On 1/31/2011 03:30:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
"Lagi di mana, ngapaian, sama siapa?” Dua gadis mengajukan pertanyaan yang sama pada pacarnya.
Mesin yang sudah disetel pun menjawab
“Di rumah, tidur, sendiri.”
Tapi “musibah” muncul ketika gadis ketiga yang menelepon. Pertanyaannya, “Kamu kangen ga sama aku?”
Jawabannya, karena mesin yang menjawab tetap saja, “ di rumah, tidur, sendiri.”
Tentu saja jawabannya tidak nyambung. Ketika itu “musibah” muncul. Kalang kabut si lelaki remaja menyetel mesin menjawabnya, tapi apal boleh buat, terlambat sudah. Tak lama kemudian gadis ketika yang tadi menelepon datang ke rumahnya. Ia disambut ucapan yang sama, dan ternyata itu suara beo.
Inilah iklan yang cukup berbicara hari-hari ini. Cukup menggelitik. Tapi pelajaran yang bisa dipetik adalah, janganlah berselingkuh juga, buruk akibatnya. Beo pun akan membuka rahasia kita.
Begitulah iklan berusaha berbicara dengan calon konsumennya. Harus menarik, menggelitik dan kemudian orang akan hafal produk yang diiklankan.
Itu baru soal iklan dan ‘selingkuh’ dalam dunia remaja. Belum lagi selingkuh di dunia orang dewasa. Tersembunyi tapi dahsyat.
Ada yang punya prinsip, dari pada berselingkuh lebih baik menikah saja. Tentu pendapat ini amat maskulin, melukai hati perempuan dan tidak baik.
Terlepas dari semua ini, seorang guru bernama Mohammed Bello Abubakar, yang berusia 84 tahun di Nigeria sana, punya cerita lain.  Ia punya  bini 86 orang dan anaknya 170 orang.
Ia terancam hukuman mati, kecuali ia mau hanya beristri empat orang saja, yang 82 lainnya dicerai. Tapi, Bello tidak mau. Pekan lalu, Dewan Agung Islam Urusan Islam Nigeria terus mendesak agar Bello hanya beristri empat.
Teman saya berseloroh, kalau 86 istrinya bagaimana cara ia membagi hari, sebab sebulan hanya 30 hari. Bagaimana ia menghafal nama anaknya yang 170 orang. Apakah mereka tinggal terpencar atau mengumpul jadi satu RT?
Wah pusing kita memikirkannya. Karena itu jangan dipikirkan, biarkanlah Bello senewen sendiri. Kita jangan senewen pula. Kalau nafsu diperturutkan, laut pun akan kita timbun, gunung kita datarkan.
Pagar kehidupan kita adalah akal sehat, moral, etika. Pagar rumah kita adalah pagar rumah orang. Tenggang rasa, jangan memperturutkan kehendak hati saja.
“Di rumah, tidur, sendiri” Sering kita berdusta. Sedang di kantor dibilang di jalan, sedang sendiri dibilang rapat, sedang ketawa-ketiwi dibilang di rumah sakit. Macam-macam saja kurenah kita.
Ini bulan puasa, disebut bulan penuh ampunan. Tirulah pola hidup orang beriman, benar-benar bahagia mereka bulan Ramadan ini. Jangan pura-pura bahagia dan pura-pura berpuasa. Tiga hari pertama puasanya minta ampun khusu’nya. Hari berikut ia mulai makan siang. Tapi waktu berbuka, letoinya bukan main, lebih pula dari orang yang berpuasa.
“Dima Da, manga tu?”
“Di kantua, rapek”
Padahal ia sedang makan siang di kawasan Pondok, Padang.
Tapi apakah Bello si Nigeria pernah ditanya istri-istrinya?
“Lagi di mana?” kalau 86 orang istri bertanya hal itu tiap hari, Bello bisa mengatasinya. Tapi kalau Anda, bisa gila. *

0 komentar :

Posting Komentar