On 1/31/2011 03:58:00 AM by Khairul Jasmi in     1 comment
Malam sebentar lagi larut, tapi Payakumbuh semakin ramai. Sepanjang jalan nan lurus pedagang kaki lima berderet rapi. Cahaya lampu dari gerobaknya berpendar. Lalulintas agak ramai.
Di sebuah lorong, terlihat kerumunan. Sayup terdengar bunyi saluang. Sayup pula suara seorang wanita terdengar mengalun dan meliuk.
Saya membeli celana pendek untuk tidur. Kelupaan membawanya. Rp25 ribu/helai. Pas di badan. Teman saya juga begitu. Yang lain membeli pasta gigi, rokok dan makanan ringan.
Kemudian saya dan teman-teman melaju mencari makan. Mau makan nasi, atau makanan berat lainnya, semua tersedia. Apalagi makanan ringan.
Anak-anak muda, terlihat bergerombol, entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin tentang gadis manis di sekolahnya. Beberapa lelaki dewasa terpaku di depan televisi di sebuah rumah makan yang besar dan masih ramai.
Ramai nian Payakumbuh kalau malam rupanya. Berbeda dengan Padang. Mungkin karena di Payakumbuh terkonsentrasi, jadi terlihat kontras. Tapi tidak juga. Bukittinggi kalah olehnya, apalagi Batusangkar dan Solok.
Menurut pengamatan saya, Payakumbuh ternyata memang hidup jika malam. Ini mungkin didukung oleh warga sekitar, terutama kaum lelaki yang ke pasar mencari angin sejak sore hingga malam.
Tentang mencari angin, masih segar dalam ingatan, tatkala Payakumbuh masih dipenuhi sepeda. Kala sore — waktu itu — sepeda memenuhi jalan bak laron di sekitar neon.
Ah romantisnya dan saya terselip di antara mereka mengayuh sepeda teman yang belajar di Sekolah Teknik (ST). Lambat-lambat menyusuri jalan dalam kota, tak terasa lelah. Saya berhanti di Jembatan Ratapan Ibu, di bawah airnya mengalir, bersendandung, seperti nyanyian dari gunung.
Orang kampung saya doeloe candu benar ke Payakumbuh seperti juga ke Batusangkar. Pulang membawa kerupuk, panyiaram, galamai, serta makanan ringan lainnya. Kalau sakit dan obatnya harus daging kuda, maka dikejarkan sebentar ke Payakumbuh membelinya.
Beberapa orang dari kami pergi menonton pacu kuda ke Payakumbuh, seperti juga ke Bukittinggi dan yang pasti ke Batusangkar. Bahkan saya dan beberapa teman berjalan kaki dari kampung menembus bukit terus ke Tungkar, Situjuh dan sampailah di Payakumbuh. Sebentar saja sudah sampai. Pulang, tentu saja naik bus.
Lalu malam itu, saya nikmati Payakumbuh. Keramaiannya, kemeriahannya melebihi kota kecil lainnya di Sumatra Barat. Saya tidak tahu, pasti ada yang hilang di kota itu, tapi entah apa. Yang pasti sepeda sudah tak ada lagi, diganti motor yang menderu-deru. Sebuah lapangan luas nan hijau, tempat anak-anak dilepaskan bermain. Adakah ruang terbuka hijau (RTH) itu di Payakumbuh? Yang saya tahu ada mall, sebuah lambang ‘kemajuan’.
Bisa jadi RTH tidak ada, namun ada Ngalau Indah, tempat cinta pernah dipautkan. Nyamankan membawa anak-anak ke sana?
Ah, malam itu, salung mengalun terus. Mengimbau-imbau orang untuk singgah. Lewat saluang, cinta kasih, parasaian iduik dipaparkan sedemikian menariknya.
Siapa suka saluang? (*)
On 1/31/2011 03:57:00 AM by Khairul Jasmi in     2 comments
Khairul Jasmi

”Georgia,” anak saya, Jombang Santani Khairen menjawab dengan tangkas, tatkala pembawa acara di RCTI Tamara Geraldine mengajukan pernyataan ketika Piala Dunia 2002 Korea Jepang, digelar.Saya lupa apa pernyataannya, yang saya ingat, untuk menelepon ke RCTI, susahnya minta ampun, tapi anak saya yang waktu itu berusia 11 tahun, berhasil. Ia mendapat hadiah Rp1 juta. Malam besoknya:”Kamu lagi Jombang, nga boleh lagi, kamu terus, kemarin sudah, ini anak lihai amat,” Tamara terkejut, sebab orang lain susah nyambung, Jombang justru bisa. Hadiah harus dibagi rata, maka Jombang ditolak untuk ikut menebak kedua kalinya.Pekan lalu, saya membaca tanya jawab pembaca lewat SMS dengan Tamara di Kompas. Serta merta, saya teringat anak saya Jombang yang sekarang sudah kuliah. Dialah yang memberitahu saya bahwa dulu, ia menjawab “Georgia”.Saya memang menggagumi Tamara kalau ia tampil membawa acara bola, tapi tidak untuk acara lain. Ketika membaca Kompas, saya menjadi kecil, saat Tamara bicara:”Saya lebih bahagia ketika akhirnya dipanggil ‘inang’ oleh anak-anak dan keponakan-keponakan saya, ketimbang panggilan-panggilan sebelumnya, yaitu ‘bunda’, ‘mama’, atau ‘mommy’”Tamara memang orang Batak dan ia bangga dipanggil inang. Anak-anak saya mamanggil mama dan papa kepada kami. Waktu anak pertama lahir, saya berperang dengan diri sendiri, harus memanggil apa anak pada kami. Saya takluk di bawah keangkuhan zaman. Maka jadilah papa dan mama.
Namun untuk memberi nama, zaman tarompa kida ini, takluk di tangan saya. Anak pertama saya namanya, Jombang Santani Khairen, sebuah khasanah sangat Minang. Ketakutan saya tak pernah terjadi, “jangan-jangan dia kesulitan menjelaskan namanya pada orang lain”.Di Universitas Indonesia, dimana ia kuliah, tak pernah ia kesulitan untuk itu. Sejak kecil kepadanya sudah saya beritahu, namanya adalah sebuah nama yang indah. “Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia,” kata saya padanya. Rupanya, ia juga menguji namanya di terjemahan google, ternyata artinya handsome, gagah.Anak kedua kami perempuan, Seruni Puti Rahmita namanya. Dari khasanah Minang tentunya. Ia bangga dengan nama itu. Seperti juga saya dan istri.Saya baca lagi soal Tamara di Kompas 13 Juli 2010 itu sambil minum kopi luwak di Atrium Plaza, Jakarta. Teringat saya Umi saya memilih biji-biji kopi yang dijatuhkan tupai di parak kaki bukit di desa dulu. Teringat Umi saya menumbuk kopi. Betapa kopi menjadi berbeda jika diminum di tempat berbeda.”Saat ini, setelah lebih dari 15 tahun bekerja, sudah seharusnya uang yang bekerja buat saya. Bukan sebaliknya.” Kata-kata Tamara ini, kembali memukul saya dengan telak. Menurut dia pada usia 30-40, kewajiban kredit rumah dan mobil sudah tidak ada lagi, jadi giliran kita menikmati hasil jerih payah.Inilah yang disebut kemakmuran itu. Kebahagiaan itu, antara lain juga karena hal tersebut. Cuma saja, saya dan jutaan orang lainnya, di usia 40 tahun lebih masih bekerja untuk uang, bukan sebaliknya. Bahkan, seperti saya baca di Majalah Intisari, tentang wanita-wanita perkasa dari lereng Merapi, Jawa Tengah, sejak subuh membanting tulang mencari uang. Saya bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikanNya. Istri saya selalu nyinyir mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Apalagi Umi saya.
Namun saya gelisah melihat kehidupan orang-orang sekitar yang tak bercekupan. Orang-orang yang datang ke Redaksi Singgalang, menceritakan tak punya uang untuk mengobati anak, suami dan istrinya yang terbaring lemah, yang tersandera di rumah sakit dan sebagainya. Ibu-ibu yang sederhana meneteskan air mata, tatkala bercerita tentang anaknya yang lulus tanpa tes di perguruan tinggi, tapi tak ada uang. Segalanya diceritakan dan kami memberitakannya. Dan para dermawan membantunya. Syukur ya Tuhan.Saya baca sampai habis tanya jawab Tamara, saya ulang beberapa bagian. Ia wanita yang sukses, tapi sebelumnya saya telah gagal mengontaknya untuk menulis komentar Piala Dunia di Harian Singgalang. Saya ingin ada wartawati Singgalang secerdas dia menguliti bola. Tapi wartawati saya menyukai bidang lain, tidak bola.Kopi luwak tinggal setengah, rasanya nikmat memang. Segelas kopi yang mahal telah saya bayar untuk sebuah selera bercita rasa tinggi. Jujur, saya menyesal membayar segelas kopi semahal itu. Tapi, bukankah gaya hidup harganya memang mahal? Sesekali, tak apalah.(*)
On 1/31/2011 03:56:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Saya dibelenggu oleh kartu seluler saya sendiri. Beberapa bulan ini, nomor yang saya pakai sering berulah. Sedang bicara, putus. Kalau tersambung, suara tak jelas. Kalau ngirim SMS tersangkut, SMS orang tak masuk-masuk. Paginya, SMS yang tersangkut itu, masuk berketuntang.
Saya bawa ke Telkomsel di Khatib Sulaiman, katanya, HP yang rusak. Tak tahu saya apanya yang rusak. Saya reparasi. Beres. Tak lama kemudian muncul lagi penyakit serupa. Katanya memori HP saya penuh, pada yang terisi baru sedikit.
Keluhan serupa bukan datang dari saya saja, tapi hampir dari banyak orang.
“Ini nomor yang bagus, ganti saja,” kata teman. Saya ambil nomor dari operator lain itu. Selain nomor cantik, tak ada suara putus-putus. Masalah muncul, orang sudah kenal dengan nomor saya sebelumnya. Menggantinya repot. Ketika itulah saya merasa terbelenggu oleh telepon genggam saya sendiri.
Banyak hal yang disayangi membelenggu kita. Banyak hal yang membelenggu, kita sayangi. Dibelenggu atau pun tidak, kita enjoy-enjoy saja. Tapi untuk urusan telepon genggam, saya sering geram dibuatnya.
Mau protes, tak dihiraukan benar. Protes kecil-kecil semacam ini, kita akan dihadapkan pada barisan antre di gerai pelayanan. Lalu pelayan dengan suara yang amat ramah, menayakan kepada kita, apa yang bisa dibantu dan sebagainya. Untuk bisa sampai ke meja si gadis manis yang melayani kita, ambil dulu nomor antre, seperti di bank. Syukurlah kalau semua meja pelayanan ada orangnya, kalau tidak, maka antrean akan kian panjang dan masa yang terpakai kian lama.
Karena saya sudah lama memakai nomor yang sekarang, saya sayang menggantinya. Namun kalau berulah juga, apa boleh buat. Jalan keluarnya sudah saya temukan. Ganti dan kirim SMS ke semua nomor di kontak untuk mengabarkan, “saya sekarang pakai nomor ini.” Banyak orang sudah melakukan hal serupa.
Kehilangan satu pelanggan, bukan hal besar. Namun sesungguhnya, bagi kalangan pebisnis, hal itu, sangat merugikan. Bisa jadi pada hari yang sama ribuan pelanggan pindah ke lain hati.
Mereka yang loyal dengan satu merek adalah yang sudah betul-betul lama bersama merek tersebut. Namun mayoritas pemakai karyu seluler, adalah konsumen yang tidak loyal. Tiap sebentar ganti kartu. Mau ganti atau tidak itu urusan mereka. Urusan pemegang merek adalah bagaimana mempertahankan pelanggan yang sudah ada.
Itu urusan bisnis. urusan konsumen kalau menelepon tak ada gangguan dan kalau pulsa habis, tambah, atau bayar saat jatuh tempo. Tak ada pulsa, tak bisa menelepon. Urusan kedua belah pihak yang saling terkait dengan erat itu, berlangsung dalam bisu, tanpa tegur sapa. Itulah bisnis modern.
Keluhan, dalam bisnis yang sudah menggurita, sering terabaikan. Jika terlayani, cenderung dalam skala terbatas. Keluhan, jika sama jenisnya dari banyak pelanggan, harus diatasi secara profesional dan diumumkan secara luas. Jika didiamkan, konsumen melakukan hal lain: lari.
Lari ke nomor lain, itulah yang sedang saya rancang sekarang. *
On 1/31/2011 03:56:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi


Saya merasa ciut melihat betapa hebatnya alumni SMA 1 Padang, bak bumi dengan langit jika dibading dengan alumni sekolah saya. SMA 1 Padang doeloe adalah Europeesche Lagere School (ELS) dibangun 1917, sekolah menangah atas untuk anak-anak Belanda. Saya belajar di Sekolah Guru (SPG) Padang Panjang didirikan sezaman dengan ELS, namanya Noormal School (NS). Kampus NS tidak tertandingi oleh sekolah Belanda manapun di Minangkabau. Luas, bangunannya kokoh dengan jendela-jendela tegak tinggi. Ruang kelasnya lapang. Halaman depannya hampir sebesar lapangan bolakaki. Jalan di dalam kampus berkerikil putih, di sisi berdiri pohon mahoni tua. Ada ruang serbaguna, ada aula, ada ruangan olahraga, ada ruangan musik, ada studio, ada ruang pekerjaan tangan. Bunga-bunga tumbuh berwarna-warni. Di belakang sekolah, sama besarnya dengan sekolah itu, berdiri asrama putri dan rumah para guru.
Lalu, waktu pun berjalan. Zaman berubah, SPG ditutup. Guru tak perlu lagi belajar psikologi, tak perlu pedagogik, tak perlu mata pelajaran penguasaan kelas, tak penting metode pendidikan. Gedung peninggalan Belanda itu, kemudian menjadi SMA 1 Padang Panjang.
Ketika ribut-ribut relokasi SMA 1 Padang, ingatan saya terseret ke sekolah saya itu. Rasa-rasanya sekolah saya hebat juga peninggalan sejarahnya, apalagi itu sekolah pribumi, bukan untuk anak-anak Belanda. Kemajuan pendidikan di Minangkabau sesungguhnya bukan karena adanya sekolah untuk anak-anak Belanda, tapi karena kesadaran akan arti penting ilmu pengetahuan yang tumbuh di dada anak-anaknya. Sekolah pribumi dan sekolah Belanda adalah pemisah nasib dan masa depan.
Keributan di SMA 1 itu, menyadarkan saya bahwa persepsi tiap orang tentang sekolahnya, tidaklah sama dengan baju segaram yang ia pakai ketika jadi siswa dulu. Relokasi SMA 1 ke tempat lain yang diroptes bahkan memakai spanduk segala, dipuji banyak pihak, sekaligus dicaci. Ada yang menilai, tingkat kehebatan alumni SMA 1 jatuh ke titik nadir karena spanduk itu. Orang-orang berpendidikan tinggi, seharusnya tidak memakai cara-cara jalanan untuk memrotes sesuatu, tapi pasti bisa lebih elegan, dewasa dan bermartabat.
Tapi, mungkin penilaian itu salah. Sebab menurut sejumlah alumni kepada saya, alumni SMA 1 Padang terbagi dua. Pertama yang tradisional, kedua yang moderat.
Mereka yang tradisional, mementingkan nostalgia, mengenang kala dulu berjalan di koridor sekolah saat hujan gerimis turun, lalu meninggalkan sekolah bersama buah hati di bawah payung warna biru. Mereka teringat tulisan-tulisan nakal di dinding kelas, teringat makan bersama di kafe dan rindu sama teman-teman remaja dulu. Apapun alasannya, SMA 1 tak boleh dianjak, harga mati. Pokoknya tidak, sejarah, kenangan, kebangaan kota, segalanya ada di situ. Filmnya Gita Cinta dari SMA.
Kelompok kedua yang moderat, mereka memandang ke depan, memikirkan bagaimana adik-adik, anak-anaknya yang sekarang belajar di SMA 1 Padang, dipaksa harus puas dengan kebangaan semu: Sejarah! Padahal, kata mereka, dunia pendidikan berjalan amat cepat. Sekolah harus necis, nyaman, senyaman rumah sendiri. Ada lapangan bermain, ada ruangan yang cukup, tidak bergedincik di tempat yang sempit, bak menumpang di rumah orang lain, apalagi sebagaimana keluhan siswa SMA 1 sekarang, tiap olahraga mereka menumpang ke tempat lain.  Karena itu, alumni moderat ini ingin SMA 1 harus sehebat ELS doeloe. Di zamannya ELS adalah sekolah yang luas dan punya fasilitas yang lengkap. Tapi, kini, kampus itu sudah terjepit oleh kota yang serakah.
Kelompok moderat ingin SMA 1 itu benar-benar nomor 1, nyaman dan membanggakan anak-anak yang masuk ke sana. Sekarang? SMA 1 itu hebat bukan karena sejarahnya, bukan karena gedungnya, tapi karena kebijakan pemerintah yang menempatkan guru-guru hebat di sana, seleksinya ketat, nilai anak yang masuk harus tinggi. Jika misalnya, guru-guru hebat itu dipindahkan ke SMA lain, standar nilai masuk ke SMA 1 diganti atau diturunkan, apa yang terjadi?
Atau yang lebih landai, sekolah lain ditumbuhkan pula dengan baik, dengan merekrut guru hebat dan standar nilai masuk ditingkatkan, maka SMA 1 mendapat saingan. Itu sudah dibuktikan, SMA 10 Padang melejit. Kini, SMA 1 dan SMA 10 Padang bersaing ketat bagai motor merek Honda dan Yamaha, bagai kacang Garuda dan Dua Kelinci, bagai MetroTV dan TVOne. Keunggulan, kehebatan, bukan monopoli salah satu pihak. Itu sangat bagus bagi dunia pendidikan di Sumatra Barat dan Padang khususnya.
Karena dua pendapat itu — tradisional dan moderat — tumbuh dan diyakini oleh masing-masing alumni, maka biasanya dalam sebuah pertemuan, perdebatan, musyawarah, salah satu akan menerima pendapat pihak lain. Saya justru berasumsi, mereka akan sepakat mengambil kesimpulan yang kira-kira begini:
Bersedia direkolasi, asal ke tempat yang aman dari tsunami, kalau tak bisa, pilihlah lokasi yang luas.  Menyerahkan kepada pemerintah dan DPRD Padang, terserah mau di mana, asal sekolah baru jauh lebih bagus dan fasilitas lengkap dan SMA 1 sekarang tidak dijadikan mall, tidak diserahkan kepada swasta dengan cara tukar guling. Bersedia pindah asal gedung SMA 1 dijadikan museum pendidikan atau pustaka. Lalu, para alumni itu diminta oleh pengurusnya badoncek, terbayang angka Rp23 miliar, tapi angka itu tak pernah bisa tercapai.
SMA 1 itu, bagian dari gedung cagar budaya yang dilundungi undang-undang, karena itu, menurut saya, akan ada kebijakan khusus dari pemerintah yang tingkatannya lebih tinggi. Bisa jadi, SMA 1 dan SMP 1 dijadikan satu kampus. Bukankah SMP 1 adalah juga sekolah bersejarah yang tak kalah hebatnya dari SMA 1? Jika begitu, di lokasi sekarang, bisa hanya akan ada SMP 1 atau hanya ada SMA 1 saja dan salah satunya direlokasi.
Suara alumni perlu didengar, tapi suara alumni itu sebaiknya tidak diwarnai musik politik, sebagaimana yang terdengar sekarang. Suara alumni SMA 1 adalah suara orang-orang hebat, karena itu nadanya juga harus hebat. Jujur saja, suara alumni SMA 1 saat ini, tak bernada, malah membuat orang terheran-heran.
Khalayak menunggu, bagaimana siswa SMA 1 bisa belajar dengan tenang di sekolah yang rancak dan tidak was-was. Soal sejarah? Pelajaran pertama saya di bangku kuliah jurusan sejarah adalah: Sejarah yang benar adalah sejarah masa kini. *
On 1/31/2011 03:55:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Saya berniat memancing belut ke sawah, nyatanya pekan lalu saya

terbang ke Jakarta. Makanya, (doeloe) kata Umi saya, jangan

memastikan rencana-rencana, sebab segalanya diputuskan Tuhan.
Ke Jakarta saya bukan memancing belut, tapi diajak teman.
Kebetulan Jakarta baru saja dilanyau banjir. Saya melihat, begitu

hujan turun, orang-orang di ibukota itu, ketakutan, lebih takut

dari warga Padang bila hujan turun. Mereka bergegas memacu

kendaraan masing-masing. Karena Sabtu dan Minggu, jalanan di

Jakarta agak sepi.
Jakarta, adalah kota yang tua, kampung besar yang memikul beban

berat. Beradik kakak dengan Padang luasnya, yaitu 740 Km2.

Penduduknya saat ini sekitar 10 juta. Tapi memandang Jakarta, tidak

bisa dipisahkan dari Jabotabek. Penduduk Jabotabek sekitar 23 juta.

Itulah metropolitan keenam terbesar di dunia. Jika diintegrasikan

lagi dengan Bandung Raya, disebut megapolis. Jumlah penduduknya

menjadi 30 juta, nomor dua terbesar di dunia setelah megapolis

Tokyo.
Jakarta dilintasi 11 sungai. Seperti juga di Padang, Jakarta juga

memiliki banjir kanal, yaitu (saya ambil dari wikipedia) Banjir

Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Banjir Kanal Timur mengalihkan

air dari Ciliwung ke arah timur, melalui daerah Pondok Bambu,

Pondok Kopi, Cakung, sampai Cilincing. Sedangkan Banjir Kanal Barat

yang telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda, mengaliri air

melalui Karet, Tanahabang, sampai Angke. Selain itu Jakarta juga

memiliki dua drainase, yaitu Cakung Drain dan Cengkareng Drain.
Sebenarnya kota ini tiap hari menerima kiriman banjir persoalan

dari seluruh Indonesia. Banjir uang, banjir masalah, banjir

penyakit, banjir peselingkuh, banjir pengangguran, banjir PKL,

banjir pemalak, banjir wisatawan, banjir politik dan entah apalagi.
On 1/31/2011 03:54:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Seringkali kalau berbelanja di mall atau swalayan, kita menerima permen sebagai uang kembalian. Pada tahun 1988, di Palembang Jenderal Koesparmono Irsan (mantan Kapolda Sumbar) menyampaikan kepada saya dan Hasril Chaniago, bahwa dengan ‘alat tukar permen’ itu, maka miliran uang tiap hari terkumpul dan itu menjadi keuntungan yang tersembunyi.
Harga barang-barang di Indonesia memang aneh, misalnya Rp499.900. Kembalian uang seratus perak tidak ada. Padahal koin Rp100 ada, tapi seenaknya diganti saja dengan permen. Jika hanya satu orang yang menerima pengembalian dengan permen setiap hari, tak soal benar. Jika 100 orang, di satu mall atau swalayan atau apalah namanya, kalikan saja berapa jumlah mall di Indonesia. Kalikan pula sebulan. Jadi, kata Koesparmono, itu bentuk ‘penipuan’ kepada masyarakat. Ia minta hal itu dihentikan.
Tapi kini sudah 2008, permen tetap saja akan jadi alat tukar. Meski kita tahu, permen bukan uang. Tapi saya yakin, hal itu akan makin marak. Betapa tidak, sebentar lagi ongkos angkot akan turun Rp200/penumpang, menyusul turunnya harga BBM Rp500/liter.
“Jika tarif semula Rp3.000, kemudian turun jadi Rp2.800 maka uang kembalian akan sulit dilakukan. Akibatnya, kembalian bisa ditukar dengan permen saja. Kami harapkan penumpang tak keberatan. Karena uang pecahan Rp200 saat ini sudah jarang ditemui atau dianggap tak bernilai,” kata Ketua Departemen Angkutan dan Prasarana DPP Organda, Rudy Thehamihardja, di Jakarta, Selasa pekan lalu.
Nah, Organda sudah minta kepada masyarakat, ‘harap maklum’.
Inilah nasib kita, seperti main-main tapi serius. Pemerintah sudah lama melecehkan mata uangnya. Pecahan Rp100, dibiarkan tak berharga. Tidak ada lagi yang bisa dibeli dengan pecahan itu, kecuali permen. Mata uang kita kian lama kian berkurang harganya. Itu kenyataan di tengah-tengah masyarakat.
Ketika ongkos turun Rp200, maka hal itu akan memperpanjang usaha pemerintah mengajak rakyatnya melecahkan mata uangnya sendiri. Tak ada kembalian Rp200. Uang koin pecahan Rp100 sulit didapat, jika pun ada ringan, seringan kapas. Uang pecahan Rp500 saja sudah ringan, tak berwibawa lagi. Tidak tahu, kenapa bangsa ini kurang peduli dengan koin, padahal negara maju memerlukan koin untuk banyak hal.
Bank Indonesia (BI) juga ikut melecehkan uang yang ia cetak sendiri. Mereka yang bekerja di bank sekolahnya tinggi, jadi tak mungkin bertindak salah. Tapi, menurut mata awam, dengan cara memperbesar nominal koin, maka sebenarnya pemerintah dan bank telah merendahkan mata uangnya sendiri.
Rupiah memang rapuh, tiap sebentar balambin,  cengeng dan rentan terhadap dolar. Ini, juga nasib buruk lagi!
Tempo hariBI menyatakan dalam waktu dekat akan menerbitkan uang lembaran Rp2.000 dan pada saat bersamaan lembaran Rp1.000 akan ditarik. Tapi untung kemudian dibatalkan. Kalau lembaran Rp1.000 tak ada lagi, coba bayangkan.
Memang satu persatu nominal terendah uang rupiah telah menjadi almarhum. Makin berjalan waktu, kian hilang nominal terkecil uang kita. Tak tahu apakah di negeri orang juga begitu, tapi rasanya, untuk dolar AS, tidak demikian.
Tapi sudahlah, naik sajalah angkot, kalau disonsongnya uang kita dengan dua biji permen, jangan rewel, terima sajalah, sebab akan membuat pusing.
Atau ada cara lain, kumpulkan koin Rp100, kalau tak ada tukarkan ke BI. Kan ado semboyan ‘Ayo ke Bank’, ya mari kita ke bank, tukarkan uang kita dengan koin.
Tapi aneh juga, kenapa koin itu tidak disebar saja ke pasar, atau adakan operasi pasar uang koin. Bukan untuk mengatasi kembalian dengan permen saja, tapi untuk menumbuhkan rasa cinta uang sendiri. Rasa terpikat pada koin.
Sayang ya, koin kita ringan, tak ada harganya. Saya rindu memasukan koin ke box, kemudian keluar berketunyang minuman segar seperti Coca Cola, Aqua dingin berpeluh dan minuman dingin lainnya. Masukan uang, keluar koran, seperti di negeri orang yang ada hampir di setiap tikungan.*
On 1/31/2011 03:54:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

“Di sini nga ada rumah makan padang ya,” teman saya dari Jakarta bertanya.
“Dulu tidak, sekarang ada,” jawab teman yang lain yang saja ajak menjemput si tamu ke BIM.
Kami ceritakanlah kepadanya, di Padang dan Bukittinggi sekarang sudah ada rumah makan dengan tulisan besar-besar, ‘masakan padang’
“Habis sudah keunikkan kampungmu,” katanya.
Masakan padang adalah indentitas kuktural yang diberikan oleh orang luar Sumatra Barat terhadap masakan/rumah makan padang di mana saja berada di Indonesia bahkan di dunia, kecuali jika rumah makan itu ada di Sumbar.
Kini tiba-tiba indentitas itu mencogok pula di Sumbar. Ini, bola lantun yang disepak-sepak sejak dulu, kini bola itu menggelinding dengan indah ke Ranah Minang dalam bentuk bisnis waralaba.
Awalnya di rantau berdirilah ribuan rumah makan padang. Banyak yang sukses dan melebarkan sayapnya. Karena sudah menjadi bisnis besar, maka merek bisa dibeli siapa saja, dengan sejumlah persyaratan. Maka dibelilah merek dan masakan padang itu. Di mana-mana ditemukan rumah makan padang. Kita luar biasa bangganya. Tak ada suku bangsa segesit kita kalau untuk urusan rumah makan.
Tapi tak seorangpun bisa melarang, rumah makan yang sudah maralaba tadi didirikan di Sumbar. Maka ketika hal itu terjadi, aturan bisnis memaksanya untuk tetap memakai identitas “masakan padang” meski rumah makan itu berdiri di Padang. Inilah untuk pertama kali, ada mereka rumah makan padang di Padang. Sejarah membentuk wajahnya sendiri.
Ini risiko bisnis moderen. Risiko yang harus diterima oleh orang Padang, di kampungnya sendiri ada pula rumah makan ‘masakan padang’. Secara pribadi saya ingin berontak, tapi apa hendak dikata. Air berbalik mudik itu, sebuah keniscayaan sejarah, suka atau tidak.
Ribuan pemilik rumah makan asli Minang lainnya, tak perlu risau dan memang tak mereka pikirkan soal merek. Di Sumbar, bukan merek yang penting, tapi cita rasa.
Orang Sumbar merupakan orang paling lahap di Indonesia. Mereka rela memburu rumah makan dengan sajian nikmat. Hidup hanya sebentar, soal makan, tak boleh ditawar-tawar. Karena itu, wajar, rumah makan atap daun rumbia yang kotor di By Pass Padang, kewalahan melayani pembelinya, karena sajiannya yang enak.
Tapi apapun, ‘masakan padang’ masuk Padang, merupakan buah dari ‘karatau madang di ulu’. Buah dari selera bisnis urang awak. Buah dari rantau yang diantarkan kepada mandeh di kampung halaman. Bukanlah selama ini, kita mengelu-elukan rantau?
Yang pulang dari rantau bukan hanya orang, tapi juga uang. Selain itu juga merek. Maka, marilah kita bergembira ria melihat air berbalik mudik. Tetapi secara pribadi, dada kebudayaan saya sedikit terguncang. Hal-hal yang berada di luar pikiran saya, bisa terjadi rupanya.
Apa hendak dikata, bisnis adalah sesuatu yang mengasyikkan. Rumah makan padang, masuk ke Padang, menurut teori marketing, merupakan sebuah samudera biru. Menjual senapan ke tukang senapan. Membawa onta ke Arab Saudi, membawa bir ke Jerman. Ternyata laku.
Hidup sesungguhnya mencari peluang-peluang. Itulah bisnis. *
On 1/31/2011 03:53:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Dalam hutan di tepi jalan dekat sebuah tikungan tajam, seorang prajurit tak bergaji menahan nafas mengokang senjata dan kemudian menembak serdadu Belanda. Si Belanda palasik itu, kena dadanya. Ia tewas, tapi kemudian teman-temannya marah besar. Ia sosoh hutan kecil itu. Prajurit kita ini, lari menjauh. Ia selamat.
Sampai peristiwa hari itu, sudah empat serdadu Belanda ditembaknya. Dua tewas, dua luka parah. Ia belum puas, ia ingin Belanda pergi dari Indonesia, sebab negeri ini sudah merdeka. Tak lama kemudian terjadi penyerahan kedaulatan oleh Belanda pada Indonesia. Euforia di mana-mana.
Tiga tahun lalu, ya tiga tahun lalu, si prajurit tua tersebut meninggal dunia. Ia meninggal dalam keadaan ringkih. Pensiunan veterannya, dijanjikan akan keluar, tapi ia keburu meninggal dunia. Di kampung itu, almarhum dikenal sebagai prajurit dan pejuang hebat. Nama besar itu, membuat keluarganya dihormati.
Istrinya telah lebih dulu pergi. Saat maut menjemput pejuang kita ini, anak-anaknya yang enam orang berada di sisinya ditabah cucu-cucunya. Keenam anaknya, hanya satu yang jadi pegawai negeri, sisanya jadi petani.
Cucu-cucunya, sebagian sudah tamat sekolah. Ada yang tamat kuliah, tapi lebih banyak yang hanya tamat SMA. Tapi sebenarnya pejuang kita ini tak butuh itu. Ia sedih sekali cucu-cucunya tak dapat pekerjaan juga, mereka hanya menjadi penganggur. Ketika ia tanya kenapa tak dapat pekerjaan, cucunya menjawab, alangkah sulitnya mencari pekerjaan sekarang.
Gaek ini, sebelum meninggal terus memikirkan cucu-cucunya itu. Sambil memikirkan, ia ingat cinta manisnya dengan sang istri zaman perjuangan dulu. Mereka berjanji menguntai kasih berdua sampai maut memisahkan. Istrinya amat setia dan ia juga setia.
Kini, anak keturunannya, di zaman merdeka begini, tak dapat jatah lowongan pekerjaan. Ingin ia menjerit, ingin ia menembak siapa saja, ingin ia panjat kantor gubernnur, ingin dia menepuk dada dan membanggakan hasil perjuangannya. Tapi kemudian, ia terkulai sendiri.
Ini zaman tak lagi peka terhadap orangtua, juga orangtua pejuang. Zaman yang telah hanyut dilarikan waktu entah kemana. Di zaman ini, ia hanya bisa mendengar lagu-lagu perjuangan saat pagi di radio dan dinihari di televisi. Tidak seperti dulu lagi, menjadi menu keseharian. Kini, entah lagu ngakngok apa, ia tak mengerti.
Setahun menjelang meninggal, ia masih menyaksikan peringatan Tujuhbelasan, bendera berkibar-kibar tapi tidak di setiap rumah penduduk. Hanya untuk bendera, orang saat ini sudah enggan, apalagi berjuang.
Ia jadi bingung sendiri, jangan-jangan jiwa perjuangan, jiwa maju tak gentar yang ada di dadanya, tidak diwarisi oleh anak cucunya. Anak muda itu majal, lembek dan tak gesit.
Bisa jadi, bisik hatinya, mereka tak mendapat jatah pekerjaan, karena hal itu. Tapi, pejuang kesepian ini, menyimpan sendiri anggapannya itu dalam dada.
Pada suatu malam di layar televisi ia saksikan Malaysia mau merampas perairan Indonesia. Gaek ini menggigil. Ia kepalkan tinjunya. Darahnya naik, deru nafasnya kencang.
“Tidak bisa!” Ia marah. Setelah itu, ia terkulai, lalu mati. *
On 1/31/2011 03:53:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Mengeras Dia

Percakapan dua orang di sebuah kedai kopi:

“Mengeras pula dia pada saya,” kata seorang lelaki.
“Lampang saja pangkal turiknya itu, biar tahu rasa dia,” jawab temannnya.
“Kalau naik juga bahunya setelah ini, hampai saja, nak mencoba saya pula dia saya lihat”
“Iya, jangan awak pula yang digeregaknya.”
“Kemarin itu, sambal goreng bini saya dihampainya, licin landas sambal di bawah songkong dia sungkahkan. Adat bertetangga, tolong-menolong, tapi dia lain pula orangnya.
“Sudah sejak dulu dia seperti itu. Tak bisa diajari lagi. Sebenarnya dulu sudah saya bilang sama kamu, kamu saja yang tak percaya. Kini, coba benarlah, sudah mengeras pula dia sama kamu. Membesarkan anak ular saja kamu saya lihat.”
“Karena saya tak mau bertengkar saja, anak sudah besar-besar, bagaimana pula bentuknya bertengkar di depan anak.”
“Ya tapi, tak mau itu, lunak benar sama orang.”
“Lunak bagaimana pula, saya tak bisa ditawar-tawar,”
“Tumah contohnya, berselisih kamu dengan dia di jalan tak disapanya,”
“Tak perlulah saya disapa-sapa di jalan, tak ada untungnya bagi saya.”
“Kamu karengkang pula. Tak boleh begitu, hidup ini ya, kita harus pandai membawakan diri.”
“Saya muak dengan orang banyak cik minyak seperti dia, hambar pusat saya dibuatnya”
“Tak masak yang ditanak kalau begini terus, panggil dia bicara empat mata”
“Itu benar yang tidak bagi saya”
“Kau dan dia sama saja, tetap saja kusut takkan selesai tampaknya oleh saya kalau begini”
“Kusut sarang tempua saja sekalian, biar api yang menjelesaikan.”
“Oh begitu caramu, kamu kan ninik mamak di kampung, meski sekarang tinggal di Padang”
“ Tak membesarkan air gelar adat itu bagi saya.”
“Ohh sudah tergadai kapak buruk rupanya.”
Keduanya terkekeh, lalu meneguk kopinya.
“Minta rokok sebatang,” kata yang seorang. Tanpa menunggu jawabannya tanggapnya sudah menjambo saja, diambilnya kotak rokok dan diambilnya pula sebatang rokok.
“Menurut saya, kalau ada silang sengketa antara kita bertetangga, selesaikan saja dengan baik, segan awak sama orang.”
“Tapi dia sudah mengeras-ngeras pada saya, dikacaknya lengannya, saya tahu sudut dapur orangtuanya di kampung, melagak pula dia sama saya,”
“Ya itulah tugasmu sebagai yang lebih tua menasihatinya.”
“Nasihat ke nasihat juga lagi, dia tak bisa dibentuk lagi, sudah lain kiblatnya sejak dapat kerja ini.”
“Mungkin dia sibuk atau banyak yang dipikirkannya”
“Jangan pulalah saya dilagak dengan kerja-kerja itu, sudah banyak makan asam garam saya. Saya kerja apa saja sudah dikacak, tukang tembok, tukang kayu, menggali jalan, menjual baju di kaki lima, bekerja di toko, jadi sopir oto, jadi loper, kemarin ini memborong kecil-kecil pula saya. Kini saja yang hidup saya terasa sempit, APBD belum cair kabarnya.”
“He he he he APBD pula katamu, bantuan gempa sudah terima belum?”
“Itulah, pusing saya, bini saya memberungut saja sekarang, rumah saya belum juga dipelok, pasir dan semen tinggi harganya.”
“Masalahmu itu rupanya, sehingga berang-berang saja sejak tadi.”
“Ya, bagaimana lagi, pinjamilah saya dulu agak tiga emas, nanti kalau APBD cair, langsung saya bayar.”
“Emas berapa sekarang?”
“Tak tahu saya”
“Jual saja cincin binimu itu, adat berumahtanggalah namanya, mau dia itu.”
“Dibelakanginyalah saya, kalimbari sudah saya jual subangnya, merentak tajan dia.”
Temannya tersenyum-senyum saja.
“Matilah ang,” katanya sambil bergegas pergi. *
On 1/31/2011 03:52:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

Meja makam. Pasti, meja makan tak ada di setiap rumah. Di rumah saya ada, tapi saya nyaris tak menggunakannya. Entah kenapa, mungkin karena sudah terbiasa sejak kecil makan baselo. Padahal lauk alias samba semua ditarok istri saya di meja itu.
Saya juga tak pernah minta istri mengambilkan nasi, seperti gaya orang-orang mapan, nasi diambilkan sampai ke tengah piring. Kata orang kalau kita tertib di meja makan, maka tertiblah sampai ke ujung dunia.
Saya ambil piring sendiri dan ambil nasi sendiri. Sebenarnya sejak awal saya sudah diberlakukan sebagai suami yang terhormat oleh istri saya, piring putih diambilkan, nasi disanduak-an, air diambilkan. Tinggal makan saja.
Tapi jujur saja, hati saya tidak enak. Kenapa harus diambilklan istri, padahal saya bisa? Seperti raja diraja benar saya rasanya di rumah. Maka setiap diambilkan, saya risih, sejak itu istri saya maklum. Cuma saja, segalanya selalu dekat sekali dari meja. Semua gampang. Hal-hal gampang, kenapa harus dibantu? Tapi sesekali terbit pula manja saya. Semua diambilkan, tapi tak disuapkan.
Setelah mengambil nasi, saya segera duduk di kursi tamu, atau di depan televisi. Tidak formal, sebab kalau di meja makan, formal benar terasa oleh saya, malas hati ini dibuatnya. Namun begitu, dari tiga hari agak sekali dua saya duduk juga di meja, karena bolak-balik tambuah dari depan TV ke meja makan, kurang nyaman juga.
Intinya, di rumah sendiri, mau makan dimana, suka hati den lah. Suka-suka kitalah. Jadwal makan saya hanya malam hari sepulang kerja. Dihidangkan benar, tak ada gunanya, karena istri saya sudah tidur. Mana pula ada istri masih bangun pukul 12 malam, menunggu suami pulang. Kalau ada suami yang tega-teganya menyuruh istrinya tak tidur sampai ia pulang, meski sudah dinihari, harus dihentikan, sebab istri bisa kurang darah dibuatnya. Itu namanya menyiksa dan sok mantap. Tapi kalau matanya yang tak tidur, biarkan saja, jangan dipaksa pula tidur.
Kalau pagi? Saya bangun kesiangan karena saya tidur pukul 02.00. Ada yang meremehkan saya karena ‘rezeki saat pagi sudah disikat orang semua’. Agama menyuruh orang bangun pagi dan betebaranlah mencari rezeki. Namun ada nasihat agama yang lainnya, “bekerjalah sampai tengah malam,” saya memilih yang terakhir. Ada bagian masing-masing. Karena itu, wajar saya bangun kesingan.
Saat selesai mandi pagi, saya dihidangkan secangkir teh hangat oleh istri. Nikmat niat. terasa benar sayangnya istri kepada kita di kala pagi. Kalau istri sudah pergi bekerja, saya seduh sendiri. Ini kan gaya kaum profesional perkotaan, semua bekerja, anak-anak sekolah. Jadi nikmati saja. Anda kan sudah tahu dimana letak gula, kopi, cangkir dan air panas. Secangkir teh, gulanya tiga ujung sendok gula. Sendok kecil itu. Kalau sakit gula, ada gula tebu, bungkusnya kecil-kecil, sudah ada takarannya, seperti di hotel, jika Anda sering nginap, tahulah.
Menurut teman anak-anak saya, keluarga kami adalah keluarga lucu. “Semua lucu,” kata teman anak-anak saya. Padahal saya pendiam juga orangnya. Tapi kalau sudah akrab, saya akan jadi murai.
Memang saya membangun rumahtangga tidak secara formal. Saya dan istri tidak mengajari anak-anak berbahasa Indonesia di rumah, sebab lafaz kami, lafaz kampung. Diajari benar, selepas dari jenjang, anak-anak akan berbahasa Minang. Jadi untuk apa mereka direnggutkan dari bahasa ibu. Hari ini, anak-anak saya mahir sekali berbahasa Minang dan cakap berbahasa Indonesia, pintar berbahasa Inggris.
Jika saya pulang, atau anak-anak saya pulang, kami tampil apa adanya. Jika cemberut, teruskanlah cemberut itu. Jika riang, ayo kita “syah”. Itu, gerakan saling adu telapak tangan agak di atas kepala seperti orang bertepuk. Tapi, kalau mau berangkat, anak saya cium tangan, seperti anak-anak lainnya.
“Kama tu, lah pai se,” tanya saya pada salah seorang anak saya.
“Ka India, pai Pa,” katanya.
Ketika lain, ditanya, ia menjawab, “ Ka Arab lomba azan, ikuik Pa ndak,” katanya.
Kami terkekeh-kekeh.
“Bara ari lai, baju tu salasai dijahit?” tanya saya pada istri.
“Sajuta tiga ratuih duo puluah anam ari lai,” jawab istri saya.
“Sa triliun-triliun ari lai,” tambah anak saya.
Di rumah saya tak suka menjawab pertanyaan, jika jawabannya ada di buku atau du koran.
“Baco buku tu ha, ado sinan mah,” kata saya. Karena saya sering begitu, maka buku dan koran serta majalah selalu disantap anak-anak saya.
Begitulah meja makan, yang harganya mahal itu, tidak maksimal penggunaanya oleh saya.
Di rumah Anda? *
On 1/31/2011 03:52:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

“Boediono maling!” Inilah teriakan Presidium Komite Aksi Pemuda Anti-Korupsi (Kapak), Ahmad Laode Kamaludin, yang datang menyaksikan Wakil Presiden Boediono memberikan kesaksian pada Pansus Hak Angket Bank Century di DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/1).
Saya berpikir, pantaskah seorang wakil presiden diteriaki maling? Kata penganutnya, dalam dunia yang demokrasi, bisa saja. Teman wartawan bilang kepada saya, “kalau kita mengeras-ngeras, berkata-kata kasar, maka sekarang, itulah yang disebut demokrasi.”
“Dunia sudah wale, sopan santun sudah tak ada lagi,” kata teman ini berapi-api kepada saya via telepon genggam.
Setidaknya dua pejabat menelepon saya soal “maling” itu, ia heran kenapa di Indonesia yang beradab ini, pemimpin bisa diteriaki maling. Kalau ia bersalah bisa dihukum, bukan dikata-kata-i, seperti itu.
Tapi teriakan Laode itu, merupakan bagian kecil dari carut marut dan kusut masai bangsa ini sejak reformasi. Bangsa yang tidak mau mengatur dirinya sendiri, bangsa yang karengkang tapi penakut. Inilah bangsa yang penduduknya merasa benar sendiri, penduduknya yang suka meradang dan marabo-rabo saja. Bangsa yang kaya makin kaya dan pejabat negara lupa atau tak menemukan cara untuk mengurus rakyatnya. Bangsa yang seperti kerumuman orang, tidak memikirkan secara tulus bagaimana bisa membangun negaranya dengan baik. Negara orang sudah bahagia, rumahtangga penduduknya nyaman, tapi di Indonesia, penduduknya merasai, semua seperti buruh, gaji kecil, uang susah, hutang banyak.
Semua persoalan itu ditinjau dari sudut politik. Pers memberi formasi yang amat banyak pada sudut politik itu. Saya sampai berkesimpulan, sejak reformasi, negara ini sudah berada dalam genggaman pers.
Sebagai seorang wartawan, ilmu jurnalistik saya sudah habis dibuat oleh perkembangan politik dan dunia hiburan di Indonesia akhir-akhir ini. Banyak hal yang menurut kode etik tak boleh disiarkan, justru disiarkan seluas-luasnya oleh pers Jakarta. Banyak hal yang mesti digali, tapi pers melingkar-lingkar saja di seputar apa yang diungkapkan pejabat atau yang tersiar sejak awal. Pers berbelok-belok dari pendapat seseorang ke pendapat yang lain, melompat lagi pada pendapat orang lain, singgah sebentar di sini, terbang pula ke sana, sehingga substansi masalah menjadi hilang. Pers terbawa arus oleh permainan lamban model birokrasi dan model Pansus Angket Century.
Seharusnya pers membuat sebuah rancangan bersama bagaimana mengeluarkan negara ini dari persoalan yang melingkar di Istana dan kantor-kantor menteri di Jakarta itu. Tapi di Indonesia biasanya yang mengambil inisiatif adalah para dokter, jika melihat akar pergerakan bangsa ini, baru kemudian politisi yang jujur yang kelak menjadi negarawan. Di Eropa perubahan besar dilakukan oleh para bankir, sehingga peran gereja dalam mengatur segalanya beralih ke pihak swasta.
Namun kini, tipis harapan berharap pada dokter, sebab mereka mengemasi fee dari penjualan obat saja, sudah tak ada waktu lagi. Berharap pada perguruan tinggi, susah juga, sebab pada dosennya tenggelam dalam lautan ilmu, juga proyek penelitian. Berharap pada politisi, sekarang banyak karbitan. Pada negarawan, jumlahnya tak banyak.
Berharap pada pemuka agama, banyak pula yang abu-abu, separuh wajah politik, separuh wajah agama. Berharap pada siapakah gerangan yang baik?
“Maling!” Ah, teriakan itu. Cukuplah itu yang terakhir. Janganlah saling mencaci, taruhlah sedikit rasa hormat pada sesama, apalagi pada pemimpin.
Pak Presiden dan Pak Wapres, agak cepatlah sedikit, waktu berjalan juga. Bukankah waktu itu adalah uang? *
On 1/31/2011 03:51:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Sejak punya meja sendiri, Malin Targondin sudah rapi jadual makan siangnya. Suapnya juga terukur, meski kunyah kiri, kunyah kanannya tidak 33 kali. Malin, masuk pagi pulang sore. Perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya disertai istri dan anak-anak. Biasanya, sekali seminggu mereka mampir ke toserba atau mall. Anaknya suka makanan pabrikan. Sedang istrinya suka kapas pembersih muka dan cemilan kampung, tapi belinya di toserba.
Malin punya satu mobil. Tiap pagi ia mandikan mobil itu. Sejak bermobil, bangkit rajinnya. Di atas mobilnya harum dan siapa pun tak boleh merokok , meski ia sendiri pecandu rokok.
Sejak kurs rupiah terhadap dolar naik dan harga emas fluktuatif, Malin jalan kincir-kincir bisnisnya. Kalau harga emas naik, ia suruh istrinya menjual emas di sekujur tubuhnya. Kalau lagi turun, dibeli lagi. Ia tak suka emas batangan, tapi suka emas perhiasan.
Ia hafal harga minyak dunia, tapi lupa satu barel itu berapa liter. Yang menarik, perhatiannya pada beras tak sehebat dulu lagi. Waktu kuliah, ia hafal harga satu liter beras dan satu gantang. Ia juga tahu satu gantang itu berapa cupak atau berapa liter. Mungkin karena soal beras-memberas sudah jadi urusan istrinya, maka pengetahuannya menjadi aus soal makanan pokok itu.
Di meja Malin ada sebuah figura, foto istri dan empat anaknya. Foto itu menghadap pada Malin. benar-benar bapak yang baik dia sejak dapat jabatan.
Namun suatu ketika, terjadi mutasi. Beberapa staf dikocok dan dipindah. Ada tiga orang baru masuk di bagiannya. Salah seorang gadis manis berkacamata minus dan berjilbab. Kini tak bisa lagi membedakan, seseorang berjilbab karena panggilan hati, atau karena perintah perda. Jadi jilbab bukan satu-satunya ukuran kealiman seseorang.
Neneang Malin melihat staf barunya itu. Sebenarnya semua lelaki di bagian itu, galinggaman pada cewek baru itu. Tapi, apa hendak dikata, salah awai bisa berabe jadinya. Tapi, Malin karena ia berjabatan, bisa memakai jalur lain untuk terus berhubungan dengan si staf kamek itu.
Tapi Malin salah kira. Staf yang kamek itu, seperti merpati. Jinak makannya di tapak tangan, ditangkap takkan pernah dapat. Sansai Malin dibuatnya.
Karena Malin baru ‘belajar’ roman mukanya gampang ditebak. Sekali waktu tertebak oleh istrinya.
“Bacewek uda di kantua yo..,” kata istrinya.
Istrinya iseng saja. Tapi Malin gelagapan, tak tentu yang akan disebutnya.
Mukanya merah, kerongkongannya kering.
Kini istrinya yang salah tebak. Dikira suaminya akan marah besar, sebab tertuduh yang tidak-tidak.
Karena istrinya sudah diam, Malin mulai tenang, dikira istrinya akan marah, rupanya dipendam di hati.
Malin berniat tatkan buruk pada staf kameknya. Tapi dua hari kemudian, pendiriannya berubah lagi. Tak kuasa menahan godaan rupanya.
“Egepe ajalah,” kata si kamek. Betapa takkan egepe, ia sudah duduk di jok sedan rancak di sebelah lelaki parlente. Lelaki itu adalah kontraktor yang baru saja memenangkan tender di kantor tempat si kamek bekerja.
Sore itu sedan rancak tadi berhanti di tepi jalan di bawah pohon jati tua. Hujan rintik-rintik pula. Lama juga sedan itu berhenti. Tak tahu entah mengapa mereka berdua di atas mobil ber-ac itu.
Sedan berjalan perlahan, si kamek memperbaiki letak jilbabnya yang tadi centang perenang.
Malin pada saat itu sedang manggalosoh di kantor, karena pekerjaan menumpuk. Jadual jemput istri, jemput anak, tak teratur lagi. Ke toserba dan mall sudah jarang. Bahkan oli mobil sudah lewat 15 hari tak digantinya.
Sudah sepekan ini, makan siangnya tak teratur, kunyah kiri, kunyah kanannya kini sembarangan saja.
Ia panik rupanya. Lantas kenapa Malin Targondin panik?
HP si kamek kalau sudah sore, selalu mati.*
On 1/31/2011 03:51:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Di musim Ujian Nasional (UN) ini kita sering membaca atau mendengar kata-kata “kelulusan.” Pada ketika lain, terdengar pula “pelepasan.” Misalnya, “gubernur hadir pada acara pelepasan atlet...” Kemudian juga ada kata, “mengenai pemidahan kios darurat itu...”
Mungkin dalam kamus Bahasa Minang tidak ada, tapi di banyak nagari atau hampir semua nagari di Minangkabau, kata-kata seperti “pelepasan”, sama dengan dubur. Kemudian kata-kata “kelulusan” sama dengan keguguran. Lalu “mengenai” ini lebih parah lagi, apalagi kalau fonem yang sedang berbicara kurang jelas, akan semakin parah. Kata-kata itu berada dalam wilayah tabu.
Sebaiknya, pejabat pemerintah kalau mau berpidato, apalagi membuat spanduk, pilihlah kata-kata yang tidak multiarti seperti ini, apalagi artinya janggal.
Selain itu, masih ada kata lain, yaitu “kalian.” Mungkin dalam Bahasa Indonesia “kalian” berari Anda semua, kalau di sini, “kalian” itu, tak usahlah dipakai, kecuali kita sedang marah besar pada anak-anak yang melempar atap rumah Anda. Juga kata-kata “bika” kue si Mariana yang terkenal dari Koto Baru Padang Panjang itu, di beberapa daerah bika, bukan kue, tapi... ya sudahlah.
Dari sekian kata yang bermasalah yang sering didengar adalah kata “pelepasan”. Pelepasan bibit ikan, pelepasan guru matematika ke Bogor, pelepasan rombongan studi banding. Pelepasan kelulusan anak SMA. Saya heran kenapa mereka sampai tidak tahu hal-hal semacam itu.
Memang, penggunaan kata-kata dalam Bahasa Minang kian waktu kian berkurang, diganti oleh kosakata lain. Abuak, atau obuak, kini tak terpakai lagi, diganti dengan rambuik. Ngangak, jarang terdengar, digantikan oleh bodoh. Bongak, tergantikan oleh ongeh atau sombong. Sudu diganti oleh sendok, pinggan diganti dengan piriang, tekong diganti galeh.
Hal ini alami saja, sebab tak ada yang statis. Cuma saja, untuk beberapa kata tabu, sebaiknya, dihindari pemakaiannya. Apalagi di musim kampanye seperti sekarang, sedang riang-riangnya hati para calon, pilih-pilihlah kata yang pas. Nanti kalau salah berucap, jadi tertawaan orang.
Masih untuk kandidat kepala daerah, sebaiknya sebelum berkampanye di suatu daerah, pelajari jugalah agak sedikit kebiasaan-kebiasaan warga setempat. Logat mereka dan kecenderungan mereka menilai orang. Padang Pariaman, berbeda dengan Dharmasraya, tak sama dengan Tanah Datar, berlain pula dengan Solok Selatan. Akan lebih terasa dekat, jika saat berkampanye tak melulu berbahasa Indonesia, tapi diselingi dialek lokal. Akan lebih mengena.
“Maka janganlah kalian sedih melihat angka kelulusan, nanti akan ada acara pelepasan bersama dengan makanan ringan bika, karena itu mengenai hutang-piutang nanti saja kita selesaikan.” He he he *
On 1/31/2011 03:50:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Saya kutip dari situs Harian Rakyat Merdeka:

Seorang Bos berkata kepada sekretaris:
“Seminggu kita pergi untuk perjalanan dinas. Tolong siap-siap.”
Sekretaris menelepon suaminya:
“Mas, saya mau berangkat untuk perjalanan dinas. Hati-hati di rumah ya.”
Suami menelepon kekasih gelapnya:
“Istriku mau berangkat seminggu. Kau ada waktu?”
Kekasih gelap berkata kepada murid kursusnya:
“Nak, Ibu punya banyak kerjaan selama seminggu. Kursus ditiadakan selama seminggu.”
Sang Anak berkata kepada kakeknya:
“Kek, seminggu tidak ada kursus. Gurunya sibuk. Ayo kita jalan-jalan.”
Kakek (Sang Boss yang tadi) menelpon sekretarisnya:
“Minggu ini saya mau jalan-jalan sama cucu saya. Perjalanan dinas dibatalkan.”
Sekretaris kembali menghubungi suaminya:
“Bosnya ada kerjaan rumah yang mendadak. Tripnya dibatalkan Mas.”
Suami lalu menghubungi kekasih gelapnya:
“Kau jangan datang. Istriku tak jadi pergi.”
Kekasih gelap pun menelepon murid kursusnya:
“Nak, kursus minggu ini berjalan seperti biasa.”
Sang anak pun berkata kepada kakeknya:
“Kek, guruku bilang kursus berjalan normal. Kakek jalan sendiri aja, ya...”
Kakek pun berkata kepada sekretarisnya:
“Minggu ini kita atur perjalanan dinas lagi. Kamu siap-siap, yah!”
Capek deh...
                            ***
Selingkuh deh!
Selingkuh kini sudah jadi nyanyian, didendangkan di mana-mana. Jadi tren. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak. Tertangkap atau tidak tertangkap. Yang tertangkap, habis sudah. Ada yang tertangkap di home stay, ada yang tertangkap di mobil bergoyang
Ada yang foto bugil diedarkan orang, ada yang cerita dari mulut ke mulut. Semuanya makan korban.
Itu kisah yang terungkap.
Yang tak terungkap, entah berapa banyaknya. Tiap kita punya rahasia kecil. Rahasia kecil biasanya disimpan rapat-rapat.
Apa artinya ini?
Moralitas. Ini berkaitan erat dengan moralitas, nilai-nilai religi, kesetiaan dan cinta.
Banyak bapak-bapak yang berselingkuh, mulai dari yang preman tuak sampai yang pakai kupiah. Banyak ibu-ibu yang berselingkuh, mulai dari yang berjilbab sampai yang buka tenda (rambut).
Rumahtangga terkadang rapuh, pada banyak waktu dan tempat tidak ada masalah. Tapi kenapa orang berselingkuh juga?
Selingkuh itu indah, kata lagu.
Inilah negeri lucu, negeri selingkuh. Mulai dari tukang ojek sampai anggota parlemen. Siapa yang mesti digugat?
Tak perlu gugat menggugat. Kita hidup dalam sebuah bejana yang airnya dipanaskan perlahan-lahan. Tak terasa, tapi lama kelamaan kita akan mati direbus.
Inilah negeri yang nilai-nilai religiusnya aus perlahan-lahan, bersamaan dengan munculnya peganut nilai religi taat perlahan-lahan pula. Bagai rel kereta api, dua besi memanjang, dingin, bersisihan dan tak ada ujung.*
On 1/31/2011 03:50:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

“Ops jangan melirik, Pak, kalau mau melihat ke kiri atau ke kanan, Bapak melengong saja,” ini perintah karyawati sebuah toko kacamata di Padang kepada saya beberapa hari lalu.
“Lensa kacamata progresif, jadi tidak boleh melirik,” katanya.
Ammpun. Usia sudah 40-an, tapi soal lirik-melirik itu, masih sangat penting. Hanya itu lagi yang tersisa, sebab kalau lebih dari itu, banyak perkara yang akan muncul. Kini, melirik itu benar yang ia larang. Kalau waktu remaja dulu saya dilarang melirik, tentu akan saya buang kacamata itu, he he he.
Namun kini, kacamata menjadi bagian penting, meski saya tidak buta. Sesungguhnya tanpa kacamata tetap bisa membaca dan menulis. Terkadang tiba-tiba kepala terasa sakit kalau tanpa kacamata. Kata para ahli mata saya progresif. Karena itu, harus pakai kacamata.
Di Indonesia yang paling terkenal memang lensa multifocal, lazim disebut lensa progresif. Keunggulannya terletak pada segi estetika karena batas antara lensa jauh dan bidang lensa dekat didesain sedemikian rupa, sehingga sama-sekali tidak terlihat. Ada rasa nyaman dan tentu saja gaya.
banyak kacamata, mahal bingkai dari kacanya (frame). Aneh-aneh saja, padahal subyek dari benda itu adalah kaca. Tapi kaca saja tanpa bingkai apa gula gunanya.
Tak saya pikirkan benar hal itu. Saya tinggalkan Optikal Citra itu dan selanjutnya saya tenggelam di jalanan Padang yang tidak tertib. Lalulintasnya seenak perut. Pengendara motor bandelnya bukan main, seenaknya memancung dari kiri atau kanan. Kadang mengirim dan menerima SMS sambil membawa motor. Kalau tersengol, mulai dari mamaknya yang di kampung sampai yang di rantau diberitahu, seolah-olah hendak memberi warning kepada kita. “Jan main-main jo den” Digertak benar, dia ciut pula.
Tapi, ayah ibu atau bapak mandehnya memekik, keluar urat lehernya karena mencaci-maki, tak mau tahu dia bahwa anaknya yang salah. Pengemudi mobil setali tiga uang. Tak mau memberi jalan kepada orang yang melintas, kalau ada mobil depan mau berbelok, “mandeh ang, aden lo yang klason-klason,” begitulah rutapnya. Pokoknya mobil rancaknya tak boleh terganggu kalau sedang berjalan, kecuali ia sedang menelepon atau mengirim SMS. Itu urusan dia, orang lain harus sabar.
Sambil membawa mobil saya melirik-lirik juga. Benar juga kata si karyawati itu, mata saya terasa sakit. Kacamata ini telah merenggutkan satu kenikmatan saya, “melirik” apalagi melirik dari balik kaca mobil. Begitulah perangai suami kalau tak di samping istrinya. Hati-hati sama suami yang suka pakai kacamata hitam, he he he.
Padahal saya baru dapat sebuah kacamata hitam rancak pemberian teman yang baru pulang dari Batam. Saya tak tahu, apakah kacamata itu bagus atau alakadarnya. Tapi mata saya terasa sejuk kalau memakainya.
Sesampai di kantor saya menyalakan komputer, mengetik, membaca berita di situs-situs, mencari sesuatu. Kacamata saya memang baru, tapi sejarah yang kini bertengger di hidung saya sudah sangat panjang. Bangsa Eropa mengklaim merekalah penemu kacamata, tapi menurut literatur, justri ilmuwan Islamlah yang menjadi penemu. Memang banyak penemuan dunia Islam kemudian diklaim sebagai milik Eropa. Biasalah.
Yang tak biasa, kalau kita melirik-lirik terus, padahal pakai kacamata progresif apalagi usia sudah kepala 4.*
On 1/31/2011 03:49:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Entah Luna Maya, entah Cut Tari, Entah Ariel Piterpan. Mereka orang-orang dari dunia lain yang mengepung kebodohan kita sebagai anak bangsa. Kita memang bodoh, kita bangsa yang luka dan bernanah di bawah atap yang tiris.
Lagu kering bertiup sunyi melewati jendela rumah rakyat, rumah yang pintu-pintunya berderit kalau dibuka juga ditutup. Bangsa yang lelah oleh perangainya sendiri. Lalu tiba-tiba muncul video porno dengan adegan-adegan di atas ranjang. Adegan itu meluas melalui dunia maya. Begitulah entah Luna Maya, Entah Cut Tari diganyang habis oleh seorang lelaki perkara. Entah Ariel penyanyi yang dielulukan itu.
Moral bangsa yang sudah tua ini, remuk, shock. lalu si moral menyurukkan mukanya. Ia takut, ia gemetar, ia kehilangan pelindung. Ia ditinggal oleh anak-anaknya sendiri.
“Ketika bisa dibuktikan secara nyata, itu harus diberi sanksi,”  kata Wapres Boediono.
Ia juga meminta media untuk tidak menyebarkan adegan vulgar dalam video porno itu. Media justru diminta pemerintah untuk memunculkan kesadaran publik agar video mesum itu dianggap sampah dan tidak perlu ditonton.
“Sudah tahu sampah. Tapi susahnya hobi kita memang mencari sampah,” tambah Menteri Pendidikan Menteri Nuh setengah mengeluh. Tapi, pejabat kita bilang sampah, di sisi lain ada yang membela. Malah kini muncul para pembela si adegan porno. “Itu kan hak asasi, urusan merekalah itu,” pendekar itu berteriak-teriak dan difasilitasi oleh televisi yang menghisap cadangan moral dari setiap rumah tangga. Televisi yang sama menyemprotkan ke rumah yang sama, candu kebebasan, candu hedonis, candu mengumbar aurat.
Akan ada dialog di televisi dengan poresenter berotak dangkal mencemooh moral bangsa. “Kenapa kita harus ribut, tangkap saja penyebar video porno itu,” kata mereka dalam perdebatan. Lalu, perdebatan menjurus pada, “Kenapa korupsi dibiarkan, kenapa soal zina dihebohkan,” kata yang lain. Lalu, ada seseorang yang berusaha mencari perimbangan.
“Kenapa zina dibela, kenapa poligami dikeroyok,” katanya. Maka sekejap kemudian, ia dicibirkan oleh pembela kebabasan, dibumbui oleh presenter.
“Ya iyalah, poligami merampas suami orang”
“Kalau zina?”
“Hak asasi”
Saat itu malaikat terus mencatat. Kali ini, karena semua sudah mahir dan berilmu, tak ada petunjuk lagi. Semua sudah lengkap dalam kitab suci. Tapi, di televisi kitab suci tidak laku.
Maka kemudian dalam acara interaktif itu dibuka dialog lewat sambungan telepon. Semua membela para artis yang diduga melakukan adegan syur.
“Itukan fitnah untuk menghancurkan karir seseorang, keasilan gambar dalam video belum diuji,” kata seseorang di balik gagang telepon.
Seorang gadis berjilbab, yang kuliah di sebuah universitas ingin sekali berbicara dalam acara itu. Sudah ia pencet-pencer teleponnya, tapi tetap saja tidak nyambung. Ia kesal sekali, sebab orang-orang di televisi itu justru membela adegan umbar aurat dan bersetubuh yang disiarkan di dunia maya. Si gadis tidak bisa terima.
Si gadis menangis sendiri menahan geramnya. Ia mengadu kepada emaknya.
“Itu tanda-tanda dunia akan kiamat,” kata Emaknya.
Sebulan kemudian, orang mulai lupa adegan porno itu. Para artis dari dunia lain itu, kembali mengepung rakyat Indonesia dengan pergaulannya. Lalu, ibu-ibu rumah tangga sambil mengepit bantal dan mengemil, duduk khusuk di depan televisi menonton sinetron. Tak beranjak. Lalu disambung dengan acara gosip-gisipan. Artis ini pacaran dengan si anu, si Belek bercerai dengan si Kuntum. Si Dongkrak dekat dengan Obeng. Si Tungkai kepergok sedang beduaan di Bali. Sedang Si Tumbuang dan Si Anyuik telah berdua-duaan di Singapura.
“Kapan nikah?”
“Ah gue blom mikir, ayah gue bule banget, jadi gue ga kayak orang Indonesia, nikah belum kepikiran tuh,” kata si artis.
Saya setuju, malah berharap, pelaku adengan ranjang itu dihukum, karena mereka sok mantap, sok hebat, sepertinya, dia saja yang benar. Kasus ini dijadikan titik tumpu untuk menyikat habis perangai para oknum-oknum artis yang menjengkelkan khalayak.
Kata Walikota Makassar, H Ilham Arief Sirajuddin, artis yang dapat merusak moral dan mental generasi muda seharusnya dikenai sanksi sosial oleh masyarakat, salah satunya dengan memboikot aktivitas mereka dengan tidak memberikan izin pementasan.
Setuju benar saya!*
On 1/31/2011 03:49:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Libur Sabtu dan Minggu pekan lalu, saya nikmati benar dengan pergi baralek (pesta pernikahan) pada beberapa tempat di Padang. Maklum orang kota, he he he...
Hasilnya saya terkagum-kagum dengan anak-anak, semuanya masih di SD, pintar membawakan lagu orang dewasa. Saya juga terkagum-kagum saat nenek-nenek menghampai dua lagu Minang diiringi organ tunggal yang gedebag gedebum. “Sekarang uwak dulu, anak muda sebentar lagi,” katanya. Ampun den.
Dan, empat anak kecil di atas pentas membawakan lagu dengan rancaknya. Lagu T2 (Tika dan Tiwi)
“....
Dan aku sudah pernah bilang
Pacarku bukan cuma kamu saja
Ku mempunyai dua hati
Yang tak bisa untuk kutinggali
Olala, habis main saya dibuatnya.
Lagu itu, pasti ia hafal karena menjadi pemirsa televisi yang setia. Itu jelas lagu orang dewasa, bukan lagu anak-anak.
Televisi memang berperan besar dalam ‘mendidik’ anak-anak kita. Tapi televisi tak bisa disalahkan. Yang salah adalah keadaan. Orangtua kini kehilangan akal, karena lagu anak-anak sejak si orangtua jadi anak sampai ia beranak pula, tak beringsut dari Pelangi, Balonku Ada Lima, Kereta Api. Sementara lagu orang dewasa diciptakan tiap jam dan ditayangkan televisi hampir setiap hari.
Maka pantas, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak (IGTK) Kec. Kuranji, Padang Rawina, sebagaimana diberitakan Singgalang, (2/6), menyatakan,  lagu anak-anak yang ada sekarang sudah tidak menarik lagi. Setelah era Joshua, Trio Kwek-Kwek dan lainnya, lagu untuk anak-anak seakan hilang begitu saja.
Bahkan, tambah guru TK lainnya Elya Defita, jam tayang untuk lagu anak-anak, sekarang sudah tidak ada lagi. Jika pun ada acara untuk anak-anak, lagu yang mereka bawakan kebanyakan juga lagu dewasa.
Karena itu, guru TK ini mendesak pihak televisi yang notabene berhasil membius anak-anak di depan televisi, harus membuat program lagu untuk anak-anak. Mau diapakan generasi yang akan datang, jika mereka sudah diberi konsumsi dewasa saat usianya masing balita.
Kerisauan guru TK itu, tentu tak dipikirkan benar oleh orang televisi. Selain itu, seniman mau saja membuat lagu anak-anak, tapi siapa yang akan memproduksi. Produser hari ini lebih mengejar keuntungan, ketimbang idealisme. Untuk apa memproduksi lagu anak-anak, kalau tak lagi. Untuk apa kita peduli dengan anak-anak kalau pemerintah saja tidak peduli. Kalau kita asyik masgul dengan mempertontonkan aurat di layar kaca. Saya pernah membaca sepintas entah dimana, “agama” (hati-hati ini tanda kutip) adalah uang dan “kiblat” kita hari aurat, terutama aurat perempuan. Maka jangan heran, pemeluk Islam yang setengah radikal akan semakin radikal, sebab hal-hal tabu telah terbiasakan akibat ulah segelintir orang.
Pengelola televisi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, sebab kita, sebagian besar masyarakat luas ini juga suka dengan tontotan semacam itu.
Saya menikmati suasana baralek. Menikmati anak-anak membawakan lagu orang dewasa dengan mahir. Kita juga sering merampas hak anak-anak. Kita tidak menciptakan lagu untuk mereka, lalu ketika mereka membawakan lagu orang dewasa, kita seperti orang bermoral Allahurobbi.
Di tempat beralek lainnya, sambil mengunyah-nyunyah hidangan saya menikmati lagu Minang, Mudiak Arau.
...
Indak dapek musim manuai, yo tuan oi
Musim manyikek den nanti juo
Indak dapek barago gadih, yo tuan oi
Baranak ampek den nanti juo

Ondeh mandeh sansai badan de

Lagu ini dibawakan nenek-nenek. Nikmat, suaranya merdu. Sebenarnya tidak cocok juga. Tapi, janganlah serius benar, namanya lagu boleh dibawakan siapa saja. Yang namanya baralek, pasti ada nyanyinya, kalau tak organ tunggal, kaset pun jadi.
Bukankah negeri ini sedang stres? Yuk, mari kita berdendang... *
On 1/31/2011 03:48:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Sebuah pesawat terbang terlambat berangkat satu jam gara-gara dua orang penting atau merasa penting berebut kursi nomor satu. Orang penting lainnya di kursi lain gelisah menunggu. Selain gelisah mungkin juga muak.
Kisah nyata ini, dituturkan oleh seorang pejabat BUMN kepada saya.
Katanyanya:
Seorang bapak yang sudah jadi pelanggan istimewa dan mendapat perlakuan khusus oleh maskapai penerbangan, sepagi itu hendak naik pesawat. Ia dipersilahkan naik dan ia boleh memilih kursi nomor berapa saja yang ia inginkan. Maka dipilihnyalah kursi nomor satu. Sebut saja 1 F
Maklum sudah sangat biasa naik pesawat, tentu ia tak canggung lagi. Pesawat sudah seperti rumah sendiri. Tak lama kemudian naik pula orang hebat lainnya. Waktu chek in, ia diberi kursi nomor satu. Kursi 1 F
Maka terjadilah pertengkaran. Di atas pesawat, semua orang merasa hebat, merasa penting, merasa sama-sama punya uang, merasa sama-sama berpengaruh. Jangankan di atas pesawat di jalan raya saja juga begitu.
Keduanya merasa sama-sama memiliki kursi 1 F. Yang satu karena bebas memilih, yang satu karena memang kursinya di sana.
Awak kabin merasa serba salah. Tadi dia yang menyuruh si bapak memilih kursi nomor berapa saja. Sekarang, ada yang datang dan berhak atas kursi itu.
Jangankan terselesaikan, malah makin rumit. Dua orang itu sama-sama induk semang, sering menghardik orang. Kini, awak pula yang disuruh pindah. Tentu saja ia tak mau. Malu dong sama pejabat dan pengusaha lain yang ada di pesawat.
Mereka bertengkar hebat, sehebat anak-anak memperebutkan kelereng, sehebat tukang angkat berebut segoni gula yang akan diangkat, sehebat kameraman televisi berebut mencari posisi yang tempat untuk mengambil gambar.
Terjadilah “perang” dua orang penting memperebutkan kursi nomor 1. Satu sama lain tak mau mundur, tak mau mengalah.
Habislah waktu satu jam untuk itu saja.
Co anak-anak saja. Tapi kemudian berhasil dilerai. Tapi saya lupa, bapak mana yang akhirnya mengalah.
Kisah berebut kursi nomor satu itu, saya ceritakan pada teman.
“Apak-apak tu gilo mah” (Maksudnya bapak yang berebut itu gila)
Tentu bukan gila leterlek, tapi ya gitulah.
“Banyak orang yang gila sekarang,” sambungnya.
“Tidak masuk di akal saya, berebut kursi di pesawat, tenggen, katanya lagi.
Tapi, kata saya padanya, harga diri itu di atas segala-galanya.
“Itu gilo juo mah,” katanya lagi.
“Kok gilo?”
“Engak,” katanya lagi.
Teman saya pun berciloteh: Pasti kedua bapak itu membanggakan diri sering naik pesawat, pangkat tinggi, pergaulan luas, uang banyak, iyakan?
“Tak tahu saya.”
Ia pun menasehati saya, kalau naik pesawat jangan sok mantap. Kalau perlu bertanya, bertanyalah, kalau perlu permisi, permisi, kalau perlu minta tolong, minta tolong saja.
“Soal sering naik pesawat, tak ada yang akan mengalahkan pilot,” katanya.
“Jan den lo ang salah an,” kata saya.
Akhirnya kami bertengkar pula berdua. Kemudian sama-sama tertawa. Tapi bapak yang di pesawat itu, tidak mengakhiri pertengkarannya dengan tertawa, tapi dengan muka masam dan sesak di dada. Orang penting, memang sering bertindak bodoh, dia saja yang sok tidak bodoh. *
On 1/31/2011 03:48:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Allahuakbar Allahuakbar.....

Selasa (9/12), sehari setelah Idul Adha, saya masuk kantor di Harian Singgalang, saat orang sudah Shalat Zuhur berjemaah di mushala bagian belakang kantor. Begitu saya duduk dan menyalakan komputer, terdengar suara takbir yang lazim dibaca saat hari raya.
Suaranya indah, mengalun, berpendar di ruangan redaksi. Saya bangga di kantor suratkabar ada mushala dan shalat berjemaah, tiap hari diikuti kuliah tujuh menit setiap Zuhur, meski saya sendiri sering lalai.
Takbir yang indah itu menyeret saya ke kampung ke masa kanak-kanak. Ketika lebaran tiba, saya berpakaian bagus, lalu berjalan di sisi kakek saya. Kami tinggal di lembah dengan air yang banyak. Sementara masjid ada di pusat kampung. Kakek meninggalkan suraunya kemudian menuju masjid. Mulai berjalan, kakek langsung takbir. Mula-mula hanya kakek dan saya, beberapa meter kemudian sudah ada yang mengiringi. Suara takbir makin ramai. Sepanjang jalan, ada kelompok-kelompok orang yang menunggu kakek, hanya untuk berjalan beriringan dan membaca takbir bersama-sama.
Dari arah lain, beberapa guru mengaji, haji, ulama lainnya juga diiringi oleh rombongan, mereka berjalan serentak dengan suara takbir yang menggema. Tiap kelompok membawakan takbir. Indah sekali. Indah, karena saya ada di antara orang-orang yang membaca takbir dengan suara lepas.
Tapi lama kemudian, rombongan-rombongan itu sudah tidak ada lagi. Orang tak membaca takbir lagi jika berjalan ke masjid kalau hendak shalat hari raya. Mereka hanya berjalan sendiri-sendiri. takbir hanya ada di dalam masjid. Entah kalau sekarang, saya tak tahu lagi, karena jarang lebaran di kampung, hanyut dibawa untung.
Lalu, kemudian dan kemudian, di mana-mana, di kota, di desa-desa yang saya dengar lebih banyak kaset takbir. Kaset dengan suara indah berkumandang di puncak-puncak masjid, menyapa angkasa, menyapu jauh ke kaki-kaki bukit.
Makin lama, kaset makin beragam, malah kemudian ada video takbir. Makin meriah. Rumah penduduk riuh-rendah oleh takbir dari rekaman itu. Suara nan indah tak tertandingi.
Tapi, seperti ada yang lenyap. Sepi. Sepi menyelimuti, bibir terasa kelu. Ada yang terasa kian jauh, direnggutkan oleh kemajuan zaman. Orang masih tetap mengumandangkan takbir, tapi dengan suara alakadarnya. Antara iya dan tidak saja.
Tapi biarlah, zaman sudah berubah. Bagi saya lebaran tak ada yang seindah masa kecil dulu dan itu di kampung. Entah mana yang indah, Idul Fitri atau Idul Adha.
Kalau Idul Fitri, ramainya bukan main, tiap rumah tiap singgah, tiap singgah tiap makan, paling tidak makan galamai. Rumah dunsanak, rumah bako, tak bisa tidak harus didatangi. Apalagi ada baju baru.
Idul Adha, tak sesibuk itu, tapi saya kenyang oleh daging kurban, sebab kakek saya dan jemaahnya membantai beberapa ekor sapi. Tapi masa itu hanya sebentar, karena kakek meninggal dunia.
Lalu kini, Idul Fitri dan Idul Adha tetap meriah di hati saya. Bedanya, dulu saya kanak-kanak, kini bapak orang. Kalau lebaran, yang kasak-kusuk mencari kaset takbiran justru saya. Betapa naifnya! *
On 1/31/2011 03:48:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Saya tertawa sendiri karena belakangan ini, saya dibuat pusing oleh kunci rumah. Minta ampun banyaknya. Selama lebih dari 12 tahun saya tinggal di rumah yang kalau siang tidak pernah sekalipun dikunci, karena selalu saja ada orang di rumah.
Rumah itu, sederhana. Urusan kunci, di pintu masuk, pintu kamar tidur, lalu kunci-kunci lemari. Ada beberapa pintu lainnya seperti pintu samping, pintu-pintu lainnya, tapi jarang dikuncikan, melainkan digrendel saja.
Lalu awal tahun ini, saya pindah rumah. Sejak itulah saya mulai pusing oleh kunci. Mulai dari kunci pagar, kunci garase, kunci pintu dari garase ke ruang utama, pintu samping, pintu utama. Tiap kunci anaknya empat. Belum lagi kunci kamar, kunci lemari. Sekantong besar banyaknya.
Salah satu yang bikin ribet adalah kunci pagar. Kunci bagus itu, tak bisa dibuka. Putar kiri, putar kanan, bolak-balik. Tiga, empat hari, akhirnya bisa dibuka. Untung kuncinya tidak dipasang untuk mengikat, melainkan sekedar digayutkan saja di sana. Diganti dengan yang baru, dua hari kemudian tak bisa pula dibuka. Masih untung, sekedar tergayut saja. Akhirnya setelah masalah bisa diselesaikan, pagar tak pernah lagi saya kunci. A nan katajadi lah lai.
“Baa kok sabanyak iko bana kunci rumah ko koha,” kata saya pada istri. Dia tertawa saja, sebab ia juga ribet dibuatnya.
Tidak pernah saya sibuk, sesibuk ini oleh kunci. Apalagi, ketika saya bangun, tak ada lagi orang di rumah. Semua sudah terbang hambur melakukan aktivitasnya masing-masing.
Saya orang yang susah tidur. Terkadang pukul 03.00 pagi, saya masih duduk di ruang tamu atau di depan televisi, atau men-cigok-cigok dari jendela ke luar, memperhatikan malam yang sedang mengalun. Rasa-rasanya kalau semua pintu tak dikunci, tak soal, sebab terlihat aman. Tapi, kita harus waspada, karena itu diperlukan kunci.
Di banyak tempat saya melihat pintu orang berlapis. Setelah daun pintu nan rancak dilapisi lagi dengan pintu besi berteralis. Kedua-keduanya dikunci. Kalau ada kebakaran atau gempa di tengah malam buta, alangkah repotnya.
Saya lihat di film-film Amerika, di negeri itu, rumah orang tak perpagar. Jikapun ada, pagarnya hanya bunga. Halamannya luas dan di depan halaman yang luas itu, ada jalan sepatak yang rancak. Lalu ada rumput, baru jalan raya.
Saya lihat di Jakarta, pagar lebih tinggi dari rumah. Kuncinya besar-besar. Dibawa gergaji besi untuk “menyudahi” kunci itu, tak tahulah entah berapa jam akan selesai.
Tapi sudahlah. Tak ada rumah yang dikunci. Antisipasi. Karena antisipasi itulah, saya tak beranjak tinggal dari Kuranji ke Kuranji. Kata orang, makin berkeadaan awak, makin ke pusat kota tinggalnya.
Saya tak hirau dengan itu. Waktu masuk Padang saya tinggal di pusat kota. Setelah bekerja jadi wartawan saya justru tinggal di jantung kota, Jalan Imam Bonjol. Lalu kami memilih Kuranji karena konsep kota adalah untuk bekerja dan malam di luar kota. Apalagi belakangan ada ancaman tsunami. Nyenyak benar tidur saya di Kuranji karena tak terdengar deru mobil.
Banyak juga yang punya pandangan (ini urang darek), mencari atau membeli rumah, lebih dekat dengan jalan menuju utara. Di Lolong, Air Tawar, Tabing dan seterusnya ke sana, agar kalau orangtua datang, gampang menunggunya. Juga gampang menunggu mobil kalau beliau hendak pulang.
Tapi konsep itu nyaris berantakan karena ketiadaan terminal dan karena isu tsunami. Lalu, mengalirlah orang ke Kuranji. Orang banyak, jalan kecil.
Tapi jalan kecil itu, masalah Pak Wali, mudah-mudahan diperlebarnya. Masalah saya kecil saja, kunci! He he he...
Saya tertawa-tawa sendiri menghitung-hitung, jika tiap rumah di Padang ada lima saja pintu, maka anak kuncinya tentu 15, sebab tiapnya punya tiga anak. Berapa banyaknya kunci di kota ini. Berapa banyak pula mainan kunci, belum termasuk kunci kendaraan.
Mana yang banyak orang dari kunci di Padang? banyaklah kunci lai *
On 1/31/2011 03:47:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Suatu hari pekan lalu, teman-teman wartawan Singgalang yang sedang rapat sore heboh, sebab beberapa orang dari kami memanggakan korek api raksasanya. Panjangnya hampir dua jengkal dan lebarnya tiga jari orang dewasa.
“Ko inyiak piapi mah,” kata beberapa orang serempak. Korek api itu dibeli oleh beberapa teman seharga Rp10 ribu/buah dari pedagang keliling yang menyelonong masuk kantor kami. Sebenarnya korek api raksasa semacam itu, sudah ada sejak dulu, tapi karena lama tak bertemu korek api sebesar itu, maka suasana jadi heboh.
Heboh karena korek api itu memang perkasa, setahun gasnya takkan habis dipakai. Kedua banyak teman yang selama ini tiap sebentar kehilangan korek api, seperti juga pulpen. Ketiga banyak pula teman yang di kantongnya ditemukan dua sampai empat korek api sekaligus dan beberapa buah pulpen, entah kenapa semua masuk kantongnya. Biasanya ini jadi bahan hiburan kami, sebab kehilangan atau kelebihan pena dan korek api, sudah menjadi kelaziman. Lazim karena kesibukkan dan lazim karena korek api bisa dibeli dengan harga murah dan pulpen bisa diminta pada sekretaris redaksi. Dua-duanya tidak mahal.
Hal yang kami alami, sebenarnya juga terjadi di tempat lain dan tentu saja jadi bahan hiburan. “Ka manggaleh piapi di rumah? Pasti ada teman yang bilang begitu, tentu saja pada mereka yang perokok.
Hal-hal kecil itu, sebenarnya merupakan bagian dari sebuah peristiwa besar dalam perjalanan hidup manusia. Banyak orang bersahabat karena pena atau pulpen. Banyak lelaki smoker berteman karena korek api.
Korek api itu sendiri adalah peristiwa hebat dalam bidang ekonomi dan peradaban. Sebatang korek api kayu misalnya, berasal dari sebuah pohon entah dimana. Korek gas, dikerjakan entah oleh siapa kemudian dikirim ke berbagai penjuru. Korek api, adalah lambang dari sebuah industri, dari dapur yang berasap dan dari kehidupan yang masih terus berjalan.
Sumber-sumber di internet menyebutkan, korek api awalnya dikembangkan bangsa Tiongkok sejak tahun 577, yang terbuat dari batang kayu yang mengadung belerang. Korek api modern pertama ditemukan pada 1805 oleh K. Chancel, asisten Profesor L. J. Thinard di Paris. Kepala korek api merupakan campuran potasium klorat, belerang, gula dan karet. Korek api ini dinyalakan dengan menyelupkannya ke dalam botol asbes yang berisi asam sulfat. Alat ini tergolong mahal pada saat itu dan penggunaannya berbahaya sehingga tidak mendapatkan popularitas.
Korek api yang dinyalakan dengan digesek pertama kali ditemukan oleh kimiawan Inggris John Walker pada 1827. Penemuan tersebut diawali Robert Boyle pada 1680-an dengan campuran fosfor dan belerang, tetapi usahanya pada waktu itu belum mencapai hasil yang memuaskan.
Betapa panjangnya sejarah korek api, lebih panjang dari dasi, sejarah yang tergayut di leher Anda.
On 1/31/2011 03:47:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

Saya meminum kahwa minimal 3 x sehari, selama 11 tahun tanpa henti. Kahwa adalah minuman khas orang Minang sejak kopi mulai berbuah di zaman tanam paksa. Buah kopinya untuk Belanda, daunnya untuk pribumi, maka kemudian lahirlah istilah ‘melayu kopidaun’. Daun disangai sedemikian rupa, kemudian diremas dan direbus. Airnya diminum. Enak selagi panas dan tentunya di pagi hari. Tanpa gula!
Ada air kahwa yang enak ada yang kelat, tergantung daun kopinya dan tergantung cara mengolahnya. Tapi, kahwa paling enak bagi saya, adalah buatan nenek saya. Suka-suka sayalah ya...
Setelah masuk sekolah menengah saya minum kahwa dua hari seminggu dan tetap minimal 3 x sehari. Setelah kuliah nyaris tidak pernah lagi. Nenek saya telah tiada dan membawa sejarah kahwa ke liang lahatnya. Semoga nenek saya berbahagia di alam barzah.
Saya tak hanya dekat dengan kahwa, tapi juga dengan kopi. Di kampung kami punya parak kopi tua. Entah siapa yang menanam, kami tinggal memetik saja. Batangnya tinggi-tinggi dan tak mudah patah. Memanjat pohon kopi sungguh enak, karena kita bisa pindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain, seperti kera. Tapi saya tak pandai benar memanjat pohon dan memetik buahnya. Bagi orang dapat sekembut, bagi saya setengah kembut saja. Kopi dan kulit manis adalah bagian dari sejarah kehidupan dan intelektual saya.
Beberapa tahun silam, saya menderita maag akut. Minum kopi seteguk saja, perut saya langsung perih. Saya stop minum kopi.
Tapi saya tak bisa menghindar minum kopi ketika melakukan perjalanan jurnalistik ke Singapura dan harus mampir ke Singapore Tourism Bord (STB). Di sana rombongan disuguhi kopi, diseduh sendiri. Tak ada minuman lain. Dengan berat hati saya isi cangkir kosong. Amboi aromanya luar biasa.
Yang terjadi kemudian saya menghabiskan tiga cangkir kopi, tanpa perut saya merasa perih sedikit pun. Kopinya sangat enak, tidak menganggu maag saya. Inilah kopi paling enak yang pernah saya minum sepanjang usia saya.
Saya berusaha mencari kopi senikmat itu di mana pun saya sempat, tapi tak pernah saya dapatkan, juga tidak di Eropa misalnya. Saya penasaran, kenapa kopi di STB bisa seenak itu? Tapi sesungguhnya tak saya pikirkan benar.
Pekan lalu saya membeli buku berjudul The Starbucks Exprerience, sebuah buku yang membeberkan kesuksesan paripurna dari sebuah bisnis minuman kopi. Perusahaan ini awalnya punya satu kedai kecil di Amerika tapi kemudian menggurita ke seluruh dunia. Jika 1987 perusahaan ini punya karyawan 100 orang menjadi 100 ribu orang pada tahun 2006. Karyawan Starbucks memiliki kepuasan bekerja mencapai 82 persen, padahal di perusahaan terkemuka dunia lainnya yang disebut sangat nyaman, kepuasan hanya 74 persen dan 50 persen di perusahaan yang digelari ‘tempat terbaik untuk bekerja’. Tapi, ketika saya minum kopi di Starbucks, rasa kopinya biasa-biasa saja, pelayanannya juga.
Tentu saja saya bisa disebut gila, jika ingin menjual minuman kahwa dan bercita-cita sehebat Starbucks. Cuma saja saya kagum dengan Starbucks karena bisa menjadikan kopi, minuman biasa-biasa saja menjadi bisnis yang dahsyat.
Saya juga kagum dengan nenek saya yang bisa membuat kahwa untuk keluarga kami dan selalu enak. Saya mengenangnya sepanjang masa. Mengenang sepanjang masa itulah yang dilakukan Starbucks. Perusahaan ini selalu menghargai selera orang perorang yang unik, sehingga pelanggan menjadikan gerai kopi itu sebagai rumah ketiga setelah kantor dan rumahnya sendri.
Secangkir kopi adalah sejarah panjang, sejarah umat manusia. Secangkir kopi adalah peradaban. Juga cinta kasih. Suami-istri bisa bercerai karena kopi. Sebenarnya bukan karena kopi, tapi karena sebab lain. Mungkin engak, mungkin bosan, jengkel atau bahkan muak atau karena tak pandai mengayuh biduk rumahtangga.
Secangkir kopi, seperti juga halnya teh tak jauh-jauh dari kita, karena itu kita sering tak peduli. Apa adanya saja.
Dan suatu sore yang indah di sebuah gerai Starbucks di Jakarta saya menikmati secangkir kopi sambil menikmati sebatang rokok. Saya teringat masa kecil di kampung, ketika pagi-pagi sekali menikmati setempurung air kahwa yang hangat dengan rebus ubi yang juga hangat. 
Tak lama kemudian saya menuju sawah, betis saya basah oleh embun yang tersisa di rumput pematang. Nanti sore, saya akan ke sawah lagi. Kali ini, memancing belut.
Ah, kalau menghayal bisa panjang. Tapi kopi sebenarnya adalah teman yang baik untuk menghayal. Maka karena oleh sebab itu, minumlah kopi! *
On 1/31/2011 03:46:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Tatkala putusan pengadilan dianggap salah dan tidak memihak rakyat kecil, rakyat bukannya melawan putusan itu, tapi melakukan gerakkan yang sama-sekali tidak terduga oleh Ketua Mahkamah Agung sekalipun. Itulah yang terjadi dengan kasus Prita Mulyasari, iburumatangga yang saleh itu, dihukum harus membayar denda Rp204 juta oleh hakim yang agung bijak bestari, lurus tabung, tak pernah salah sedikitpun.
Prita dijatuhi hukuman oleh hakim yang kita tak pernah tahu siapa namanya. Ia dituntut oleh jaksa yang kita juga tak tahu namanya.
Karena dalam hukum yang tegak lurus itu hanya rakyat yang salah, maka rakyat yang salah itu dibantu oleh rakyat lain yang juga salah di mata hukum. Rakyat yang salah itu ratusan juta orang banyaknya, maka ia kumpulkan koin. Namanya Koin Cinta untuk Prita. Koin tadi dirogoh dari saku terdalam rakyat. Jangan campurkan koin rakyat busuk ini dengan uang tebal pejabat. Jangan, nanti uang pejabat hebat setinggi langit itu kena najis.
Koin rakyat itu busuk, kena keringat berjuta-juta orang. Koin itu tadinya bersentuhan dengan ikan, kol, cabai, keringat tukang ojek, sopir angkot, anak sekolah, buruh, nelayan, anak jalanan, pengamen. Pokoknya rakyat kecil yang tak punya tulang punggung.
Maka terkumpullah sangat banyak, sebentar lagi bisa Rp1 miliar, jauh di atas denda yang diberikan pada Prita.
Maka tatkala rakyat sedang menghitung koin, dipersilahkan kepada paduka tuan yang amat berhormat menyaksikannya. Saksikanlah rakyat memilah-milah koin itu. Nanti jumlahnya mungkin dua atau tiga truk fuso. Ah, uang receh sebanyak itu, belum seberapa, hanya selembar cek yang terselip di meja yang dipertuan.
Tapi, jangan marah. Ini adalah bentuk perlawanan paling remah dari rakyat kepada penguasa yang mabuk kepayang. Rakyat sebenarnya sedang membuktikan teori pertentangan kelas. Rakyat sedang menghukum negara ini dan seluruh penguasanya yang sangatlah sombongnya pada rakyatnya sendiri. Bapak-bapak yang mulia, memang tak tertanggungkan lagi sombong dan congkaknya. Bicara legal formal dan memijak keadilan sosial.
Rakyat kalau bisa melawan akan melawan, tapi bukankah keputusan pengadilan tak boleh dilawan, kalau dilawan awak pula yang akan kena hukum. Wartawan pun dilarang memengaruhi jalannya sidang, begitu hebatnya. Maka kalau salah hukumannya, terima sajalah. Karena itu, makelar kasus, atau suap menyuap dilakukan bukan di ruang pengadilan tetapi sebelumnya. Rekayasa pasal-pasal dilakukan sebelum masuk ruang sidang.
Bagaimana kita bisa membiarkan rekayasa disidangkan? Tapi tetap saja rakyat tak boleh melawan. Kalau melawan, awas Anda dihukum. Hukum jangan dilawan, apalagi menegak hukum.
Itulah sebabnya, rakyat mengumpulkan uang receh untuk membayar denda Prita Mulyasari. Denda yang ditimpakan pada seorang ibu yang mencoba mengeluh tentang pelayanan rumah sakit yang buruk. Oh ya, pada rumah sakit, dokter dan manajemen rumah sakit, diingatkan jangan melawan pula, nanti awak dituntutnya pula. Urut sajalah dada, kalau anak awak mati oleh kesalahan dokter. Mereka bagak-bagak, uangnya banyak, rakyat hanya punya uang receh.
Perlawanan rakyat dengan koin merupakan sebuah satire, pertama du dunia sejak dunia terkembang. Inilah gerakan rakyat yang akan tercatat dalam bab tersendiri dalam sejarah umat manusia. Tidakkah negeri ini akan berubah?
Subhanallah. Ampunilah kami ya Tuhan*
On 1/31/2011 03:46:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Menjelang buka puasa beberapa hari lalu saya membeli novel Perahu Kertas dan buku biografi Liem Swie King. Buku pemain bulutangkis hebat itu, ditulis oleh seorang wartawan, Robert Adhi dan diterbitkan Juni 2009.
Saya belum selesai membacanya, namun, dari beberapa halaman yang sudah terbaca, diketahui, ia belajar main bulutangkis sejak kecil. Mulai bermain dengan raket kayu seperti anak-anak di desa-desa. Kemudian berlatih dengan orang-orang yang sebaya dengan ayahnya.
Membaca buku Panggil Aku King, bukan Liem Swie King yang saya bayangkan, melainkan masa kanak-kanak saya di desa dulu. Walau jauh dan tak bisa dibanding, namun saya ingat teman saya, namanya No. No, pintar sekali bermain bulutangkis. Di kampung saya, semua orang ia kalahkan. Sayang, No, umurnya pendek.
Bagi saya No, adalah teman yang hebat. Ia pintar main bola dansantiang bermain pimpong. Sayang, ia pemain alami tak pernah disentuh pembinaan dan latihan yang terjadual, sebagaimana umumnya anak-anak berbakat dari desa dulu, bahkan mungkin juga kini.
Tidak tahu dari mana bakat seperti itu disalinnya, yang diketahui, No mencengangkan kami teman sebayanya. Saya teman sekolahnya, tidak pernah sekalipun bisa mengalahkannya dalam permainan individual.
Bagi saya No, adalah teman yang hilang, ketika kami mengharapkan ia bisa mengukir prestasi. Ia meninggal dalam usia muda. Saya doakan dia.
Hari ini, di sudut rumah atau di gang perumahan atau di tanah lapang, di halaman sekolah, anak-anak bermain bulutangkis. Orang-orang dewasa bermain di lapangan indoor. Tiap saya pulang ke rumah di Kuranji sana, di sisi Jalan By Pass, Padang saya lihat ada tempat bermain bulutangkis. Orang-orang bermain hingga larut malam. Sering pula saya lihat, lelaki bercelana pendek di atas motor dengan menyandang raket. Tentu ia akan bermain bulutangkis.
Di rumah saya ada dua raket dan tentu mungkin di rumah Anda. Saya  bermain bulutangkis disaat senggang di jalan depan rumah. Mengasyikan.
Kita mempererat duduk, tatkala menyaksikan pertandingan final bulutangkis anak-anak Indonesia di laga All England misalnya. Kita kepalkan tinju kalau pemain kita menang. Namun kecewa berat kalau ia kalah. Pada saat yang sama, sesungguhnya kita sedang memupuk rasa nasionalisme.
Saya kembali pada buku Liem Swie King, atau Guntur. Lelaki ini lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956. Ia menceritakan bagaimana ia menangis begitu bisa mengalahkan Rudy Hartono, teman sekaligus gurunya itu. Rudy ia kalahkan dalam final All England tahun 1976 dalam usianya yang ke-20. Ia menceritakan bagaimana peran ayahnya dan PB Djarum dalam mendidiknya menjadi pebulutangkis handal.
Kita kenal King, ia memang meminta Panggil Aku King. Kita bangga dengan King. Saya ingat teman. No. *
On 1/31/2011 03:45:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Berita Vivanews yang dikutip Singgalang, pekan lalu:
Perusahaan Vivos, yang berbasis di Kota Del Mar (California), mengaku telah menyiapkan suatu kompleks ruang bawah tanah (bunker) khusus untuk menghadapi “Hari Kiamat.” Terletak di bawah gurun Mojave, bunker itu dirancang untuk membuat penghuni aman dari serangan nuklir dan bencana alam sekaligus membuat mereka tetap nyaman, seperti tinggal di rumah.
Itulah sebabnya kompleks bunker itu juga dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari atrium, tempat fitness, hingga penjara. Setiap bunker akan dilengkapi dengan televisi layar datar, dapur, hingga mesin cuci.
Robert Vicino, pemilik perusahaan Vivos, berencana membuat kompleks bunker yang terdiri dari 132 ruangan di lahan bawah tanah seluas 1.208 meter persegi. Dia mengaku mendapat ide berbisnis bunker setelah mendengar banyak warga kini kian khawatir atas gempa bumi, terorisme, dan “2012” - yaitu film yang mengadaptasi prediksi suku Maya bahwa 2012 bakal menjadi tahun kiamat.

                        ***

Betapa tenggennya orang Amerika. Masuk akal kalau menghindar dari bencana tsunami atau kebakaran, banjir, letusan gunung api dan tanah longsor, lalu menyuruk ke dalam bunker. Namun jika bencana gempa, saya kira makin lari ke dalam perut bumi, makin sengsaralah kita. Sedangkan di kulit bumi saja, sedang tegak, rebah kita dibuatnya, apalagi saat gempa kita berada di perut bumi. Tak sampai ilmu saya soal.
Kemudian jika terjadi kiamat, menyuruk ke dalam bunker, maka yang akan tewas duluan adalah mereka. Kiamat itu, bumi dan planet-planet lain terpelanting, karena terpelanting maka pecah-pecahlah si planet. Sebelumnya gunung apa beterbangan. Kalau gunung sudah, habislah perkara. Maka manusia yang menyuruk ke dalam bunker, tetap saja takkan selamat. Apalagi kiamat adalah kematian massal seluruh penghuni dunia. Jadi takkan ada yang hidup.
Jika sangkakala sudah ditiup, mau Amerika, mau Rusia, mau Saudi Arabia, apalagi Indonesia, tamat riwayatnya. Semua hancur lebur, berkeping-keping lalu menjadi debu.
Kapan? Terjadinya kiamat adalah hal yang gaib. Hanya Allah saja yang tahu. Tidak satu pun dari makhlukNya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat. “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.” (Luqman 34).
Namun, Nabi Muhammad telah menyatakan beberapa tanda-tanda, misalnya turunnya Dajjal, turunnya Nabi Isa AS., ke bumi. Saat ini Nabi Isa berada di langit keempat. Menurut cerita Nabi Isa akan turun di Iran atau Irak dari balik menara putih. Saya belum pernah berkunjung ke kedua negara itu, mungkin di sana memang ada menara putih. Nabi Isa kemudian membunuh Dajjal. Lalu, Beliau akan mengajak umat manusia menjalankan syariat Islam.
Meski bunker buatan Amerika takkan menpan untuk menangkis gempa dan kiamat, sebuah pelajaran dapat ditarik. Dunia memang semakin tua. Jangan dipikirkan pula sudah berapa usia dunia ini, habis rambut di kepala takkan bisa kita hitung. Pokoknya dunia sudah tua.
Memang, waktu berjalan tak terasa seperti nafas yang membuat kita tetap hidup. Kita sendiri, sepertinya tak berubah-ubah sejak dulu, teman juga demikian. Padahal, telah terjadi perubahan hari demi hari. Lihatlah foto-foto kenangan di album tua nan berdebu. Wajah kita dulu, wajah kemudian dan wajah hari ini, berubah tanpa kita sadari sama-sekali.
Anak-anak yang dulu masih digendong-gendong, kini sudah lebih tinggi dari ayah dan ibunya. Anak yang dulu merenggek-renggek, kini sudah beranak pula. Anak dari anaknya akan lahir setelah si kakek dan nenek meninggal. Mereka tak ada lagi ikatan batin dengan kita. Lalu dilupakan. Anak dari anak dari anak, sama-sekali tak tahu nama kita. Lenyap sudah sebuah sejarah besar badan diri, tapi sejarah kecil bagi orang lain.
Lalu kiamat adalah tapal batas dari semua sejarah perabadan manusia. Sampai di sini, bab ditutup. Lalu Tuhan membuka bab baru dalam kehidupan lain. Kita sering dibuai oleh keindahan hidup dalam bab baru itu: surga. Bidadari bersilewaran bak kupu-kupu. Hanyutlah kita di sungai susu, buah dipetik, buah tumbuh. Angan-angan kian panjang, umur kian singkat, dosa kian banyak. lalu mati, berpisah dengan apa saja yang disayangi.
Maka bacalah syair Kahlil Gibran ini:
Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.
Orang hanya akan berdoa untuk kekasihnya yang telah tiada. Doa, tulis Kahlil, adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan, meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.
Maka lupakanlah bunker hari kiamat itu. *
On 1/31/2011 03:44:00 AM by Khairul Jasmi in     1 comment
Khairul Jasmi

Sebuah restoran di Jepang berusia 430 tahun, dikelola oleh 20 generasi tanpa putus. Pengelolanya sekarang, seorang bapak dan anaknya. Sebuah restoran yang tak begitu besar, namun mencatat sejarah panjang. Inilah mungkin restoran milik keluarga paling tua di dunia.
Saya mendengar reportase reporter sebuah televisi swasta nasional soal restoran itu, beberapa hari lalu. Lalu, pemilik restoran berbicara tentang bagaimana ia mendapatkan bahan-bahan untuk sajian di restorannya. “Saya tak percaya pada siapa pun,” katanya ketika ditanya soal bagaimana ia membeli bahan-bahan kebutuhan jualannya. Ia sendiri yang pergi ke pasar dan memilihnya dengan telaten. Begitu tradisi sejak 430 tahun silam, hingga kini.
430 tahun, alangkah lamanya. Belum lagi kita dijajah oleh si Belanda, restoran itu sudah ada. Betapa awetnya, betapa pintarnya orang Jepang mempertahankan miliknya, sesuatu yang kecil tapi telah menjadi sejarah sendiri.
Untuk banyak hal kita memang harus belajar pada Jepang. Soal teknologi, soal cara meniru, mengekor, kemudian menjadi pemimpin pasar dan tak terkalahkan. Tentang semangat kerja, tentang memaknai ‘waktu adalah uang’.
Secara olok-olok seorang teman berkata pada saya, “ oleh kita telepon genggam jadi kebangaan, di Jepang hanyalah prakarya anak sekolah,” katanya.
Jepang, negara kecil yang dilamun gempa bumi itu, adalah juga negara kekaisaran tertua di dunia. Jepang terkenal ke mana-mana, apalagi di Indonesia.
Di Indonesia, terohan samurainya masih terasa sampai sekarang. Rakyat Indonesia melarat semelarat-melaratnya dibuat oleh tentara pendek-pendek itu dulu.
Jepang menguasai Indonesia, bukan serta merta. Jauh sebelum tahun 1940, orang Jepang sudah membuka kedai kopi dan studio foto di Padang. Intelijen mereka mengamati kota ini hari demi hari, tahun demi tahun. Lalu, begitu mendaram negeri ini, mereka sudah punya peta yang lengkap, jauh di luar perkiraan kita.
Hanya sekejap, Jepang kemudian keok didaruak Amerika. Tapi, hanya sekejap pula, Jepang kemudian bangkit. Negara ini berlari cepat dan langsung berdiri di depan.
Kita lalu terkagum-kagum. Kita memang suka kagum pada negara lain. Ketika orang Amerika sampai ke bulan, kita kagum, karena kabarnya di bulan terdengar suara azan. Tatkala ada semua penemuan baru, kita bilang, sesungguhnya temuan itu sudah disebut dalam Alquran.
Hanya sampai di sana, sampai pada kagum dan sampai pada ‘sudah ada dalam Alquran’, lalu kita terlena lagi disapu angin tropis. Kita tidur dan membiarkan sejarah berjalan sendiri. Membiarkan dunia berkembang pesat.
Kemudian kita sibuk menyambut era globalisasi. Pergaulan dunia tanpa batas. Lalu, setelah itu globalisasi tadi datang, kita terlena lagi.
Di dunia bisnis apalagi. Nyaris tidak ada bisnis yang bisa jalan tanpa proteksi pemerintah. Kita punya aset dijual pada bangsa asing, lalu ribut. BUMN dijual tagak, kemudian diprotes habis-habisan. Apalagi yang diprotes, anak panah sudah lepas dari busurnya.
Saya kagum pada keluarga Jepang yang bisa mempertahankan bisnis restorannya 430 tahun lamanya. Pemilik restoran itu, mungkin tak pernah memikirkan globalisasi.
Saya kagum, kemudian saya terlena lagi, disapu sepoi-sepoi angin tropis. Dasar! *
On 1/31/2011 03:44:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Pemerintah ingin ada pendidikan karakter di sekolah-sekolah, sebab banyak yang sudah melenceng, terutama sopan santun dan moral. Dalam bahasa kerennya, diperlukan segera pendidikan dengan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi.
Ini sama saja dengan menyuruh petani memakai pupuk kandang, setelah dipaksa oleh pemerintah memakai pupuk pabrik. Dulu pemerintah hebat ini sudah dingatkan, tapi tak dihiraukannya. Lalu kini, seperti bergegas ingin menanamkan pendidikan karakter di sekolah.
Jam pelajaran agama dikurangi, jam pelajaran sejarah, sejarah perjuangan bangsa dipangkas, jam pelajaran PMP ditiadakan, jam pelajaran. Kini merentak-rentak dan risau. Anak panah sudah tuan lepas dari busurnya, lalu tuan gelisah sendiri.
Kini, anak sekolah kekurangan waktu karena sepulang sekolah langsung les. Les apa saja asal tentang pelajaran di sekolah. Staf pengajarnya guru-guru yang tadi pagi mengajarkan hal yang sama di sekolahnya. “Karakter-karakter a juo lai ko ha, awak ka les,” kata anak-anak.
Sekolah dan pemerintah yang hebat itu juga membagi ruang kelas — di SMA — menjadi kelas IPS dan IPA. Amboi mak, anak IPS dianggap bodoh, anak IPA dianggap pintar, tapi waktu ujian SNMPTN anak IPA memilih IPS. Kalau tetap pilih IPA, banyak maunya kedokteran saja. Guru membuat garis pemisah bahwa anak IPA harapan bangsa sampai ke langit. Anak IPS? Tukang ribut. Pokoknya kalau anak suka bertanya, suka interupsi, itu namanya tukang ribut. Guru tak suka itu. Anak baik adalah, menekur saja sepanjang jam pelajaran, tak ribet dan suka mencatat. Kalau pendapat guru digugat, alamat orangtua akan dipanggil ke sekolah. “Anak ibu suka menyolang guru, payah kami dibuatnya, tapi anak IPS memang begitu, jadi tolong perhatikan anak kita di rumah.” Hebat nian guru sekarang dan itulah dosa guru yang tidak ia sadari.
Lalu, ada pula kelas internasional hebat bana sangaik. Kalau masuk ke kelas itu, tak dapat lagi yang akan disebut. Si anak hebat, sekolah hebat, orangtua hebat. Naik bahu awak kalau berjalan dibuatnya.
Banyak orangtua yang keluar urat lehernya karena marah, kenapa anaknya tak masuk kelas IPA. Kadang, orangtuanya yang heboh sendiri, sebab anaknya ingin di IPS bukan IPA. “Kok ndak mama se lah sikolah ha, masuak nah lah ama ka IPA itu,” ini kata teman saya, tatkala anaknya tak mau masuk kelas IPA. Taduduak si Mama dibuatnya.
Anak punya kemampuan, kecenderungan dan kemauannya sendiri. Jika ia mau masuk MAN, jangan dipaksa masuk SMA. Jika mau SMK, jangan dipaksa masuk SMA. Jika IPA jangan dipaksa masuk IPS dan sebaliknya.
Ketika kusut masai di ruang belajar tak kunjung terselesaikan, ketika guru dibebani tugas yang maha berat, kini muncul lagi tugas baru: pendidikan karakter.
Sementara itu, sekolah membantah telah membuat kastanisasi, meminggirkan anak miskin, tapi ribuan anak miskin tak bisa sekolah. Tak ada uang sama sekali. Pemerintah Sumbar yang peduli pendidikan ini, katanya, belum mampu menolong semua anak miskin.
Bacalah Harian Singgalang, hampir tiap hari, ada berita anak miskin yang menangis karena tak bisa kuliah, padahal mereka, lulus di perguruan tinggi.
Jadi pendidikan karakter memang perlu, terutama untuk menajamkan kembali kepedulian sosial agar hati pejabat pemegang kuasa, mau menolong anak-anak miskin, misalnya dengan segera mengoperasionalkan Yayasan Pendidikan Sumatra Barat yang uangnya ratusan miliar itu.
Jika gubernur baru besok, fokus pada satu persoalan saja, yaitu pendidikan, maka sukseslah dia. Kalau semua akan dikaca, sukses juga, tapi menurut dia saja, menurut orang lain tidak.
On 1/31/2011 03:44:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Sejak gempa 30 September, saya hampir selalu Salat (Shalat) Jumat di masjid Mapolda Sumbar di Padang. Menurut analisa saya, nyaman di sana dibanding masjid lain. Masjid dengan tiang-tiang besar dan kokoh, tak ada yang retak. Poin penting lainnya, masjidnya itu tak berdinding, kalau ada apa-apa gampang lari. Saya melihat beberapa kali Wakil Gubernur Marlis Rahman juga salat di sana, demikian juga Walikota Padang Fauzi Bahar, beberapa pejabat dan beberapa wartawan.
Saya tidak hirau apa alasan orang lain salat di sana, tapi kalau saya karena takut, tepatnya was-was akan kondisi bangunan akan gempa kalau-kalau datang lagi saat kita salat. Menurut saya juga, rasa was-was itu wajar, karena gempa tak bisa ditebak kapan datangnya. Kalau bisa ditebak, untuk apa kita berada dalam ruangan, sementara kita tahu gempa akan datang. Karena tidak tahu itulah diperlukan kewaspadaan. Kewaspadaan adalah salah satu kelebihan yang diberikan Tuhan kepada kita. Jadi bukan soal mati atau tidak mati, bukan soal beriman atau tidak beriman. Soal iman saya, samalah dengan banyak orang, tanggung-tanggung, tergaing, antara iya dan tidak.
Tentu saja perasaan was-was saya itu tak sama dengan orang lain. Ada orang yang bagaknya bukan main, tak takut dihimpok beton. Syukurlah ada orang sebagak itu. Tak soal juga kalau ada yang bilang, saya tak beriman, mudah-mudahan orang beriman tak ikut panik dan tak lari saat gempa 30 September lalu.
Selain gempa, saya juga was-was dengan hujan. Hujan sekarang agak pamberang dibanding hujan saat saya kecil dulu. Sekarang kalau hujan, lebatnya bukan main. Turunnya tidak beraturan. Di Padang saja misalnya, di Jalan Veteran tidak hujan, tapi di Kuranji hujan lebat bukan main.
Menurut para ahli ini karena perubahan cuaca. Perubahan cuaca disebabkan global warning, pemanasan global, paneh seluruh dunia, hangek. Kata ahli juga, es mulai mancair di kutub. Tinggi ilmunya, tak terjangkau pula oleh saya.
Yang saya tahu, cuaca memang akhir-akhir ini payah. Kalau panasnya, bukan main, seperti panas di Sijunjung, ekor sapi pun retak dibuatnya. Kalau hujan longsor terjadi di mana-mana.
Itulah antara lain kenapa saya agak was-was kalau hari sudah hujan, was-was kalau naik pesawat, was-was kalau keluar kota Padang, jangan-jangan tebing longsor pula. Saya hampir terkubur dihantam longsor di Lembah Anai beberapa pekan lalu. Jika saja saya dan teman-teman terlambat lewat 10 menit saja waktu itu, maka mungkin kami yang menemui ajal. Tapi, mana pula bisa mati, kalau belum ajal. Di mana seseorang akan mati, hanya Tuhan yang tahu.
Selain hujan saya juga was-was dengan petir. Petir sekarang keras benar bunyinya. Seperti batrainya baru dicas. Kalau petir keras itu, atap menggelegar dibuatnya. Celakanya, petir seperti bergolek-golek di atas langit, bak kucing bergolek-golek dan berkelahi sesamanya di atas pagu.
Kalau sudah hujan petir, biasanya lampu mati. Lengkap sudah alasan, hujan lebat, petir pula, maka terimalah nasib bergelap-gelap.
Untung kalau awak di rumah, kalau masih di kantor atau di jalan, maka jalan akan tergenang di mana-mana. Bukan hanya jalan, tapi beberapa kawasan pemukiman pun tergenang.
Terakhir Pasa Lereang Bukittinggi yang longsor. Musibah tanah longsor mungkin akan terjadi lagi di tempat lain, selagi hujan lebat begini.
Saya was-was, saya kira juga orang lain *