On 1/31/2011 03:33:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Beberapa tahun belakangan saya dihadapkan pada kesulitan yang luar biasa tatkala ingin menulis cerita pendek (cerpen). Kata teman-teman, saya seorang cerpenis, meski karya saya di bawah rata-rata air. Tapi sekali-kali, saya juara nasional, he he he... Si cerpenis ini sudah punya dua antologi dan beberapa cerpen dimuat dalam banyak antologi bersama.
Kata beberapa orang, cerpen saya sangat Minangkabau, meski ada yang tak bersentuhan dengan Minangkabau sama-sekali. Bahasa saya, kata mereka, bertutur dan kalimatnya pendek-pendek. Malah ada yang bilang, bahasa saya, Melayu banget. Menurut kritikus, ada ketidaksesuaian nama dengan zaman terjadinya cerita dalam beberapa cerpen saya. Biarlah.
Entah iya, entah tidak semua itu, tak dipikirkan benar. Sama dengan menulis cerpen, saya tak pernah membuat kerangka. Tulisan itu mengalir saja sampai pada suatu titik, yang menurut saya, harus berakhir sampai di sana.
Yang penting, ada satu ide inti, entah itu datangnya dari bacaan, ciloteh teman atau dari amatan. Jika ide itu sudah ada, tak bisa dihambat lagi, jemari saya bergerak cepat di atas papan huruf komputer.
Tapi dalam beberapa tahun ini, ide benar-benar tak ada yang bagus. Karena itu, tak ada lagi cerpen yang bisa dibuat. Ada sih cerpen yang selesai, tapi rasa-rasanya tak berbobot, akhirnya dibiarkan begitu saja.
Bisa jadi seperti pelawak, semua lawakan sudah habis dari pentas ke pentas, akhirnya lawakan jadi hambar. Jika memang begitu, tamatlah riwayat saya sebagai cerpenis.
Tapi, rasanya tidak, sebab pengalaman menunjukkan, ide itu muncul amat tiba-tiba. Mudah-mudahan setelah ini, ada ide bagus. Bagi saya, tak peduli, orang tertarik dengan cerpen saya atau tidak. Namun, setiap cerpen dengan ide kuat, selalu membuat saya percaya diri.
Karena itu, saya menaruh hormat pada sastrawan dari Sumatra Barat yang kaya ide. Saya menyukai cerpen teman-teman dan para senior dari Sumatra Barat. Saya bangga, melihat nama penulis cerpen itu dan keterangan di akhir cerpen, dimana penulis berdomisili. Kalau ada cerpen dari cerpenis daerah ini muncul di koran Jakarta, pasti saya baca. Harian Kompas yang dianggap “ujian akhir” para cerpenis, sering memuat cerpen cerpenis dari Sumbar. Bergetar saya membacanya. Apalagi jika ada novel yang ditulis oleh anak Minang, pasti saya beli.
Saya sadar, dalam blantika sastrawan/cerpenis, saya berada di papan kedua dan saya menikmati posisi itu. Kalau dalam dunia pernovelan, di papan bawah. Telah saya coba-coba juga menulis novel, tapi tak bisa-bisa. Mungkin karena saya tak membuat acuannya. Setiap menulis novel, yang selesai hanya cerpen. Nasib!
Kembali ke persoalan kehabisan ide tadi, saya punya lantunan lain. Karena berprofesi wartawan, maka yang paling saya diminati adalah mengedit feature para wartawan, sekaligus membuatnya. Hitung-hitung untuk menyegarkan isi kepala. Hal lain, jika feature itu menyangkut kemanusiaan, saya langsung terharu, bahkan diam-diam meneteskan air mata di depan komputer. Tak tahu kenapa bisa begitu.
Jadi, jika Anda punya ide, segeralah tuliskan, sebelum hilang ditelan kesibukan. *

0 komentar :

Posting Komentar