On 1/31/2011 03:29:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Awan adalah keindahan yang diberikan Tuhan untuk kita. Keindahan dari langit. Jika diolah oleh sastrawan menjadi bagian dari sebuah cerita, maka awan menjadi sangat indah, puitis dan menyenangkan. Lantas kemudian banyak yang bermimpi ingin punya rumah di atas awan. Berbulan madu dan sebagainya.
Menurut ilmu pengetahuan awan adalah kumpulan uap air yang terapung di atmosfir. Kita lihat, gumpalan awan itu seperti kumpulan asap putih atau kelabu. Awan melayang-layang di langit, pada suatu ketika tidak bergerak sama-sekali.
Dilihat dari pesawat, awan membentang menyungkup puncak-puncak bukit dan gunung. Sesekali saya juga ingin melayang turun dari pesawat dan melompat dari gumpalan awan yang satu ke yang lainnya. Bercengkrama. Amboi.
Tapi, awan seperti asap, tak bisa dijadikan lantai. Tak bisa disandari. Awan hanya akan indah dilihat, tapi bila sudah menjadi hitam kita bisa takut. Lidah badai sering menjulur dari sana.
Tatkala awan telah terbentuk, maka ketika itu, titik-titik air di dalamnya menjadi semakin besar. Bersamaan dengan itu, awan akan kian berat. Perlahan tapi pasti, daya tarik bumi menariknya ke bawah. Air mulai jatuh. Gerimis, hujan dan hujan lebat.
Hujan telah turun.
Tumbuh-tumbuhan bergembira. Binatang juga. Manusia ada yang gembira ada yang tidak. Apalagi kalau sudah datang hujan lebat tak henti-hentinya. Banjir pun datang melanyau, semua jadi susah. Kayu bertumbangan, binatang hanyut, rumah rubuh. Manusia mengungsi menyelamatkan diri.
Dan lagit adalah atap dari segela kehidupan di bumi. Ketika bencana datang, langit seperti menatap kita. Mungkin sedih atau mengingatkan kita agar sayang pada alam. Langit umpama ayah dan bumi umpama ibu, memelihara anak-anaknya siang dan malam.
Langit sebagai batas pandang, merupakan bagian atas dari permukaan bumi. Mata kita melihat langit berwarna biru, tak lain itu disebabkan pantulan cahaya. Tapi tatkala senja bisa merah atau jingga dan hitam saat malam. Sebuah konfigurasi keindahan warna.
Awan, langit, gunung, laut, dan segenap panorama alam, adalah keindahan. Anugerah Tuhan untuk manusia.
Semasa saya kecil dulu, sering diceritakan guru di surau atau dari Umi (ibu) di rumah kepada  saya kisah Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW. Dari Masjidil Haram, Beliau singgah dulu di Masjidil Aqsa yang sekarang sedang ‘ketakutan’ dikepung Israel.
tatkala Nabi naik ke langit, pemandangan luar biasa diperlihatkan Tuhan. Tentang surga dan tentang neraka.
Di langit pertama atau langit dunia Nabi bertemu Nabi Adam. Di langit kedua, bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat.
Di langit ke lima, dijumpai Nabi Harun, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh.
Di langit ke tujuh itulah ada Baitul Ma’mur yang dikeliling 70.000 malaikat yang salat sepanjang waktu. Itulah Sidratul Muntaha. Dari sanalah dititahkan perintah salat kepada umat umat Muhammad. Semula 45 rakaat, tapi akhirnya hanya lima kali saja atau 17 rakaan, didiskon 28 rakaat, setelah dinasehati oleh para nabi yang dijumpai Nabi Muhammad saat beliau kembali turun. Para nabi itu, meminta Nabi kembali ke langit ke tujuh untuk memohon diskon kepada Tuhan. Luar biasa, tersisa lima kali saja sehari semalam.
Dan, beberapa hari lalu, dari sebuah siaran televisi, saya melihat puncak Masjidil Aqsa di Palestina. Sayup-sayup ada suara azan. Langit di negeri yang tak aman itu, dibalut kabut. Tak terbayangkan oleh saya, bagaimana orang-orang Palestina, terutama di Jalur Gaza, melewati hari-harinya.
Saya menatap awan mengalir lambat di langit Padang. Entah di titik mana saya sedang berada jika dilihat di titik tertinggi di atas langit.
Awan gemulai itu kemudian pecah, berserakan. Saya menuju kantor, untuk menjalani rutinitas. *

0 komentar :

Posting Komentar