On 1/31/2011 03:36:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Saya punya impian: Gubernur Sumbar 2010-2015, siapapun dia, harus bisa membuat jalan yang menghindari Lembah Anai. Mungkin tol atau by pass, terserahlah. Jangan jauh-jauh benar memutar, cukup dari Kayu Tanam sampai ke Padang Panjang, terserah bagaimana caranya.
Kalau proyek ini bisa dijanjikan menjelang pemungutan suara, saya kira si calon akan menang.
Kalau memang bisa, gubernur ini akan dikenang oleh rakyat Sumbar selama-lamanya. Kalau tak bisa, ya sudahlah, impian saya itu, akan saya kubur saja. Namanya juga impian.
Impian lain: Tiap bulan, tiba-tiba saja si gubernur mencogok saja di sebuah nagari atau jorong. Duduk di lapau, berbicara dengan rakyat, sambil minum kopi. Rakyat senang, gubernur dapat masukkan berharga. Bersama gubernur, tentu ada wartawan yang ikut. Si wartawanlah yang kemudian menuliskan kisah perjalanan gubernur tadi, tanpa harus angkek talua.
Kalau memang bisa, maka gubernur ini akan dikenang rakyat. Kalau tak bisa, sering-sering sajalah ke Jakarta.
Impian selanjutnya: Tiap sebentar gubernur Sumbar dicari wartawan pusat, atau ditelepon untuk diwawancarai, ditanya pendapatnya. Tiap sebentar pula foto Pak Gubernur kita ini muncul di koran pusat. Sering pula jadi nara sumber berbagai seminar.
Tak bisa? Ya sudahlah, apa boleh buat.
Impian berikut: Gubernur menulis buku. Tak bisa? Upahkan.
Impian berikutnya lagi: Gubernur Sumbar jadi menteri. Tak bisa? Yang ini tak bisa diupahkan. Kalau memang tak bisa, tak apa jugalah. Baa juo lai, saba lu
Impian terakhir: Setelah ia jadi menteri, maka Sumbar maju pendidikannya, bagus layanan kesehatannya, rancak jalannya. Aman, nyaman. Dan, banyak muncul calon berbobot sebagai penggantinya.
Impian-impian saya ini, bisa jadi meleset dari impian semua orang, bisa juga ada yang sama. Kalau sama syukurlah, kalau tidak, biarkan saja. Tiap kita punya otoritas sendiri-sendiri, mau mengimpikan apa atau tidak sama-sekali.
Ini baru sekadar impian, sebab pilkada saja belum dilaksanakan. Maka impian awal saya adalah, pilkada cukup satu putaran, biar bisa menghemat anggaran. Lalu, siapa yang kalah jangan heboh, pakai demo-demo segala. Inyak etan, arak massa ke sana, arak ke sini. Jumpa pers di sana, jumpa pers di sini. Protes sana, lapor sini. Saya sarankan jangan main gugat-menggugat pula ke pengadilan. Kalau sudah kalah, ya sudah, digugat benar, takkan menang juga.
Yang menang? Ya menang, tunggu hari pelantikan. HP jangan dimati-matikan pula. Perlahan-lahan lunasi janji sama tim sukses, he he he.
Selamat berpilkada yang oleh KPU namanya diganti pula dengan pemilukada. Oh ya Pak KPU, sudahlah, jangan diganti-ganti juga namanya. Kebiasaan di Indonesia memang suka mengganti-ganti nama. ONH diganti, SMA diganti, P dan K diganti, PU diganti, Depag diganti, Sipanmaru diganti, gantinya diganti lagi. Gubernur diganti, ha ha ha. *

0 komentar :

Posting Komentar