On 12/29/2010 07:14:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
RATUSAN ribu orang
berkaos merah “Garu da di Dadaku”, memadati dalam dan luar Gelora Bung Karno (GBK). Detik demi detik berlalu, orang berjubel berjalan bagai belalang Afrika.
Menerobos kesumpekan, menguak kebuntuan massa yang haus akan kebanggaan. Rabu (29/12) Jakarta telah mulai rebah menuju senja. Stadion itu telah padat, sementara di luar orang terus berdatangan.
Pertandingan pun dimulai dengan kumandang Indonesia Raya. Merinding saya melihat dan mendengar orang sebanyak itu membawakan lagu kebangsaan.

Saya menyaksikan penoton yang sedang dilanda euforia. Tapi, itu tak membantu. Lihat sajalah menit demi menit berlalu, Indonesia tidak berhasil merobek gawang Malaysia. Sia-sia saya membeli baju “Garuda di Dadaku”. Bola terus disepak dan kedua kesebelasan sedang adu nyali. Inilah bola, inilah permainan rakyat itu.
Tadi saya ragu untuk masuk ke stadion. Tapi, dua anak dan ponakan saya, telah lebih dulu meluncur ke pintu 7 dan tenggelam dalam lautan manusia. Saya kemudian berjalan mengeliling stadion. Begitu banyak orang, semua berkaos merah. Inilah Indonesia yang haus akan keindonesiaan. Saya mau masuk, tapi bagai mana dengan istri saya? Ia ngeri melihat jubelan manusia. Sebuah kemelut batin. Sudahlah, semua bisa diatur.
Permainan telah dimulai. Bola menggelinding seperti sedang berdendang atau membawakan lagu dangdut? Tapi saya takut, jika Indonesia kalah, bisa rusuh. Saya lihat banyak panser di GBK, polisi dan tentara berkeliaran. Di luar dan di dalam stadion. Luar biasa ketatnya pengamanan. Ketat ataupun tidak, menjual atribut luar biasa banyaknya.
Kian berjalan waktu, harganya kian murah. Kaos “Garuda di Dadaku” laris manis bak kacang goreng.
Bola telah menggelinding, Presiden SBY dan Ibu Negara sudah berada di dalam stadion sejak tadi. Kepala negara ingin Indonesia menang, seperti juga ratusan juta rakyatnya. Menit-menit berlalu, tak ada gol.
Saya mencoba menonton para penonton. Tingkah mereka, laku mereka. Semuanya terpusat ke lapangan hijau. Mereka ingin segera jala Malaysia dirobek, tapi belum juga. Bak menanti kelahiran anak pertama. Penantian yang berkeringat, penantian yang mendebarkan. Mereka tidak sabaran. Penonton Indonesia adalah wajah bangsa. Mereka melupakan segala hal, termasuk tidak ada uang di kantong.
Lalu, Ahmad Nasuha pemain dengan nomor punggung 2 ini, sekonyong-konyong mengubah wajah tegang Indonesia. Ia berhasil merobek jala Malaysia. Ini membangkitkan semangat anak-anak Indonesia. Terompet terdengar sahut-sahutan, ditingkahi sorak-sorak. Tekanan demi tekanan sejak menit awal, baru membuahkan hasil lebih dari setengah permainan. Mental pemain Indonesia, nyaris ambruk ketika finalti tidak bisa dieksekusi dengan baik oleh Indonesia. kini bangkit kembali.
Tapi Ahmad Nasuha, terlambat lebih 45 menit. Seharusnya golnya tercipta pada menit-menit pertama sebagaimana harapan banyak orang. Ternyata harapan dan kenyataan selalu saja berbeda, sejak dulu begitu.
Namun, ribuan orang di luar stadion GBK, terbelalak, mengeluh, menghentakkan kaki, marah dan mengeskpersikan dirinya sedemikian rupa. Riuh rendah, bergemuruh dan itu dia, nyanyian Garuda di Dadaku, terus berkumandang tak teratur. Lalu Muhammad Ridwan, berhasil menambah angka bagi Indonesia. 2-1. Stadion pun pecah oleh sorak sorai. Tapi waktu terus berjalan. Tinggal dua menit waktu normal.
Dan permainan usai. Sebuah antiklimaks. Siapa yang mesti disalahkan? Nurdin Khalid sang ketua PSSI atau harapan kita atas timnas yang berlebihan? Tak tahulah, yang jelas, ratusan ribu orang telah datang ke GBK memberikan semangat.
Saya sebelum ke stadion tadi menyaksikan sebuah sedan mewah benwarna hitam melaju di tengah keramaian Jalan Gatot Subroto. Mobil itu diberi bendera, “Saatnya Indonesia Menang”. Sementara ada mobil pick up melaju di sisinya dengan anak-anak muda memegang bendera Sang Merah Putih. Bendera itu berkibar-kibar. Makin dekat ke GBK, makin banyak orang membawa bendera, membawa sal yang diselempangkan di leher, membawa topi tinggi, membawa terompet dan entah apa saja untuk media eksperesi mereka saat menonton.
Indonesia menang 2-1, tapi tidak juara. Marketing sepakbola telah berjalan tanpa ilmu marketing. Ratusan bahkan ribuan pedagang atribut baju “Garuda di Dadaku” dan tetek bengek lainnya, telah menangguk keuntungan yang luar biasa. Mereka meneriakkan dagangannya, mereka melayani puluhan ribu pembeli.
Inilah untuk pertama kali ada orang Indonesia memakai baju seragam sebanyak yang saya saksikan di GBK. Semua berbaju merah. Jika saja, Indonesia menang, betapa bermaknanya pertadingan kali ini. Indonesia memang belum beruntung, tapi posisi runner up saya kira sudah prestasi yang sangat bagus.
Tadi malam, lalu lintas di Gatot Subroto serta Sudirman yang selama pertandingan sepi, kembali padat. Penonton meninggalkan GBK, meninggalkan sta dion dengan kecewa, tapi tidak kecewa benar, sebab Indo nesia berhasil menaklukkan Malaysia di kandang sendiri. Kemenangan 2-1 itu, berhasil meredam emosi penoton.
Anak dan keponakan saya pulang ke hotel larut malam. Mereka berjalan kaki dari GBK. Tapi mereka terus memuji timnas.
“Mereka hebat,” katanya. Saya setuju!
Betapa saya takkan setuju, sepanjang permainan, bola dikuasai Indonesia, tapi penyelesaian akhir selalu gagal. Berkali-kali, bahkan nyaris tidak bisa dihitung, peluang emas untuk Indonesia. Tapi si Khairul yang berdiri di gawang Malaysia, memang tangguh. Hebat dia. Mungkin karena namanya Khairul he he he...
Jika kondisi kecintaan atas timnas ini dikelola dengan baik, maka alangkah indahnya Indonesia. Ayunan emosi massa untuk sepakbola bangsa dan tanah airnya, merupakan sebuah modal yang tak ternilai. Betapa mahalnya sebuah kebangaan kolektif.
Indonesia Raya, Garuda di Dadaku. Tapi, ini sudah larut, saya kelelahan. Kaos merah Garuda di Dadaku seolah berbicara. “Menonton jugalah kau,” bisiknya. (*)
On 12/08/2010 06:44:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Jika kita berdiri pada posisi kehidupan rakyat yang sesungguhnya, maka dapatlah diterima, pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (PNS), adalah pilihan yang amat tepat. Memang, berwiraswasta atau bekerja di dunia swasta sangatlah menjanjikan, jika berhasil dan lebih mantapnya, jika sukses.
“Jika berhasil” dan “jika sukses” itu, adalah sebuah rimba belantara. Memerlukan perjuangan dan kerja keras, bekerja di bawah tekanan dan imbalannya bisa libur dengan nyaman kemana kita suka, sesuai kondisi keuangan.
Menjadi pegawai negeri adalah gerimis, bukan hujan lebat, tapi turun terus-menerus, sepanjang hayat dikandung badan. Kalau sakit, ada jaminan, (di dunia swasta juga ada) dan yang sangat penting, jika tua terima pensiun. Meski saat tua itu, uang pensiun tadi, tak mencukupi, karena itu tetap dibantu oleh anak yang sudah bekerja di bank atau perusahaan ternama lainnya.
Hati manusia adalah samudera yang luas. Pilihan hidup adalah pilihan hati. Jika hari ini dimana-mana kampanye “ayo ke dunia swasta” dikumandangkan, maka hal itu, hanya akan melantun-lantun pada dinding beton. Suaranya bergema ke mana-mana, tapi hasilnya tidak seberapa.
Ibarat irigasi, pangkal masalahnya bukan pada lulusan perguruan tinggi, tapi pada kualitas perguruan tinggi. Rasa-rasanya, tak banyak benar anak Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Tri Sakti yang ingin jadi PNS. Lulusan fakultas kedokteran dari universitas juga jarang yang mau jadi PNS, buktinya formasi yang disediakan tak terisi.
Bagaimana anak Universitas Negeri Padang (UNP) takkan jadi PNS, sebab kecenderungan yang masuk ke sana, ingin jadi guru, meski IKIP sudah berubah nama jadi UNP.
Bagaimana sarjana IAIN Imam Bonjol takkan ingin jadi PNS, sebab mereka sulit menembus PT Semen Padang, misalnya? Meski harus diakui, banyak dari UNP dan IAIN ingin dan telah mengepakan sayapnya di dunia swasta.
Begitu juga dengan Universitas Andalas (Unand). Okelah Unand hebat, tapi motivasi dari orangtua adalah jadi PNS, maka anak tak berani melawannya. Lagi pula, Unand baru sedang berusaha membangun jiwa wiraswasta mahasiswanya.
Karena itu, bersyukurlah kita, ketika remaja Sumbar masih mau berbondong-bondong jadi pegawai negeri. Kalau mereka pergi ke rantau semuanya, maka kampung sendiri akan sepi. Bagaimana mereka akan bergerak di dunia swasta, sebab setelah mereka coba, selalu saja gagal. Tapi kenapa orang bisa berhasil? Nasib tiap orang tidaklah sama.
Saya adalah lulusan IKIP Padang, habis saya dikuliahi oleh hampir semua orang, ketika saya tak mau jadi PNS. Sampai detik ini, Insya Allah, pilihan hidup yang saya ambil, adalah baik buat saya. Entah setelah ini, hanya Tuhan yang tahu. Begitu juga dengan teman-teman saya, apakah teman sesama Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Padang Panjang dulu, atau teman-teman sesama tamat IKIP Padang, mereka nyaman dengan pilihannya masing-masing.
Seorang teman yang jadi guru SD, saya lihat bahagia. Seorang teman yang seharusnya jadi guru SD, kini jadi juragan ikan. Uangnya lebih banyak dari siapapun di antara kami. Teman lain, sesama kuliah sudah jadi kepala dinas pendidikan, jadi sekretaris DPRD. Tapi ada juga yang celananya pun tak digosok, sepatunya sudah sobek.
Rezeki memang tergantung Tuhan, tapi peran dan motivasi kerja sangat menentukan. Jika bekerja dijadikan hobi, maka uang akan mengalir sekencang kita bekerja.
Karena itu, jika puluhan ribu orang melamar jadi CPNS, maka biarkanlah. Itu pilihan hidupnya. Perubahan drastis yang diharapkan, takkan terjadi, jika hulu irigasi tak diperbaiki. (*)
On 12/05/2010 05:31:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Ada beberapa hal buruk terus terjadi saat gempa tiba dan itu terbukti lagi saat gempa 4,2 SR Jumat pekan lalu.
Kebiasaan buruk itu:
Pertama memekik-mekik, sehingga bukan saja dia yang panik, tapi orang lain juga panik dibuatnya. Orang lain itu, kemudian memekik pula. Mararau-rarau bahkan. Hari-hari biasa, disuruh azan, dia pasti takkan mau, tapi kalau gempa datang, ia langsung azan. Azan adalah hal baik, tapi caranya azan, membuat orang lain kehilangan akal.
Kedua bertanya-tanya, ia rajin bertanya, dibanding saat masih sekolah dulu. Untuk bertanya, biarlah ia tak lari. Asal bertanya, biarlah ia tercecer. Pertanyaannya adalah, “Lah naiak aie? Kaba-e alah, tsunami kecek urang, iyo tu? Jika tak dijawab orang, dia sendiri yang menjawab. “Iyo alah, tu ha, urang lah bi lari,” katanya sambil manggaretek, menghentak-hentakkan kaki.
Ketiga, langsung sibuk dengan telepon genggam, entah siapa yang diteleponnya. Telepon genggam yang tak nyambung, menambah kepanikan. “Ondeh baa ko, bini den, anak den, amak den, ondeh baa ko, HP ndak amuah lo doha,” katanya sendiri. Ia langsung mendekat ke temannya. “Lai amuah HP tu?” Temannya menggeleng. Ia coba lagi, ia tanya lagi. Sepuluh menit waktu habis karena mengutak-atik telepon genggam saja. Orang makin ramai berlalu-lalang, ia makin panik. Ia mengadu ke HP nya. HP tak bisa menolong.
Keempat, saat gempa tiba, semua lari. Mandudu. Tak lama benar, maka jalan dipenuhi mobil dan motor. Kalau hanya untuk bermacet-macet, untuk apa lari. Jika di Padang, paling bisa hanya sampai jembatan Andaleh. Kalau ke Alai, sebelum masuk je jalan evakuasi sudah tersumbat. Jalan Gunung Pangilun sampai ke Simpang Tinju penuh sesak. Klakson mobil dan motor saling berbunyi. Bunyinya sampai ke langit.
Untuk apa semua itu? Lari? Kalau lari kenapa sampai di sana saja? Ternyata kesadaran menyelamatkan diri dari dugaan ancaman tsunami berbanding terbalik dengan maka korban tewas terbanyak akan ditemukan di jembatan Andaleh. Betapa tidak, selain jembatan itu tak bisa lagi ditempuh, banyak yang masuk ke dasar sungai untuk bisa menyeberang. Saat gempa 2009 silam, motor pun dimasukan ke dalam sungai untuk diseberangkan. Tahukah Anda, Banda Bakali itu, sama dengan jalan tol oleh tsunami. Jadi untuk apa bermacet-macet di jembatan itu, untuk menyambut tsunami? Jangan halangi orang lain untuk lari, hanya gara-gara mobil Anda tak bisa bergerak di jembatan itu. Tak sayangkah Anda dengan keluarga, atau memang Anda lebih sayang mobil kredit yang belum lunas itu?
Deretan kebiasaan buruk itu harus dihilangkan. Caranya? berhenti memekik-mekik, sebab yang takut bukan Anda saja. Berhenti panik. Kalau mau panik, cukup lima menit saja. Berhenti bertanya-tanya, sebab orang juga punya pertanyaan yang tak terjawab. Berhenti mengutak-atik HP, tak ada gunaya.
Kalau mau cari anak dan istri, cari ke titik yang sebelumnya telah disepakati. Buat perjanjian di rumah, “jika gempa, maka abak, maka papa, maka papi, maka mami, akan menjemputmu ke titik A.” Atau, “jika gempa lari ke titik B, tunggu papa, mama di sana, sebab tempat itu sudah aman dari tsunami.” Jika harus tahu juga kabarnya, sebaiknya bergegas saja ke sekolah atau ke tempat kerja istri, lebih berguna dibanding mengutak-atik HP. Jika mau menelepon juga, pakai nomor yang lalulintasnya sepi. Anda tahu, kalau gempa pakai nomor apa. Kita kan sudah berpengalaman soal telepon seluler.
Selain itu, yang biasa dijemput apakah anak, istri, adik, kemenakan, janganlah cengeng kalau gempa tiba. “Japuik wak ciek, awak di pasa, kama wak lai ko ha, panik wak ha.” Lalu mararau-rarau.
Maka si penjemput, memilin gasnya kuat-kuat, terbang hambur ke pasar, menyongsong arus, tentu saja di jalan bertemu macet akut. Dari pada Anda mararau-rarau, lebih baik lari ke arah ketinggian. Anda sekeluarga harus punya titik pertemuan yang disepakati. Jika sudah begitu, HP tak perlu lagi diutak-atik.
Bagi yang punya uang dan memiliki beberapa kendaraan, atau tanpa kendaraan, Anda harus membeli radio orari. Untuk tiga orang, misalnya suami, istri dan anak. Radio induk ada pada suami, ditarok di mobilnya, satu di rumah, satu sama istri. Belilah tiga, atau empat, terserah. Begitu gempa, begitu HP mahal Anda tak berfungsi, pakai radio. Berkomunikasilah di radio itu. “Mama di mana?” Kalau Anda bermama sama istri. “Uda dimana,” kalau beruda sama suami. “Dedek di mana?” Kalau berdedek pada anak. Kita sekarang kan sudah ganjil-ganjil saja cara memanggil anggota keluarga. Polisi sudah lama pakai radio itu, wartawan memakainya pula, anggota Orari apalagi.
Selanjutnya kalau mau lari, mobil kesayangan yang catnya mengkilat itu adalah kuburan. Jika Anda sempat lari pada kesempatan pertama, okelah, lanjut sampai ke ketinggian. Namun jika tidak, maka mobil janganlah dibawa juga. Banyak pula orang bermobil, tak Anda saja.
Untuk pusat Kota Padang, kalau mau bermobil, tak bisa dilarang, bawalah sampai ke stasiun Simpang Haru, parkir di tepi jalan di sana. Larilah ke arah Andalas. Di Lapai juga begitu, parkir saja di lapangan di sisi rumah Kapolres, setelah itu larilah ke Ampang.
Perda
Pemerintah, selain harus membuat jalur evakuasi, juga harus membuat aturan yang ketat, “dilarang lari pakai mobil saat gempa tiba.” Kalau perlu buat perdanya. Kantor-kantor pemerintah harus menegakkan disiplin yang ketat, kantor swasta juga. Sosialisasikan dari hari ke hari. Jangan lari pakai mobil, larilah pakai kaki. Sekali dua kali, tiga kali, 10 kali, 100 kali, setelah itu, orang akan sadar. Sosialisasi tadi, juga harus diiringi pembangunan fasilitas tempat lari, tempat menyelamatkan diri, berupa gedung tinggi yang kokoh. Pemerintah menyebutnya shelter.
Jika perda dibuat, maka untuk Padang, harus diiringi lahan parkir yang luas di Simpang Haru, seluas lapangan Imam Bonjol. “Payah tu mah, dima ka dibuek?” Kalau begitu, orang lain juga bisa bicara demikian. Pikirkan, kerjakan!
Dalam tiga tahun ke depan, Pemprov Sumbar, Pemkab/pemko di kawasan pesisir, janganlah rapat ke rapat saja, jangan malagak-lagak prestasi saja. Tiap sebentar award, tiap sebentar iringi-iringan mobil membawa penghargaan. Bukan itu lagi yang mesti dikerjakan, melainkan membangun proyek-proyek kemanusiaan. Jika tiga tahun ini, tak ada yang jadi, alamat tak seorangpun yang akan terpilih setelah ini.
Proyek-proyek kemanusiaan itu, meliputi proyek fisik dan proyek non fisik yang kesemuanya bermuara pada mitigasi. Membangun kesadaran kolektif atas keselamatan kolektif. Secara bersama-sama, memikirkan cara menyelamatkan diri. Gempa 4,2 SR pada Jumat pekan lalu, adalah salah satu simulasi yang gagal.
Betapa takkan gagal, anak sekolah sudah mematuhi cara menyelamatkan diri, tapi bapak-bapak dan mamak-mamaknya, justru melanggar. Lari bagai dikejar setan dengan mobil dan motor. Dia harus selamat, orang lain, biarkan saja. Orang Padang sudah tahu kemana harus lari, yang belum tumbuh kesadaran akan, “bagaimana cara lari”. Ini harus disiasati terus-menerus.
Anda harus tahu, di mana simpul-simpul kemacetan itu. Untuk Padang, ketua umum kemacaten adalah Simpang Tinju, sekretarisnya jambatan Andaleh. Wakil ketuanya, simpang Lapai dan para pengurusnya bisa Anda tambah sendiri. Jangan memperparah titk-titik itu.
Jika gempa tiba, semua kita diam dan lari sekencang-kencangnya, betapa enaknya eksodus. Oh ya, kalau gempa besar tiba, tiang listrik akan bertumbangan ke jalan raya bersama tiang telepon, hati-hati dengan mobil Anda, nanti ditimpanya, orang lari, Anda terkurung di atas mobil. Jadi berita pula di suratkabar. Orang bijak, tak mengganggu dan tak menghalangi orang lain. (*)
On 12/02/2010 07:13:00 AM by Khairul Jasmi     No comments
SINGGALANG, Kamis, 25 November 2010
Tsunami Mengintai, Isu Meruyak
Pak SBY, Tolonglah Kami...

Khairul Jasmi

Pak SBY, kami warga di pesisir Sumbar, mati saja yang belum. Kalaulah Bapak berkantor di Padang, takkan terpicingkan mata oleh bapak, meski malam telah larut. Pak Gubernur kami, sekarang sudah kurus. Kemarin bersama Waka Polda, Wagub, Walikota Padang, mengimbau rakyat untuk tidak resah. Pejabat kami kurang tidur sekarang, Pak. Bagaimana bisa tidur, di mana-mana rakyat ketakutan akan isu gempa besar. Sudahkah Bapak tahu akan hal itu?
Pak SBY yang terhormat...
Maksud hati hendak membangun jalan evakuasi, membangun shelter, mendinding laut, tapi kami tak punya uang. Pemerintah pusat tak peduli. Kami tahu tak peduli, karena kata Bappenas, tak ada dana pusat untuk membuat shelter di Sumbar. Akan Bapak biarkan saja kami mati disapu tsunami, jika monster itu datang?
Sekarang Pak, tiap sebentar isu meruyak, lewat SMS, dari mulut ke mulut, resume rapat interen pejabat pemerintah disebar PNS tak bertanggungjawab. Kalau SMS terorisme, secepat kilat Densus 88 bergerak. Dijemput malamnya orang. Tapi tiba di SMS teror gempa, kenapa tak bisa, Pak?
Kami seperti terhukum mati menunggu eksekusi. Ulama kami sudah bertunas mulutnya memberi nasihat, tapi kami takut juga. Jiwa yang resah adalah penyakit, sedang hati yang riang adalah obat.
Yang terjadi hati kami diperparah oleh pakar. Tim Sembilan yang Bapak bentuk datang ke Padang, hanya untuk bilang: “Itu gempa di Mentawai baru buntutnya, yang akan kita tunggu bapaknya, ini bukan mempertakut, tapi harus disampaikan,” katanya.
Tim ini, melibas urusan BMKG. Padahal negara memercayakan kepada BMKG, namun Tim Sembilan lebih jago dan merasa berkompeten. Maka takutlah seisi kota, takutlah seisi kampung, dari ujung ke ujung. Setelah itu tim hebat tersebut pergi ke Jakarta, ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Ketika gempa datang, yang sibuk justru BMKG.
Pak SBY yang tercinta...
Waktu pemilu 80 persen suara rakyat Sumbar untuk Bapak, maka sewajarlah kini, ketika kami memerlukan bantuan, Bapak bantu kami. Suratkabar Singgalang menawarkan, agar laut Sumbar didinding. Biayanya takkan sampai Rp20 triliun. Sekali angguk saja oleh Bapak, beres semua. Ini lebih penting dibanding Jembatan Selat Sunda.
Dinding laut itu ada di Jepang, di Korea dan di sejumlah negara lainnya. Bentuknya seperti Tembok Cina. Bisa untuk jalan di atasnya. Kira-kira tingginya 10 sampai 15 meter. Panjangnya, orang PU yang bisa mengukurnya Pak. Sekalian bisa untuk lokasi rekreasi, bahkan jalan tol bisa dibuat di atasnya Pak. Bukankah Bapak akan membuat jalur lintas barat Sumatra? Dinding laut itu saja jadikan jalan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau.
Bisa Bapak bayangkan musibah tsunami Aceh, untuk rehab rekon (RR)nya saja habis uang minimal Rp75 triliun. Kerugian yang terjadi, empat kali lipatnya, barangkali. Akibat amuk alam ini, tidak kurang dari 132 ribu orang Aceh meninggal dan 37 ribu orang dinyatakan hilang.
Apalah artinya yang Rp20 triliun untuk mendinding laut Pak. Atau habis dulu orang Minang oleh tsunami, baru kemudian dibentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Sumbar.
Okelah, tak ada uang untuk dinding laut, untuk shelter juga boleh. Padang memerlukan setidaknya 100 shelter. Sebanyak itu pula di wilayah lain di Sumbar. Tiap shelter Rp30 miliar. Kata Bappenas, tak ada dana untuk itu. Disuruhnya pemerintah daerah “kreatif”. Itu sama dengan membunuh namanya. Bagaimana perencanaan pembangunan, bisa melupakan mitigasi? Lupa akan nasib rakyat, kecewa berat kami dengan Bappenas.
Hentikanlah agak sejenak membangun jalan tol di Pulau Jawa itu, alihkan uangnya untuk Sumbar. Apakah untuk membangun shelter, escape building, dan jalan evakuasi atau dinding laut.
Pak SBY, jalan evakuasi saja di Padang sudah tujuh tahun tak selesai. Uang untuk membebaskan tanah tak kunjung cukup. Kasihlah kami uang untuk pembebasan jalan itu saja dulu, sudah besar hati kami, Pak. Ini kan tidak, selalu saja jawabannya klise, “pusat tak ada uang untuk pembebasan tanah”.
Kalau untuk proyek biasa, bisa diterima, tapi untuk proyek kemanusiaan, apa tidak bisa pusat turun tangan?
Kadang kami di Sumbar merasa jauh dan sepi sendiri. Kenapa pemerintah pusat tak peduli lagi pada kami. Sedih hati kami di sini.
Mohon temani kami dalam masa-masa sulit ini Pak. Kami sedang gamang. Hanya kepada Tuhan kami bisa mengadu, berdoa, berserah diri.
Kalau Bapak mau membantu, kami tawarkan tujuh hal untuk meminimalkan dampak tsunami di Sumbar. Ketujuhnya dinding laut, relokasi penuh warga pesisir Sumbar, relokasi zone merah saja, buat shelter, buat ecape building, jalur evakuasi, tanam trembesi dan bakau di pantai atau reklamasi. Sampai hari ini, hanya satu yang sudah ada yaitu satu unit shelter yaitu SMA 1 Padang. Itupun bantuan Yayasan Budhi Suci, bukan uang pemerintah.
Pemerintah daerah takkan bisa berbuat apa-apa, kalau pusat tak membantu. Penyakitnya Pak, kementerian dan Bappenas, kalau tak dilobi, tak dihiraukannya nasib rakyat. Apa perlu lagi lobi-lobi semacam itu, sementara kami sedang gundah gulana?
Jika Bapak memerlukan sepucuk surat yang ditandatangani seluruh rakyat, kami siap membuatnya.
Kami tak takut mati Pak, sebab ajal sudah tersurat di Arasy. Mati hari ini, pasti mati. Tapi, bukankah kita perlu berikhtiar? Apalagi rakyat Sumbar adalah bagian integral dari Indonesia.
Pak SBY yang terhormat...
Jujur saja, bangsa yang besar ini, berhutang sejarah pada kami orang Minang. Kami tak minta dibayar, tapi berbuat baiklah pada saat yang tepat. Saatnya sekarang.
Kalau pada 2011 hanya rapat ke rapat saja, janji ke janji saja, maka kami akan menjadi rakyat yang patah arang.
Pak SBY...
Maafkan saya yang sudah lancang menulis seperti ini. Apa boleh buat ditangkap intel pun sudah risiko saya. Tak ada pilihan lain, Bapak harus turun tangan.
Ah, jika saja Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Yamin, Agus Salim, masih hidup, mungkin nasib kami takkan semalang sekarang. Hari ini pasti dipanggilnya Bapak ke rumahnya.
“Tolong kampuang kami ya, Pak Presiden,” kata Hatta, suara beliau antara terdengar dan tidak.
“Tolong itu Sumbar, lumbungnya demokrasi,” kata Sjahrir.
“Demi rakyat jelata yang menderita setiap hari, bantu Ranah Minang,” kata Datuk Tan Malaka.
“Minangkabau adalah libero dalam pembentukan Negara Kesatuan RI, bantu sekarang, rakyatnya sedang nestapa,” kata Pak Yamin.
“Belum bersekolah orang di tempat lain, orang Minang sudah studi ke Belanda, buat sekolah jadikan shelter,” kata Agus Salim.
Tapi tidak. Beliau telah tiada. Kami sepi sendiri Pak Presiden SBY.
Wassalam. (*)
On 12/02/2010 07:12:00 AM by Khairul Jasmi     No comments
SINGGALANG Senin, 25 Oktober 2010

Tuan di Rantau
Khairul Jasmi

Tuan di rantau, sedang apakah Tuan sekarang? Jadikah Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM)? Ditantang sejumlah orang kabarnya. Ini pertama dalam sejarah Minangkabau, kehendak rantau ditantang orang kampung.
Pak Emil Salim dulu tak begitu. Mangango kami kalau Pak Emil mengecek. Beliau sangat sistematis. Kalau Pak Taufik Abdullah, dalam benar ilmunya. Juga Pak Taufiq Ismail. Kalau penyair ini tampil di televisi, serasa diseretnya kami ke tempat ia sedang berada.
Pak Harun Zain, ondeh Tuan. Kalau beliau berbicara, kami simak baik-baik. Berhutang budi dan berhutang sejarah Minangkabau pada beliau. Adakah Tuan lihat-lihat Beliau ke rumahnya? Pak Azwar Anas juga begitu. Beliau penyayang pada rakyat, tak pernah kami dengar perkataannya yang kasar. Ba nyak sekali jasanya pada ne geri ini. Belakangan Pak Hasan Basri Durin, meneruskan cita-cita Pak Azwar. Kalau bertemu di Jakarta, sampaikan salam untuk Beliau.
Tuan, di rantau masihkah dendang Misramolai mengalun sendu di lapak-lapak kaki limamu? Atau lagu Pasan Mande Yusaf Rahman, yang dinyanyikan Tiar Ramon itu, masih didengarkan? Atau lagu 3 Diva mengalun harum di mobil rancakmu menjelang Plaza Senayan?
Di kampung kita, mamak-mamak kami pergi ke ladang membawa tip kecil dengan empat baterai dan ia gayutkan di dahan kayu. Dari tip itu terdengar nyanyi kesukaannya. Jika tak Tiar Ramon, ya saluang Misramolai, dan tentulah lagu Kutang Barendo yang dibawakan dengan sangat pas oleh Melati.
Mamak kami, Tuan, tersenyum-senyum kecil menyimak lagu itu sambil membersihkan ladangnya. Sambil bersiang kulik manih, terkenang juga anaknya di rantau. Sedang apakah ayam gadangnya kini di Tanah Jawa.
Ia ulang-ulang dengan gayanya sendiri lagu Kutang Barendo. //Lai lalah kutang barendo...//
Ia baca-baca pula dendang Misramolai, //Anak kanduang si birin tulang, nyampang anak isuak kok gadang pandai-pandai mambok diri//.
Tuan di rantau, kapankah kalian bisa meneteskan air mata? Karena kebudayaan atau karena lagu-lagu hits terbaru dari Agnes Monica dalam mobil rancakmu? Atau karena lagu-lagu saluang penyanyi-penyanyi di kampung kita, yang syairnya dengan amat cepat membawa Tuan ke masa di kampung dulu? Lagu mana yang membuat hidung Tuan seolah mencium bau tanah di sudut dapurmu?
Tuan, jarak kita dibatasi laut. Tapi, ada yang tidak bisa putus oleh apapun, yaitu hati dan perasaan. Semua itu diulas oleh lagu-lagu klasik Minangkabau, Tuan. Jika sesekali di televisi swasta nasional muncul lagu klasik Minang, meremang bulu kita dibuatnya. Itulah kekayaan batin kita.
Kita tak pernah bertengkar karena lagu, malah terasa makin dekat. Tentara kadang bisa bersatu karena lagu. Tuan, kami di kampung sekarang susah tidur. Kunci pintu hanya sekali putar, takut kalau-kalau datang gempa menghoyak. Anak-anak kami tidur gelisah, seperti juga kami. Pintu kamar kami renggangkan saja, jika ada yang berderit kami segera meloncat melihat anak-anak.
Tuan, subuh terdengar suara azan dari menara masjid dari pelantang suara yang berderak-derak. Kabelnya rusak. Lalu, anak-anak kami, lelaki atau wanita, bangun. Mereka shalat dan ke mudian selesai sarapan ber angkat ke sekolah. Sesekali mereka mengulang hafalan nya, soal asmaul husna. Sua ranya indah, bagai Hadad Al wi atau Sulis. Melengking se olah hendak mencabik langit.
Tuan, di rantau tak ada gempa ya? Di sini sering benar. Di kampung kita ini, tak siang tak malam. Ada prediksi-prediksi gempa besar dari pakar yang menggetarkan jiwa. Kami takut Tuan. Oh ya, ada 181 ribu lebih rumah hancur, rusak berat dan sedang. Belum diperbaiki. Sekarang pemerintah sedang menurunkan bantuan untuk rumah-rumah itu. Totalnya Rp2 triliun. Pernah lihat uang sebanyak itu? Bisa Tuan bayangkan, uang Rp2 triliun dibelanjakan di kampung kita? Ekonomi bergerak Tuan.
Meski begitu, kami banyak takut sekarang. Jangan gempa lagi. Jangan, tolonglah Tuan doakan di rantau.
Namun kami bangga dengan Minangkabau. Kami di desa belajar adat, agama, bersilat, membuat grup randai. Kami belajar petataih-petitih. Satu persatu gelar datuk kami tegakkan lagi. Tapi kami tak punya uang untuk memperbaiki rumah gadang yang sudah condong atau roboh. Rumah gadang Tuan bagaimana kabarnya? Sudah roboh pula?
Remaja kami, kemenakan Tuan kini sudah bersekolah. Banyak yang sedang kuliah sampaike Mesir. Ada asrama mahasiswa Minang di sana. Tak sedikit yang belum bekerja. Yang tak bekerja, ia sandang ransel usangnya. Satu persatu mereka berangkat ke rantau, menyetop mobil di Kubu Kerambia, di Singkarak atau di Silungkang, biar dapat ongkos murah. Mereka hendak ke Jawa mengadu nasib.
Mandenya ditinggal di rumah bersama adik padusinya.
Mande menasihati si bujang. “Elok-elok ang di rantau yo. Jan lupo sumbayang ndak” Dan ketika pergi, di tikungan pertama, si anak sudah lenyap, mande menyapu air mata dengan selendang lusuhnya.
Tuan, bagaimana sahabat-sahabat kami itu rantau, adakah tuan silau? Adakah Tuan sapa? Adakah diberi nasihat atau mungkin modal?
Kemarin, si upik menerima SMS dari udanya di rantau.
“Jamilah, uda mengirim pitih untuak Amak Rp500 ribu. Bia Liau mamacik-mamacik piti, kan ado-ado se nan ka Liau bali di lapau” Ber sikincak si Jamilah mem bacakan SMS itu pada Amak.
“Untuak kau ndak jo kiriman, kau nan manyasahan bajunyo, maambiak-an nasi, kok malangnyo do rantau ka rumah kau nyo manapek mah,” kata si Amak sambil tersenyum pada anak gadisnya.
“Uda, untuak awak mah?” Jamilah membalas SMS.
Mendenyut dada si uda di rantau. Terbayang adik gadisnya yang manja.
“Iyo bisuak uda kiriman liak, tapi Rp300 yo.”
“Oke bozz,” jawab Jamilah. Pulsanya hampir habis.
Jika Lebaran Tuan pulang, harap benar hati kami. Biar kampung ramai, biar riang lagi, biar ramai pemandian kita. Masih bisa main bola atau main layang-layang? Ondeh Tuan, kini sedang ramai-ramainya.
Kalau pulang Lebaran, bawa istri dan anak-anak. Perkenalkan kampung halaman kita pada anak-anakmu. ABS-SBK anak-anak Tuan mantapkan? Mantaplah, di rantau segala ada. Di kampung guru kami masih yang dulu-dulu juga. Masih baca bismillah kalau salat, dibesarkan bacaannya. Suara imam di masjid tak rancak seperti di Istiqlal. Tapi Tuan, mande-mande kami sangat menghormatinya.
Pulang ya Tuan, sebab menurut BPS hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki di Sumbar sekarang.
Jadi lelaki Minang lebih banyak di rantau dari di kampung? Tuan punya data nya? Ah tak apa, BPS punya kok.
Kalau mau Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) undang BPS ya. Selain itu, jangan KKM saja, lakik-an jugalah dari hotel pulang ka kampuang awak agak sajamang, jalan alah rancak, diaspal dek Pak Bupati.
Atau tak usahlah kongres itu Tuan laksanakan. Malu awak dengan Pak Emil Salim dan tokoh-tokoh lain yang mendirikan Gebu Minang.*

On 12/02/2010 07:02:00 AM by Khairul Jasmi
SINGGALANG, Kamis, 25 November 2010
Tsunami Mengintai, Isu Meruyak
Pak SBY, Tolonglah Kami...
Khairul Jasmi

Pak SBY, kami warga di pesisir Sumbar, mati saja yang belum. Kalaulah Bapak berkantor di Padang, takkan terpicingkan mata oleh bapak, meski malam telah larut. Pak Gubernur kami, sekarang sudah kurus. Kemarin bersama Waka Polda, Wagub, Walikota Padang, mengimbau rakyat untuk tidak resah. Pejabat kami kurang tidur sekarang, Pak. Bagaimana bisa tidur, di mana-mana rakyat ketakutan akan isu gempa besar. Sudahkah Bapak tahu akan hal itu?
Pak SBY yang terhormat...
Maksud hati hendak membangun jalan evakuasi, membangun shelter, mendinding laut, tapi kami tak punya uang. Pemerintah pusat tak peduli. Kami tahu tak peduli, karena kata Bappenas, tak ada dana pusat untuk membuat shelter di Sumbar. Akan Bapak biarkan saja kami mati disapu tsunami, jika monster itu datang?
Sekarang Pak, tiap sebentar isu meruyak, lewat SMS, dari mulut ke mulut, resume rapat interen pejabat pemerintah disebar PNS tak bertanggungjawab. Kalau SMS terorisme, secepat kilat Densus 88 bergerak. Dijemput malamnya orang. Tapi tiba di SMS teror gempa, kenapa tak bisa, Pak?
Kami seperti terhukum mati menunggu eksekusi. Ulama kami sudah bertunas mulutnya memberi nasihat, tapi kami takut juga. Jiwa yang resah adalah penyakit, sedang hati yang riang adalah obat.
Yang terjadi hati kami diperparah oleh pakar. Tim Sembilan yang Bapak bentuk datang ke Padang, hanya untuk bilang: “Itu gempa di Mentawai baru buntutnya, yang akan kita tunggu bapaknya, ini bukan mempertakut, tapi harus disampaikan,” katanya.
Tim ini, melibas urusan BMKG. Padahal negara memercayakan kepada BMKG, namun Tim Sembilan lebih jago dan merasa berkompeten. Maka takutlah seisi kota, takutlah seisi kampung, dari ujung ke ujung. Setelah itu tim hebat tersebut pergi ke Jakarta, ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Ketika gempa datang, yang sibuk justru BMKG.
Pak SBY yang tercinta...
Waktu pemilu 80 persen suara rakyat Sumbar untuk Bapak, maka sewajarlah kini, ketika kami memerlukan bantuan, Bapak bantu kami. Suratkabar Singgalang menawarkan, agar laut Sumbar didinding. Biayanya takkan sampai Rp20 triliun. Sekali angguk saja oleh Bapak, beres semua. Ini lebih penting dibanding Jembatan Selat Sunda.
Dinding laut itu ada di Jepang, di Korea dan di sejumlah negara lainnya. Bentuknya seperti Tembok Cina. Bisa untuk jalan di atasnya. Kira-kira tingginya 10 sampai 15 meter. Panjangnya, orang PU yang bisa mengukurnya Pak. Sekalian bisa untuk lokasi rekreasi, bahkan jalan tol bisa dibuat di atasnya Pak. Bukankah Bapak akan membuat jalur lintas barat Sumatra? Dinding laut itu saja jadikan jalan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau.
Bisa Bapak bayangkan musibah tsunami Aceh, untuk rehab rekon (RR)nya saja habis uang minimal Rp75 triliun. Kerugian yang terjadi, empat kali lipatnya, barangkali. Akibat amuk alam ini, tidak kurang dari 132 ribu orang Aceh meninggal dan 37 ribu orang dinyatakan hilang.
Apalah artinya yang Rp20 triliun untuk mendinding laut Pak. Atau habis dulu orang Minang oleh tsunami, baru kemudian dibentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Sumbar.
Okelah, tak ada uang untuk dinding laut, untuk shelter juga boleh. Padang memerlukan setidaknya 100 shelter. Sebanyak itu pula di wilayah lain di Sumbar. Tiap shelter Rp30 miliar. Kata Bappenas, tak ada dana untuk itu. Disuruhnya pemerintah daerah “kreatif”. Itu sama dengan membunuh namanya. Bagaimana perencanaan pembangunan, bisa melupakan mitigasi? Lupa akan nasib rakyat, kecewa berat kami dengan Bappenas.
Hentikanlah agak sejenak membangun jalan tol di Pulau Jawa itu, alihkan uangnya untuk Sumbar. Apakah untuk membangun shelter, escape building, dan jalan evakuasi atau dinding laut.
Pak SBY, jalan evakuasi saja di Padang sudah tujuh tahun tak selesai. Uang untuk membebaskan tanah tak kunjung cukup. Kasihlah kami uang untuk pembebasan jalan itu saja dulu, sudah besar hati kami, Pak. Ini kan tidak, selalu saja jawabannya klise, “pusat tak ada uang untuk pembebasan tanah”.
Kalau untuk proyek biasa, bisa diterima, tapi untuk proyek kemanusiaan, apa tidak bisa pusat turun tangan?
Kadang kami di Sumbar merasa jauh dan sepi sendiri. Kenapa pemerintah pusat tak peduli lagi pada kami. Sedih hati kami di sini.
Mohon temani kami dalam masa-masa sulit ini Pak. Kami sedang gamang. Hanya kepada Tuhan kami bisa mengadu, berdoa, berserah diri.
Kalau Bapak mau membantu, kami tawarkan tujuh hal untuk meminimalkan dampak tsunami di Sumbar. Ketujuhnya dinding laut, relokasi penuh warga pesisir Sumbar, relokasi zone merah saja, buat shelter, buat ecape building, jalur evakuasi, tanam trembesi dan bakau di pantai atau reklamasi. Sampai hari ini, hanya satu yang sudah ada yaitu satu unit shelter yaitu SMA 1 Padang. Itupun bantuan Yayasan Budhi Suci, bukan uang pemerintah.
Pemerintah daerah takkan bisa berbuat apa-apa, kalau pusat tak membantu. Penyakitnya Pak, kementerian dan Bappenas, kalau tak dilobi, tak dihiraukannya nasib rakyat. Apa perlu lagi lobi-lobi semacam itu, sementara kami sedang gundah gulana?
Jika Bapak memerlukan sepucuk surat yang ditandatangani seluruh rakyat, kami siap membuatnya.
Kami tak takut mati Pak, sebab ajal sudah tersurat di Arasy. Mati hari ini, pasti mati. Tapi, bukankah kita perlu berikhtiar? Apalagi rakyat Sumbar adalah bagian integral dari Indonesia.
Pak SBY yang terhormat...
Jujur saja, bangsa yang besar ini, berhutang sejarah pada kami orang Minang. Kami tak minta dibayar, tapi berbuat baiklah pada saat yang tepat. Saatnya sekarang.
Kalau pada 2011 hanya rapat ke rapat saja, janji ke janji saja, maka kami akan menjadi rakyat yang patah arang.
Pak SBY...
Maafkan saya yang sudah lancang menulis seperti ini. Apa boleh buat ditangkap intel pun sudah risiko saya. Tak ada pilihan lain, Bapak harus turun tangan.
Ah, jika saja Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Yamin, Agus Salim, masih hidup, mungkin nasib kami takkan semalang sekarang. Hari ini pasti dipanggilnya Bapak ke rumahnya.
“Tolong kampuang kami ya, Pak Presiden,” kata Hatta, suara beliau antara terdengar dan tidak.
“Tolong itu Sumbar, lumbungnya demokrasi,” kata Sjahrir.
“Demi rakyat jelata yang menderita setiap hari, bantu Ranah Minang,” kata Datuk Tan Malaka.
“Minangkabau adalah libero dalam pembentukan Negara Kesatuan RI, bantu sekarang, rakyatnya sedang nestapa,” kata Pak Yamin.
“Belum bersekolah orang di tempat lain, orang Minang sudah studi ke Belanda, buat sekolah jadikan shelter,” kata Agus Salim.
Tapi tidak. Beliau telah tiada. Kami sepi sendiri Pak Presiden SBY.
Wassalam. (*)