On 1/31/2011 03:49:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Entah Luna Maya, entah Cut Tari, Entah Ariel Piterpan. Mereka orang-orang dari dunia lain yang mengepung kebodohan kita sebagai anak bangsa. Kita memang bodoh, kita bangsa yang luka dan bernanah di bawah atap yang tiris.
Lagu kering bertiup sunyi melewati jendela rumah rakyat, rumah yang pintu-pintunya berderit kalau dibuka juga ditutup. Bangsa yang lelah oleh perangainya sendiri. Lalu tiba-tiba muncul video porno dengan adegan-adegan di atas ranjang. Adegan itu meluas melalui dunia maya. Begitulah entah Luna Maya, Entah Cut Tari diganyang habis oleh seorang lelaki perkara. Entah Ariel penyanyi yang dielulukan itu.
Moral bangsa yang sudah tua ini, remuk, shock. lalu si moral menyurukkan mukanya. Ia takut, ia gemetar, ia kehilangan pelindung. Ia ditinggal oleh anak-anaknya sendiri.
“Ketika bisa dibuktikan secara nyata, itu harus diberi sanksi,”  kata Wapres Boediono.
Ia juga meminta media untuk tidak menyebarkan adegan vulgar dalam video porno itu. Media justru diminta pemerintah untuk memunculkan kesadaran publik agar video mesum itu dianggap sampah dan tidak perlu ditonton.
“Sudah tahu sampah. Tapi susahnya hobi kita memang mencari sampah,” tambah Menteri Pendidikan Menteri Nuh setengah mengeluh. Tapi, pejabat kita bilang sampah, di sisi lain ada yang membela. Malah kini muncul para pembela si adegan porno. “Itu kan hak asasi, urusan merekalah itu,” pendekar itu berteriak-teriak dan difasilitasi oleh televisi yang menghisap cadangan moral dari setiap rumah tangga. Televisi yang sama menyemprotkan ke rumah yang sama, candu kebebasan, candu hedonis, candu mengumbar aurat.
Akan ada dialog di televisi dengan poresenter berotak dangkal mencemooh moral bangsa. “Kenapa kita harus ribut, tangkap saja penyebar video porno itu,” kata mereka dalam perdebatan. Lalu, perdebatan menjurus pada, “Kenapa korupsi dibiarkan, kenapa soal zina dihebohkan,” kata yang lain. Lalu, ada seseorang yang berusaha mencari perimbangan.
“Kenapa zina dibela, kenapa poligami dikeroyok,” katanya. Maka sekejap kemudian, ia dicibirkan oleh pembela kebabasan, dibumbui oleh presenter.
“Ya iyalah, poligami merampas suami orang”
“Kalau zina?”
“Hak asasi”
Saat itu malaikat terus mencatat. Kali ini, karena semua sudah mahir dan berilmu, tak ada petunjuk lagi. Semua sudah lengkap dalam kitab suci. Tapi, di televisi kitab suci tidak laku.
Maka kemudian dalam acara interaktif itu dibuka dialog lewat sambungan telepon. Semua membela para artis yang diduga melakukan adegan syur.
“Itukan fitnah untuk menghancurkan karir seseorang, keasilan gambar dalam video belum diuji,” kata seseorang di balik gagang telepon.
Seorang gadis berjilbab, yang kuliah di sebuah universitas ingin sekali berbicara dalam acara itu. Sudah ia pencet-pencer teleponnya, tapi tetap saja tidak nyambung. Ia kesal sekali, sebab orang-orang di televisi itu justru membela adegan umbar aurat dan bersetubuh yang disiarkan di dunia maya. Si gadis tidak bisa terima.
Si gadis menangis sendiri menahan geramnya. Ia mengadu kepada emaknya.
“Itu tanda-tanda dunia akan kiamat,” kata Emaknya.
Sebulan kemudian, orang mulai lupa adegan porno itu. Para artis dari dunia lain itu, kembali mengepung rakyat Indonesia dengan pergaulannya. Lalu, ibu-ibu rumah tangga sambil mengepit bantal dan mengemil, duduk khusuk di depan televisi menonton sinetron. Tak beranjak. Lalu disambung dengan acara gosip-gisipan. Artis ini pacaran dengan si anu, si Belek bercerai dengan si Kuntum. Si Dongkrak dekat dengan Obeng. Si Tungkai kepergok sedang beduaan di Bali. Sedang Si Tumbuang dan Si Anyuik telah berdua-duaan di Singapura.
“Kapan nikah?”
“Ah gue blom mikir, ayah gue bule banget, jadi gue ga kayak orang Indonesia, nikah belum kepikiran tuh,” kata si artis.
Saya setuju, malah berharap, pelaku adengan ranjang itu dihukum, karena mereka sok mantap, sok hebat, sepertinya, dia saja yang benar. Kasus ini dijadikan titik tumpu untuk menyikat habis perangai para oknum-oknum artis yang menjengkelkan khalayak.
Kata Walikota Makassar, H Ilham Arief Sirajuddin, artis yang dapat merusak moral dan mental generasi muda seharusnya dikenai sanksi sosial oleh masyarakat, salah satunya dengan memboikot aktivitas mereka dengan tidak memberikan izin pementasan.
Setuju benar saya!*

0 komentar :

Posting Komentar