga duka cita. Lama benar duka cita itu terpahat di hati bangsa tersebut.
Balik ke darat saya masuk museum, foto-foto tragedi dipajang, radar, serpihan kapal, baju berdarah-darah milik petugas medis serta semua hal tentang poin penting Perang Pasifik yang menyeret Amerika masuk kancah Perang Dunia II.
Selesai di sana wisatawan disambut toko souvenir. Saya tak membeli apa-apa berat tangan saya mengeluarkan pecahan 100 dolar, he he he. Tapi tiba-tiba mata saya menangkap koran yang dijual. Koran itu Honolulu Star-Bulletin, edisi Sunday 7 Desember 1941. Headlinenya, War! Oahu Bombed By Japanase Planes.
“Ini baru berita,” kata saya dalam hati. Koran ini pasti dicetak tergesa-gesa dicetak 19 halaman. Isinya total tentang Pearl Harbor. Halaman terakhir merupakan galeri foto kapal- kapal yang binasa dengan asap hitam membubung.
Ada lagi koran St Louis Star Times edisi 8 Desember 1941. “War Declared”. Koran 28 halaman ini juga banyak bercerita soal perang di di Pasifik.
Saya termagu kenapa koran 1941 masih dijual pada 2015 atau 74 tahun kemudian. Rupanya plat koran itu masih disimpan dan dicetak ulang terus menerus dalam oplah terbatas. Ini gunanya arsip bisa membawa orang masa kini ke masa lampau.
Pearl Harbor hari ini bukan lagi tentang medan perang, bukan lagi soal duka dan balas dendam. Tanah dan laut itu sekarang adalah obyek wisata yang dikunjungi puluhan juta orang setiap tahun.
Adalah bisnis mulai dari karcis tanda masuk, mainan kunci, kaos, travel, taksi, makanan, serta banyak lagi. Inilah sejarah yang brandnya sangar hebat dan akan laku dijual sepanjang masa, selaris dokter ahli kandungan, selaris kopi dan selaris apa saja yang lekas terjual.
Tentu saja saya beruntung bisa ke tengah- tengah samudera ini. Bisa menyaksikan banyak hal termasuk petunjukan tarian hula-hula polinesia.
Hawaii memang tentang bisnis, sehingga pengunjung lupa apa makanan pokok orang sini. Wisatawan tak peduli apakah di sini ada desa. Saya malah lupa Universitas Hawaii yang di sana pernah mengajar Edy Utama, Mak Katik Darizal dan Hasan. Mereka jadi dosen tamu untuk kebudayaan, randai dan saluang.
Saya juga lupa membawa kacamata hitam ke Pearl Harbor sehingga tak bisa menggaya.
Saya meninggalkan kancah perang berkecamuk zaman lampau itu, tapi turis terus datang dan datang ke sana. Tak ada buku tamu tak ada catatan apapun tentang kita yang tiba, yang ada catatan orang nan pulang. Berkisah tentang sesuatu yang hebat dan menakutkan pada masa lalu. (Bersambung)
*) bagian 3, jalan-jalan ke Amerika April 2015
On 5/05/2015 08:33:00 PM by Harian Singgalang Padang in     4 comments
HAWAII – Saya di Honolulu, Hawaii sekarang. Sejak berangkat Senin (6/4) sudah dilewati siang dan malam, sesampai di sini malah masih Senin (6/4), padahal di Padang, sudah Selasa (7/4). Tanpa sadar saya kabari istri, “mendarat di Honolulu.” Tentu saja tak ada jawaban, sebab di kota kita ini masih pukul 03.00 dinihari. He he he, bertambah muda saya sehari.
Hawaii memang aduhai. Ibukotanya Honolulu, tertata rapi, lalu lintasnya tentu saja tidak kusut masai. Mobil-mobil setir kiri melaju tertib tanpa tat tit tut, seolah-olah kabel klaksonnya putus.
Dari bandara kami diarak oleh orang travel ke hotel, tapi singgah di sana sini. Hal pertama yang amat membuat saya bertanya-tanya, mengapa keras benar hati orang datang ke sini, kan ada obyek wisata lain di dunia, seperti Bali. Ternyata orang datang bukan karena obyek semata, melainkan kedamaian hati.
Maka damailah hati saya di sini. Sejuk, nyaman, tenteram. Suasana itu terasa tatkala kami mendarat di Bandara International Honolulu Senin (6/4) sekitar pukul 08 pagi.
Ketika turun, pilot Japan Airlines melambai tak henti-hentinya, dari kokpit ia melakukan hal itu sampai semua penumpang turun. Mungkin karena ini penerbangan jarak jauh, jadi perlu dilambai. Di imigrasi pemeriksaan tidak ribet, sehingga wisatawan cepat bisa berkumpul di lobi kedatangan.
Setelah sebentar berkeliling kota, ke pintu angin di bukit Nu’uanu Pali, pantai Waikiki tempat bule berlibur dan bersenda gurau. Lalu ke makam pahlawan Perang Dunia II. Tak lama kemudian saya dan rombongan santap siang di Buca, restoran Itali.
Tak ada nasi, tapi saya kenyang. Berselang kemudian kami ke hotel Sheraton Waikiki, tapi proses chek in lama sekali, karena datang agak kepagian. Hotel ini terletak di bibir pantai. Hotel yang ramai oleh wisatawan.
Tapi Hawaii memang aduhai. Ibukota ini terletak di Pulau Oahu yang waktu saya datang, angin bertiup kencang. Bagi saya yang menarik adalah rumah-rumah penduduk yang sebagian terbuat dari kayu. Sederhana. Rumah itu tersusun rapi di pinggang-pinggang bukit.
Pantai Waikiki
Saya diberi kamar yang lega, di lantai 24 hotel Sheraton Waikiki. Dari Balkon kamar 2436 saya memandang jauh ke bawah. Tak panjang benar, tapi orang sini pandai menjualnya. Semacam teluk kecil, tempat camar berhenti terbang. Di sini bukan camar, tapi orang yang berhenti dari rutinitas yang menyesakkan dada.
Ketika saya duduk di Balkon, tiba-tiba hinggap seekor merpati. Benar kata orang, jinak-jinak permati, makan di tangan. Saya sentuh, burung ini diam saja. Lalu kemudian ia menukik seperti menggergaji angin.
Pantai ini lindang oleh turis yang berselancar, berenang, berlari-lari, berjemur matahari. Ombak Samudera Pasifik ini, sama saja dengan ombak Samudera Hindia yang menghempas-hempas di Pantai Padang. Cuma ini, tak hempasnya yang sekuat di Padang.
Pantai ini seperti halaman depan rumah para turis. Senyatanya, memang menjadi halaman depan sejumlah hotel bintang lima, satu di antaranya hotel tempat saya dan rombongan menginap.
Masih dari balkon kamar hotel ini, terlihat dengan jelas di bawah sejumlah kolam renang yang ramai oleh turis yang mandi-mandi. Beberapa di antaranya sedang berbulan madu. Ada payung-payung berwarna merah, tapi bukan tenda eper seperti di kota kita.
Jujur saya membayangkan berada pada sebuah balkon kamar hotel di Bukit Gunung Padang, kok bisa mirip ya? Bangunlah hotel di sana kalau tak percaya, bahkan akan lebih indah dari hotel di Hawaii ini. Nah cobalah buat agak satu di sana kalau tak percaya. Mungkin Pak Walikota Padang sudah punya rencana.
Di sini sudah pukul 18.00 Senin atau pukul 11.00 WIB Selasa, tapi langit terang seperti baru saja siang. Sinar matahari yang melimpah itu, menjadi hadiah bagi pelancong. Apalagi Suhu sekitar 20 derajat Celsius, angin sepoi, maka lengkaplah nikmat sebuah wisata yang mahal itu.
Saya harus pergi makan malam, pintu kamar ditutup, kalung bunga yang disorongkan ke leher saat baru datang tadi, saya gayutkan di sandaran kursi. Berapalah harga bunga itu, tapi saya bangga dikalungi bunga dengan sikap takzim oleh orang Hawaii. Kita juga bisa membuat orang luar bangga, tapi kita malah sering menyengkelkan. Ah, selalu saja suka menjelek-jelekkan kampung sendiri, ciri-ciri orang Indonesia. Ya sudahlah.
Ya egp alias emang gue pikirin, yang jelas saya sudah berada di Roy’s kafe, mencicipi makanan ala Hawaii, lokasi kafe hanya terpaut beberapa meter dari hotel saya.
Kafe ini penuh, tempat-tempat sudah dipesan. Inilah gaya Hawaii yang banyak duit karena wisatawan. Menurut catatan setidaknya 20 jutaan turis datang ke sini setiap tahun, atau sekitar 4 kali lipat kunjungan ke Bali. Karena itu jangan heran, tiap sebentar pesawat mendarat di bandara kota Honolulu.
Indonesia dengan Balinya berusaha menyusul kunjungan wisata Hawaii yang tinggi itu. Semoga saja bisa, sebab Hawaii yang bagai apuang-apuang tengah di samudera, bisa dikunjungi puluhan juta orang per tahun, apalagi Indonesia. (khairul jasmi)