On 1/31/2011 03:34:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Perguruan Diniyyah Putri, mungkin bagian tercantik dari sejarah perguruan Islam di Minangkabau. Ketika wanita Minangkabau masih tabu bersekolah, Rahmah El Yunisiyyah pada 1 November 1923 di Padang Panjang mendirikan perguruan ini. Muridnya gadis-gadis perawan Minangkabau.
Lama kemudian, Diniyyah menjadi ikon penting bagi Padang Panjang, bersisian dengan Thawalib dan Kauman. Tapi, karena ini perguruan untuk wanita pertama di Indonesia, semerbaknya menyebar ke mana-mana.
Bagi orang luar Padang Panjang, di masanya dulu, Diniyyah seperti sebuah pintu tempat keluarnya anak-anak yang saleh, meski dari perguruan lain juga banyak muncul anak perempuan yang saleh. Tapi spesialisasinya pada perempuan, membuat perguruan ini selalu menjadi pembicaraan.
Pada 1 November 2008 besok, Diniyyah genap berusia 85 tahun. Jika ditarik lagi ke belakang, saat Diniyyah School yang didirikan 10 Oktober 1915 oleh Zainuddin Labay El Yunusy, kakak Rahmah, maka riwayat Diniyyah semakin panjang.
Rahmah adalah anak Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Berkat didikan dan lingkungannya ia menjadi wanita yang cerdas. Tak lama kemudian ia justru ikut memberi warna kontras dalam konfigurasi pergulatan pemikiran dan perkembangan pendidikan Islam di Minangkabau.
Berpuluh-puluh tahun lamanya Diniyyah menjadi perguruan yang hebat. Namun kemudian sedikit tenggelam, karena banyaknya muncul pesantren moderen. Kemorosotan dialami hampir oleh semua sekolah agama, karena kecenderungan orangtua menyekolahkan anaknya ke sekolah umum. Sekolah umum, lebih menjanjikan, dibanding sekolah agama. Meski begitu, Diniyyah tidak surut, tapi stagnan.
Tapi dalam dekade ini, Diniyyah kembali bangkit dan semakin mantap dalam beberapa tahun belakangan, karena Diniyyah sudah bisa membaca ‘situasi di luar dirinya’. Marketingnya mulai bagus dan dampaknya dengan lekas bisa terasa.

Sejarah penting

Pata perkembangan pendidikan Islam di Minangkabau takkan bisa dilepaskan dari peranan beberapa ulama. Salah satu basis ulama itu adalah Padang Panjang. Di awal-awal abad 20, Minangkabau diwarnai oleh pergolakan sosial dan percaturan pemikiran dan perdebatan yang hangat. Ini, sebagai lanjutan dari perdebatan panjang antar ulama sejak zaman Paderi.
Minangkabau dikenal sebagai salah satu daerah yang melakukan modernisasi pendidikan Islam di Indonesia. Di sini terbit berbagai suratkabar, majalah, muncul berbagai kumpulan diiringi pedebatan dan pertemuan-pertemuan para ulama membahas hal-hal penting yang sedang terjadi.
Itu semua didomonasi laki-laki, oleh para buya, syekh dan ulama besar. Wanita tidak bicara di sana. Baru belakangan yaitu pada awal-awal abad ke 20 muncul tokoh wanita dengan basis pemikiran masing-masing. Ada Rohana Kudus, Rahmah El Yunisiyyah, Rasuna Said, Sa’adah Alim dan lainnya.
Jika saja kita sempat membaca Majalah Prisma edisi istimewa yang terbit nomor 8 tahun 1977, maka kita akan bangga sebagai orang Minang, paling tidak untuk sesaat.
Edisi istimewa itu tampil dengan judul menarik, “Manusia dalam kemelut Sejarah”. Di situ dibahas tokoh-tokoh; Soekarno, Soedirman, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Kahar Muzakar, Amir Sjarifuddin dan Rahmah El Yunisiyyah. Hitung saja sendiri berapa orang Minangnya.
Tentang Rahmah ditulis oleh Aminuddin Rasyad, judul kupasannya, Rahmah El Yunisiyyah: Kartini Perguruan Islam. Tulisan ini sangat menarik, meski ditulis secara terbatas.
Diniyyah, sekolahnya yang berada di Jembatan Besi Padang Panjang itu, pada awalnya tentu tidak seperti sekarang. Jika saja ia masih hidup saat ini, mungkin Rahmah akan bingung seharian melihat perkembangan sekolah yang dirintisnya itu.
Betapa saat ini kompetisi dunia pendidikan semakin ketat, betapa orang berlomba mengejar kemajuan dan nyaris lupa dengan pendidikan agama anak-anaknya. Namun dalam kelupaan itu, masih banyak yang peduli.
Masalahnya hari ini, Diniyyah Putri sedang memikul beban sejarah. Memikul beban sejarah nyaris sama beratnya dengan meretas masa depan. Eksistensi sekolah ini ditentukan oleh bagaimana ia membaca sejarah dirinya sendiri dan menata masa depannya. *

0 komentar :

Posting Komentar