On 12/05/2010 05:31:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Ada beberapa hal buruk terus terjadi saat gempa tiba dan itu terbukti lagi saat gempa 4,2 SR Jumat pekan lalu.
Kebiasaan buruk itu:
Pertama memekik-mekik, sehingga bukan saja dia yang panik, tapi orang lain juga panik dibuatnya. Orang lain itu, kemudian memekik pula. Mararau-rarau bahkan. Hari-hari biasa, disuruh azan, dia pasti takkan mau, tapi kalau gempa datang, ia langsung azan. Azan adalah hal baik, tapi caranya azan, membuat orang lain kehilangan akal.
Kedua bertanya-tanya, ia rajin bertanya, dibanding saat masih sekolah dulu. Untuk bertanya, biarlah ia tak lari. Asal bertanya, biarlah ia tercecer. Pertanyaannya adalah, “Lah naiak aie? Kaba-e alah, tsunami kecek urang, iyo tu? Jika tak dijawab orang, dia sendiri yang menjawab. “Iyo alah, tu ha, urang lah bi lari,” katanya sambil manggaretek, menghentak-hentakkan kaki.
Ketiga, langsung sibuk dengan telepon genggam, entah siapa yang diteleponnya. Telepon genggam yang tak nyambung, menambah kepanikan. “Ondeh baa ko, bini den, anak den, amak den, ondeh baa ko, HP ndak amuah lo doha,” katanya sendiri. Ia langsung mendekat ke temannya. “Lai amuah HP tu?” Temannya menggeleng. Ia coba lagi, ia tanya lagi. Sepuluh menit waktu habis karena mengutak-atik telepon genggam saja. Orang makin ramai berlalu-lalang, ia makin panik. Ia mengadu ke HP nya. HP tak bisa menolong.
Keempat, saat gempa tiba, semua lari. Mandudu. Tak lama benar, maka jalan dipenuhi mobil dan motor. Kalau hanya untuk bermacet-macet, untuk apa lari. Jika di Padang, paling bisa hanya sampai jembatan Andaleh. Kalau ke Alai, sebelum masuk je jalan evakuasi sudah tersumbat. Jalan Gunung Pangilun sampai ke Simpang Tinju penuh sesak. Klakson mobil dan motor saling berbunyi. Bunyinya sampai ke langit.
Untuk apa semua itu? Lari? Kalau lari kenapa sampai di sana saja? Ternyata kesadaran menyelamatkan diri dari dugaan ancaman tsunami berbanding terbalik dengan maka korban tewas terbanyak akan ditemukan di jembatan Andaleh. Betapa tidak, selain jembatan itu tak bisa lagi ditempuh, banyak yang masuk ke dasar sungai untuk bisa menyeberang. Saat gempa 2009 silam, motor pun dimasukan ke dalam sungai untuk diseberangkan. Tahukah Anda, Banda Bakali itu, sama dengan jalan tol oleh tsunami. Jadi untuk apa bermacet-macet di jembatan itu, untuk menyambut tsunami? Jangan halangi orang lain untuk lari, hanya gara-gara mobil Anda tak bisa bergerak di jembatan itu. Tak sayangkah Anda dengan keluarga, atau memang Anda lebih sayang mobil kredit yang belum lunas itu?
Deretan kebiasaan buruk itu harus dihilangkan. Caranya? berhenti memekik-mekik, sebab yang takut bukan Anda saja. Berhenti panik. Kalau mau panik, cukup lima menit saja. Berhenti bertanya-tanya, sebab orang juga punya pertanyaan yang tak terjawab. Berhenti mengutak-atik HP, tak ada gunaya.
Kalau mau cari anak dan istri, cari ke titik yang sebelumnya telah disepakati. Buat perjanjian di rumah, “jika gempa, maka abak, maka papa, maka papi, maka mami, akan menjemputmu ke titik A.” Atau, “jika gempa lari ke titik B, tunggu papa, mama di sana, sebab tempat itu sudah aman dari tsunami.” Jika harus tahu juga kabarnya, sebaiknya bergegas saja ke sekolah atau ke tempat kerja istri, lebih berguna dibanding mengutak-atik HP. Jika mau menelepon juga, pakai nomor yang lalulintasnya sepi. Anda tahu, kalau gempa pakai nomor apa. Kita kan sudah berpengalaman soal telepon seluler.
Selain itu, yang biasa dijemput apakah anak, istri, adik, kemenakan, janganlah cengeng kalau gempa tiba. “Japuik wak ciek, awak di pasa, kama wak lai ko ha, panik wak ha.” Lalu mararau-rarau.
Maka si penjemput, memilin gasnya kuat-kuat, terbang hambur ke pasar, menyongsong arus, tentu saja di jalan bertemu macet akut. Dari pada Anda mararau-rarau, lebih baik lari ke arah ketinggian. Anda sekeluarga harus punya titik pertemuan yang disepakati. Jika sudah begitu, HP tak perlu lagi diutak-atik.
Bagi yang punya uang dan memiliki beberapa kendaraan, atau tanpa kendaraan, Anda harus membeli radio orari. Untuk tiga orang, misalnya suami, istri dan anak. Radio induk ada pada suami, ditarok di mobilnya, satu di rumah, satu sama istri. Belilah tiga, atau empat, terserah. Begitu gempa, begitu HP mahal Anda tak berfungsi, pakai radio. Berkomunikasilah di radio itu. “Mama di mana?” Kalau Anda bermama sama istri. “Uda dimana,” kalau beruda sama suami. “Dedek di mana?” Kalau berdedek pada anak. Kita sekarang kan sudah ganjil-ganjil saja cara memanggil anggota keluarga. Polisi sudah lama pakai radio itu, wartawan memakainya pula, anggota Orari apalagi.
Selanjutnya kalau mau lari, mobil kesayangan yang catnya mengkilat itu adalah kuburan. Jika Anda sempat lari pada kesempatan pertama, okelah, lanjut sampai ke ketinggian. Namun jika tidak, maka mobil janganlah dibawa juga. Banyak pula orang bermobil, tak Anda saja.
Untuk pusat Kota Padang, kalau mau bermobil, tak bisa dilarang, bawalah sampai ke stasiun Simpang Haru, parkir di tepi jalan di sana. Larilah ke arah Andalas. Di Lapai juga begitu, parkir saja di lapangan di sisi rumah Kapolres, setelah itu larilah ke Ampang.
Perda
Pemerintah, selain harus membuat jalur evakuasi, juga harus membuat aturan yang ketat, “dilarang lari pakai mobil saat gempa tiba.” Kalau perlu buat perdanya. Kantor-kantor pemerintah harus menegakkan disiplin yang ketat, kantor swasta juga. Sosialisasikan dari hari ke hari. Jangan lari pakai mobil, larilah pakai kaki. Sekali dua kali, tiga kali, 10 kali, 100 kali, setelah itu, orang akan sadar. Sosialisasi tadi, juga harus diiringi pembangunan fasilitas tempat lari, tempat menyelamatkan diri, berupa gedung tinggi yang kokoh. Pemerintah menyebutnya shelter.
Jika perda dibuat, maka untuk Padang, harus diiringi lahan parkir yang luas di Simpang Haru, seluas lapangan Imam Bonjol. “Payah tu mah, dima ka dibuek?” Kalau begitu, orang lain juga bisa bicara demikian. Pikirkan, kerjakan!
Dalam tiga tahun ke depan, Pemprov Sumbar, Pemkab/pemko di kawasan pesisir, janganlah rapat ke rapat saja, jangan malagak-lagak prestasi saja. Tiap sebentar award, tiap sebentar iringi-iringan mobil membawa penghargaan. Bukan itu lagi yang mesti dikerjakan, melainkan membangun proyek-proyek kemanusiaan. Jika tiga tahun ini, tak ada yang jadi, alamat tak seorangpun yang akan terpilih setelah ini.
Proyek-proyek kemanusiaan itu, meliputi proyek fisik dan proyek non fisik yang kesemuanya bermuara pada mitigasi. Membangun kesadaran kolektif atas keselamatan kolektif. Secara bersama-sama, memikirkan cara menyelamatkan diri. Gempa 4,2 SR pada Jumat pekan lalu, adalah salah satu simulasi yang gagal.
Betapa takkan gagal, anak sekolah sudah mematuhi cara menyelamatkan diri, tapi bapak-bapak dan mamak-mamaknya, justru melanggar. Lari bagai dikejar setan dengan mobil dan motor. Dia harus selamat, orang lain, biarkan saja. Orang Padang sudah tahu kemana harus lari, yang belum tumbuh kesadaran akan, “bagaimana cara lari”. Ini harus disiasati terus-menerus.
Anda harus tahu, di mana simpul-simpul kemacetan itu. Untuk Padang, ketua umum kemacaten adalah Simpang Tinju, sekretarisnya jambatan Andaleh. Wakil ketuanya, simpang Lapai dan para pengurusnya bisa Anda tambah sendiri. Jangan memperparah titk-titik itu.
Jika gempa tiba, semua kita diam dan lari sekencang-kencangnya, betapa enaknya eksodus. Oh ya, kalau gempa besar tiba, tiang listrik akan bertumbangan ke jalan raya bersama tiang telepon, hati-hati dengan mobil Anda, nanti ditimpanya, orang lari, Anda terkurung di atas mobil. Jadi berita pula di suratkabar. Orang bijak, tak mengganggu dan tak menghalangi orang lain. (*)

0 komentar :

Posting Komentar