On 1/31/2011 03:32:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Sekarang adalah musim calon legislatif (caleg) memajang fotonya di pinggir jalan. Puluhan ribu banyaknya. Semua memilihkan foto terbaiknya. Mana pula ada orang kalau mau memajang fotonya, tapi dipilih asal jadi. Pastilah foto yang mantap menurut dia. Bahwa menurut orang lain tidak mantap, itu tergantung mata.
Banyak orang yang muak, bahkan benci, kenapa para caleg memajang fotonya di pinggir jalan, di batang kayu, di tiang listrik, di atas jembatan dan sebagainya. Caleg tidak bisa mencegah orang bersikap demikian. Itu haknya. Sama dengan hak orang yang suka.
Jika diasumsikan banyak orang yang tak suka, sebab sudah terlalu banyak foto caleg. Tiap kelok, tiap tikungan, tiap mendaki, tiap menurun, di tempat ramai ataupun sepi, pasti ada foto caleg.
Pertanyaannya, kalau tak di pinggir jalan, lantas di mana lagi akan dipasang? Bukanlah jalan tempat orang berlalu-lalang? Karena jalan tempat lewat, maka dipasanglah di sana.
Jadi sudah sepantasnya caleg memasang foto-fotonya di tepi jalan. Harap dimaklumi. Ini adalah hari mereka. Perdiarkan sajalah.
Ini adalah hari-hari menjelang pesta, menjelang rakyat memilih para wakilnya. Calon-calon wakil itu diminta memperkenalkan dirinya kepada khalayak. Salah satu medianya dengan memajang foto di tepi jalan.
Ongkosnya sangat mahal. Dikira demokrasi itu jalan beraspal hotmix, tak tahunya banyak lobang dan tanjakan. Demokrasi melelahkan, bikin ribet, repot, muak, jengkel. Apalagi sekarang, banyak caleg yang merana karena ‘diperas’ oleh calon pemilih. Dijadikan ATM.
Betapa jahatnya kita. Tiap caleg datang diajukan proposal, diminta ini dan itu. Kita telah menjual suara, menjual demokrasi dan merusak janji-janji demokrasi itu sendiri. Jika kelak, rakyat tak diurus oleh para wakil rakyat, bisa jadi itu balasan untuk kita yang jahat pada mereka, tatkala mereka sedang berkampanye.
Tidak ada caleg yang berani bilang tidak, sekarang giginya lunak dari lidah. Caleg berpurar-pura, kita juga berpura-pura. Kenapa tidak dimulai segalanya dengan tulus. Tulus mendatangi rakyat, tulus membantu dan tulus untuk menerima bantuan apa adanya. Jangan memaksa.
Saya membayang-bayangkan seorang caleg yang pulang malam dan kelelahan. Disambut istri dan anak-anaknya. Yang saya bayangkan adalah caleg yang sederhana, tidak miskin, tidak kaya. Punya uang sedikit. Anaknya sudah kelas II SMA yang lainnya di SMP dan SD. Caleg punya utang cicilan rumah, cicilan motor atau mobil. Orangtua di kampung harus dikirimi tiap bulan, ada pula kemenakan yang perlu dibantu. Anak gadis adiknya yang sedang butuh biaya sekolah. Adiknya hidupnya susah, sebab suaminya pengangguran. Jikapun bekerja, mamak tentulah harus ikut memikirkan kemenakan.
Termenung si caleg memikirkan semua itu. Istrinya telah kelelahan, lebih lelah dari dirinya. Susu untuk anak sudah empat hari habis. Kulkas sudah kosong, sekarang isinya hanya cabe giling yang terbungkus plastik. Langganan koran sudah telat pula membayarnya.
Sudah puluhan juta uang habis untuk menunggu hujan di langit. Kalau nasib baik, maka nanti awak akan jadi anggota DPRD. Tapi kalau nasib buruk, uang habis, awak tak terpilih. Orang dilantik, awak gigit jari.
Untuk pekan ini, entah kemana akan digunja. Modal sudah tipis, setumpuk proposal masih tersisa. Batin terasa lelah, amat lelah. Berbeda dengan caleg berkantong tebal. Lenggoknya lamak, kawannya banyak, sering pula masuk koran. Tapi order padanya juga besar-besar. Ada yang meminta satu mushalla, satu kantor pemuda, satu jembatan, sekilo jalan untuk dikeraskan. Darimana yang akan dicari untuk itu.
Si caleg sederhana melirik pada istrinya. Mereka bertatap mata. Bahasa batinpun muncul. “Kasihan uda awak, kasihan anak-anak,” kata bathin istrinya. Pasangan ini tahu, uang nyaris habis dan hutang sudah tumbuh.
Tegakah kita memeras caleg seperti itu. Tidakkan Tuan berdosa meminta uang pada mereka?
Jika kita memang ingin berdemokrasi, marilah berdemokrasi dengan baik. Jika memang ingin jadi caleg, jangan mengubar janji. Jika memang ingin jadi wakil rakyat, tentu perlu uang. Mana ada yang gratis.
Tak baik, segala sesuatu yang dilakukan berlebihan. Mari kita menjalankan demokrasi secara sederhana, di garis tengah. Selamat berdemokrasi. *

0 komentar :

Posting Komentar