On 1/31/2011 03:45:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Berita Vivanews yang dikutip Singgalang, pekan lalu:
Perusahaan Vivos, yang berbasis di Kota Del Mar (California), mengaku telah menyiapkan suatu kompleks ruang bawah tanah (bunker) khusus untuk menghadapi “Hari Kiamat.” Terletak di bawah gurun Mojave, bunker itu dirancang untuk membuat penghuni aman dari serangan nuklir dan bencana alam sekaligus membuat mereka tetap nyaman, seperti tinggal di rumah.
Itulah sebabnya kompleks bunker itu juga dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari atrium, tempat fitness, hingga penjara. Setiap bunker akan dilengkapi dengan televisi layar datar, dapur, hingga mesin cuci.
Robert Vicino, pemilik perusahaan Vivos, berencana membuat kompleks bunker yang terdiri dari 132 ruangan di lahan bawah tanah seluas 1.208 meter persegi. Dia mengaku mendapat ide berbisnis bunker setelah mendengar banyak warga kini kian khawatir atas gempa bumi, terorisme, dan “2012” - yaitu film yang mengadaptasi prediksi suku Maya bahwa 2012 bakal menjadi tahun kiamat.

                        ***

Betapa tenggennya orang Amerika. Masuk akal kalau menghindar dari bencana tsunami atau kebakaran, banjir, letusan gunung api dan tanah longsor, lalu menyuruk ke dalam bunker. Namun jika bencana gempa, saya kira makin lari ke dalam perut bumi, makin sengsaralah kita. Sedangkan di kulit bumi saja, sedang tegak, rebah kita dibuatnya, apalagi saat gempa kita berada di perut bumi. Tak sampai ilmu saya soal.
Kemudian jika terjadi kiamat, menyuruk ke dalam bunker, maka yang akan tewas duluan adalah mereka. Kiamat itu, bumi dan planet-planet lain terpelanting, karena terpelanting maka pecah-pecahlah si planet. Sebelumnya gunung apa beterbangan. Kalau gunung sudah, habislah perkara. Maka manusia yang menyuruk ke dalam bunker, tetap saja takkan selamat. Apalagi kiamat adalah kematian massal seluruh penghuni dunia. Jadi takkan ada yang hidup.
Jika sangkakala sudah ditiup, mau Amerika, mau Rusia, mau Saudi Arabia, apalagi Indonesia, tamat riwayatnya. Semua hancur lebur, berkeping-keping lalu menjadi debu.
Kapan? Terjadinya kiamat adalah hal yang gaib. Hanya Allah saja yang tahu. Tidak satu pun dari makhlukNya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat. “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.” (Luqman 34).
Namun, Nabi Muhammad telah menyatakan beberapa tanda-tanda, misalnya turunnya Dajjal, turunnya Nabi Isa AS., ke bumi. Saat ini Nabi Isa berada di langit keempat. Menurut cerita Nabi Isa akan turun di Iran atau Irak dari balik menara putih. Saya belum pernah berkunjung ke kedua negara itu, mungkin di sana memang ada menara putih. Nabi Isa kemudian membunuh Dajjal. Lalu, Beliau akan mengajak umat manusia menjalankan syariat Islam.
Meski bunker buatan Amerika takkan menpan untuk menangkis gempa dan kiamat, sebuah pelajaran dapat ditarik. Dunia memang semakin tua. Jangan dipikirkan pula sudah berapa usia dunia ini, habis rambut di kepala takkan bisa kita hitung. Pokoknya dunia sudah tua.
Memang, waktu berjalan tak terasa seperti nafas yang membuat kita tetap hidup. Kita sendiri, sepertinya tak berubah-ubah sejak dulu, teman juga demikian. Padahal, telah terjadi perubahan hari demi hari. Lihatlah foto-foto kenangan di album tua nan berdebu. Wajah kita dulu, wajah kemudian dan wajah hari ini, berubah tanpa kita sadari sama-sekali.
Anak-anak yang dulu masih digendong-gendong, kini sudah lebih tinggi dari ayah dan ibunya. Anak yang dulu merenggek-renggek, kini sudah beranak pula. Anak dari anaknya akan lahir setelah si kakek dan nenek meninggal. Mereka tak ada lagi ikatan batin dengan kita. Lalu dilupakan. Anak dari anak dari anak, sama-sekali tak tahu nama kita. Lenyap sudah sebuah sejarah besar badan diri, tapi sejarah kecil bagi orang lain.
Lalu kiamat adalah tapal batas dari semua sejarah perabadan manusia. Sampai di sini, bab ditutup. Lalu Tuhan membuka bab baru dalam kehidupan lain. Kita sering dibuai oleh keindahan hidup dalam bab baru itu: surga. Bidadari bersilewaran bak kupu-kupu. Hanyutlah kita di sungai susu, buah dipetik, buah tumbuh. Angan-angan kian panjang, umur kian singkat, dosa kian banyak. lalu mati, berpisah dengan apa saja yang disayangi.
Maka bacalah syair Kahlil Gibran ini:
Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.
Orang hanya akan berdoa untuk kekasihnya yang telah tiada. Doa, tulis Kahlil, adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan, meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.
Maka lupakanlah bunker hari kiamat itu. *

0 komentar :

Posting Komentar