On 1/31/2011 03:27:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Saya mengenal Antasari Azhar sewaktu ia menjadi Kajati Sumbar. Saat itu saya bekerja sebagai wartawan Republika di Padang. Antasari merupakan satu-satunya Kajati yang cukup dekat dengan saya, meski ia lebih dekat dengan beberapa wartawan lainnya ketimbang dengan saya.
Selama menjadi ketua KPK, saya tak pernah lagi bertemu dengan Antasari, tapi sering juga saling SMS-an. Malah ada beberapa SMS Antasari, saya jadikan berita di Singgalang.
Jaksa senior ini, selalu bicara secara teratur. Ia bertutur dengan baik dan setiap kata yang akan diucapkannya dipikirkannya dengan baik pula. Beberapa kali saya berbicara dengannya, selalu kesan itu yang muncul.
D Sumbar ada sejumlah perkara “hebat” yang ia tangani. Terlepas dari bagaimana hasilnya, Antasari telah bertugas di Sumbar untuk beberapa waktu lamanya dan dikenal cukup dekat dengan kalangan pers. Malah, beberapa wartawan ibukota, datang bertamu ke Padang untuk melepas kangen dengan Antasari.
Saya tersentak ketika muncul berita, Antasari diduga sebagai otak pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen. Saya tak percaya, masa orang sekaliber Antasari mau membunuh. Apalagi, katanya, hanya gara-gara cinta segitiga.
Ini sebuah drama panjang. Drama penuh intrik, kesangsian dan mungkin juga cinta. Antasari bukanlah orang yang bebas dari incaran dan jebakan. Kita juga tidak tahu, apakah Antasari bersih atau tidak.
Menurut sejumlah situs, Antasari dijebak oleh para koruptor, sebab ia begitu getol memberantas korupsi. Beberapa orang penting tak percaya jika Antasari melakukan pembunuhan karena urusan cinta.
“Masa sih seorang Antasari melakukan pembunuhan berencana hanya karena seorang caddy dan apakah orang sekelas Antasari Azhar jatuh hanya karena soal asmara,” tanya Ketua Komisi Hukum Dewan, Trimedya Panjaitan dan anggota Komisi Hukum, Nursjahbani Katjasungkana usai rapat komisi yang khusus membahas soal kasus hukum yang menjerat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar di Jakarta awal pekan lalu.
Karena itu, Komisi Hukum Dewan mempertanyakan dugaan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dilatarbelakangi soal asmara.
Menurut Trimedya, tak menutup kemungkinan kasus Nasrudin terkait urusan perkara di komisi antikorupsi. “Komisi minta aparat supaya bisa mengungkap tidak semata-mata soal asmara, itu terlalu sederhana,” tambah dia.
Politisi PDIP tersebut mengatakan komisi hukum menyimpan keraguan soal dalih asmara. “Apakah orang sekelas Antasari Azhar jatuh hanya karena soal asmara,” tambah Trimedya.
Senada, anggota Komisi Hukum, Nursjahbani Katjasungkana meragukan persoalan asmara sebagai satu-satunya motif. “Masa sih seorang Antasari melakukan pembunuhan berencana hanya karena seorang caddy,” kata dia.
Tapi demikianlah adanya. Polisi sedang bekerja. Karena itulah, hari-hari belakangan yang saya saksikan, semua media, terutama televisi menyigi semua hal yang bisa disigi. Dikejar sampai ke Belitung tetek bengek soal Antasari. Istrinya diwawancarai sedemikian rupa dan disiarkan secara luas. Dari sisi pers, hal itu, tidak ada yang salah, sebab Antasari orang penting dan publik figur.
Bisa jadi, kasus Antasari akan dengan cepat bisa diselesaikan, atau malah rumit. Bisa pula, akan ada hal besar yang terungkap setelah ini. Mana tahu, otak pembunuhan memang Antasari, atau sebaliknya, ia tak bersalah sama-sekali.
Namun apapun, melihat Ketua KPK memakai baju tahanan, saya tetap saja seolah tak percaya. Ia melibas para koruptor, tapi ia tertarung di batu kecil. Hidup memang penuh misteri.*

0 komentar :

Posting Komentar