On 1/31/2011 03:36:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Seandainya saya jadi gubernur Sumbar, betapalah lagak saya. Misalnya saja dalam pilkada besok ini saya ikut dan menang mutlak. Tentu saya akan mengatakan, kemenangan itu, hadiah terindah dari rakyat. “Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami (maksudnya saya dan pasangan).”
Tentu saja tim sukses saya seperti mendapat bulan jatuh. Girang tak kepalang hatinya. Melonjak-lonjak surang saja dia. Lama-kelamaan, tim sukses mulai kecewa sebab saya tak mampu mengakomodir semua keinginan dan harapannya.
Rencana yang tadinya saya kira mudah untuk diimplementasikan, ternyata sulit. Pers yang tadi menjadi ‘sahabat’ kini mulai mendaram awak pula.
Tapi, topan badai pun yang terjadi, saya tetap menjadi gubernur selama lima tahun, meski harus menyogok oknum anggota dewan, agar ia tak menghantam saya dalam sidang.
Sebaliknya kalau saya kalah dalam pilkada besok ini, maka saya terpuruk raya. Hutang iklan di suratkabar takkan saya bayar, ke pengadilan pun saya mau.
Seharusnya saya tidak kalah, sebab dukungan yang saya dapat sangat banyak, pakai surat bermaterai segala, pakai kebulatan tekad. Sebelum pemilihan sepertinya semua memihak saya, rasa akan dipangkunya saya. Tapi, setelah pilkada usai, saya kalah telak.
Duit saya dimakannya, saya dipujinya, ketika memilih, orang lain yang dicucuknya. Padahal uang saya sudah habis, licin tandas. Kalau begitu, menghilanglah saya agak sebentar dulu. Nanti kalau hujan sudah teduh, kabut sudah hilang, saya mencogok lagi di keramaian. Malu saya.
Begitulah nasib saya. Politik ternyata tidak hitam-putih. Dulu waktu kecil saya sering berteka-teki dengan teman sebaya. “A dek ang kok iyo, sabaliak itam, sabaliak putiah?” (tahukah kamu, apakah gerangan yang sebelahnya hitam tapi sebelahnya lainnya putih?)
“Murah tunyo, roda kincia” kata teman saya (gampang, roda kincir penumpuk padi).
Teman kecil saya menjawab dengan tepat. Roda kincir padi itu, sebelahnya berwarna hitam karena sudah berlumut, tapi sebelah atasnya seperti berwarna putih. Putih karena ia berputar kencang bersama air yang memutarnya, jadi warnanya menjadi putih.
Hidup memang bagai roda, terus berputar, seperti roda kincir di lembah tempat saya tinggal, Pincuran Tujuah namanya.
Ada tiga kincir di sana, empat malah, tapi satu sudah rusak. Tiga kincir itulah yang mengajarkan filasafat hidup kepada saya sejak saya mulai tahu dengan keadaan sekitar. Makin banyak order, maka roda kincir akan semakin berputar, sebab semua alu akan terpakai. Tiap lesung ada dua alu yang turun naik.
Jika padi baru dimasukkan, maka kincir disetel kencang, tapi kalau sudah hampir selesai, maka laju kincir diperlambat. Caranya dengan memperkecil volume air masuk ke jalur khusus yang memutar roda kincir.
Jadi sesungguhnya, kencang atau lambatnya roda kincir berputar tergantung pada ketersediaan air. Air saja tidak cukup, saluran harus diatur, terutama saluran menukik menuju roda kincir. Kelandaian saluran air itu harus diatur pula sedemikian rupa. Kemudian di mulut saluran bagian atas, dibuat pengatur air sedemikian rupa, seperti pengatur irigasi.
Ketersediaan air tergantung pada air dari sarasah gunung. Kalau lagi banjir bandang, di hulu bandar air distop, karena akan membawa lumpur dan bebatuan dan akan merusak roda kincir.
Rasa-rasanya untuk ikut pilkada seperti kincir itu pula. Air (dana) harus cukup, mengatur pengunaan air harus pandai, kalau tidak, padi yang ditumbuk akan patah-patah. Beras patah jatuh harganya. Selain itu, jangan banyak ata (padi yang tak tergiling).
Walau air memadai, tapi hal itu belum cukup. Terpenting, kepiawaian menjaga ritme. Dari bunyi saja, pemilik kincir tahu, apakah ada masalah atau tidak. Ritme menjadi irama kehidupan.
Selain itu, padi yang akan diantarkan ke kincir penumbuk, harus yang sudah matang dijemur di panas matahari. Pilkada juga begitu, kalau belum dijemur, janganlah masuk ke gelanggang, hasilnya akan fatal.
Jemur-menjemur itu dalam pilkada mungkin sama dengan sosialisasi, kampanye. Jangan menjemur padi di tengah jalan, nanti dilanyau oto truk pembawa pasir. Jemurlah di halaman. Kalau terpaksa di jalan juga, jemurlah di pinggirnya, meski ada risiko, pasir dan krikil akan bercampur dengan jemuran.
Tapi sudahlah, kincir sekarang nyaris tidak ada lagi. Perannya digantikan oleh huller (eler). Prosesnya cepat dan hasilnya memuaskan, tapi upah gilingnya mahal.
Pilkada memang mahal. Makanya sumber dan pengunaan dana kampanye harus dilaporkan secara transparan.
Kincir di dekat rumah saya di kampung dulu, ada yang kebanjiran order, ada yang sepi order. Semua tergantung pilihan calon pelanggan. Minat orang dipengaruhi oleh brand, layanan, komitmen, janji dan hasil akhir.
Seandainya saya calon gubernur Sumbar, saya akan mengundurkan diri dari arena, karena saya tidak cocok jadi walikota. Kalau hati saya keras benar, saya takkan dipilih orang, karena air ke kincir saya volumenya kecil. Bagaimana saya bisa memutar sumbu, kalau air pemutarnya itu benar yang tak cukup. Saya paksakan juga, sakit kuning saya dibuatnya.
Tapi, jangan hiraukan gigauan saya ini. Ada adigium yang perlu dipegang; Berani mati takkan mati, tak kaya berani pakai, alam takambang jadi guru. Maju tak gentar saja, retak tangan Tuhan yang tahu.
Kalau kita yakin, akan menang, maka akan terbuka jalan. Keyakinan adalah sebagian dari kesuksesan. Analisa-analisa pakar, setengah pakar, orang sok mantan, sok tahu, lebih banyak menyesatkan. Dengarkan hati nuranimu!
Kalau tajilapak? Itu risiko, wajar ada kalah menang. Yang tak wajar, kalah telak!
Selamat berjuang, perbanyak doa. *

0 komentar :

Posting Komentar