On 1/31/2011 03:35:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Sebuah iklan rokok yang dipasang di sejumlah simpang jalan di Padang dan di suratkabar berbunyi begini: “Habis gelap gak pernah terang () pengen terang () enak remang “  Menurut hemat saya, iklan ini diinspirasi oleh seringnya listrik pudur. Saking seringnya pelanggan tak pandai lagi mengemukakan keluhannya. Mati terus. Kondisi itu, ditangkap oleh perusahaan rokok dan muncullah iklan di atas. Iklan tersebut, cepat nyambungnya, karena dipetik dari pengalaman keseharian warga. Apalagi, kalimatnya membawa kita pada sebuah judul buku tentang Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang,” tapi yang ini terbalik. Apalagi di iklan itu diselipkan unsur nyelenehnya, terutama soal “enak remang” Memang untuk beberapa hal lebih enak remang ketimbang terang-benderang. Iyakan?! Suluk misalnya, enak remang daripada terang. Mengintip orang maling, enak remang. Di atas mobil kalau malam enak remang daripada terang, sebab kalau terang mata akan perih. Bagi otaknya yang bakasiak, enak remang daripada terang, bisa panjang terjemahannya. Majalah National Geographic Indonesia, edisi terakhir menurunkan laporan soal polusi cahaya. Saya belum sempat membacanya dengan tuntas, namun kira-kira intinya, saat ini ilmuwan dunia cemas akan polusi cahaya, sesuatu yang sepertinya mustahil. Bagaimana jika kehidupan kita tanpa ada gelap. Malam tetap berang-benderang? Kita, sebagai makhluk siang, mempergunakan teknologi untuk menjadikan malam terang-benderang. Hal ini, ternyata berdampak buruk bagi makhluk malam. Saat kita masih belum mengerti benar dengan pemanasan global, orang mulai bicara polusi cahaya. Saat kita baru mulai membaca prihal pemanasan global, hujan di kampung kita sudah tak berketentuan. Lebatnya bukan main. Mendadak, lalu berhenti. Di sebuah nagari, sebelah hujan, sebelahnya tidak. Hal-hal yang dulu tak pernah terjadi. Dan orang sudah pindah pada persoalan lain, tentang gelap. Saya juga menjadi berpikir sendiri, bagaimana lagi jika malam-malam kita tak lagi memerlukan bulan dan bintang, karena cahaya buatan manusia. Tak perlu lagi bulan purnama, maka satu sisi romantisme kehidupan manusia akan lenyap. Jika Anda orang kampung dan sekarang sudah dewasa, ingatlah kembali kenangan indah saat malam nan gelap di desa dulu. Banyak hal terjadi dan sekarang terasa indah. Entah berapa ribu lagu tercipta karena malam dan gelap serta bulan purnama. Didendangkan orang siang dan malam di seluruh penjuru dunia. Karena itu, jika sekarang lampu listrik mati, sebaiknya nikmati saja, itu karunia Tuhan pada kita, betapa gelap menjadi indah, kalau dinikmati. Betapa gelap gulita menjadi sangat berarti karena ada terang-benderang. Tuhan pasti punya maksud menciptakan malam dan gelap. Tapi, kalau listrik mati berketerusan atau teramat sering, tak benar pula. Keterlaluan namanya.  Dan, sekitar 20 tahun silam, saya pernah menonton film India. Dalam film itu seorang lelaki pemain gitar disekap di sebuah ruangan tanpa cahaya selama berbulan-bulan. Ia akhirnya menjadi buta. Ketika dilepaskan dari ruangan itu, ia bisa beradaptasi dengan alam, meski ia buta. Ia ternyata sudah terbiasa dengan gelap. Kita kalau dipaksa hidup dalam gelap, dalam kesengsaraan, tetap saja bisa, karena ada naluri untuk hidup yang diberikan Tuhan. “Habis gelap gak pernah terang () pengen terang () enak remang “ Enak remang, ya ngak?! he he... *

0 komentar :

Posting Komentar