On 12/29/2010 07:14:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
RATUSAN ribu orang
berkaos merah “Garu da di Dadaku”, memadati dalam dan luar Gelora Bung Karno (GBK). Detik demi detik berlalu, orang berjubel berjalan bagai belalang Afrika.
Menerobos kesumpekan, menguak kebuntuan massa yang haus akan kebanggaan. Rabu (29/12) Jakarta telah mulai rebah menuju senja. Stadion itu telah padat, sementara di luar orang terus berdatangan.
Pertandingan pun dimulai dengan kumandang Indonesia Raya. Merinding saya melihat dan mendengar orang sebanyak itu membawakan lagu kebangsaan.

Saya menyaksikan penoton yang sedang dilanda euforia. Tapi, itu tak membantu. Lihat sajalah menit demi menit berlalu, Indonesia tidak berhasil merobek gawang Malaysia. Sia-sia saya membeli baju “Garuda di Dadaku”. Bola terus disepak dan kedua kesebelasan sedang adu nyali. Inilah bola, inilah permainan rakyat itu.
Tadi saya ragu untuk masuk ke stadion. Tapi, dua anak dan ponakan saya, telah lebih dulu meluncur ke pintu 7 dan tenggelam dalam lautan manusia. Saya kemudian berjalan mengeliling stadion. Begitu banyak orang, semua berkaos merah. Inilah Indonesia yang haus akan keindonesiaan. Saya mau masuk, tapi bagai mana dengan istri saya? Ia ngeri melihat jubelan manusia. Sebuah kemelut batin. Sudahlah, semua bisa diatur.
Permainan telah dimulai. Bola menggelinding seperti sedang berdendang atau membawakan lagu dangdut? Tapi saya takut, jika Indonesia kalah, bisa rusuh. Saya lihat banyak panser di GBK, polisi dan tentara berkeliaran. Di luar dan di dalam stadion. Luar biasa ketatnya pengamanan. Ketat ataupun tidak, menjual atribut luar biasa banyaknya.
Kian berjalan waktu, harganya kian murah. Kaos “Garuda di Dadaku” laris manis bak kacang goreng.
Bola telah menggelinding, Presiden SBY dan Ibu Negara sudah berada di dalam stadion sejak tadi. Kepala negara ingin Indonesia menang, seperti juga ratusan juta rakyatnya. Menit-menit berlalu, tak ada gol.
Saya mencoba menonton para penonton. Tingkah mereka, laku mereka. Semuanya terpusat ke lapangan hijau. Mereka ingin segera jala Malaysia dirobek, tapi belum juga. Bak menanti kelahiran anak pertama. Penantian yang berkeringat, penantian yang mendebarkan. Mereka tidak sabaran. Penonton Indonesia adalah wajah bangsa. Mereka melupakan segala hal, termasuk tidak ada uang di kantong.
Lalu, Ahmad Nasuha pemain dengan nomor punggung 2 ini, sekonyong-konyong mengubah wajah tegang Indonesia. Ia berhasil merobek jala Malaysia. Ini membangkitkan semangat anak-anak Indonesia. Terompet terdengar sahut-sahutan, ditingkahi sorak-sorak. Tekanan demi tekanan sejak menit awal, baru membuahkan hasil lebih dari setengah permainan. Mental pemain Indonesia, nyaris ambruk ketika finalti tidak bisa dieksekusi dengan baik oleh Indonesia. kini bangkit kembali.
Tapi Ahmad Nasuha, terlambat lebih 45 menit. Seharusnya golnya tercipta pada menit-menit pertama sebagaimana harapan banyak orang. Ternyata harapan dan kenyataan selalu saja berbeda, sejak dulu begitu.
Namun, ribuan orang di luar stadion GBK, terbelalak, mengeluh, menghentakkan kaki, marah dan mengeskpersikan dirinya sedemikian rupa. Riuh rendah, bergemuruh dan itu dia, nyanyian Garuda di Dadaku, terus berkumandang tak teratur. Lalu Muhammad Ridwan, berhasil menambah angka bagi Indonesia. 2-1. Stadion pun pecah oleh sorak sorai. Tapi waktu terus berjalan. Tinggal dua menit waktu normal.
Dan permainan usai. Sebuah antiklimaks. Siapa yang mesti disalahkan? Nurdin Khalid sang ketua PSSI atau harapan kita atas timnas yang berlebihan? Tak tahulah, yang jelas, ratusan ribu orang telah datang ke GBK memberikan semangat.
Saya sebelum ke stadion tadi menyaksikan sebuah sedan mewah benwarna hitam melaju di tengah keramaian Jalan Gatot Subroto. Mobil itu diberi bendera, “Saatnya Indonesia Menang”. Sementara ada mobil pick up melaju di sisinya dengan anak-anak muda memegang bendera Sang Merah Putih. Bendera itu berkibar-kibar. Makin dekat ke GBK, makin banyak orang membawa bendera, membawa sal yang diselempangkan di leher, membawa topi tinggi, membawa terompet dan entah apa saja untuk media eksperesi mereka saat menonton.
Indonesia menang 2-1, tapi tidak juara. Marketing sepakbola telah berjalan tanpa ilmu marketing. Ratusan bahkan ribuan pedagang atribut baju “Garuda di Dadaku” dan tetek bengek lainnya, telah menangguk keuntungan yang luar biasa. Mereka meneriakkan dagangannya, mereka melayani puluhan ribu pembeli.
Inilah untuk pertama kali ada orang Indonesia memakai baju seragam sebanyak yang saya saksikan di GBK. Semua berbaju merah. Jika saja, Indonesia menang, betapa bermaknanya pertadingan kali ini. Indonesia memang belum beruntung, tapi posisi runner up saya kira sudah prestasi yang sangat bagus.
Tadi malam, lalu lintas di Gatot Subroto serta Sudirman yang selama pertandingan sepi, kembali padat. Penonton meninggalkan GBK, meninggalkan sta dion dengan kecewa, tapi tidak kecewa benar, sebab Indo nesia berhasil menaklukkan Malaysia di kandang sendiri. Kemenangan 2-1 itu, berhasil meredam emosi penoton.
Anak dan keponakan saya pulang ke hotel larut malam. Mereka berjalan kaki dari GBK. Tapi mereka terus memuji timnas.
“Mereka hebat,” katanya. Saya setuju!
Betapa saya takkan setuju, sepanjang permainan, bola dikuasai Indonesia, tapi penyelesaian akhir selalu gagal. Berkali-kali, bahkan nyaris tidak bisa dihitung, peluang emas untuk Indonesia. Tapi si Khairul yang berdiri di gawang Malaysia, memang tangguh. Hebat dia. Mungkin karena namanya Khairul he he he...
Jika kondisi kecintaan atas timnas ini dikelola dengan baik, maka alangkah indahnya Indonesia. Ayunan emosi massa untuk sepakbola bangsa dan tanah airnya, merupakan sebuah modal yang tak ternilai. Betapa mahalnya sebuah kebangaan kolektif.
Indonesia Raya, Garuda di Dadaku. Tapi, ini sudah larut, saya kelelahan. Kaos merah Garuda di Dadaku seolah berbicara. “Menonton jugalah kau,” bisiknya. (*)

0 komentar :

Posting Komentar