On 12/08/2010 06:44:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Jika kita berdiri pada posisi kehidupan rakyat yang sesungguhnya, maka dapatlah diterima, pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (PNS), adalah pilihan yang amat tepat. Memang, berwiraswasta atau bekerja di dunia swasta sangatlah menjanjikan, jika berhasil dan lebih mantapnya, jika sukses.
“Jika berhasil” dan “jika sukses” itu, adalah sebuah rimba belantara. Memerlukan perjuangan dan kerja keras, bekerja di bawah tekanan dan imbalannya bisa libur dengan nyaman kemana kita suka, sesuai kondisi keuangan.
Menjadi pegawai negeri adalah gerimis, bukan hujan lebat, tapi turun terus-menerus, sepanjang hayat dikandung badan. Kalau sakit, ada jaminan, (di dunia swasta juga ada) dan yang sangat penting, jika tua terima pensiun. Meski saat tua itu, uang pensiun tadi, tak mencukupi, karena itu tetap dibantu oleh anak yang sudah bekerja di bank atau perusahaan ternama lainnya.
Hati manusia adalah samudera yang luas. Pilihan hidup adalah pilihan hati. Jika hari ini dimana-mana kampanye “ayo ke dunia swasta” dikumandangkan, maka hal itu, hanya akan melantun-lantun pada dinding beton. Suaranya bergema ke mana-mana, tapi hasilnya tidak seberapa.
Ibarat irigasi, pangkal masalahnya bukan pada lulusan perguruan tinggi, tapi pada kualitas perguruan tinggi. Rasa-rasanya, tak banyak benar anak Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Tri Sakti yang ingin jadi PNS. Lulusan fakultas kedokteran dari universitas juga jarang yang mau jadi PNS, buktinya formasi yang disediakan tak terisi.
Bagaimana anak Universitas Negeri Padang (UNP) takkan jadi PNS, sebab kecenderungan yang masuk ke sana, ingin jadi guru, meski IKIP sudah berubah nama jadi UNP.
Bagaimana sarjana IAIN Imam Bonjol takkan ingin jadi PNS, sebab mereka sulit menembus PT Semen Padang, misalnya? Meski harus diakui, banyak dari UNP dan IAIN ingin dan telah mengepakan sayapnya di dunia swasta.
Begitu juga dengan Universitas Andalas (Unand). Okelah Unand hebat, tapi motivasi dari orangtua adalah jadi PNS, maka anak tak berani melawannya. Lagi pula, Unand baru sedang berusaha membangun jiwa wiraswasta mahasiswanya.
Karena itu, bersyukurlah kita, ketika remaja Sumbar masih mau berbondong-bondong jadi pegawai negeri. Kalau mereka pergi ke rantau semuanya, maka kampung sendiri akan sepi. Bagaimana mereka akan bergerak di dunia swasta, sebab setelah mereka coba, selalu saja gagal. Tapi kenapa orang bisa berhasil? Nasib tiap orang tidaklah sama.
Saya adalah lulusan IKIP Padang, habis saya dikuliahi oleh hampir semua orang, ketika saya tak mau jadi PNS. Sampai detik ini, Insya Allah, pilihan hidup yang saya ambil, adalah baik buat saya. Entah setelah ini, hanya Tuhan yang tahu. Begitu juga dengan teman-teman saya, apakah teman sesama Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Padang Panjang dulu, atau teman-teman sesama tamat IKIP Padang, mereka nyaman dengan pilihannya masing-masing.
Seorang teman yang jadi guru SD, saya lihat bahagia. Seorang teman yang seharusnya jadi guru SD, kini jadi juragan ikan. Uangnya lebih banyak dari siapapun di antara kami. Teman lain, sesama kuliah sudah jadi kepala dinas pendidikan, jadi sekretaris DPRD. Tapi ada juga yang celananya pun tak digosok, sepatunya sudah sobek.
Rezeki memang tergantung Tuhan, tapi peran dan motivasi kerja sangat menentukan. Jika bekerja dijadikan hobi, maka uang akan mengalir sekencang kita bekerja.
Karena itu, jika puluhan ribu orang melamar jadi CPNS, maka biarkanlah. Itu pilihan hidupnya. Perubahan drastis yang diharapkan, takkan terjadi, jika hulu irigasi tak diperbaiki. (*)

0 komentar :

Posting Komentar