On 12/02/2010 07:12:00 AM by Khairul Jasmi     No comments
SINGGALANG Senin, 25 Oktober 2010

Tuan di Rantau
Khairul Jasmi

Tuan di rantau, sedang apakah Tuan sekarang? Jadikah Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM)? Ditantang sejumlah orang kabarnya. Ini pertama dalam sejarah Minangkabau, kehendak rantau ditantang orang kampung.
Pak Emil Salim dulu tak begitu. Mangango kami kalau Pak Emil mengecek. Beliau sangat sistematis. Kalau Pak Taufik Abdullah, dalam benar ilmunya. Juga Pak Taufiq Ismail. Kalau penyair ini tampil di televisi, serasa diseretnya kami ke tempat ia sedang berada.
Pak Harun Zain, ondeh Tuan. Kalau beliau berbicara, kami simak baik-baik. Berhutang budi dan berhutang sejarah Minangkabau pada beliau. Adakah Tuan lihat-lihat Beliau ke rumahnya? Pak Azwar Anas juga begitu. Beliau penyayang pada rakyat, tak pernah kami dengar perkataannya yang kasar. Ba nyak sekali jasanya pada ne geri ini. Belakangan Pak Hasan Basri Durin, meneruskan cita-cita Pak Azwar. Kalau bertemu di Jakarta, sampaikan salam untuk Beliau.
Tuan, di rantau masihkah dendang Misramolai mengalun sendu di lapak-lapak kaki limamu? Atau lagu Pasan Mande Yusaf Rahman, yang dinyanyikan Tiar Ramon itu, masih didengarkan? Atau lagu 3 Diva mengalun harum di mobil rancakmu menjelang Plaza Senayan?
Di kampung kita, mamak-mamak kami pergi ke ladang membawa tip kecil dengan empat baterai dan ia gayutkan di dahan kayu. Dari tip itu terdengar nyanyi kesukaannya. Jika tak Tiar Ramon, ya saluang Misramolai, dan tentulah lagu Kutang Barendo yang dibawakan dengan sangat pas oleh Melati.
Mamak kami, Tuan, tersenyum-senyum kecil menyimak lagu itu sambil membersihkan ladangnya. Sambil bersiang kulik manih, terkenang juga anaknya di rantau. Sedang apakah ayam gadangnya kini di Tanah Jawa.
Ia ulang-ulang dengan gayanya sendiri lagu Kutang Barendo. //Lai lalah kutang barendo...//
Ia baca-baca pula dendang Misramolai, //Anak kanduang si birin tulang, nyampang anak isuak kok gadang pandai-pandai mambok diri//.
Tuan di rantau, kapankah kalian bisa meneteskan air mata? Karena kebudayaan atau karena lagu-lagu hits terbaru dari Agnes Monica dalam mobil rancakmu? Atau karena lagu-lagu saluang penyanyi-penyanyi di kampung kita, yang syairnya dengan amat cepat membawa Tuan ke masa di kampung dulu? Lagu mana yang membuat hidung Tuan seolah mencium bau tanah di sudut dapurmu?
Tuan, jarak kita dibatasi laut. Tapi, ada yang tidak bisa putus oleh apapun, yaitu hati dan perasaan. Semua itu diulas oleh lagu-lagu klasik Minangkabau, Tuan. Jika sesekali di televisi swasta nasional muncul lagu klasik Minang, meremang bulu kita dibuatnya. Itulah kekayaan batin kita.
Kita tak pernah bertengkar karena lagu, malah terasa makin dekat. Tentara kadang bisa bersatu karena lagu. Tuan, kami di kampung sekarang susah tidur. Kunci pintu hanya sekali putar, takut kalau-kalau datang gempa menghoyak. Anak-anak kami tidur gelisah, seperti juga kami. Pintu kamar kami renggangkan saja, jika ada yang berderit kami segera meloncat melihat anak-anak.
Tuan, subuh terdengar suara azan dari menara masjid dari pelantang suara yang berderak-derak. Kabelnya rusak. Lalu, anak-anak kami, lelaki atau wanita, bangun. Mereka shalat dan ke mudian selesai sarapan ber angkat ke sekolah. Sesekali mereka mengulang hafalan nya, soal asmaul husna. Sua ranya indah, bagai Hadad Al wi atau Sulis. Melengking se olah hendak mencabik langit.
Tuan, di rantau tak ada gempa ya? Di sini sering benar. Di kampung kita ini, tak siang tak malam. Ada prediksi-prediksi gempa besar dari pakar yang menggetarkan jiwa. Kami takut Tuan. Oh ya, ada 181 ribu lebih rumah hancur, rusak berat dan sedang. Belum diperbaiki. Sekarang pemerintah sedang menurunkan bantuan untuk rumah-rumah itu. Totalnya Rp2 triliun. Pernah lihat uang sebanyak itu? Bisa Tuan bayangkan, uang Rp2 triliun dibelanjakan di kampung kita? Ekonomi bergerak Tuan.
Meski begitu, kami banyak takut sekarang. Jangan gempa lagi. Jangan, tolonglah Tuan doakan di rantau.
Namun kami bangga dengan Minangkabau. Kami di desa belajar adat, agama, bersilat, membuat grup randai. Kami belajar petataih-petitih. Satu persatu gelar datuk kami tegakkan lagi. Tapi kami tak punya uang untuk memperbaiki rumah gadang yang sudah condong atau roboh. Rumah gadang Tuan bagaimana kabarnya? Sudah roboh pula?
Remaja kami, kemenakan Tuan kini sudah bersekolah. Banyak yang sedang kuliah sampaike Mesir. Ada asrama mahasiswa Minang di sana. Tak sedikit yang belum bekerja. Yang tak bekerja, ia sandang ransel usangnya. Satu persatu mereka berangkat ke rantau, menyetop mobil di Kubu Kerambia, di Singkarak atau di Silungkang, biar dapat ongkos murah. Mereka hendak ke Jawa mengadu nasib.
Mandenya ditinggal di rumah bersama adik padusinya.
Mande menasihati si bujang. “Elok-elok ang di rantau yo. Jan lupo sumbayang ndak” Dan ketika pergi, di tikungan pertama, si anak sudah lenyap, mande menyapu air mata dengan selendang lusuhnya.
Tuan, bagaimana sahabat-sahabat kami itu rantau, adakah tuan silau? Adakah Tuan sapa? Adakah diberi nasihat atau mungkin modal?
Kemarin, si upik menerima SMS dari udanya di rantau.
“Jamilah, uda mengirim pitih untuak Amak Rp500 ribu. Bia Liau mamacik-mamacik piti, kan ado-ado se nan ka Liau bali di lapau” Ber sikincak si Jamilah mem bacakan SMS itu pada Amak.
“Untuak kau ndak jo kiriman, kau nan manyasahan bajunyo, maambiak-an nasi, kok malangnyo do rantau ka rumah kau nyo manapek mah,” kata si Amak sambil tersenyum pada anak gadisnya.
“Uda, untuak awak mah?” Jamilah membalas SMS.
Mendenyut dada si uda di rantau. Terbayang adik gadisnya yang manja.
“Iyo bisuak uda kiriman liak, tapi Rp300 yo.”
“Oke bozz,” jawab Jamilah. Pulsanya hampir habis.
Jika Lebaran Tuan pulang, harap benar hati kami. Biar kampung ramai, biar riang lagi, biar ramai pemandian kita. Masih bisa main bola atau main layang-layang? Ondeh Tuan, kini sedang ramai-ramainya.
Kalau pulang Lebaran, bawa istri dan anak-anak. Perkenalkan kampung halaman kita pada anak-anakmu. ABS-SBK anak-anak Tuan mantapkan? Mantaplah, di rantau segala ada. Di kampung guru kami masih yang dulu-dulu juga. Masih baca bismillah kalau salat, dibesarkan bacaannya. Suara imam di masjid tak rancak seperti di Istiqlal. Tapi Tuan, mande-mande kami sangat menghormatinya.
Pulang ya Tuan, sebab menurut BPS hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki di Sumbar sekarang.
Jadi lelaki Minang lebih banyak di rantau dari di kampung? Tuan punya data nya? Ah tak apa, BPS punya kok.
Kalau mau Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) undang BPS ya. Selain itu, jangan KKM saja, lakik-an jugalah dari hotel pulang ka kampuang awak agak sajamang, jalan alah rancak, diaspal dek Pak Bupati.
Atau tak usahlah kongres itu Tuan laksanakan. Malu awak dengan Pak Emil Salim dan tokoh-tokoh lain yang mendirikan Gebu Minang.*

0 komentar :

Posting Komentar