On 10/30/2011 06:04:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments

Khairul Jasmi

Pada 31 Oktober ini, penduduk dunia, mencapai 7 miliar orang. Bayangkanlah hal-ikhwal dan kurenah tentang manusia sebanyak itu. Mulailah, tentang apa saja, sesuka hati Anda.
Saya akan mambayangkan orang yang senama, sama tanggal lahir, sama nama ibu-bapaknya. Sama pula nama pasangannya. Jika orang yang senama saja dikumpulkan, mungkin perlu satu negara untuk mereka saja.
Mungkin ada 5 juta yang namanya Ani. Lantas 3,5 juta namanya Bayu. Kemudian Michel ada 3,2 juta. Lantas Robert, 2,9 juta. Ling-ling, 4 juta, Cheng Ho Way, 2,1 juta, Khamel, 3 juta, Nasser, 2,3 juta dan seterusnya.
Yang perangainya sama, misalnya, suka meludah sembarangan tempat, satu pula gubernurnya. Yang sarawanya melorot terus, pakai walikota pula satu. Yang suka ribut saja, diperlukan satu kapolda.
Ha ha ha... dan yang profesinya wartawan, diperlukan satu presiden. Di negeri ini, kesibukan terjadi luar biasa, sebab semua pandai menulis berita. Berbeda dengan negeri yang isinya dokter semata. Dokter memeriksa dokter yang lain, perdebatan soal penyakit saja. Semua berbaju putih dan menyetir sendiri.
Bagaimana kalau semua tukang palak, tukang loge, tukang cido, tukang patah, tukang etong, tukang rabuik, tukang catut dibuatkan sebuah negara? Siapa yang mampu jadi presidennya?
Mana yang lebih menarik dengan negara tukang selingkuh? Dari ujung ke ujung isinya peselingkuh saja? Mungkin di sini pulsa paling banyak terjual. Tukang selingkuh diselingkuhi. Pangkat dua kwadrat.
Pada 31 Oktober dan seterusnya ke atas, maka jumlah penduduk akan terus bertambah dari 7 miliar. Laporan berjudul The State of World Population 2011 mengatakan ada kesenjangan lebar antara hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan.
Demikian pula perbedaan antar negara, dan bahkan di dalam populasi tiap negara. Studi tersebut melacak tren jumlah penduduk dan demografi di sembilan negara, yaitu Tiongkok, Mesir, Ethiopia, Finlandia, India, Meksiko, Mozambique, Nigeria dan negara bekas Yugoslavia, Republik Macedonia.
Studi itu menurut VOA mencatat pada 2011, sebanyak 60 persen jumlah penduduk hidup di Asia dan 15 persen di Afrika. Tapi jumlah penduduk Afrika berkembang lebih dari dua kali percepatan pertumbuhan penduduk Asia.
Lantas masih ada 2,6 miliar penduduk yang membuang air besar sembarangan. Limbahnya lebih dari 200 juta ton tidak tertangani dengan baik.
Jumlah penduduk yang banyak, itu membuat lahan semakin sempit. Di China daratan misalnya, jumlah penduduknya paling banyak di dunia. Di India, pemandangan memiriskan masih saja terjadi karena kemiskinan. Di Pulau Jawa, apalagi di Jakarta, manusia terlihat sangat banyak.
Tapi sudahlah, selagi belum kiamat jumlah penduduk akan terus bertambah dan berkurang di beberapa tempat akibat bencana atau penyakit bahkan peperangan.
Lantas berapa orang yang bernama Khairul, Chairul, Khoirul, Hairul, Khairil dan Chairil? Ciek pula negaranya. Presidennya tentu saja saya, sebab saya sudah presiden juga sejak lama. He he he ... (*)

On 10/14/2011 07:04:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

“Pak sandalnya belang,” karyawan Singgalang menegur sekaligus mengingatkan saya. Sandal jepit saya memang belang. Yang kanan warnanya hitam dan ada lingkaran putih di atasnya, talinya kuning. Kiri, putih, ada lingkran hitam. Talinya silver.
“Baa kok tarompa iko angku bali, balang ha,” kata saya sebulan lalu pada staf yang membelikannya.
“Itu modelnya sekarang,” kata dia enteng.
Model rupanya. Maka bersandal belanglah saya tiap hari di kantor. Seumur-umur, inilah baru saya menggunakan alas kaki yang semacam itu.
Banyak yang mengira saya salah pasang sandal. Saya tersenyum saja.
Sambil memakainya, terpikir juga, ada-ada saja ide kreatif orang untuk melariskan dagangannya. Sandal jepit saya itu, modelnya memang bagus. Ide kreatif telah menabrak hal tabu, tak sama kiri dan kanan. Seperti sandal curian saja. Tapi itu pula sekarang yang tren. Karena itu, saya yakin, banyak yang memakainya.
Yang saya takut, besok-besok, sandal dijual sebelah saja. Yang sebelah pakai sandal sendiri yang sudah lama. Kalau itu terjadi, benar-benar gila. Atau dijual sepasang, tapi dua-duanya kanan, atau dua-duanya kiri. Mana tahu, ide gila itu, menarik pula oleh kita yang juga sudah rada-rada gila.
Atau sepatu dibuat belang pula. Kalau celana sudah ada yang belang. Kaki kanan merah, kiri hitam. Atau warna lain. Baju juga sudah ada. Produk-produk semacam itu, ada saja yang membelinya. Pasar memang sulit ditebak.
Kembali ke sandal belang. Sebelumnya saya memakai sandal jepit yang sudah berjejak oleh kaki saya. Ada jejak telapak kaki tercetak di atasnya, akibat terlalu lama dipakai. Tak enak dipandang, kemudian diganti dengan sandal jepit empuk. Berbunyi-bunyi, padahal tak kena air. Aneh. Selain itu, jika lama dipakai, kaki saya berbau, seperti bau kaos kaki empat hari tak diganti.
Maka saya tukar dengan si belang. Yang baru ini bikin masalah lagi. Maka hilir mudiklah saya di kantor dengan tarompa aneh tersebut.
“Pak tarompanyo balang,” tiap sebentar saya diingatkan. Belum tau dia rupanya.
Saya mengagumi ide kreatif sandal jepit belang itu. Pada banyak peristiwa pemasaran, ide kreatif justru mendatangkan untung.
Produk yang unik dan lucu, bisa menggoda konsumen. Untuk sandal jepit, pembeli bukanlah konsumen yang loyal. Asal sandal dan tetap pada fungsi dasarnya, serta harga terjangkau, beli.
Ide kreatif untuk produk apa saja, adalah celah untuk membesarkan perusahaan. Hal-hal yang biasa saja sudah banyak dijual orang. Hadirkan yang tidak biasa, namun tetap masuk akal. Di situlah, pasar akan menggeliat.
Begitulah sandal jepit, Menurut literatur sandal adalah alas kaki yang mungkin sudah dikenal manusia sejak zaman Mesir Kuno. Di zaman kuno, orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga mengenakan sandal.
Karena itu literatur perlu diperkaya lagi. (*)
On 9/23/2011 05:48:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
“Ada dua srigala yang bertarung dalam diri manusia. Satu cinta, lainnya benci. Yang menang, serigala yang selalu diberi makan.”
Saya suka mencatat, kata-kata bermakna ketika menonton film asing. Kutipan di atas saya ambil dari sebuah film produksi Amerika. Saya lupa filmnya.
Srigala itulah yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sering memakan kita, tanpa disadari. Karena cinta, orang bisa hanyut sampai ke laut lepas, lalu tenggelam tanpa diketahui siapa saja. Oleh hal yang sama, seseorang bisa terbang ke bulan dan tak pulang-pulang. Oleh cinta juga, manusia menemukan surga di setiap langkahnya. Mabuk kepayang dia.
Karena benci, dunia rasanya mau dikeping, tapi pengepingnya tak ada. Tersebab benci, muak saja kita melihat orang lain. Bahkan jijik.
“Jangan cemas dengan apa yang terjadi, sebab waktu akan mengobati segalanya,” kata indah lainnya yang saya catat. Masih dari film.
Waktu akan mencairkan perasaan benci dan cinta. Waktu pula yang bisa mendekatkan seseorang dengan lainnya. Atau menjauhkannya, hingga lupa.
Teman saya, yang sudah lupa merokok, karena jantungnya yang rusak, tiba-tiba merokok lagi. “Sakali-sakali,” katanya.
Nyaris saya marah kepadanya. Waktu telah menyebabkan, ia kembali mencari rokok, setelah sekian lama berhenti. Ia lupa penyakitnya.
Teman lainnya, mengaku agak rusak hatinya, ketika tak teman lamanya, lupa. “Luponyo jo den, sombong bana,” kata dia.
Betapa takkan lupa, si teman sudah berdasi, makin gagah. 
“Sabana lupo den, serius,” kata si teman. Ia payah “memperbaiki” hubungannya kemudian.
“Setelah berbicara berpisah, baru saya tahu, beliau guru saya rupanya,” kata seorang teman yang lain, habis mewawancarai seorang tokoh masyarakat. Si guru telah pensiun. Sudah lama. Bekas muridnya ini, sudah jadi orang. Kemudian ia balik kanan, mencari si guru, untuk minta maaf. Tapi, si guru sudah lenyap. Pak guru pensiun itu, juga tak mengenalnya.
Semua ini terjadi karena waktu.
Kita acap lalai memberi makan sanubari. Mungkin srigala, bukanlah tamsilan yang tepat, terutama untuk rasa cinta. Namun apapun, seseorang bisa tak pandai lagi meningkahkan cinta untuk kehidupannya.
Ia lupa berdandan, karena perihnya kehidupan. Ia lupa mandi bersih karena kesibukan. Ia lupa mencium suami atau istrinya. Lupa dengan sentuhan pada anak-anaknya.
Tapi ia tak lupa melirik lawan jenis yang ia sukai. Terbit jongkeknya. Srigalanya sedang riang. (*)
On 9/09/2011 07:55:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Sesudah Lebaran Idul Fitri, paling tidak sampai Kamis (8/9), produktivitas menurun. Indikasi ini saya amati di dunia jurnalistik. Saya melihat pola kerja wartawan suratkabar di Sumatra Barat, saya sigi semua situs berita langganan Singgalang, juga situs-situs koran dan kantor berita lainnya. Semua menunjukkan, produktivitas menurun. Tidak diketahui bagaimana di lapangan pekerjaan lain.
Ini bisa disebabkan, banyaknya wartawan yang cuti atau masih lelah sehabis Lebaran. Atau bisa pula, energi wartawan tersedot oleh liputan mudik dan balik musim liburan.
Apapun, Lebaran telah berlalu. Badan terasa segar, dompet terasa tipis. Tanggal semaikin tua pula. Sementara itu berbagai kewajiban tak terlunasi semuanya.
Kue lebaran, membisu dalam botol di meja ruang tamu. Dingin. Sesekali dikulek, terasa manis. Namun batuk ini belum reda juga karena kebanyakan memakan yang manis-manis saat Lebaran. Flu mulai pula terasa karena cuaca yang tak bersahabat.
Kacang tojin, apapun alasannya, lamak dan badaruak , tak bisa dilupakan. Kacang tojin yang paling merasai, tinggal sedikit lagi. Pekan depan akan habis, karena semua tangan manggaruaknya.
Lebaran kembar, tidak jadi pembicaraan lagi. Pertikaian itu, kata ulama adalah rahmat. Beliau menyebutnya “perbedaan” bukan “pertikaian”. Tapi kalau terus-menerus berbeda, apa itu rahmat juga?
Tak tahulah, yang pasti, berbeda atau pun sama, hampir semua perusahaan swasta di seluruh Indonesia, menganggap Agustus adalah bulan yang berat. THR dan gaji harus dibayar bersamaan, meski ada yang membayar gaji sehabis Lebaran.
Pilihan pertama terasa alangkah enaknya. Betapa tidak, THR dan gaji sedundun. Bapitih wak rirayo. Habis Lebaran, ludes semua. Sementara kelompok kedua, agak mangambok menjelang Lebaran. Tapi, begitu masuk kantor, mereka langsung terima gaji. Dapat energi baru. THR habis, gaji diterima. Seperti menerima piutang lama. tak disangka-sangka.
Begitulah Lebaran, sebuah gerakan kolosal yang bernilai triliunan rupiah. Lantas kemudian yang tersisa adalah pakaian baru habis dipakai yang belum dicuci. Sepatu baru tergetak begitu saja di dekat pintu.  Bunga di halaman yang biasa disiram, belum disentuh. Kota mulai sibuk, sesibuk hari-hari sebelumnya.
Sementara desa mulai sepi, kumandang azan Zuhur di menara masjid, seolah pekik kepiluan. Lengang bukan buatan nagari sekarang. Perantau telah pergi, petani ke sawah dan ke ladang. Harga hasil tanaman serba murah, semoga bulan depan membaik.
Anak-anak pergi ke sekolah, tak ada kisah yang hendak diceritakan, karena mereka masih mengantuk-ngantuk.
Lantas di langit tua, rembulan bangkit malam demi malam. Dari sepotong sabit, lantas malam berikut kian besar dan akhirnya, Selasa atau Rabu besok akan purnama. Bulan bulat penuh, saat bumi temaram disiram sinarnya. Saat purnama itu datang 40 tahun silam, masih teringat, anak-anak bermain tali di halaman rumah.
Kini purnama mungkin berlalu begitu saja, tanpa ada anak-anak yang riang di halaman rumahnya.
Lebaran telah usai, mohon maaf lahir batin. (*)
On 8/26/2011 05:24:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Ekonomi mudik di Indonesia diperkirakan Rp105 triliun, sudah termasuk Tunjangan Hari Raya (THR). Sementara itu, menurut Bank Indonesia (BI), dalam suasana Lebaran tahun ini, Padang menjadi penukar uang receh terbesar di luar Jawa. Sampai Selasa (23/8), transaksi uang receh di Sumbar mencapai Rp29 miliar. Tiap hari Rp2,5 miliar.
Uang receh atau uang kecil yang baru, bisa didapat di BI atau di tepi jalan pada beberapa titik di Padang. Penukaran yang baru di tepi jalan itu, menurut MUI Jombang, haram. MUI setempat meminta umat mendapatkannya ke BI saja, biar tak haram. Tapi MUI lain, tidak atau belum memberi fatwa.
Kalau semua orang ke BI menukar receh, bisa dibayangkan betapa panjangnya antrean berhari-hari. Jangan-jangan orang BI pula yang tak sanggup melayani masyarakat. Waktu habis, tenaga habis.
Maka lebih praktis, ditukarkan saja di tepi jalan. Rp1 juta yang baru, dibeli Rp1,1 juta. Itulah yang menurut sebagian orang riba.
Supaya tak riba, Rp1 juta baru, dijual Rp1 juta juga. Lantas si tukang jual dapat apa? Menolong bako saja? Perai? Tak usahlah diriba-ribakan pula, ujung Rp100 ribu itu, kan jasa ia pergi ke BI.
Ujung uang itulah THR bagi si penjual uang receh baru. Kalau diribakan, apa kita mau mencarikan ganti THR baginya? Tokh kita tahu, ia bukan menjual uang dalam artian rentenir. Ia hanya menolong orang yang butuh uang receh baru.
Sementara itu, THR kita sumbernya lain pula. Lain sumber, ujungnya sama, untuk Lebaran. Dari sudut duniawi, THR merupakan salah satu indikasi semaraknya Lebaran atau tidak. Kalau THR kurang, rirayo menjadi dingin.
“Dingin se rayo kini,” kata teman saya. Hal yang sama ia kemukakan pula tahun lalu dan tahun lalunya lagi.
Pernah suatu ketika, belum lama benar, Idul Fitri alangkah meriahnya. Besar hati kita rasanya karena suasana yang tercipta. Kebutuhan anak-anak, istri, diri sendiri, keluarga di kampung terpenuhi. Sudahlah terpenuhi, uang di tangan masih banyak.
Tapi, hari ini skonde sepertinya patah. Tak menggarik jarum panjang dibuatnya. Kalau begitu, jarum pendek jangan harap akan bergerak.
Tapi tidak separah itu. Saya menyaksikan sejumlah orang membimbing putri kecilnya menuju mall, setelah memarkir kendaraannya. Pemandangan lain, beberapa ibu-ibu masuk Pasar Raya Padang dan berbelanja baju, sepatu dan lainnya untuk anak-anaknya.
THR adalah uang yang datang tiba-tiba untuk kebutuhan Lebaran. THR bisa datang dari kantor, teman, sahabat atau siapa saja. Bisa diminta, bisa diberi. Bahkan bisa dengan cara memeras orang.
THR gunanya untuk bersuka cita di hari raya. Di hari raya semua berbaju baru. Jika ada yang tidak, apa boleh buat. 
Selama Ramadhan dan Lebaran, permintaan barang kebutuhan rumah tangga, sandang dan sayur mayur dari konsumen diperkirakan naik hingga 50 persen selama puasa. Sementara itu, BI menyediakan uang tunai Ramadhan dan Lebaran Rp61,36 triliun. Dan itu dalam pecahan kecil.
Betapa agungnya hari raya. Tapi tak bisa diputar kalau tak ada uang. Uang adalah kunci inggrisnya. Dompet Dhuafa Republika melakukan penelitian dan menemukan ekonomi mudik 2010 Rp105 triliun.
Saya kira, pengajian-pengajian kita setelah ini, mulailah dimasukkan forsi ekonominya. Jangan surga neraka saja 100 persen. Bagaimana ekonomi syariah, bagaimana KUR, KUT, usaha mikro, UKM, wirausaha, wiraswasta dan lainnya. Karena itu, wawasan mubaligh memang perlu ditambah.
Sementara itu, marilah kita berlebaran dulu. Libur panjang sampai tanggal 4 September. Makin panjang libur, makin risau hati, sebab dana tak cukup.
Ah, kamari bedo. (*)
On 8/19/2011 05:27:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Sebuah bank, memasang spanduk di kompleks perumahan saya di Kuranji, Padang. Isinya ajakan agar kami memindahkan kredit kepemilikan rumah (KPR) ke bank tersebut. Tentu saja proses dan bunganya murah.
Tapi saya tersinggung oleh bank tersebut. Mau enaknya saja, menembak di atas kuda. Ketika semua sudah beres, bank ini masuk, dulu kemana dia?
Tapi dari sisi marketing dan persaingan, itu hal wajar. Biasalah.
Saya masih ingat ketika bank BUMN tersebut, menolak memberikan KPR kepada saya, setelah menunggu sekitar sebulan. Padahal berbagai syarat sudah saya berikan. Pegawai bank itu, kabarnya juga sudah datang ke lokasi.
“Maaf Pak, Bapak tidak bisa diberi KPR kalau jumlahnya sebanyak itu,” kata si petugas bank. Sangat kapitalis, sangat curiga dan menganggap enteng penduduk pribumi.
Akhirnya saya pergi ke Bank Nagari di Jalan Pemuda Padang. Dua jam selesai.
Setelah cicilan KPR ke Bank Nagari berjalan sekitar empat tahun tanpa cacat, tiba-tiba suatu pagi, saya melihat spanduk bank milik pemerintah pusat membentang kendor di kompleks saya. Ia mengajak pindah boyong ke banknya.
“Enak aja!”
Setelah sukses mempersulit, kini ia datang. Setelah perang selesai, setelah ombak tenang. Kabarnya tak ada yang mau memindahkan KPR-nya ke bank tersebut.
Saya memang sering sedih atau tersinggung oleh perangai pihak-pihak yang berurusan dengan uang. Pada tahun ketumbar, saat membeli kartu hallo dari Telkomsel, rumah saya dikekernya. Difotonya, dilacaknya aset-aset saya. Sok hebat, sok kaya dan curiganya pada kita orang Melayu, bukan main.
Lihatlah sekarang, sekitar 20 tahun kemudian, penjual kartu Telkomsel ada di mana-mana. Karena itu, saya tidak bisa memaafkan sikap kapitalis yang saya rasakan ketika mengurus kartu hallo dulu itu. Benar-benar Amerika plus Inggris, plus Belanda. Ampun.
Lalu saya ikut KPR di sebuah bank khusus KPR pada 1980-an. Lagi-lagi dikekernya segala penjuru tentang saya.
Diadakan wawancara dengan calon konsumen yang dikumpulkan di aula besar. Kami, ratusan orang, dibuatnya seperti sedang menunggu pembagian zakat dari orang kaya.  Mata besar pegawainya mencurigai si Melayu, seperti saya ini. Menunduk-nunduk kami si calon ketika itu dibuatnya. Nama mandeh kanduang kita dicatatnya berkali-kali. Mengingat hal itu sekarang, naik darah saya oleh bank tersebut.
Lalu, saya membeli mobil, dua jam selesai. Tidak ribet. Tak ada wawancara, keker-mengeker. Mobil lunas, urusan selesai.
Karena pengalaman itu, bagi pasangan usia muda yang mau mengambil rumah lewat KPR, hati-hatilah mendatangi bank. Dari sorot mata pegawai bank itu, kita dianggapnya seolah-olah akan membuat kredit macet saja.
Sesungguhnya, urusan dengan bak itu, tak lebih dari kepercayaan. Bagaimana bank-bank Jakarta itu bisa memercayai kita di Sumbar, bos-bosnya saja tak kita kenal dan kita tak dikenalnya.
Karena itu, saya sarankan sebaiknya ke bank milik daerah sendiri, yaitu Bank Nagari. Lagi pula, kalau lagak pegawai Bank Nagari itu, berlebihan, naik pula bahunya, bisa kita bilang sama dia.
“Biaso-biaso selah gaya sanak, jan naiak pulo bau tu, ibo ati kami mencaliak sanak mah,” langsung mengena.
Kalau pada pegawai bank Jakarta itu, tentu begini:
“Biasa-biasa sajalah gaya Pak, jangan naik pula bahu, iba hati kami melihatmu,” tak masuk gamaknya.
“Apa pula ini,” kata si bankir sambil memperbaiki dasinya. Ha ha ha...
Spanduk kendor di kompleks perumahan saya diayun-ayun angin. Spanduk itu, merupakan wajah persaingan bisnis perbankan. Persaingan yang ketat dan berdarah-darah, bisa membuat konsumen jadi korban. (*)
On 8/12/2011 06:38:00 PM by Khairul Jasmi in , , ,     1 comment
Sudah beberapa hari Ramadhan dilalui. Shalat Taraweh ramai terus. Tapi si bapak malam ini, tak hadir. Ia pusing karena pemerintah melakukan moratorium CPNS. Penghentian sementara.
“Tibo di awak nyo barantian, antah ha ha sae,” katanya pada sang istri.
“Curito se tu nyo Pa, sabanta lai bukak lo liak mah,” kata si istri.
“Nga taraweh Papa?” Tanya sang istri. Sebelum di rumah baru yang sekarang, ia tak memanggil papa pada suaminya, tapi “uda” kadang-kadang “oi” saja. Kini semakin maju saja, apalagi sejak bermobil baru. Dikacaknya dunia. Berpapa dia sekarang.
“Panik den,” kata dia. Anak gadisnya yang baru tamat kuliah sudah cigin ke mushalla. Si bapak cemas, karena anak gadisnya terhambat jadi PNS gara-gara moratorium. Waktu taraweh dua malam lalu, si bapak bersama anak dan istrinya sama-sama ke mushalla. Tenang benar bathinnya. Namun, sesudah Shalat Isya, hapenya bergetar. Sebuah SMS masuk.
“Besok cepat ke kantor, rapat soal moratorium, tahun ini tak terima pns, jumlah yang ada akan didata.”
Sejak itu ia gelisah. Ketika pengajian diberikan ustad, ia menerawang saja. Sudah banyak orang dibantunya, sekarang tiba di anaknya, pemerintah menyetop penerimaan CPNS.
Ketika Shalat Taraweh, si bapak berdiri. Setelah salam, ia menghilang. Waktu mau Witir, dia masuk lagi.
“Manga Papa, mailang-ilang se wakatu sumbayang?” Istrinya bertanya sesampai di rumah.
“Amba pusek den,” jawabnya
“Apa gerangan?”
“Bacaan imam banyak yang salah,” kata dia berdalih.
Istrinya diam sembari menyuguhkan kolak pisang.
“Roti hambar ada ga” ia bertanya.
“Roti hambar apa itu?” istrinya mulai berkucikak.
“Roti amba tadi tu ha, minta stek,”  jawabnya.
“Roti kaleng yang ada.”
“Sumbaranglah,” katanya.
Malam-malam berikut si bapak jarang ke mushalla. Ia selalu keluar rumah, pergi ke warung bertukar pikiran dengan sesama besar.
Mushala mulai berkurang isinya. Di balik kain, induak-induak masih tamaknina shalatnya. Tapi di saf belakang yang diisi anak-anak gadis, tikar mulai kencong-kencong. Ada yang shalat, ada yang duduk, ada yang main SMS, berjanji dengan pacarnya bertemu dekat tiang listrik.
Shalat terasa lama, ayat yang dibaca imam terasa panjang. Ada kakobeh imam, makin panjang ayat, makin meliuk bacaannya. Ayat-ayat pendek tak laku. Yang muda-muda gelisah dibuatnya.
Pagi ini, si bapak bergegas ke kantor. Pukul 10 siang, ia menghilang. Ia mau makan.
“Indak konsentrasi den puaso doh, anak ndak bisa jadi PNS, pamerintah indak manenggang,” kata dia pada temannya yang sama-sama tidak berpuasa.
“Perlakikan sajalah anakmu itu, habis perkara,” kata si teman.
“Dia mau kerja jadi PNS.”
“Lakinya cari yang PNS”
Si bapak tak menjawab. Ia seruput kopi hangat di gelas kecil. Ia sulut sebatang rokok. Ia buka satu kancing baju. Ia mulai main SMS, entah dengan siapa.
Nanti malam, ia tak taraweh lagi. (*)
On 7/29/2011 05:54:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Seseorang sibuk mencari imsakiyah. Ia tak mau luput dari jadwal yang tepat untuk makan sahur dan berbuka puasa. Biasanya imsakiyah itu ditarok di bawah kaca di meja, di tempel di kamar dan di dapur, dekat istrinya memasak.
Istrinya tak peduli benar dengan jadwal-jadwal itu. Baginya puasa biasa-biasa saja. Tiba sahur, ya sahur, saat berbuka, ia cicipi kolak. Terus shalat. Bagi suaminya, Ramadhan sangatlah istimewa.
Saking istimewanya, ia tidak boleh dipagarahan, selama Ramadhan. Ia berkali-kali bilang, “den puaso mah,” katanya. Begitu tahun-tahun sebelumnya.
Keinginannya banyak benar, kolak ini, kolak itu, randang ini, randang itu, gulai ini, gulai itu. Waktu berbuka, ia icak-icak alim. Dicicipi sedikit, lalu bergegas Shalat Maghrib berjemaah di mushalla. Sambil shalat, pangananya terus saja ke meja makan. Shalat tak sah!
Mendengar pengajian tak luput sekali jua, begitu sejak dulu. Tahun ini akan seperti itu pula. Mengangguk-angguk balam dia di mushalla. Ditanya isi pengajian dua malam lalu, ia lupa. Persis khutbah Jumat. Sejak SD ia mendengar khutbah Jumat, tapi tak berbekas di dirinya sampai sekarang. Lagi pula isi khutbah tak beranjak dari pahala dan dosa. Tidak ada motivasi bagaimana bisa memperbaiki kualitas iman dan kualitas hidup. Sudah ribuan kali ia mendengar ceramah semacam itu. Hambar saja olehnya. Sesuatu yang didengar amat sering, bisa menyebabkan dua hal. Pertama akan berkesan sedalam-dalamnya, kedua bagai air lalu saja.
Ia dibawakan anaknya imsakiyah yang salah cetakannya. Hebohlah si bapak ini. “Apa pula ini, imsakiyah salah, rusak puasa orang,” kata dia.
“Sebenarnya Papa, kita tak perlu imsakiyah, sebab setiap waktu, juga saat berbuka dan imsak, diperdengarkan dengan mik dari mushalla,” kata si anak.
“Perlulah, wajib ada itu, rusak puasa kita.”
“Kalau begitu tak usah saja mushalla pakai mik, selain itu kita matikan saja radio dan televisi, jadi kita berpedoman pada imsakiyah saja.”
“Imsakiyah itu penting, untuk membantu kita, berbuka lebih awal berpahala,” kata si bapak.
Ia memang tamaknina berpuasa. Tahun lalu, ia sering duduk di depan televisi. Mendengarkan pengajian. Selain itu ia juga banyak bertanya kepada ustad lewat telepon.
“Pak ustad di studio, bagaimana hukumnya gosok gigi di Bulan Ramadhan?”
“Ndak baa gai doh Pa,” bisik anaknya.
Di mushalla ia sering pula bertanya, “bagaimana puasa kita kalau tak makan sahur?” Pertanyaan lain, “Sah kah puasa, kalau terminum air tanpa sengaja”
Hal-hal sepele semacam itu selalu dipertanyakannya.
“Ma, masak alah 50 taun umua papa, ndak juo tahu soal gosok gigi bulan puaso doh?”
“Aniang selah,” kata mamanya.
Suatu kali si papa bertanya lagi.
“Bagaimana puasa kita kalau mencukia talingo dan lubang iduang, ustad?”
Si bapak, kini telah memiliki empat lembar imsakiyah. Tiap sebentar dilihatnya, makin ke ujung puasa, makin lama orang berbuka, berjarak dua-dua menit. Ia tak suka itu. (*)
On 7/22/2011 05:23:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
“Kapan-kapan saya datang.”
“Nanti akan saya antarkan.”
“Kalau ke sini mampir ke rumah.”
“Singgahlah dulu, minum teh.”
“Nanti saja, terkejar mau ke pasar.”
Ini antara lain, ucapan “palapeh kabek”, basa-basi. Tak bisa diukur.
Kita sering mendengar kata-kata di atas. Ini berkaitan dengan kesibukan orang, sehingga sulit membagi waktu. Juga karena “terpaksa” berbasa-basi.
Di luar itu masih banyak hal lain yang “tidak ada tindaklanjutnya”, karena memang dimaksudkan untuk basa-basi saja.
“Nanti kita bantu, kirim proposalnya.”
“Kalau saya menang, saya takkan melupakan bapak-bapak.”
“Masukan dulu usulannya, biar bisa dibahas.”
Pada akhirnya, tidak ada yang peduli dengan kita, karena tiap orang mempedulikan dirinya sendiri. Paling jauh keluarganya. Tiap orang punya kesibukan, yang tak kalah sibuknya dengan kita.
Tiap orang membawa lelah ke rumah masing-masing, lalu mengurainya sampai tuntas. Mereka menyegarkan diri di rumah yang sama. Memulai hari dengan napas baru. Sore pulang lagi membawa kelelahan dan beban baru.
Karena itu, jika ada yang bisa membantu orang lain, dengan cara apapun, maka hal itu amatlah terpuji. Lambatkanlah kendaraan Anda, agar orang bisa menyeberang. Itulah menolong, meski Anda kehilangan dua tiga detik waktu, tapi penyeberang selamat. Kenapa tatkala kendaraan lain sudah berhenti, Anda menyelonong juga ke depan dengan klakson memekakkan telinga, mempertakut penyeberang jalan?
Jika saja kita bisa membantu orang lain, dengan tidak membuang tisu dari mobil, alangkah eloknya. Jika saja, tiap kita memikirkan mau menolong orang lain setiap hari, maka orang lain akan menolong Anda jauh lebih banyak dari yang terpikirkan. Asal diniatkan atas ridha Allah.
“Ya saya bisa menolong, saya tak punya uang, tapi memiliki koneksi, sabar sebentar, saya telepon.”
“Saya punya, tak banyak, Hamba Allah saja.”
Melegakan. Kita sedang tidak sendirian rupanya. Ada orang lain yang bisa membantu.
“Pulsa Rp20 ribu.”
“Maaf saya benar-benar tak ada uang, kalau ada saya kirim.”
“Ah, masa, Rp20 ribu saja tak ada, kirim cepat ya.”
“Indak ado, sadang panik”
“Sawah sinan kan lai barayia mah”
“Indak ado cek den, baa mengecek-annyo lai, dibuek pabirik pitih amuahe cieknyo”
Diam.
Menolong orang adalah menolong, bukan hutang. Jika orang biasanya menolong kita, semisal pulsa Rp20 ribu, maka jangan anggap ia wajib menolong kita hari-hari berikutnya.
“Lah barubah se nyo kini, sampilik”
Kemudian kita tak ditegurnya lagi.
Si penolong yang sudah tak ditegur itu, sedang ada masalah berat. Tiga anaknya sedang butuh dana untuk kuliah.
Langganan koran pun sudah ia setop. Sudah ia sampaikan hal itu pada Anda, tapi Anda tak percaya juga.
“Ah alasan tu mah.”
Tiap kita punya kesulitan yang tak mungkin selalu dibagi dengan orang lain. Pahami hal itu.
“Minta rokok sabatang, sudah makan bana koha.
“Kok rokok lai, ambiak dua sakali.”
“Pahit hidup sekarang ya”
“Iya, berat benar beban terasa”
“Kalau ada proyek bagi-bagi ya.”
“Kamu kalau ada kabari juga aku”
“Ya pastilah”
“Kapan?
“Agustuslah, setelah termen pertama cair”
“Kalau bisa jelang lebaran”
“Oh ya, minta ongkos pulang, sudah sore”
“Tak ada uang, seret benar”
Ah.... (*)
On 7/08/2011 05:42:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Diumumkan kepada khalayak ramai, banyak anak miskin dari Sumbar yang lulus SNMPTN di UNP, Unand, UI dan ITB.  Sejumlah pihak tanpa nama, punya nama dan badan sosial serta amil zakat telah membantunya. Ketika anak-anak miskin itu menangis mencari uang, daerah ini punya dana Rp47 miliar ditarok di Bank Nagari. Uang itu hadiah dari PT Rajawali pada 2007.
Perusahaan ini “membayar uang takut” pada Gubernur Gamawan Fauzi, saat terjadi jual beli saham dari Cemex ke Rajawali. Dana sebanyak itu dialokasikan untuk beasiswa.
Kini sudah 2011, dana empuk itu belum bisa diapa-apakan. Maklum orang hebat bertengkar, maka tengkarnya menjadi-jadi. Adu santiang. Yayasan yang dibentuk untuk itu, diurus pula orang-orang sibuk.
Mau benar mereka bekerja, takut, karena pemerintah dan DPRD Sumbar masih bertengkar, kenapa begini, kenapa tidak begitu. Kalau begini apa nanti tepat sasaran dan kalau begitu, siapa yang menjamin ini dan menjamin itu.
Beduk pun berbunyi, musim SMPTN telah tiba, malah sudah diumumkan siapa yang lulus dan tak lulus. Terdengarlah pernyataan dari DPRD Sumbar, “yayasan tak ada masalah, silahkan jalan.” Olala.
“Pengumuman: Diumumkan kepada khalayak ramai, piti paralu kini, diumumkan kini, ngecek-ngecek saja, hasilnya nol besar”
Maka niat baik, jika dikerjakan tidak serius, atau adu santiang, beginilah jadinya. Uang beranak terus, anak miskin tercampak terus, rencana tak jalan-jalan.
Dari 2007 sampai 2011. Padahal, jika dipakai uang Rp47 miliar lebih itu untuk beasiswa anak miskin, maka alangkah banyaknya bisa dibantu.
Kita tidak peka atas penderitaan orang lain. Sulit tersentuh oleh nasib orang-orang kecil, kancang maurus diri sendiri. Suka berpura-pura, sok dekat dengan rakyat.
“Pengumuman: di Pemprov Sumbar juga ada beasiswa anak miskin, tapi kemana perginya? Hallo-hallo, kaum ibu, kaum bapak, kita gotong royong besok seusai Shalat Subuh. Bawa linggis, cangkul dan ladiang”.
Beasiswa di pemerintah, ribet urusannya. Setahu saya, hanya Tanah Datar yang mengumumkan di koran, pemberian beasiswa anak miskin. Mungkin juga Padang Panjang dan Agam tapi saya lupa. Pemprov Sumbar? Entahlah.
Kalau anak miskin yang bersekolah diurus, bisa. Mengurusnya gampang saja. Minta data anak kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan 3 SMA saat ini. Gubernur memerintahkan kepada Diknas, harus siap sebulan.
Bupati dan walikota memerintahkan ke Diknas-nya pula harus siap sebulan. Semua data lengkap, nama, umur, jenis kelamin, ayah ibu, pekerjaan, alamat, no hp.
Dalam sebulan data sudah ada, lengkap dengan foto. Data itu, dibaca dengan baik ditelaah dan dicatat. Ketika anak-anak itu ikut UN, lalu menyambung ke sekolah yang lebih tinggi, maka tinggal panggil.
Tentu dananya harus tersedia. Kalau dana untuk seminar, pelatihan, studi banding, turun ke lapangan, dikurangi, atau pengadaan benda-benda tak perlu dihapus, reses disetop sekali saja. Maka anak miskin bernasib buruk itu, akan terbantu.
Tapi ini tidak. Kancang ka awak, lupa mengurus orang miskin. Bukankah mengurus orang miskin kewajiban negara?
“Pengumuman, pengumuman, barangsiapa yang merasa kehilangan senter Eveready tiga batu, harap ambil pada garin.” (*)
On 6/26/2011 07:33:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
“Are you ready? Tangan di atas... Ampun dije, matikan lampunya sebentar dong! Ayo kita kemon...”
Diskotik itu pindah ke ruang publik, di pinggir jalan, dekat rumah amaknya.
“Ayo kemon, goyang terus...”
Beginilah suasana pada sebuah pertunjukan orgen tunggal malam hari, di Sumbar.
Waktu muda saya sering masuk diskotik, bar atau klub malam. Makanya saya tahu, apa yang dilihat dalam pertunjukan orgen tunggal di tepi jalan di dekat rumah penduduk itu, mirip bahkan melebihi suasana di diskotik.
Miris saya melihat suka cita remaja putra berjoget-joget bersama gadis berpakaian minim. Pasak moral sudah rapuh. Di kampungnya sendiri diadakan hiburan malam dengan orgen tunggal. Kalau adu pintar bernyanyi, baguslah.
Ini tidak, orgen berdentum, nyanyi tak ada. Yang ada hanya musik house mix. Musik bikin gila, berjoget bagai kesetanan. Hipnotisnya, apalagi kalau bukan gadis berpakaian minim.
Tak soal sebenarnya, tapi bukan dekat rumah amak awak, tapi di diskotik. Membayar masuk. Kalau dengan orgen tunggal, dipandang oleh adik dan kemenakan, ampun dije, usahlah diperbuat juga.
Fenomena joget syahwat dengan iringan orgen tunggal, di daerah kita “belum apa-apa” Di daerah lain, mati tegak kita dibuatnya. Sangat berani, sangat jitu, langsung ke sasaran.
Fenomena ini merupakan salah satu bentuk pelarian anak muda atas berbagai larangan yang diciptakan secara semu oleh pemerintah dan ulama, tapi lupa mengisi jiwa anak muda itu dengan bersungguh-sungguh.
Pelajaran di sekolah hambar, etika tidak diperhatikan, moral sekadar disebut-sebut. Rasa hormat hanya tertulis dalam buku. Orang-orang seusia saya yang berasal dari kampung, mandi di pancuran saja akan ditunda, jika di sana urang sumando sadang mandi. Malu.
Sekarang beradu pusar dengan pusar karena berjoget di depan umum, malah riang gembira. Tak mengapa kalau kedua pusar orang sejenis. Yang ini berbeda kelamin. Makin malam, kian yahud.
Ampun dije.... matikan lampu sebentar dong!
Joget kian gila, kian merangkul, berkeringat. Musik mencabik malam, orang di rumahnya tak bisa tidur. Memekak.
Pemain orgen sudah kelelahan, mereka ingin tidur. Sungguh, tapi audiens masih meminta.
Musik terus dipilin, lampu kelap-kelip menambah syahdu suasana. Kian intim, kian lengket, semakin kencang.
Dan, di Limapuluh Kota berkelahilah orang saat orang baralek ketika orgen dimainkan. Belum malam benar, tiba-tiba darah sudah tertumpa.
Goyang dangdut, minuman keras, harga diri, emosi mendidih. Bentrok.
Baralek di mana-mana saat ini, harus pakai orgen tunggal. Bagus, masak hening-hening saja. Yang tak bagus, pemuda yang memanfaatkan situasi.
Tuan rumah dipaksa menyediakan minuman keras. Kadang tuan rumah pula yang merasa tak lengkap kalau tak pakai minuman keras.
“Indak baa doh, bitu pulo adatnyo,”. Minum sambil main domino. Galak- galak. Menjelang subuh pulang. Yang lain tak main domino, tapi selalu berada di depan pentas. Menunjukkan kebolehannya. Apa lagi kalau bukan berjoget.
Ampun dije. Sudah saatnya, orgen tunggal saat baralek malam hari dihentikan, karena korban sudah jatuh. Ibu hamil tua di Limapuluh Kota, terbang darahnya, pingsan, dilarikan ke rumah sakit lalu tewas. Ini terjadi karena orang berkelahi pakai cangkul pada acara baralek keluarganya. (*)
On 6/17/2011 06:44:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
"Sedia minuman dingin: Mijon, Pokariswet, Akua, Prutang dan lain-lain.”
Tulisan ini dibuat di atas karton ditempel di peti es. Peti es itu diletakan di atas motor. Motor itu dibawa keliling kampung. Lantas bertemu seseorang yang pakai HP BlackBerry dan dikodaknya. Gambar itu dibagikannya kepada teman-temannya dan akhirnya sampai ke HP saya.
Tidak perlu ejaaannya benar, yang panting pesannya sampai dan sangat dimengerti.  Si pedagang keliling membawa minuman dingin, berbagai merek. Ada minuman Mizone, yang sebagian lidah anak Indonesia susah menyebut “Z”, maka jadilah mijon. Untuk nama orang juga begitu, Tarman Azzam, disebut Tarman Ajjam. Azan, jadi ajan, zaman dulu jadi jaman dulu, disingkat jadul.
Juga ada Pocari Sweat, tapi ditulis pokariswet. Tak soal, maksudnya sama. Untuk apa susah-susah. Lantas Aqua, diganti akua. Juga tak masalah. Bacaannya sama. ‘K” lebih akrab dibanding “Q”.
Juga Frutang, diganti Prutang. Bacaan juga tetap sama, pesannya sama. Dan lagi, “F” agak asing dibanding “P”. Waktu saya masih di SD tertulis “telefon” kini sudah telepon saja. Telah terjadi perubahan-perubahan. Nafas, tak tahunya sudah berganti napas saja.
Banyak yang sudah diganti orang, illegal logging berganti ilegal loging, bukannya pembalakan. Event, diganti iven. Image sudah imej saja.
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia juga begitu. Rakyat dari Sabang sampai Merauke menyebut cabe, kamus hebat itu bersitegang saja sendiri menulisnya dengan cabai. Rakyat lebih suka menyebut praktek, tapi menurut kaedah harus praktik. Di lidah kemaren, di kamus kemarin. Apa boleh buat. Berselisih saja sebutan dan tulisan.
Jadi apa salahnya kalau penjual minuman keliling menuliskan sesuai dengan apa yang dibaca orang? Bukankah bahasa untuk berkomunikasi. Ada yang dituturkan, ada yang ditulis.
Tapi pada sisi lain, ini memperlihatkan betapa rendahnya pemahaman anak negeri pada bahasanya sendiri. Tapi untuk apa pula bahasa tinggi-tinggi, kalau dengan bahasa rendah saja, yang dimaksud bisa sampai.
Begitulah hidup ini, apa adanya. Yang penting uang dapat dan halal. Bahasa tinggi, tapi korupsi, apalah gunanya. Para koruptor cenderung menjadi memakai Bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Atau sering berbahasa Indonesia. Bisa menulis surat, bisa atau mengerti Bahasa Inggris. Dan, harum.
Soal harum, tersebab parpum atau parfum nan wangi. Tersebab sabun yang dipakai, tersebab banyak hal. Selain harum, juga necis. Necis bisa karena kain yang bagus, gunting baju yang bakacak dan selera akan pakaian.
Selain harum dan necis juga sibuk. Sibuk bukan buatan. Telepon genggam banyak. Urusan banyak pula. Penting-penting semua. Saking pentingnya, dipanggil jaksa tak bisa datang. Dipanggil terus, maka larilah dia ke Singapura.
Yang haus, yang haus, tersedia mijon, pokariswet, akua dan prutang. (*)
On 6/03/2011 05:34:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Mobil Anda menggilas sebuah bola plastik dan harus mengganti. Tak mahal. Bola itu menggelinding ke tengah jalan, karena disepak anak-anak yang bermain di pinggir jalan.
Haruskah diganti? Seharusnya tidak.
Sebuah sepeda motor menabrak mobil dari belakang. “Apak ma-rem mandadak sae mah,” kata dia.
Begitu sering kita dengar pertengkaran di jalan raya. Yang dipersalahkan si pemilik mobil yang kena tabrak. Seharusnya tidak, sebab sudah ada aturan lalulintas, berapa jarak antara kendaraan. Main SMS dan menelepon sedang membawa kendaraan dilarang, tapi tak diindahkan. Maka terjadilah kecelakaan.
Kalau mobil Anda keluar dari jalan kecil, hendak masuk ke jalan raya, kepala mobil sudah sampai di tengah jalan, adakah yang mau berhenti agak dua detik saja, guna memberi kesempatan pada Anda untuk lewat? Tidak. Kendaraan Anda dianggap menghalangi jalan, karena itu, tak perlu diberi kesempatan. Maka macet akutlah di ujung Jembatan Andalas dan di Simpang Kuranji Padang atau kadang-kadang di Padang Lua, Bukittinggi.
Tiba-tiba Anda terperanjat karena ada motor menyalip dengan kencang dari kiri. Ketika lain, tiba-tiba pula Anda harus memijak rem sekuatnya, karena di jalan sempit, malam hari, dari depan datang motor tanpa lampu. Bola lampu tak terbeli, HP-nya keren.
Di lampu pengatur lalulintas, di kota manapun di Sumbar, setelah lampu merah, maka menyalalah lampu hijau. Mobil Anda nomor lima dalam deretan, di belakang ada empat mobil lagi. Tentu begitu hijau, mobil Anda tak bisa langsung tancap gas, karena ada mobil lain di depan, yang sopirnya harus mengatur porseneling terlebih dahulu. Tapi, nasib sial menimpa Anda, diklakson berkali-kali. Klakson itu, mewaliki percakapan. “Capeklah hengak”.
Bagi orang di belakang, begitu lampu hijau, maka semua mobil di depannya harus bergerak serentak, agar ia tak terhalangi. Tak peduli, pokoknya jalan. Dilihatnya mobil Anda belum bergerak juga, dapek klasun ciek. Dongkol dia pada kita.
Lampu pengatur lalulintas di sebuah simpang empat, digital. Kini hijau, maka bergeraklah kendaraan dari arah berlawanan. Jika lurus tak soal, tapi yang satu belok kanan, yang satu lurus, bertemu di tengah-tengah. Siapa yang harus mengalah barang sedetik dua detik? Tak ada. Lampunya yang salah. Lampu yang salah dipakai untuk orang yang tidak taat peraturan lalulintas, maka kacaulah jadinya.
Jika keluar kota, di tengah jalan sebuah truk membelintang, karena gardannya pecah. Tapi syukur masih tersisa sedikit ruang untuk melaju. Antrean kiri - kanan sudah mulai panjang. Tiba-tiba muncul mobil mengambil jalur kanan hendak mendahului semua mobil yang antre tadi. Dari kiri begitu, dari kanan juga begitu. Hebat-hebat mereka membawa mobil. Akibatnya, penuhlah jalan oleh mobil, bagai jalur satu arah. Begitu, truk yang membelintang tadi, bisa disingkirkan, maka macet panjang tak terelakan, sebab semua jalan sudah terisi mobil. Tak ada jalur kiri dan kanan lagi. Dari dua arah seperti itu, maka macetlah 4 jam.
“Abak ang, kecek ang abak ang punyo jalan ko”
“Abak ang lo, lai pakai SIM ang yuang?”
Dua orang bertengkar. Kenapa? Yang satu sedang menelepon, yang satu sedang kirim SMS. Yang satu mobil, lainnya motor. Bertemu di simpang tiga tanpa lampu merah. Kedua kendaraan hampir bertabrakan. Di belakang mereka, kendaraan telah menumpuk, motor sudah menyemut. Klakson memekakan telinga.
Kedua-duanya tak punya SIM.
Jalan raya kita, adalah wajah kita. (*)
On 5/20/2011 09:22:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Tiap kita punya impian-impian kecil maupun besar. Terwujud atau selamanya jadi impian. Tiap kita, sadar atau tidak telah menyumbangkan sebagian impian itu pada bangsa dan negara ini. Ada yang ikut memperjuangkannya dan sebaliknya.
Tentang impian sebagai anak bangsa, kita mungkin sama-sama merindukan negara yang bahagia. Bagaimana negara yang bahagia itu? Kabarnya bermula dari pembagian kerja yang memadai. Tiap anak bangsa menerima nafkah yang layak dari pekerjaan yang mereka geluti. Mereka yang berada dalam usia kerja, memiliki pekerjaan yang layak. Sarjananya tidak menganggur. Mereka memiliki bekal pengetahuan yang cukup, sama cukupnya dengan pengetahuan tentang etika dan moral kolektif. Meraka adalah penduduk yang taat akan agamanya, tanpa pemerintah harus mengeluarkan aturan-aturan yang tidak perlu.
Rakyatnya tidak hedonis, tidak materialistis. Juga tidak suka pamer. Hidup sederhana dan menyisakan pendapatannya untuk menabung. Memiliki jaminan pendidikan, kesehatan dan asuransinya tidak suka ngibul. Pemimpinnya jujur. Yang iya,iya dan yang tidak, pastilah tidak.
Saya mengimpikan negara yang bahagia. Juga Anda. Tapi kita tahu, negara kita saat ini sedang dalam masalah krisis kepercayaan yang serius. Sedang terjadi pengkhianatan oleh kaum intelektul secara mengerikan.
Tujuan bersama sebagai bangsa sedang hanyut di sungai kebohongan. Demokrasi digelincirkan sedemikian rupa. Diperjualbelikan. Jangankan demokrasi, nilai ujian anak sekolahpun diperjualbelikan.
Negara ini sedang berpayung demokrasi hitam. Dalam kondisi semacam itulah rakyat mulai kehilangan kepercayaan. Maka impian akan negara bahagia semakin jauh.
Ah, saya terlampau serius. Padahal hari-hari terasa landai. Orang terus menumpuk kekayaan, kalau bisa. Yang lain memperjualbelikan hukum. Yang lain lagi, menjual diri untuk nafkah keluarganya. Ada orang yang mengubur impiannya. Ada pula yang pasrah, menampik ke sajadah dan menangis di malam sunyi untuk sepotong doa.
Seorang teman berkata, ajari anak-anakmu untuk tidak punya impian yang muluk-muluk, sebab hal itu akan menggerogoti jiwanya. Sayang ia tidak menyebut, apa yang ia ajarkan pada anak-anaknya.
Saya nyalakan sebatang rokok. Ah, ini rupanya impian kecil saya. Impian lain segelas kopi. Jika saja kita membuat daftar impian, mungkin kiga bisa senewen dibuatnya. Tapi negara berkewajiban memenuhi impian-impian sederhana dari rakyatnya.
Itu benarlah masalah kita sekarang.  Negara yang besar ini memerlukan sentuhan lembut, kasih sayang dan rasa cinta dari rakyatnya. Masalah utama kita hari ini adalah, secara bersama-sama kita nyaris tidak santun lagi pada bangsa dan negara kita sendiri. Indonesia hampir-hampir kehilangan DNA nya.
Ha ha ha ha. hebat pula saya mengarang-ngarang rupanya. Selamat berhari Minggu. (*)
On 5/06/2011 05:16:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Da, harusnyo ado masin ATM di suduik dapua rumah wak ko ha.” Istri saya mengirim SMS dari rumah, saat saya masih di kantor.
“Ha ha ha, tangguang pabrik pitih selah,” jawab saya.
Istri saya sarjana akuntan. Saya sarjana sejarah, ibarat bumi dan langit, berjauhan. Tapi, saya belajar sejarah ekonomi. Belakangan saya mengambil master pemasaran, maka agak bersinggunganlah ilmu kami.
Bagi saya dan istri, juga anak-anak, hampir semua jadi kelakar. Banyak uang, jadi kelakar, sedang bokek, jadi bahan lelucon juga.
“Kok ado se urang datang maanta pitih sa truk ka rumah wak baa aka?” Tanya saya.
“Pai wak ka Arab,” jawab anak saya.
“Ngapain ke sana?”
“Lomba azan,” jawabnya cuek.
Tapi soal uang memang problem utama dan kesenangan setiap rumahtangga di manapun. Istri saya punya catatan kecil-kecil yang ia tempel di sudut kiri cermin, sehingga bisa dideteksi setiap hari saat berdandan.
Menurut BPS, setiap rumah tangga dengan 4 anggota keluarga aman “aman” jika berpendapatan Rp2,2 juta/bulan atau masing-masingnya, menerima US$2/hari. Menurut saya tak masuk akal. UMR saat ini di Sumbar di atas Rp1 juta, jika empat orang, tentu Rp4 juta, bukan Rp2,2 juta. Menurut Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) kebutuhan standar seorang wartawan lajang saja Rp2,9 juta.
Masih menurut BPS belanja keluarga terbanyak untuk makanan, internet dan telepon seluler. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen pada triwulan I-2011.
Saat ini kita, anak-anak kita, tetangga, teman dan siapa saja memang harus menyisihkan dana untuk seluler. Selain itu juga untuk internet, kredit kendaraan dan rumah.
BPS juga memastikan kelas menengah di Indonesia naik jumlahnya. Karena itu, Matahari Dept Store akan membuka ratusan gerai baru hingga 2015 hanya untuk melayani kelas menengah ini. KFC telah membuka gerai-gerai baru dengan life style yang gue banget. Starbucks membuka gerai sesuai sosiologi Indonesia. Orang Indonesia sudah berbagi tempat duduk. Jika di kafe atau restoran ada 4 kursi mengelilingi satu meja, jika seseorang telah duduk di situ, maka tiga kursi lainnya akan kosong sampai seseorang itu pergi. Susah berbagi.
Sementara itu, industri otomatif mengeluarkan mobil-mobil cantik yang trendi.
“Baa ATM tuww?” Istri saya bertanya lagi.
“Wak pasan masinnyo lu,” jawab saya sambil mengedit berita-berita untuk diturunkan edisi besok.
“Pasan minas ciek, teh talua,” kata seorang redaktur pada penjual nasi goreng dekat kantor yang membawa pesanan sebelumnya ke ruang redaksi Singgalang.
“Pak mau pesan apa?” Ia bertanya pada saya.
Pedagang nasi goreng ini, akan jual beli sepanjang malam, jika ada yang membeli. Orang akan membeli kalau ada uang. Uang akan ada, jika kita bekerja. Semakin banyak yang bekerja, semakin berkurang pengangguran.
Saat ini angka pengangguran di Indonesia 8,1 juta jiwa, dua kali penduduk Singapura.
Kalaulah saya punya ATM di sudut dapur, tentu apa saja bisa saya buat. ATM di sudut dapur tentulah maksudnya, bukan fisik ATM, tapi yang yang melimpah, sehingga apa saja bisa dipesan.
Malam ini, tak muluk-muluk, saya pesan sepiring nasi goreng tambah teh telur. Makan malam yang nikmat sambil bekerja.
Uang punya sejarahnya sendiri, juga bagi penjual nasi goreng. (*)
On 4/29/2011 08:30:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Tiba-tiba HP BlackBerry saya berdentang. Seorang teman di grup Pegiat Demokrasi, Abdul namanya, mengirim sebuah pesan.
Pesan itu:
“Aku mendapat setangkai bunga, meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan saat ulangtahunku. Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Aku tahu, ia menyesali perbuatannya, karena hari ini ia mengirimi aku bunga.
Aku mendapat bunga lagi hari ini. Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami. Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku. Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku. Aku tahu ia menyesali (perbuatannya) karena ia mengirim bunga padaku hari ini.
Aku kembali mendapat bunga hari ini, padahal hari ini bukanlah Hari Ibu atau hari istimewa lainnya. Semalam ia memukulku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu. Aku takut padanya, tetapi aku takut meninggalkannya. Aku tidak punya uang. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali (perbuatannya) semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.
Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari istimewa: Inilah hari pemakamanku. Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapatkan bunga lagi hari ini....
STOP KEKERASAN PADA WANITA!!!
Aku adalah tiap rintik hujan yang membasahi bumi, kecil, sedikit, tapi berarti”
Kami sering bercakap-cakap tentang banyak hal di grup “Pegiat Demokrasi” yang digagas teman saya Ardyan dari KPU Sumbar itu. Kami juga sering melakukan hal yang sama di grup “News Room,” kumpulan para wartawan.
Kadang tentang hal yang ringan dan lucu, ketika lain tentang hal-hal serius. Ketika lain pula soal tamsilan-tamsilan, semacam anak elang atau burung balam. Berbagai cerita dan menukar joke-joke dan entah apalagi.
Tak jelas, apa pesan di atas dibuat sendiri oleh Abdul atau ia terima pula dari orang lain, tak penting benar. Yang penting isinya.
Pesannya terlalu dalam, bermakna dan menyentuh. Para lelaki, para suami, masih ada yang merasa superior di rumahtangga. Main labrak sesuka hatinya. Suami sering marah pada istrinya kalau pekerjaannya tidak sukses, atau disambut terlalu cerewet, cemburu buta dan sebagainya.
Kadang suami berselingkuh di luar, ketahuan, yang marah justru dia pula. Terbalik. Ia marah untuk menutupi kelemahannya. Biasanya begitu.
Suami janganlah melakukan kekerasan juga dalam rumahtangga, nanti diborgol polisi, baru tahu rasa.
Membuat rumah mewah, tidaklah sulit, tapi membangun rumahtangga di atas rumah mewah itu, bukanlah pekerjaan gampang.
Selamat berhari minggu. (*)
On 4/10/2011 05:56:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Beberapa waktu lalu, menjelang malam rebah ke subuh, saya menonton acara “Minta Tolong” di MNCTV. Seorang ibu bernama Tisni Maharani berusia 40 tahun menolong seseorang. Ibu ini punya tiga anak. Sehari-hari ia menjual mainan. Uang jualan tidak cukup, padahal ia ingin membeli rumah dan melanjutkan pendidikan anak-anaknya. Saya tak melihat ada suaminya dalam acara itu.
Karena kesusahan hidup, ibu ini menumpangkan ibunya di rumah orang. Ia punya tiga anak, yang kecil sudah lama minta dibelikan sepeda mini. Tapi, ibu ini tak pernah bisa memenuhi permintaan anaknya.
Hingga kemudian, datang tim Minta Tolong. Tentu saja ibu ini tidak tahu, ia sedang diuji. Tim Minta Tolong sudah berjam-jam mencari orang yang mau menolong, namun sia-sia. Saya lupa, apa yang ditawarkan kepada Tisni Maharani. Yang saya ingat kemudian, ia diberi uang sebagai hadiah. Ibu ini terpana.
Setelah uang ia genggam, Tisni meneteskan air mata. Tapi tak seperti “korban” minta tolong lainnya, ibu ini tak bergegas pulang, melainkan menjual habis dulu mainannya.
Habis jualan ia membeli sepeda mini dengan uang hadiah yang ia terima. Uang itu tentu tidak habis. Berebut Mahgrib, Tisni menggiring sepeda mininya pulang. Ia seperti mengeng gam surga. Ia berjalan cepat.
Lampu jalanan telah menyala, lalulintas ramai. Ia menyisiri jalanan, kemudian masuk ke gang kecil. mendekati rumah, ia memanggil-manggil nama anaknya.
“Ini ibu bawakan sepeda mini,” katanya. Langkahnya kian kencang, rumahnya kian dekat. Dalam remangnya malam, seorang anak laki-laki keluar dari sebuah rumah sederhana. Anak itu terpana, karena ibunya membawa sepeda.
Keduanya kini semakin dekat, dan beberapa detik kemudian, si ibu menghambur memeluk dan menciumi anaknya. Sang anak sesaat diam, tak tentu yang akan ia sebut. Tapi, setelah itu ia tersenyum. Ia pegang stang sepeda mini baru itu. Ia patut-patut. Mimpinya menjadi kenyataan malam ini.
Acara di MNCTV itu bisa dimaknai “menjual” kemiskinan, namun di sisi lain, bisa menggugah banyak orang. Meski kita tak punya sepatu, tak sepatutnya mengeluh, karena banyak orang tak punya kaki. Makna lain yang bisa diambil, menolong tanpa beban, luar bisa nikmatnya. Menolong, ternyata sulit, namun sesulit-sulitnya hidup, pasti ada orang yang mau menolong orang lain. Tanpa pamrih.
Saya mengambil banyak pelajaran dari acara itu. Beberapa kali mata saya sabak karenanya. Pada ketika itu, saya manaruh hormat kepada kerabat saya sesama jurnalis.
Kalau kita berangkat kerja tiap pagi, ketika kita sedang di tengah keramaian atau di mana saja, sering terlihat banyak orang yang dari raut wajahnya, ia sedang menderita. Entah lewat tangan kita, atau lewat tangan orang lain, Tuhan memberi rezeki kepada mereka.
Bisa jadi, seseorang datang minta tolong kepada kita, untuk dicarikan kerja. Bisa pula, seseorang meminta api untuk menyalakan rokoknya. Ketika lain kita kecopetan, atau ikan teri yang tadi dibeli, tertinggal entah di mana. Jangan sesali apa yang terjadi, jangan dikenang kebaikan. Nikmati saja hidup apa adanya. Bagilah rezeki, jika ada yang akan dibagi.
Hati yang riang adalah obat. (*)
On 4/01/2011 05:25:00 PM by Khairul Jasmi in ,     2 comments
Saya menyaksikan beberapa hal tentang ‘malu-malu’ dalam rentang waktu yang terpaut jauh. Pertama, doeloe, wanita malu-malu memakai jilbab, karena tiap sebentar disapa dengan ucapan ‘asalamulaikum” secara sinis. Lantas kemudian berubah karena zaman. Jujur saja, di Padang, perubahan terjadi karena Fauzi Bahar.
Kedua saat ini orang malu-malu membaca doa perjalanan, jika naik pesawat terbang. Syukur kalau doanya hafal dan dibaca dalam hati. Tapi saya yakin, tak hafal. Di pesawat disediakan teksnya yang ditulis dalam selembar kertas dan diselipkan di kantong sandaran kursi. Doa perjalanan lima agama resmi, ada di sana.
Berkali-kali saya naik pesawat, saya perhatikan orang di sisi saya tak pernah menyentuh kertas doa itu, meski saya sudah memancing dengan mengambil dan membacanya. Pada kali lain tanpa berniat memancing, saya membaca doa yang sama, tapi tetap saja tidak ada orang lain yang melakukan, entah kalau di bagian depan atau belakang saya.
Dulu, berbilang tahun silam, pada suatu penerbangan Jakarta-Padang, pesawat berguncang terus karena cuaca yang buruk. Lampu sabuk pengamat tak pernah padam. Seorang ibu lantas membuka — kalau tak salah— Juzz Ama. Ia membacanya. Suaranya bergetar. Efeknya, para penumpang seperti ketakutan dan dari raut wajah mereka, saya mengambil kesimpulan, “mereka tak suka” akan apa yang diperbuat si ibu.
Menurut saya, sangat baik membaca doa perjalanan sebelum pesawat itu terbang, sebelum mobil berangkat. Apalagi teksnya sudah tersedia. “Bismilllaahi majreehaa wa mursaahaa inna rabbii laghafururahiim...dst” Doa Nabi Muhammad itu, bisa menenangkan hati. Hati juga bisa tenang, jika memang sedang nyaman, tanpa harus membaca doa tersebut. Tapi, itu tadi, sebagai umat Islam, baca jugalah doa dari Nabi kita. Kalau tak mau, apa boleh buat.
Akan halnya jilbab, waktu saya di SLTA tahun 1980-an dulu, tidak seorang pun teman wanita saya yang memakainya. Hanya satu guru, itupun melilitkan selendang saja, bukan jilbab. Waktu kuliah juga demikian, jarang yang pakai jilbab. Lelaki nyaris tidak ada yang berjanggut. Tapi kini, nyaris semua wanita Islam memakai jilbab.
Saya melihat, ada yang tambah cantik karena jilbab, ada yang semakin jelek. Tak karuan. Itu kenyataan, apa adanya.
Begitu juga dengan lelaki berjanggut. Ada yang tambah ganteng, banyak yang kian jelek. Keyakinan kita memang beragam, sebuah konfigurasi keimanan yang menakjubkan, sekaligus bagi bisa menjengkelkan. Celana jengki juga, he he he.
Betapa kita, soal-soal elementer dalam hidup, dangkal sekali pemahaman agamanya dan cenderung taqlik buta untuk menolak ataupun menerima. Tentang doa berjalan, doa keluar rumah, doa sebelum tidur, doa masuk WC, kita abaikan. Hal-hal ringan lainnya kita pertengkarkan. Lagi-lagi jilbab, tak boleh begitu, harus begitu. Jilbab gaul dan tak gaul, jilbab pendek dan jilbab dalam. Belakangan kita sibuk dengan celana perempuan. Perempuan kadang keterlaluan pula, kalau tak ketat tak dipakai. Sebenar wale.
Ah seperti cerita berbingkai saja tulisan ini, pindah-pindah topiknya. Kembali saja ke doa perjalanan, jika Anda naik pesawat, bacalah doa perjalanan yang disediakan di pesawat. Ajak teman Anda melakukannya. Setelah itu, nikmati penerbangan Anda.
“Tidak ada perbedaan waktu antara Padang dan Jakarta, suhu di darat dilaporkan 30 derajat celcius. Anda tidak boleh mengaktifkan telepon genggam dan dilarang merokok sampai di terminal kedatangan,” kata pramugari.
Pesawat Anda sudah sampai. Selamat datang di Jakarta, pergi kemana Anda hendak dituju. Eng ing eng...*
On 3/25/2011 05:08:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Minta nomor si anu ciek, “ SMS seorang teman masuk ke HP saya. Nomor yang diminta saya kirim. Tak ada balasan lagi dari dia. Saya juga tak peduli lagi.
Hal semacam itu terjadi hampir tiap hari. Kalau lagi “musimnya”, bisa 10 kali setiap hari SMS serupa masuk. Semua dilayani. Hal yang saya alami, terjadi pula pada orang lain.
Suatu ketika saya meminta nomor seseorang kepada teman. Ia kirim, kemudian ia SMS saya.
“Lah co operator den, (sudah seperti operator saya) “ kata dia.
“He he he he,”
“Wk wk wk wk,” jawabnya.
Teman itu berkisah, soal seluk-beluk telepon genggam, kisahnya juga pernah saya alami. Suatu ketika, katanya, HP nya rusak, sehingga nomor yang tersimpan hilang. Terdengar sebuah dering, ia angkat.
“Hallo?”
“Di ma ang? (dimana kamu?)”
“Sedang bekerja, siapa ini?”
“Sok lo ang, ndak tau ang jo den lai, ndak bacatat nomor den? (Sombong kami, tidak tahu lagi dengan saya, apa tidak dicatat nomor saya?)
“Maaf, HP den ilang di angkot, ko HP baru mah, tapi kantau” kata si teman.
Ia jelaskan, HP nya rusak dan semua nomor hilang. Tapi si teman tak bisa menerima. Ia tetap percaya si teman sombong.
Peristiwa kedua dialami teman lain pula. Seorang temannya semasa sekolah dulu menelepon. Ia menyesali teman saya tak kenal lagi dengan dia, padahal, selama berpuluh tahun tak bersua dan tentu tak saling punya no HP. Tapi ia sama-sekali tidak bisa menerima kenyataan itu. Baginya, begitu ia bilang “hallo”, maka harus dijawab dengan riang gembira dan harus langsung tahu siapa dia.
Saya sendiri sering pula demikian, si teman langsung menyebut nama kecil saya ketika berbicara di HP dan sampai percakapan selesai, saya tak tahu siapa dia.
Sering pula masuk SMS dari teman ke HP saya  tapi nomornya tak ada. Belakangan banyak nomor di HP saya yang hilang, karena HP saya kena virus.
“Dima, pai wak bisuak? (dimana, pergi kita besok?) sebuah SMS.
“Caliak lu, (lihat dulu) jawab saya. Setelah itu tak ada lagi SMS.
Sepintas contoh di atas memang mengesankan seseorang sombong. Tapi, harap diingat, HP adalah benda yang gampang rusak. Bahkan hilang. Konsekwensinya, semua catatan lenyap. Pada saat itulah siapa yang menelepon tidak akan diketahui, kecuali orang-orang yang sudah sangap akrab.
Selain HP hilang, bisa juga nomornya tak tercatat, karena memang tak ada, lantas apanya yang dicatat.
Karena itu, dalam berkomunikasi dengan HP, kita harus rela menerima caci-maki teman lama atau teman biasa, ketika ia menganggap kita sombong.
Sebaliknya kepada siapa saja, seharusnya mencantumkan nama atau inisial di belakang SMS yang dikirim. Bukan apa-apa, tapi bisa jadi teman kita baru saja kehilangan HP, atau kartunya rusak, jadi ia ganti yang baru. Dengan mencantumkan nama dua hal terbantu, pertama membiasakan diri memperkenalkan siapa kita, kedua membantu teman yang kehilangan nomor. Si teman akan menyimpan kembali nomor Anda, begitu SMS Anda masuk, itupun jika SMS dibumbuhi inisial.
Dalam menelepon juga begitu, sebutkan nama terlebih dahulu, kecuali begitu kita bilang “hallo” ia langsung tahu siapa Anda. Tapi jangan tiap menelepon menyebut nama sendiri, dicekeknyo kaniang awak dek kawan. Dikira-kira sajalah, siapa yang mungkin mulai lupa dengan kita.
“Pak ambo KJ,”
“Yo ambo tau, angku tu KJ. A kaba?”
“ He he he, mau tau Pak lupo,”
“Palasik, angku kecek-an sombong den.”
“Kecek urang iyo.”
“Beko wak basuo, angku caliak yo sombong den ndak. Eee bilo wak pai?
Ah, kamari pentang, susah-susah sulit. (*)
On 3/20/2011 05:39:00 AM by Khairul Jasmi     No comments


Suratkabar Minang
Konfigurasi Pemikiran yang Menakjubkan
Oleh: Khairul Jasmi
PERS Sumatra Barat adalah pers yang relatif tua. Pada 1859 atau 25 tahun seusai Perang Paderi, perang yang melibatkan rakyat Minang melawan Belanda, terbit suratkabar bernama Sumatera Courant di Padang. Meski suratkabar ini lahir sebelum abad ke-20, tetapi dinamika persuratkabaran di wilayah tersebut baru terasa pada awal abad itu hingga menjelang kemerdekaan Indonesia.

Sejumlah nama penting dalam dunia jurnalisme masa itu antara lain, Mahyuddin Datoek Soetan Maharadja, Rohana Kudus, Sa'adah Alim, Abdullah Achmad, dan Adinegoro serta Hamka pada generasi berikutnya. Tercatat pula sebuah nama lain yang tak kalah pentingnya, Achmad Chatib, pemilik suratkabar Djago Djago dan Pemandangan Islam.

Sejak 1859 sampai kemerdekaan, tercatat 81 penerbitan di Minangkabau. Sejak kemerdekaan hingga kini tercatat 41 suratkabar, termasuk 23 yang terbit setelah jatuhnya presiden Soeharto. Daftar panjang suratkabar ini jadi bukti sejarah bahwa Minangkabau telah lama akrab dengan teks dan kata-kata.

Kepiawaian menulis atau mengeluarkan pendapat berpendaran di halaman-halaman suratkabar. Media massa menjadi sarana melancarkan perbincangan dan polemik. Mula-mula tentang kebangkitan Asia, Jepang, lalu format masa depan negara. Tak luput juga tentang bagaimana agama Islam seharusnya dipahami dan dijalankan. Pesertanya kaum tua dan muda. Perdebatan agama inilah yang malah berlangsung tajam.

Di masa Datuk Soetan Maharadja yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Bangkit, Pelita Ketjil mengambil peran yang luas dalam isu tadi. Pelita Ketjil, seperti terbaca dalam buku Propinsi Sumatera Tengah, adalah koran yang terbit pertama kali pada 1882 dan dipimpin H.A. Mess, seorang Belanda Indo, lalu B.A. Dosseau, dan terakhir dipimpin Datuk Soetan Maharadja. Datuk, seperti dicatat B. Schrieke dalam buku Pergolakan Agama di Sumatera Barat, Sebuah Sumbangan Bibliografi (1973), mengarahkan penanya kepada ulama Syekh Achmad Chatib.

“Kita orang Minangkabau harus mengusahakan jangan sampai kita kehilangan kemerdekaan kita dengan menyerahkan diri kepada orang-orang Mekkah. Bukankah negeri Minangkabau yang indah ini dengan wanita-wanitanya yang cantik ini sendiri sudah merupakan taman firdaus dibandingkan dengan Arab yang panas terik, di mana kaum lemah (yang kurang cerdas) secara tepat memakai kudung,” tulis Datuk.

Pada saat itu suratkabar Pelita Ketjil memiliki koresponden di Mekkah, yang otomatis mengirimkan berita perkembangan Islam di sana.

Bapak jurnalisme Melayu ini mengkal benar hatinya membaca tulisan Syekh Achmad Chatib, pemimpin redaksi suratkabar Pemandangan Islam dan Djago-Djago, yang menyerang para penganut garis keturunan matriarkat, sesuatu yang lazim di Minangkabau. Syekh Achmad Chatib mengatakan mematuhi hal itu sama halnya dengan mematuhi lembaga-lembaga kafir, yang berasal dari setan, dari Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan (dua tokoh legendaris Minangkabau). Matriarkat tak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, katanya, seluruh perkawinan yang sudah terjadi di Minangkabau harus diulang. Harta pusaka tinggi, yang tak bisa diperjualbelikan dan diatur menurut garis ibu, yang dikuasai kemenakan harus dikembalikan kepada anak mamaknya. Jika tidak, sama halnya dengan merampas harta anak yatim.

Datuk Soetan Maharadja menulis dan membela kaum adat tak hanya dalam Pelita Ketjil, melainkan kemudian di Warta Berita, suratkabar yang didirikannya pada 1891. Tulisan-tulisannya juga muncul di Oetoesan Melajoe. Itulah contoh perdebatan para pemikir Minangkabau.

Pada 1900, di Padang terbit pula suratkabar Padanger, gabungan Sumatra Courant dan Nieuw Padangsch de Padanger Handelsblad. Setahun sesudahnya, kaum muda, para guru, dan pegawai bumiputra berpendidikan Barat melahirkan sebuah jurnal bernama Insoelinde. Mereka, golongan ini, yakin kemajuan harus dicapai melalui pendidikan modern. Mereka kurang suka pendidikan sekolah agama.

Menurut Taufik Abdullah dalam bukunya, Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933), para pengasuh Insoelinde tergila-gila pada prestasi Jepang. Kata kuncinya: kaum muda, sekolah, dan politik. Jurnal ini memiliki koresponden dari seluruh Nusantara. Kebanyakan memuat artikel yang mendesak kemerdekaan Indonesia. Insoelinde juga membedah persoalan harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah, sebuah perdebatan yang hampir satu abad kemudian tetap menarik untuk dilakukan.

Pusaka rendah dalam konsep adat Minangkabau ialah harta pencarian suami-istri yang diwariskan kepada anak-anak mereka. Adapun harta pusaka tinggi berupa harta yang diatur menurut garis keturunan ibu. Harta ini warisan turun-temurun dari nenek moyang sehingga tak boleh diperjualbelikan dan diwariskan kepada kemenakan (keponakan) dari garis ibu.

Berbeda dengan Insoelinde, suratkabar Wasir Hindia serta Bintang Sumatera yang terbit pada 1903 memuat banyak artikel tentang kemajuan Asia terutama Jepang. Pada 1905 terbit pula Sinar Sumatera, disusul Warta Hindia pada 1908.

Oetoesan Melajoe muncul pada 1910, dan pada tahun berikutnya, Soenting Melajoe. Kedua suratkabar ini didirikan Datuk Soetan Maharadja, orang dari Sulit Air itu.

"Chauvinismenya sangat tinggi. Ia selalu membangkitkan semangat keminangkabauan orang Minang. Karena itulah ia digelari Datuk Bangkit,” kata Kamardi Rais Datuk P. Simulie dari Persatuan Wartawan Indonesia Sumatra Barat. Datuk Kamardi Rais mengenal Datuk Bangkit lewat tulisan-tulisannya dan “sering bertanya pada yang tua-tua.”

Oetoesan Melajoe berusaha membangun rasa bangga masyarakat Minangkabau atas keminangkabauan mereka. Hal ini tercermin dalam moto Oetoesan Melajoe: "Jang Poenja dan Jang Mentjitak Snelpersdrukkerij Orang Alam Minangkabau." Kedekatan hati Datuk Bangkit pada Minangkabau dan Melayu yang terpantul dalam tulisan-tulisannya, mungkin menjadi alasan Ph. S. Van Ronkel—seorang filolog dan pembuat katalog naskah Melayu lama—menggelarinya “Bapak Jurnalis Melayu.”
Soetan Maharadja (Datuk Bangkit) juga dinilai sebagai Bapak Pers Sumatra Barat pertama atau--meminjam istilah B.J.O. Schrieke (1973:38)--'Bapak dari wartawan Melajoe'.

Datuk Bangkit pernah juga terlibat polemik panjang dengan Sa'adah Alim, kelak jadi pemimpin redaksi Suara Perempuan, tentang pergaulan muda-mudi. Sa'adah ingin melihat dunia perempuan sebagai dunia yang tak dikekang terlalu erat. Sa'adah mengeluh betapa sulitnya seorang gadis hendak pacaran di Minangkabau. Datuk berpaham sebaliknya. Alasannya, pacaran itu tak sesuai dengan adat-istiadat. Wanita, apalagi seorang gadis, harus suci sehingga tak boleh bergaul terlalu bebas.

Isi tulisan Datuk Bangkit yang sangat memihak kaum adat membuat Abdullah Achmad, pendiri Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah, terilhami menerbitkan suratkabar Al Munir pada 1911. Banyak orang pintar menulis di sana, antara lain Buya Rasul dan Syekh Muhammad Thaib dari Sungayang. Dua ulama ini tak saja menulis bagaimana menjalankan agama Islam secara baik, tapi juga perkembangan pemikiran Islam di dunia.

Pada 1915, Al Munir pindah terbit di Padang Panjang dengan nama baru Al Munirul Mannar. Walau tirasnya kecil, jangkauannya luas sampai ke Malaysia. Ia jadi bacaan wajib kalangan ulama Minangkabau.

Tahun-tahun berikutnya, artikel yang muncul di suratkabar Padang lebih mengarah pada soal politik, khususnya semangat anti-Syarikat Islam. Malahan ada yang sampai pada kesimpulan bahwa Islam tak memerlukan Syarikat Islam lagi, padahal Syarikat Islam partai politik pertama di daerah ini dengan tokoh utamanya Abdul Muis, seorang intelektual muda. Banyak penghulu dan pegawai negeri yang menilai partai politik sebagai perusak otoritas pemerintah dan pendukung adat.

Setelah Padang, Padang Panjang mengambil peranan cukup penting dalam perdebatan agama, komunis, dan pembaharuan Islam. Hal serupa ternyata meluas ke kota-kota lain, seperti Padang Japang, Batusangkar, Sungayang, Maninjau, Parabek, dan Sulit Air.

Perdebatan tersebut melibatkan hampir semua ulama terkenal, sesuatu yang tak pernah lagi terjadi di alam kemerdekaan, berpuluh-puluh tahun kemudian.

Dari sekian banyak media cetak yang terbit pada awal abad ke-20, satu di antaranya media anak-anak Rantai Mas terbitan Indische National School Kayutanam. Empat suratkabar khusus perempuan juga meramaikan dunia persuratkabaran Sumatra ini, masing-masing Soenting Melajoe (1911) di Padang yang dipimpin Ratna Djuita, putri Soetan Maharadja yang dibantu Rohana Kudus, Soeara Perempuan (1919) yang dipimpin Sa'adah Alim, Soeara SKIS (Serikat Kaum Ibu Sumatra, 1938) di Padang Panjang yang dipimpin Encik Djusa'ir, serta Soera Poetri di Bukittinggi yang dipimpin Djanewar Djamil dan Sjamsidar Jahja.

Minat baca masyarakat di Sumatra Barat tak hanya tercermin melalui wajah penerbitannya sendiri, tapi juga kiriman buku-buku dari Timur Tengah. Semangat juang yang menggelora pun terlihat dari jumlah pemesan Indonesia Merdeka, suratkabar terbitan Perhimpunan Indonesia di Belanda.
Dari 280 pelanggan Indonesia Merdeka di Hindia Belanda pada 1924, pelanggan tertinggi berada di Jawa Tengah sebanyak 68 orang dan Jakarta 45 orang. Sementara Sumatra Barat berada pada urutan ketiga dengan 37 pelanggan, satu-satunya daerah di Indonesia, di luar Jawa, yang mengakrabi media cetak secara menakjubkan.

Sebanyak 10 suratkabar di Padang memakai judul yang memikat dan menggelorakan roh perjuangan, seperti Pelita Ketjil, Djago-Djago, Boeka Mata, Soeloeh Melaju, Bintang Tionghoa, dan Perubahan. Dari 107 suratkabar dan majalah yang diterbitkan kaum terpelajar Indonesia—seperti dicatat B. Schrieke, penasihat pemerintah Belanda urusan bumiputera—suratkabar di Padang dan Semaranglah yang memakai nama-nama bernuansa perjuangan semacam itu.

Sumbangan suratkabar sebelum kemerdekaan terasa bernasnya. Mereka membangun masyarakat yang berpikir, menghargai pendapat, memberi ruang bagi pengembangan ide-ide. Tapi, pada periode berikutnya, mungkin karena medan perjuangan yang juga berbeda, kehadiran suratkabar dan majalah lebih berbicara pada rencana setelah kemerdekaan. Lambat-laun mereka masuk dalam kusut-masainya persoalan bangsa.


DENGAN rapi, Goenawan Mohamad—pemimpin redaksi majalah Tempo—menukilkan di kumpulan eseinya Catatan Pinggir I (1982): "Jangan Loepa!
Djangan Laloe! Dan djangan maoe ketinggalan! Pemandangan Islam tersedia untuk membela Ra'jat yang melarat dan tertindas.”

Iklan itu tipikal Indonesia pada 1920-an yang resah, mengabarkan kelahiran sebuah suratkabar perjuangan. Ia dimuat 11 November 1923 dalam suratkabar perjuangan lain, yang namanya sampai kini tak tertirukan: Djago Djago

Yang menarik, baik Pemandangan Islam maupun Djago Djago membawa bendera Islam juga panji komunisme. Keduanya didirikan Achmad Chatib gelar Haji Datuk Batuah, orang Koto Lawas yang bagi para ulama dan penghulu adat di Sumatra Barat waktu itu, mencengangkan sekaligus mencemaskan.

Djago Djago terbit tiga kali seminggu dan tampil sebagai bacaan yang keras. Kondisi rakyat yang melarat menjadi bahan propaganda di suratkabar ini. Sementara itu, Pemandangan Islam, tampil lebih ilmiah sebagai jurnal teoritis tentang komunisme Islam.

Achmad Chatib tokoh yang agresif. Ia murid Haji Rasul di Thawalib, Padang Panjang. Ia kemudian menjadikan Thawalib basis kegiatan politiknya, meski akhirnya gagal.

Melalui kedua suratkabarnya itu, Achmad Chatib menyemai paham komunisme di Minangkabau. Thawalib secara mengejutkan menampilkan murid-murid yang cenderung berpolitik, sesuatu yang ditentang orang-orang pesantren di Parabek, yang apolitis.

Pengaruh komunisme di Minangkabau tak dapat dipungkiri. Sejarah Indonesia mencatat bahwa pemberontakan pertama terhadap pemerintah Belanda digerakkan oleh kaum komunis yang terjadi di Silungkang pada 1927. Tujuannya memerdekakan rakyat dari penjajah.

Pemberontakan tersebut berhasil ditumpas kolonial. Di lain pihak, Tan Malaka, salah seorang tokoh mereka yang terkemuka, juga tak merestui pemberontakan yang dianggap belum matang itu. Sejumlah pemimpin Partai Komunis Indonesia akhirnya ditangkap dan dibuang ke Digul, Papua Barat.

Djago Djago dan Pemandangan Islam merupakan bagian dari 20 penerbitan berhaluan komunis di Indonesia yang tersebar di berbagai kota sepanjang 1920-an. Di Sumatra Barat saja, selain di Padang Panjang, suratkabar sehaluan terdapat di Padang (Petir, Buka Mata, dan Torpedo), Bukittinggi (Doenia Achirat), dan Solok (Sasaran Ra'jat). Surakarta yang terbanyak, memiliki enam suratkabar, disusul Semarang dan Bandung, masing-masing empat suratkabar.

Baik yang terang-terangan membawa suara kaum komunis maupun yang tidak, hampir semua suratkabar terbitan 1920-an berhaluan radikal revolusioner. Sebagaimana yang dicatat Goenawan Mohamad, “Indonesia di tahun 20-an memang memungkinkan banyak hal, yang ramai.” Namun, jumlah penerbitan atau suratkabar berhaluan kiri ini jauh lebih kecil dibanding yang diterbitkan kalangan Islam sendiri.


KETIKA Jepang berkuasa di Sumatra Barat, praktis semua penerbitan gulung tikar. Sepanjang 3,5 tahun itu, hanya ada tiga suratkabar yang sepenuhnya dikendalikan Jepang.
Ketiganya, Padang Nippo, Sumatra Simbun, dan Domei. Begitu Indonesia merdeka, suasana pun berubah. Para wartawan yang dulu memiliki suratkabar, berkeinginan menghidupkan kembali suratkabarnya yang dulu mati suri.

Masyarakat sangat haus akan berita, terutama mengenai perjuangan dan pergolakan yang berlangsung di Pulau Jawa. Rasa haus itu terpuaskan oleh Bustanuddin yang menghadirkan majalah bulanan Berdjuang yang terbit di Padang Panjang pada September 1945. Di kota yang sama, tiga bulan kemudian, muncul harian Demokrasi yang diterbitkan Yusdja dengan pemimpin redaksi M. Joesoef.

Pada 1946, Hamka dan Haskim kembali menghadirkan sebuah majalah di Padang Panjang dengan nama Menara. Majalah ini membawa suara golongan Muhammadiyah.

Setelah di kota hujan itu, pada September 1945 di Padang hadir pula harian Utusan Sumatera yang diterbitkan Bariun A.S. bersama Mulkan, Muchtar Mahyuddin, Marah Alif dan, sejumlah nama lain. Masih di Padang, pada bulan yang sama lahir Suara Sumatera yang diterbitkan Lie Un Sam. Suratkabar ini dipimpin S. Alaudin. Usianya singkat. Tapi, pemiliknya menerbitkan suratkabar lain, Harian Penerangan.

Adinegoro, kelak nama tokoh pers nasional ini diabadikan sebagai nama Balai Wartawan Padang, tak mau ketinggalan. Ia menerbitkan suratkabar Kedaulatan Rakyat pada Oktober 1945 di Bukittinggi. Ia berhasil memperjuangkan alat-alat percetakan, kertas, dan tinta di Kayu Ramang, lalu mempercayakan Anwar Luthan menjadi pemimpin redaksi koran ini.

Sementara itu, Kasoema yang menjadi wartawan Demokrasi di Padang Panjang pada 1948, menerbitkan suratkabar Haluan di Bukittinggi, kemudian kantor harian ini pindah ke Padang. Sebelum Haluan milik Kasoema, pada 1926 pernah terbit suratkabar bernama sama di Padang. Haluan sama radikalnya dengan suratkabar Boeka Mata yang dipimpin Muhammad Sahak. Motonya saja berbunyi, “Haluan menerangkan macam-macam kesesatan dan kegelapan yang telah ditaburkan oleh beberapa pembohong dan pendusta,” tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud “pembohong dan pendusta” itu. Sejumlah suratkabar lainnya juga memperkaya konfigurasi jagad pers Minang, seperti Suara Merdeka, Pelopor, Nyata, dan tabloid Kemudi.

Kedaulatan Rakyat satu-satunya suratkabar di Sumatra Barat, juga dikenal dengan Sumatra Tengah, yang bertiras paling tinggi masa itu. Oplahnya mencapai 14 ribu eksemplar.

Dengan tiras sebanyak itu, dalam keadaan sulit karena Sekutu setiap saat mengancam, Kedaulatan Rakyat terus menggelorakan semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Ketika Adinegoro pindah ke Jakarta, Kedaulatan Rakyat berubah nama menjadi Daulat Rakyat, lalu berganti lagi dengan Utusan Rakyat. Barangkali suratkabar yang sering berganti nama memang tak berumur panjang. Tak berapa lama, bahan-bahan percetakan sulit didapat. Situasi bertambah buruk saat pemerintah menyita percetakan suratkabar ini. Riwayat Kedaulatan Rakyat, sebuah suratkabar terbesar yang pernah ada di Sumatra Barat pun tamat. Namun, sejarah tetap menulisnya.

Demikian riwayat singkat pers Sumatra Barat, yang melalui teks, perdebatan, konflik, dan jatuh-bangun, telah menyumbangkan pemikirannya untuk pers Indonesia, serta membangun intelektualitas di tengah masyarakat. Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya pers Sumatra Barat juga punya peranan yang sangat penting dalam menyemaikan semangat nasionalisme kepada anak bangsa untuk menentang  segala bentuk penjajahan.****

Khairul jasmi, wakil ketua pwi sumbar, pemimpin redaksi harian singgalang
On 3/18/2011 04:54:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Setelah dierami ayam, anak itik cigin masuk air. “Di luar adat kita nak, jangan masuk air,” kata ayam. Tapi si anak cuek bebek.  Ia tak peduli.
“Jangan ganggu ibuku,” kata anak pisang yang tumbuh mengelilingi ibunya. Dipancung, ia tumbuh lagi, dipancung tumbuh lagi. Ditebang, datang yang baru.
“Jangan ganggu ibuku,” kata si anak pisang. Anak pisang pantang mati sebelum berbuah.
“Buk izinkan aku pergi, nanti aku akan lekas pulang,” kata anak kunci pada ibunya. Anak kunci membuat nyaman ibu dan rumah besar tenpat ibunya ditugasi menjaga banyak benda berharga.
“Jangan lasak juga, marasai benar ibu olehmu,” kata batu lado (tempat gilingan cabai) pada anak batu lado. Tapi si anak tak mau tahu. Ia menari dan berdansa terus, hingga akhirnya ibunya kian pipih.
“Jaga anak ya, aku cari makan dulu,” kata ibu puyuh pada suaminya. Ia terbang menyuruk-nyuruk mencari makan demi anak dan suaminya.
“Kenapa ayah bu, kok belum pulang juga?” anak ayam bertanya pada ibunya. Ayam jantan si gajo kokok itu, gila maggarese saja ke sana ke mari. Mencari ayam betina, anak tak ia urus.
“Sudah, saya sudah bertelur biarkan saja mau jadi anak atau tidak, terserah,” kata itik pada suaminya. Dan telur itu dierami ayam.
Ayah dan ibu bekerjasama membesarkan anaknya. Berhujan berpanas, dikejar pemburu, tapi kedua orangtua ini dengan gigih melindungi anaknya. Itulah keluarga balam.
“Lai jaleh? itu pengajaran ambo ari ko, (Sudah jelas? Itu pengajaran saya hari ini) “ kata Buya Bagindo Letter kepada beberapa orang, termasuk saya di rumah makan Cik Elok Khatib Sulaiman, Padang, pekan lalu.
Kurang masuk ke otak saya pengajaran Buya itu, karena makan kekenyangan. Untung saya catat di telepon genggam. Kebiasaan menjadi wartawan, mencatat segala sesuatunya, sangat baik. Ketika kita memerlukannya tinggal perlu dibaca lagi. Kali ini nasihat Buya Letter itu, saya bagi kepada Anda semua.
Sebenarnya pada kesempatan lain hal yang sama sudah ia sampaikan pula kepada saya. Tapi waktu di Khatib Sulaiman, ia lupa bilang tentang “anak peluru” . Anak peluru sekali meninggalkan rumah, takkan pernah kembali lagi. Begitu lepas, ia akan menciderai orang lain.
Ia menyarankan jadilah anak pisang yang menjaga ibu dengan sepenuh jiwa. Dan katanya, jadilah keluarga balam yang membagi tanggungjawab dengan mizan kasih sayang.
Sebagai anak, jadilah anak pisang, pesan Letter. Tapi anak pisang tak pernah merantau. Bisa jadi perpaduan antara anak pisang dan anak kunci, mirip dengan kebiasaan merantau orang Minang.
Mungkin karena hal-hal semacam di atas maka orang Minang punya filosofi alam takambang jadi guru. Apa saja fenomena alam bisa dijadikan pelajaran, asal kita mau.Ah, terserahlah. Anak-anak Anda adalah anak zaman. (*)
On 3/18/2011 04:54:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
“Kita produk masa lalu, kita berteman karena masa lalu, bukan karena pekerjaan sekarang,” kata Etty Kasyanti, teman kami semasa kuliah dulu.
“Benar,” kata Kudri, teman saya, teman dia pula.
“Ya itu dia,” sambung Ristapawa Indra, teman yang paling senior di antara kami berempat. Mereka bertandang ke kantor saya.
Kami sama-sama belajar di jurusan sejarah FIPS IKIP Padang. Di antara kami berempat, saya paling yunior.
“Ba uda lah ka den lai,” kata Kudri, sekwan DPRD Agam itu. Tapi, ia tak bisa bersikeras benar pada saya, karena ia wartawan Singgalang. Saya atasannya he he he.
Kami berteman bukan karena keadaan hari ini, tapi karena proses masa lampau. Ketika kuliah ke Padang dari daerah masing-masing, tiap orang meninggalkan teman dan sahabatnya. Di Padang ia menemukan penggantinya. “Pergilah merantau, kamu akan mendapatkan ganti dari teman dan sahabatmu,” kata Imam Syafei. Kutipan itu saya baca dalam novel A Fuadi, Ranah 3 Warna.
Sekejap kami mengenang banyak hal tentang masa-masa kuliah. Ada yang nyambung dengan ingatan saya, ada yang tidak. Tak soal benar, sebab tokoh dalam ceritanya, saya kenal, karena satu jurusan.
Masa lalu, adalah sejemput kenangan yang sering menemui seseorang. Kadang datang tak terduga, lain kali datang diundang. Ada kebahagiaan kecil atau besar di masa lampau, ketika bersirobok di masa kini bisa membuat kita bahagia tak terperi. Bisa pula membuat celaka. Cinta misalnya semasa di SMA misalnya.
Soal cinta, kami sebenarnya iri melihat Atik, sapaan Ety Kasyanti. Kemana pergi selalu berdua dengan suaminya si Kopral itu. Ia suka bercanda, apalagi dengan suaminya sendiri.
Ibu guru yang satu ini murah senyum dan dermawan. Seingat saya, banyak isi dompetnya terkuras karena urusan teman-temannya sejak masa kuliah dulu.
Hari ini, banyak yang berubah dari kami, terutama penampilan, rezeki dan kepala. Kepala dalam artian sesungguhnya, juga rambut yang tumbuh di atasnya. Ada yang botak, ada yang beruban seperti saya. Yang botak tentulah Kudri dan satu lagi Ridwan Idma serta Wahdini Purba, teman kami semasa kuliah.
Di antara teman itu, ada yang kami lupa namanya, lupa-lupa ingat bahkan ada yang tak bertemu lagi sama-sekali. Entah kemana dia. Mengingat teman yang seolah lenyap ditelan bumi seperti itu, sering membuat kita rindu.
Bisa jadi karena itulah rembulan hadir di tengah malam menemami manusia yang merindukan banyak hal. Lukisan abadi ibu memeluk anak pada rembulan itu, seolah menemani anak manusia kemanapun ia melangkah. Malam adalah lautan ketidakpastian. Malam adalah juga tempat sunyi melabuhkan diri.
Saya tak bisa membayangkan jika kita tak punya teman. Padahal seribu teman belum cukup, satu musuh terlalu banyak. Dengan datangnya teman masa kuliah ke ruangan kerja saya, membuat hati ini riang. Bukankah hati yang riang adalah obat.
“Kita produk masa lalu, kita berteman karena masa lalu, bukan karena pekerjaan sekarang”
Kata-kata bijak, tak selalu lahir dari situasi yang serius, sambil bercanda pun bisa. Karena itu, bercandalah dengan teman-temanmu. Itu perlu. *
On 3/18/2011 04:53:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
“Assalamualaikum, Wan Onga, iko dari Supayang, Jakarta.” Sebuah SMS masuk ke HP saya. Tak saya balas, tapi langsung saya telepon.
“Ko Wan Onga ghe, ee sosek, Wanodang ye?” Sebuah suara dengan logat Tanah Datar di seberang sana. Saya tak kenal suaranya, tapi karena ia memanggil saya wanodang, langsung saya tebak. Tebakan saya jitu.
Kami terkekah alangkah lamanya. Dia sahabat saya sewaktu SD dulu. Sesuku, sekampung, rumah sangat dekat. Ia seorang wanita dan saya seorang laki-laki. Kami selalu bermain bersama. Kemudian setelah masuk sekolah lanjutan, ia lenyap, pergi ke Jakarta mengadu untung. Lebih dari 25 tahun tak bertemu. Tiba-tiba ia mengirim SMS.
Saya dipanggil uwan atau wanodang oleh adik-adik saya. Wanodang berasal dari kata uwan (sebutan uda untuk bahasa Tanah Datar). Karena saya yang tua, maka uwan tadi ditambah dengan godang. Disambung, maka dibaca wanodang. Adik di bawah saya dipanggil Wanonga, uwan yang di tengah. Kemenakan memanggil saya makdang, juga om. Adik saya makngah. Anak-anak dari adik saya memanggil saya pakdang.
Sementara oleh anak-anak dalam keluarga besar istri saya yang orang Bukittinggi, saya dipanggil pakngah, di atasnya tentu pakdang dan paling bungsu dipanggil pakcik. Istri pakcik tentu dipanggil makcik.
Saya suka panggilan-panggilan itu, sangat dekat dengan akar kebudayaan Minang dan Melayu. Tapi saya suka banyak hal dalam hidup ini. Karena itu, saya mau dipanggil apa saja oleh orang lain, diterima saja. Ada yang memanggil saya dengan Khairul. Ada yang dengan Rul. Yang lain memanggil Jas. Ada pula menyapa saya dengan Karel. Lain kali dengan presiden atau pres atau pak pres, karena saya presiden Padang Press Club. Dipanggil uda tentu saja menyenangkan, apalagi oleh istri sendiri. Anak saya memanggil papa, satu-satunya panggilan moderen dalam kehidupan saya. Lantas juga dipanggil abang. Sederatan panjang panggilan lainnya, tidak pernah saya sesali.
Akan halnya wanodang, selain oleh adik-adik saya, juga oleh sebagian teman semasa kecil, bahkan juga oleh sebagian etek-etek saya. Di kampung kami memang punya panggilan yang akrab yang terekam dalam memori begitu dalam.
Karena itu, ketika teman masa kecil saya yang merantau ke Jakarta mengirim SMS, saya sontak meneleponnya. Banyak di antara kita yang tidak berjumpa lagi dengan teman masa kecil berpukuh tahun lamanya.
Saya tak ingat lagi wajah teman saya itu. Namanya Jus, rambutnya panjang dan hitam manis. Tapi kemudian saya disuruh membuka facebook adik dan anaknya. Adiknya yang sebaya adik saya, tak seperti yang dulu lagi. Wajahnya sudah berubah. Anaknya, lain lagi. Saya lihat foto suaminya dan fotonya sendiri malah tidak ada. Atau ada tapi tak saya kenali lagi.
Ia punya toko di Tanah Abang, berjualan pakaian muslim dan mukenah. Karena istri saya orang Bukittinggi dan keluarganya serta teman-temannya juga menjual konveksi, saya beritahu percakapan saya dengan teman masa kecil itu.
“Bilo ka Jakarta, ka sinan wak,” kata istri saya. Nyali bisnisnya langsung bekerja.
Sementara di otak saya bukan nyali bisnis yang muncul, tapi mengingat seberapa banyak teman masa kecil yang tidak pernah lagi saya jumpai. Dia entah dimana kini. Seberapa banyak pula yang di Tanah Abang, yang sudah jaya.
Ketika saya menulis kolom ini, adik saya dari Batam mengirim SMS pula.
“Sibuk wan?”
“Indak, manga ang?”
Lalu ia menelepon. Habis itu, masuk SMS lagi dari kemenakan saya yang kuliah di Medan.
“Makdang lagi ngapain?”
Tak lama anak saya yang SMS.
Hebatnya telepon genggam, mempertemukan bisa menghidupkan hal-hal kecil dalam tradisi saya. *
On 2/25/2011 06:25:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Uda Basril Djabar pemilik Harian Singgalang, di ruang kerjanya pekan lalu, menyergap saya dengan pernyataan, “bara dek angku sakupang tu? Saya menggeleng.
“Kalau saringgik Rp2,5,” jawab saya.
“Sakupang tu 50 sen,” kata Buya Bgd M Letter membantu.
Buya bersama pengurus inti LKAAM Sumbar bertamu ke Singgalang untuk suatu urusan. Pembicaraan yang awalnya soal adat istiadat melebar pada rencana pemerintah melakukan redenominasi, yaitu suatu tindakan penyederhanaan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya. Jika jadi dilakukan, maka uang Rp1.000.000 diganti dengan uang baru Rp1.000. Jika membeli sebuah benda seharga Rp1.000.000, tapi dibayar dengan uang baru yang Rp1.000, tak masalah. Jual beli akan tetap terjadi, sebab nilai kedua uang kertas itu sama. Biasanya, jika sebuah benda diberi label harga, maka ketika redenominasi berlaku, maka label yang ditempel adalah dua buah. Rp1 juta dan Rp1.000.
Berikut Rp100.000 akan jadi Rp100, Rp50.000 jadi Rp50 dan seterusnya ke bawah. Ketika memasuki wilayah bawah itulah muncul pembicaraan tentang uang lama.
Menurut Buya Letter, dulu pecahan uang memang kecil-kecil. Ada ciek piah Rp100. Berikut sebanggo sama dengan 2,5 sen. Saringgik Rp2,5. sakupang 50 sen, sasuku 50 sen. Sabilih 10 sen, satali 25 sen, sesen, 1 sen dan sarimih 1/2 sen. Inilah pecahan uang paling kecil. Semua dari koin.
Makanya, saat ini kita masih mendengar, “Indak bapitih den sarimih juo do ha.” Atau “Indak barimih den kini doh.” Sering pula terdengar, “Mopiah (lima rupiah) kariang se pitihnyo.”
Usia saya yang hampir 50 tahun, tapi hanya menemukan uang Rp2,5, Rp5, Rp10, Rp25 dan seterusnya ke atas. Nanti, jika penyederhanaan terjadi, maka pecahan uang Indonesia akan makin kecil dengan nilai tetap seperti sekarang, rasanya akan menarik. Di Eropa atau yang terdekat Malaysia dan Singapura, ada pecahan kecil yang banyak. Kalau kita berbelanja di Malaysia, sering tak hafal. Lantas ketika pulang ke Indonesia, koin itu dijadikan oleh-oleh.
Saat ini, Rp1 juta, seikat besar ditukar dengan dolar Amerika, hanya selembar. Membawa uang segepok besar ke luar negeri misalnya, dianggap enteng saja setiba di negeri orang. Satu sisi kita malu juga. Bahkan tak ada tempat penukaran rupiah. Sebagai sebuah bangsa, harga diri sangatlah penting. Harga diri bangsa.
Karena itu, penyederhanaan harus didahului dengan sosialisasi sebutan-sebutan satuan kecil-kecil di tengah masyarakat. Ini penting agar tidak gagap. Sebenarnya sebutan-sebutan mata uang tempo dulu itu, sudah didendangkan dalam lagu Minang. Saya lupa judul lagunya, tapi, ingat beberapa syairnya.
Apapun, saya teringat masa kecil belanja dengan koin. Hampir tidak ada anak kecil memegang uang kertas. Sekarang anak sekolah jajannya ribuan rupiah. Makin tahun nilai rupiah kian rapuh.
Rupiah makin rapuh kepala orang tua makin sakit. Sakit kepala menular kemana-mana karena inflasi kian tinggi. Rakyat semakin merasa miskin. Angka terakhir 30 juta jiwa. Itu angka resmi, yang tidak resmi sekitar 70 juta orang Indonesia miskin.
Di tengah rakyat yang miskin, mata uang kian besar. Uang pecahan Rp500 sudah tak ada, muncul Rp2.000 sebagai gantinya. Uang Rp1.000 sudah dengan koin pula. Makin tak bernilai.
Makin larut dalam ketidakberdayaan. (*)
On 2/20/2011 07:08:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
ANAK bujang itu sendu hatinya. Masih di Sungai Dareh, tapi rasanya sudah jauh di rantau. Ia hendak ke Jambi, membuka lembaran baru. Pagi kemarin, ia tinggalkan kampungnya, memohon izin pada orangtua hendak mengadu nasib di rantau orang.
“Dengan mamakmu di rantau baik-baik ya,” pesan mandehnya. Pesan mandehnya itulah yang kini terngiang-ngiang lagi. Sejak bus berangkat dari Pasa Banto, Bukittinggi, sudah tiga kali ia menangis.
Ini yang ketiga, tatkala bus antre hendak naik pelayangan di Sungai Dareh. Bujang baru pertamakali pergi ke rantau orang. Seperti ada yang direnggutkan dari dadanya, entah apa.
Sungai besar bernama Batang Hari itu membentang jauh ke mudik dan sejauh itu pula ke hilir. Matahari sudah condong ke Barat. Terasa amat jauh dari Bukittinggi, belum juga sampai ke perbatasannya. Tapi si Bujang sudah ngilu di ulu hatinya. Ia ingin berbalik, tapi mana mungkin.
Tapi itu dulu, sebelum 1975, ketika jembatan yang ada sekarang selesai dibangun oleh kontraktor RSCA dari Korea. Jembatan tersebut satu paket dengan Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) yang dibiayaI Korea. Proyek mimpi itu digagas sejumlah gubernur di Sumatra dengan tokohnya Harun Zain. Ketika jalan selesai, rakyat tak menamakannya Jalan Lintas, tapi jalan erse-a. Begitu hebatnya dan satu-satunya.
Cerita tentang jalan itu meluas ke seluruh penjuru Minangkabau. Licin, air di gelas takkan tumpah, sekencang apapun mobil dilarikan. Begitu benarlah rakyat bercerita kala itu.
Kenangan
Ketika Sabtu (19/2) rombongan peserta HUT Hari Pers Nasonal (HPN) 2011 tingkat Sumbar berada di Dharmasraya, sejumlah wartawan sempat menikmati senja di atas jembatan Sungai Dareh, pengganti pelayangan.
Lalulintas Jalinsum sangat sibuk. Truk-truk tonase tinggi berlalu-lalang, entah hendak kemana. Para remaja, seusai mandi, terlihat lambat-lambat dengan pasangannya. Melaju damai dengan motor. Ada yang berhenti di jembatan, menyaksikan sunset di Batang Hari.
Di bawah jembatan arah ke hulu, terlihat sejumlah truk sedang dimuati pasir. Di situlah dulu, pelayangan tertambat, tempat kendaraan diseberangkan. Ribuan orang menjadi saksi, betapa sulitnya hubungan darat antar provinsi ketika itu. Pelayangan yang sama, adalah juga saksi sejarah PDRI, Dewan Banteng di Sumatra Tengah dan PRRI.
Mata hati saya menyaksikan pelayangan itu masih menyisakan romantisme. Pasa Lamo, di sisi Batang Hari, sekarang ditata. Ada sebuah taman bagus di situ, tempat menikmati senja. Air sungai beriak kecil, sebuah perahu melaju ke hulu. Jauh di hilir, sayup, sebuah perahu lain terlihat melintas.
Sungai sejarah peradaban itu sebentar lagi akan disungkup malam.
Langit berwarna lembayung, rombongan kecil dari PWI Sumbar segera beranjak menuju ke Selatan. Kami hendak ke Gunung Medan. Kami tinggalkan Batang Hari halaman rumah bagi penduduk di tepiannya. Sungai itu tempat cinta dan kasih dipautkan, tempat keluh kesah dihanyutkan.
Kami sampai di Umega. Di rumah makan ini, beberapa generasi di atas si Bujang, anak Minang pernah menumpahkan air matanya. Ia pergi merantau tanpa melewati pelayangan lagi. Bukan ke Jambi, tapi ke Surabaya. Naik bus dari Padang Panjang dan ketika malam sampai, ia tiba di Umega.
“Penumpang APD dipersilahkan turun, selamat datang di Umega. Silahkan mencuci muka ke bagian belakang. Dan selamat jalan kepada penumpang Sampagul, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai di tujuan,” sebuah pesan dari pelantang suara menggema, mencabik malam. Remaja dari Batusangkar tadi, tiba-tiba hatinya seperti digunting. Telah jauh juga ia berjalan rupanya. Kekasih hatinya, ia tinggalkan di kampung. Sebentar lagi bus akan melaju membelah malam kian ke Selatan.

Dharmasraya yang tua
Kabupaten Dharmasraya menurut Bupati Adi Gunawan, adalah daerah pemakaran yang sedang mekar-mekarnya. Kabupaten ini terbaik tiga di Indonesia untuk sesama wilayah pemekaran.
Dharmasraya merupakan daerah termuda sekaligus tertua di Provinsi Sumbar. Termuda karena daerah itu baru dimekarkan dari kabupaten induk Sawahlunto Sijunjung tujuh tahun lalu. Sedangkan tertua karena daerah itu merupakan sumber awal peradaban kerajaan masa silam. Bahkan, menurut sejumlah literatur, Kerajaan Minangkabau berasal dari sana.
Karenanya, banyak peninggalan sejarah di Dharmasraya. Candi dan arca-arca bekas peradaban masa lalu seperti sejarah sedang bercakap-cakap dengan langit. Pelayaran Pamayu yang terkenal itu menyisakan patung Adityawarman yang sekarang disimpan di Musem Gadjah. Patung itu ditemukan di Padang Roco, Dharmasraya. Dharmasraya telah menjadi inspriasi hebat bagi Ridjaluddin Shar untuk menulis novel setebal 700 halaman. “Adityawarman, Matahari dari Sumatra,” sebuah novel yang luar biasa.
Kebudayaan yang ada di Dharmasraya dinilai juga menarik untuk diketahui. Dengan datangnya warga transmigrasi dari Pulau Jawa serta ditambah oleh perpindahan penduduk dari pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam, menjadikan daerah itu sangat heterogen dengan pencampuran kebudayaan dari pelbagai etnik dan suku bangsa. Maka jangan heran di sini akan ditemukan kesenian rakyat berupa randai, saluang, rabab, silat, kuda lumping, reog, wayang, ketoprak, calung, angklung, seudati, debus, ratok dan lain-lain.
Selain peninggalan sejarah, daerah yang terkenal kaya akan sumber daya alam ini. Jika dikelola dengan baik, maka makmurlah warganya.
Batang Hari sungai terpanjang di Sumatra yang melintasi Sumatra Barat dan Jambi, kini menjadi satu dari 22 sungai dengan kategori sangat kritis (super critical) di Indonesia. Di hulu, berbagai aktivitas dilakukan.
Sungai itu seolah kelelahan. (*)
On 2/13/2011 06:06:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Wina Armada Sukardi, seorang wartawan senior menjadi moderator dalam sebuah acara Hari Pers Nasional (HPN) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pekan lalu. Ia pun membuat joke dan diceritakan kembali oleh wartawan Darlis Syofyan kepada sejumlah wartawan dari Padang di sebuah rumah makan di Kupang. Karena menarik, ia ulang lagi di Bandara El Tari keesokan harinya.
Begini:
Seorang eksekutif muda menemukan robot pintar dan jujur di Jepang.
Ia pun membelinya, karena istri dan anak-anaknya suka berbohong. Sesampai di rumahnya yang asri di sebuah kota di Indonesia, sang eksekutif memperkenalkan fungsi robot tersebut kepada istri dan anaknya.
Beberapa hari setelah robot piket di depan pintu, anak lelakinya pulang larut malam.
“ Dari mana saja kamu, sudah larut begini baru pulang?”
“Dari rumah teman, diskusi kelompok,” jawab si anak. Sedetik kemudian, tangan robot bergerak memukul kening si anak. Sekejap pula kemudian keningnya berdarah.
“Kamu bohong sama papa,” kata si eksekutif muda.
“Iya Pa, maaf, saya sebenarnya pulang nonton film,” terang si anak. Robot diam dan itu pertanda si anak jujur.
“Nonton film apa?” Papa yang eksekutif ini menyelidik.
“Film koboi”
“Tang!” Kening si anak berdentang lagi kena pukul robot.
“Kamu bohong”
“Iya Pa, maaf, saya habis nonton film porno,” jawab si anak. Robot diam. jujur.
Sebagai ayah, si eksekutif muda teringat pesan moral gurunya di sekolah. Berilah anak contoh yang baik, ajari dengan pengalaman  yang otentik.
“Papa sudah setua ini tidak pernah nonton film porno, ini baru setahun jagung, sudah pandai-pandainya kamu nonton yang jorok-jorok,” kata si Papa.
“Tang...” kepala sang papa ditokok dengan keras oleh robot.
“Papa berdusta pula rupanya,” kata si anak.
“Iya, papa tadi lupa,” katanya.
Si papa waktu muda memang doyan film porno. Oleh robot jujur, berdusta atau lupa, bukan alasan. Asal jawaban tak sesuai kenyataan, kening ditokoknya.
Karena terdengar ribut-ribut, istri si eksekutif keluar dari kamarnya.
“Ada apa ribut-ribut?” Ia terperanjat melihat kening suami dan anaknya berdarah-darah. Ia marahi suaminya.
“Kamu jahat, anak sendiri dipukuli sampai berdarah-darah,” kata sang istri.
“Tangggggg” Robot pun memukul kening sang istri. Berdarah-darah pula.
“Kamu bohong, jadi dia anak siapa?”
“Anakmu, sumpah,” jawab sang istri.
“Drakkk..” sekali lagi ia ditokok robot.
“Anak siapa dia?”
“Maaf, anak saya dan selingkuhan saya,” jawab sang istri.
Robot diam.
Cerita robot Jepang ini, mirip cerita burung beo yang populer di kalangan wartawan Padang. Sering dituturkan oleh Gusfen Khairul dan Hasril Chaniago untuk mengocok perut kami saat jalan ke luar provinsi, semisal acara porwanas atau HPN.
Kalau robot main pukul, beo selalu berkata “selingkuh.... Selingkuh...” kalau suami pulang kerja.
Dengan demikian ketahuanlah tiap hari ia berselingkuh. Akhirnya beo itu ia bunuh, tapi sebelum ajal menjemput, beo masih sempat mengucapkan kata-kata selingkuh. Upaya terakhirnya itu terekam oleh CCTV buatan Jepang yang dipasang di rumahnya.
Makanya jangan suka berbohong pada pasangan Anda.
(*)