On 1/31/2011 03:34:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Cinta dan persahabatan jika dipersatukan dengan budi, suatu ketika ia akan terasa seperti hutan belantara. (film India)  Cinta adalah benang kusut dan kita terjebak di dalamnya. Cinta adalah sutra halus dan kita asyik menggenggamnya. Cinta adalah mata, lalu kita tenggelam di dasarnya. Cinta adalah telaga dan semua orang ingin beredam di sana. Cinta tetesan embun di kaki gunung, sejuknya diakui semua orang. Cinta juga angin limbubu, banyak orang hilang disapunya. Cinta adalah manajemen. Menurut defenisinya sebagaimana bisa kita baca di wikipedia yang lebih pintar dari guru itu, cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.  Cinta, mulai dari cinta pada Tuhan sampai pada diri sendiri. Banyak sekali. Gila bersolek saja sepanjang hari, namanya lelaki pesolek, atau cewek mantiak. Tak suka mengurus diri sendiri, tapi cintanya pada nusa dan bangsa saja, ada juga, namanya patritisme dan nasionalisme. Cinta romantis namanya asmara. Cinta buta namanya monyet, alias cinta monyet. Cinta adalah roda besar. Ada rodanya yang kempes ada yang padat sesuai ukuran. Semua roda menggelinding di jalan raya kehidupan. Ketika itulah muncul suka duka, sakit hati, dengki, tak percaya, muak bahkan rindu dendam. Di jalan raya kehidupan itulah orang lupa aturan. Ingat Tuhan, tapi tak setia pada Tuhan.  Cinta asmara, amboi mak. Masa remajamu itu. Maka ada teman yang ingin kembali ke masa SMA dulu. Ia waras. Yang tak waras adalah tak ingat kenangan manis masa lalu.  Waktu sekolah guru di SPG Padang Panjang awal 1980-an lalu, saya belajar soal cinta, psikologi, perkembangan jiwa anak, termasuk belajar soal masa-masa sebelum kelahiran. Waktu kuliah saya mengambil bidang studi pilihan tidak wajib, Ilmu Budaya Dasar. Enak juga belajar hal-hal semacam itu.  Hari ini, saya menyaksikan dunia semakin berkembang, jauh meninggalkan zaman di mana saya remaja dulu. Saya bukan anak zaman untuk zaman sekarang. Zaman hari ini memiliki anak yang lain.  Pergeseran itu sangat alamiah, tanpa terasa. Cuaca saja sudah berobah, apalagi tabiat manusia.  Cuaca hari ini suka mengambok berkepanjangan saja, kadang mengamuk. Tak ada lagi acuan ‘ber ber’ untuk hujan. Jika mau hujan, maka hujanlah dia, meskipun saat itu sedang panas terik. Angin limbubu sering datang, puting beliung dan lainnya.  Hidup juga begitu, tidak linier saja. Hidup yang linier, terasa hambar. Hidup yang legit, di sana-sini ditemukan tantangan dan Tuhan membukakan jalan untuk kita melewatinya.  Hidup tanpa pernah berhutang pada orang lain, membuat kita kesepian. Berhutang saja tiap hari, itu namanya keterlaluan. Ada saat kita meminjam, ada waktu kita meminjamkan.  Cinta adalah utang piutang.  Cinta akan rusak jika dipersatukan dengan budi. Dalam sebuah film  India yang saya tonton tahun 1980-an, terjadi sebuah dialog, kira-kira begini: Cinta dan persahabatan jika dipersatukan dengan budi, suatu ketika ia akan terasa seperti hutan belantara. Itu sebabnya urang awak menyebut ada ‘hutang budi’. Menurut orang, ‘hutang budi’ pada saatnya terasa menyiksa, tatkala orang datang menangihnya. Tapi, sesungguhnya di sanalah letak nikmatnya hidup. Hidup tanpa bersenggolan dengan persoalan orang lain, adalah hidup yang kesepian. Agar tak sepi maka genggamlah cinta. Cinta mulai dari Tuhan sampai cinta sesama.  Menurut Hadis Nabi Besar Muhammad SAW, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu). Kata Nabi lagi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa ‘abduhu). Ciri dari cinta sejati kata Beliau ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.  Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara denganNya, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I’tikaf, dan lebih suka mengikuti perintahNya daripada perintah yang lain. Pesan Nabi itu, juga saya kutip dari internet. Kita tak perlu hafal, yang penting mengerti. Kalau hafal, itu namanya modeta eja. Kelemahan metoda eja adalah, ketika guru bilang, “Ini Ibu Bu....”, anak akan menyambung “ di...”, padahal kali ini, bukan “Budi”, tapi “ Busmar”.  “Ibu per ke pa...” lantas diulas dengan cepat, “sar”, padahal bukan pasar, melainkan “Padang”. Kita terjebak dengan seharusnya begitu dan begini, padahal, kali ini bukan begitu dan begini. Ada penyimpangan-penyimpangan dalam hidup. Penyimpangan besar yang disekapati bersama, namanya penyimpangan pola umum. Tonggak tuo Eropa bergeser karena penyimpangan seperti itu. Kalau tak salah, Buya Syafii Maarif mengajak kita untuk melakukan penyimpangan pola umum.  Teserahlah. Genggemlah cintamu. Kisai benarlah*

0 komentar :

Posting Komentar