On 1/31/2011 03:25:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Pada Kamis pekan lalu, genap 100 hari gempa kuat 30 September 2009 berlalu. Selama 100 hari, rakyat masih belum tersentuh bantuan untuk membangun rumahnya, karena sistem anggaran di negara ini, dibuat untuk waktu damai, bukan darurat.
“Birokrasi adalah kandang besi,” ungkapan itu sudah sangat tua. Maksudnya, antara lain, berurusan dengan sistem birokrasi, kita makan hati dibuatnya. Meski sistemnya ketat, tapi di sana pulalah korupsi tumbuh dengan subur.
Selama tiga bulan rakyat menunggu kebaikan hati pemerintah dan akan ada penantian tiga sampai lima bulan lagi. Ingin benar pejabat membantu mengucurkan dana untuk bantuan perumahan dengan cepat, itu akan menyalahi aturan dan bisa masuk penjara. Jangankan salah, tak bersalah saja bisa dicari-carikan kesalahan dan seterus masuk penjara. Kabarnya, banyak kasus seperti itu telah terjadi.
Karena itulah kemudian, muncul bantuan dari pihak swasta dan LSM untuk rumah darurat. Di rumah darurat tersebut, rakyat korban gempa akan tidur untuk, setidaknya lima bulan ke depan. Selama itu pula mereka berteman angin malam.
Seratus hari telah berlalu, tapi trauma akan gempa masih ada. Di rumah, bagi yang rumahnya masih bisa dididiami, kunci pintu yang selama ini, dua kali pilinnya, sekarang sekali engkol saja. Pintu kamar direnggangkan saja, pintu pagar dikaitkan saja. Ini semua dilakukan, jika gempa datang, bisa lari dengan cepat. Malah ada yang sudah mengatur sedemikian rupa “jalur evakuasi” di rumahnya.
Tak hanya itu bagi mereka yang berada di tepi pantai, sudah diancar-ancar, kalau gempa lari kemana. Kalau pakai mobil, agar tak terjebak macet, mobil ditarok di lokasi mana dan sebagainya. Semua sudah diskenariokan.
Anak-anak juga sudah diingatkan berkali-kali, kalau gempa datang, harus lari menuju ketinggian tak ada cari-carian. Langsung ke satu titik. “Kita bertemu di sana.” Bagi yang anaknya sekolah di tepi pantai dan berumah di ketinggian, titik pertemuan tak diatur lagi.
Ada pula yang pakai radio panggil Orari. Bapak, ibu dan anak memilikinya satu-satu. Waktu gempa 30 September lalu, semua orang kehilangan akal, kalut, keluarga yang pakai radi Orari, dengan enaknya bisa saling panggil, sapa dan berkomunikasi satu-sama lainnya.
Seratus hari telah berlalu, rumah retak belum diperbaiki, sebab uang tak ada, anak sekolah pula, semen mahal, pasir mahal, bantuan entah kapan akan turun.
Seratus hari berlalu, derita dipagut sendiri, kesedihan digumam sendiri. Berharap banyak pada pemerintah, entahlah, hambar pusat kita dibuatnya. Takkan masak yang ditanak, lebih baik berikhtiar sendiri. Itulah kata sebagian orang.
Seratus hari berlalu, tapi musibah itu masih membuat dada berdebar. Entah tambah dekat pada Tuhan, entah tidak. Entah akan ada perubahan cara pandang terhadap kehidupan entah tidak. Mengeluh sudah tidak boleh lagi, sebab waktunya sudah berlalu.
Begitulah, musibah datang tak terduga, kita harus selalu siap menghadapinya. *

0 komentar :

Posting Komentar