On 1/31/2011 03:40:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Hati yang gembira adalah obat. Orang yang sambok dan bermuka masam saja, cenderung cepat tua, meski ia belum tua. Banyak yang percaya, emosi tak boleh ditahan, karena berdampak buruk pada kesehatan. Emosi bisa marah, bisa gembira, bisa pula sedih. Menangis, mararau, gelak terbahak-bahak. Cinta, benci, bangga, terkejut dan takut.
Bahasa akademisnya, yang saya cilok dari internet menyebutkan, emosi merupakan istilah yang digunakan untuk keadaan mental dan fisikologis yang berhubungan dengan beragam perasaan, pikiran, dan perilaku. Emosi, pengalaman yang bersifat subjektif, atau dialami berdasarkan sudut pandang individu.
Seorang teman yang sudah lama menyimpan rahasia berbicara kepada saya, “Ini rahasia”. Lalu, ia berbicara dengan hati yang galau. kadang ia tersenyum amat manis, lantas lindok dan matanya sabak. Hatinya terguncang.
Ah, ini sebuah cinta yang tersumbat rupanya.
Hati yang bahagia adalah hati yang suka memberi. Adalah hati yang sabar. Seseorang yang sabar, melebihi seorang pahlawan yang baru saja merebut kota.
Hati yang gembira adalah obat. Hati yang tegar akan memompa semangat, seperti semangat seekor ular yang melintasi padang pasir.
Bukankah hati kadang memaksa kita untuk takluk. Tersungkur-sungkur kita memohon sesuatu karena keiginan hati. Katanya lautan akan diberi jembatan, karena hati.
Yang baik adalah hati nan jernih, sejernih kolam kecil di kaki gunung. Sejuk, sesejuk embun pagi yang menetes di ujung daun-daun ilalang.
Hati yang jernih adalah hati yang sunyi dari dengki. Sesunyi
hamparan sawah nan luas di lembah yang di kelilingi bukit.
Hati yang baik adalah hati yang lapang, selapang savana, padang rumput alami nan datar, tempat kuda bersukacita.
Tapi, dalam keseharian kita menemukan banyak corak ragam hati manusia. Busuk, dengki, iri, jahat, baik, agak baik, sangat baik, dan entah apalagi. Itulah kehidupan, satu sama lainnya saling menopang.
Kita bisa sakit kepala dibuatnya, kita di seluruh dunia hanya diisi orang dengan hati yang baik saja. Tidak ada orang jahatnya. Kita juga bisa mati berdiri, jika isi dunia ini hanya orang jahat saja, termasuk kita.
Karena itulah perlu ketidakseragaman.
Tidak seragam, ada yang pintar menyanyi, ada yang suka mendengar orang bernyanyi saja. Ada yang pintar berpidato tapi tak bisa menulis. Ada yang pintar penulis, tapi tak pandai berpidato. Ada yang suka jurusan IPA, ada yang senang jurusan IPS.
Satu sama lain adalah sama. Bagi guru, anak IPA cenderung dianggap lebih pintar, padahal bakat seseorang berbeda-beda.
Ketidakseragaman hati manusia, ketidakseragaman bakat, cita-cita, kemauan dan kemampuan adalah sebuah anugerah tak terkira dari Tuhan. Sama dengan lupa. Jika kita tak bisa lupa, mungkin kepala kita bisa pecah karena setiap saat teringat hal-hal kecil yang terjadi berpuluh tahun silam.
Pekerjaan yang menumpuk, uang yang tak cukup, atau apalah, semua masalah. Karena itu tenangkan hatimu.
Gembiralah. Hati yang gembira adalah obat. Jangan risau, apa yang dikejar semakin dekat dan mungkin akan dapat, sebab kata seorang penulis buku motivasi, angka delapan dan sembilan dekat-dekat ke angka 10. *

0 komentar :

Posting Komentar