On 1/31/2011 03:31:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Pekan lalu, Harian Singgalang memuat sebuah ‘berita kecil’. Isinya, seorang pria berusia 26 tahun, pekerjaan sopir dikadukan ke polisi karena dituduh melarikan anak gadis orang. Pengakuannya di pengadilan, ia tak pernah melarikan pacarnya. Tapi, pacarnya itu yang tak betah lagi tinggal di kota ini dan mengajak si lelaki pindah ke kota lain. Di kota lain itu, si lelaki berdagang ayam demi mendapatkan uang untuk nikah. Uang cukup, mereka pun menikah di KUA. Cinta pun mereka rajut, biduk mereka kayuh ke samudera luas. Tapi, kemudian ia dikadukan ke polisi dan perkaranya sampai ke pengadilan.
Kita memang tak pernah selesai-selesainya belajar tentang cinta anak manusia. Romeo dan Juliet di Kota Verona, telah meninggalkan kisah yang amat perih. Sebuah kisah cinta yang tak bisa dihambat oleh apapun jua. Keduanya akhir mati, karena dilarang menikah.
Titanic, sebuah film yang dibuat 1997 berdurasi 3 jam, sesungguhnya bukan cerita soal kapal pesiar yang karam, tapi tentang cinta dua anak manusia dengan status yang senjang. Si lelaki, gelandangan yang pelukis, diperankan Leonardo Dicaprio sangat memakau, sehingga membuat si jelita diperankan Claire Danes, meningalkan tunangannya yang kaya raya. Cinta di kapal Titanic ini, amat kuat meninggalkan pesan kepada kita, hampir semua orangtua memaksakan kehendaknya pada anak dalam urusan cinta.
Maunya kita, anak kesayangan itu, seperti Cinderella yang ketinggalan sepatu kacanya di tangga istana. Dapat menantu yang setaraf, kalau bisa lebih mantap dari keluarga kita, kalau dapat orang terpandang.
Orangtua mana yang tak ingin anaknya nyaman dan berbahagia. Kalau sudah bersuami, kemudian anak gadisnya sengsara, lebih baik tidak bersuami. Karena itu, banyak orangtua yang bersikeras agar kalau mau menikah, jangan sembarang pilih saja, sebab lelaki akalnya bulus.
Karena hal itu, ada yang over, berlebihan. Pokoknya tidak! Ada yang buhua sintak, yaitu kareh indaknyo, lambok iyanya, akhirnya ke KUA juga. Ada yang memilih, tak mau tahu, “kalau menikah-menikahlah den ndak ka datang,” tapi saatnya bercucu, ia pura-pura lupa sikap tegasnya dulu.

                        ***

Waktu kecil saya didongengi ada dua anak yang kelak akan jadi suami istri, sesuai janji Tuhan, maka oleh orangtuanya kemudian dipisahkan. Satu dikirim ke Timur, lainnya dikirim ke Barat. Ketika usia perkawinan tiba, nyatanya mereka bertemu juga, meski sudah puluhan tahun berpisah. Itu namanya jodoh. Orang Melayu menyebut, asam di gunung, garam di laut di belanga bertemu jua.
Pilihan hidup seseorang sesungguhnya hak seseorang, karena itu orang lain, tidak bisa melakukan intervensi. Jika akan ikut serta tentu sebatas nasehat dan gambaran-gambaran akan masa depan. Seorang anak gadis, jika keras benar hatinya pada seorang lelaki, mungkin si anak salah, tak tahu mana yang bagus dan mana yang buruk, hati kerasnya saja yang ia perturutkan. Itu perlu dinasehati. Namun, adakalanya ia benar, orangtua yang salah, tapi orangtua tak mau dinasehati. Maka demi mengharap masa depan anak lebih baik, maka hancur jadinya. Kita sering mendengar atau membaca berita, anak gadis bunuh diri karena cintanya dilarang orangtua.
Anak-anak Anda sekarang didik oleh televisi, pergaulannya tidak sempit, akses terhadap informasi terbuka luas dan pilihan-pilihan akan masa depannya banyak. Hal itu perlu dijadikan pertimbangan dalam mengatakan tidak pada seorang anak, apalagi soal pilihan cintanya.
Jangan-jangan, karena orangtua keras kepala, “berita kecil” bisa menjadi “berita besar”. Sulit memang, tapi mana ada yang tak sulit dalam hidup ini.l *

0 komentar :

Posting Komentar