On 1/31/2011 03:34:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Prof Jan Romain pada tahun 1953 menulis sebuah buku — sebenarnya materi perkuliahannya di Universitas Gadjah Mada — berjudul  “Aera Eropa.” Buku itu ditulis di Amsterdam, Belanda. Mahasiswa sejarah merindukan buku ini, karena isinya yang bagus dan bercerita soal seluk-beluk Eropa. Sejak saya kuliah di jurusan sejarah IKIP (sekarang UNP) Padang tahun 1984, buku tersebut sudah lenyap. Yang tersisa hanya stensilan, salinan dari buku tersebut.
Tapi, saya punya buku aslinya. Mungkin mahasiswa sejarah dari 1984 itu sampai sekarang, hanya saya yang punya. Kalau ada yang lain punya, ya gugurlah keseorangan saya.
Bukunya sudah menguning, sobek beberapa lembar, meski sobekkannya tak hilang. Di dalamnya tertimbun sejarah Eropa, sejak zaman pra sejarah sampai berakhirnya hegemoni Eropa. Semua 24 bab. Ada cerita tentang Bangsa Yunani, Romawi, Islam masuk ke Eropa, renaissance, aufklarung, Revolusi Prancis, musim gugur Eropa dan lainnya. Peminat sejarah Eropa sangat menyukai buku ini.
Dunia sejak lama sekali selalu dilihat dari Eropa, dipetakan, ditaklukkan dan kemudian dikuasai. Itulah penjajahan. Eropa menjadi seperti sekarang karena ‘membangkang’ terhadap pola umum. Pola yang berlaku umum, diingkari, masyarakat memunculkan kreativitasnya, inisiatifnya. Revolusi Industri adalah awal yang gemilang bagi Eropa.
Setelah itu bangsa-bangsa lain menjadi “pak turuik” dalam istilah marketing namanya pengekor. Ketika itulah sebagian orang tahu bahwa banyak hal yang jadi ‘milik’ Eropa setelah dipelajarinya dari bangsa Mesir dan juga Arab.
Jika kita mempelajari sejarah Eropa, sepintas saja pun jadi, tahulah bahwa kemajuan bangsa-bangsa di benua itu, sudah dibangun sejak beribu-ribu tahun silam. Bayangkan dengan Indonesia yang baru merdeka tahun 1945.
Pantas bacakak taruih. Tak putus dirundung malang. Cobalah lihat, sejak 1945 sampai 1949, kita masih marasai oleh Belanda dan muncul pemberontakan 1948. Tahun 1955 pemilu, setelah itu bacakak lagi di parlemen. Soekarno Bapak Bangsa itu, kemudian mengenggam bangsa ini. Demokrasi diutak-atik. Tak selesai-selesai juga. Ekonomi makin parah, Hatta mundur, muncul pemberontakan daerah, lalu G30S/PKI. Sejak 1945 sampai 1958, puro bangsa ini yaitu perusahaan milik negara masih dikuasai Belanda secara keseluruhan. Baru kemudian terjadi nasionalisasi. Setelah itu BUMN (namanya sekarang) dibangun berbarengan dengan ‘pembangunan’ korupsi. Pertamina jadi juara ketika itu.
Orde baru sama tahulah kita. Demokrasi, politik, hukumnya mampus deh. Ekonomi bagus. Terjadi pembusukan, muncul reformasi. Muncul murai batu, berkicau saja kerjanya. Korupsi menjadi-jadi, semua orang merasa hebat, semua orang mau jadi pemimpin. Ratusan triliunan uang dihamburkan untuk demokrasi, ekonomi diabaikan. Demokrasi jadi panglima, menggeser hukum. Kemudian hukum jadi panglima, demokrasi wakilnya. Tapi tukang korupsi makin banyak.
Minyak dunia naik tanpa pemberitahuan, maka paniang lelek bangsa ini dibuatnya. Oh iya, ekonomi perlu rupanya ya, kata anak bangsa ini yang tadi telah jadi murai batu. Ia ikut pula berkicau. Tapi untuk urusan ekonomi, bukan kicauan yang perlu tapi tindakan.
Terlambat, minyak sudah naik, maka dinaikkanlah BBM. Wow, sansai. Lalu listrik byar pet. “Barata” namanya alias barantai tagak. Mati.
Maka silih berganti persoalan ekonomi muncul seperti pengangguran, lapangan kerja, gaji yang kecil, uang sarik, del el el.
Prof Jan Romain tak tahu soal ini. Jika ia tahu, maka ia akan tulis pula kisah pilu Indonesia ini.
Pedahuluannya tentu begini: “Heran saya, sudah setua ini saya, sudah saya harungi sejarah dunia, baru kali inilah saya temukan ada bangsa yang aneh. Indonesia. Mungkin namanya yang salah, tapi tidak juga. Mungkin Belanda menjajah dulu yang kelewatan. Tapi Belanda tak mengajarkan demokrasi gila seperti di Indonesia sekarang.”
Menurut saya, lanjut profesor ini, Indonesia mungkin salah urut. Baliklah ke pangkal jalan, katanya. Tahu pula dia pangkal jalan rupanya.
Bukunya kemudian diberi judul: “Indonesia Raya, Hamparan Padang Murai Batu” Kata pengantarnya diberi oleh tokoh-tokoh Indonesia ternama mulai dari SBY, Wiranto, Amien Rais, Megawati, Azumardy Azra, Marwah Daud, Akbar Tadjung, Agung Laksono, Nur Wahid dan Gus Dur. Juga oleh Aburizal Bakrie orang terkaya di Indonesia dan Gamawan Fauzi, gubernur termiskin di Indonesia.
Buku itu dijual dengan harganya Rp125 ribu/eksamplar. Di sampul dalamnya ada peta Indonesia pada bagian tengah ada peta besar yang dilipat. Di peta itu terlihatlah jaringan telepon seluler yang maharumit membungkus Indonesia. Untuk peta seluler itu, Jan Romain membuat catatan kaki: Uang yang dihabiskan untuk telepon-teleponan bergandeng-gandengan dengan uang yang dihabiskan untuk membeli rokok dan urusan demokrasi.
“Gila lagi deh,” kata profesor ini.
“Emang,” tulis mahasiswa dengan pensil di dekat catatan kaki itu.
“Emang gue pikiran,” tulis seorang pengamat yang sedang sibuk menyusun proposal penelitian dan pagi ini segera diantar ke PT Semen Padang. Kalau tak dikabulkan, perusahaan itu akan dikritik habis. “Awas makan tangan den”, kata si pengamat waktu meninggalkan perusahaan buatan Belanda itu.
Jan Romain memang tak bercerita soal Semen Padang. Ia tak tahu. *

0 komentar :

Posting Komentar