On 1/31/2011 03:39:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Saya kehabisan ide untuk rubrik ini. Bolak-balik, tak bertemu juga. Akhirnya saya tulis apa yang enak saja.
Berikut ini hasilnya:
Kenapa ketika menulis surat cinta sulitnya minta ampun? Jangan tanya hal itu pada anak muda sekarang, sebab mereka pakai SMS saja. Menulis isi hati pada pacar di atas kertas berbunga, bukanlah pekerjaan gampang. Seperti mengungkit batu besar, payahnya bukan main. Tiap ditulis, tiap salah. Tiap diulang, seperti tak elok bahasanya. Selalu saja ada yang kurang dan si dia, nanti tidak berkenan. Takut.
Kenapa hal itu bisa terjadi? Pertama waktu menulis kita tidak percaya diri. Untuk menulis, percaya sajalah, jangan takut. Tulisan kita itu, pertama kali yang membaca adalah kita sendiri, bukan orang lain. Kalau memang tidak bagus, diperbaiki saja. Masih buruk, buang. Selama ini yang terjdi, baru saja mulai menulis, kita sudah mencemoohkannya. Takut, padahal tak ada siapa-siapa yang membacanya.
Kenapa berulang-ulang menulis surat cinta? Karena ada ide, lantas ditulis. Sedang menulis, sepertinya tidak bagus. Lalu kertasnya dibuang dan ditulis lagi. Ini, sama dengan membunuh ide-ide lain yang akan segera muncul. Ide adalah hal paling berharga dalam menulis, karena itu, tumpahkan dulu ke atas kertas atau ke layar komputer, sampai tuntas. Perkara jelek atau rancak, itu soal lain.
Jika kita berhenti menulis karena dinilai tidak bagus, maka hal itu akan berpengaruh pada proses kreatif. Pada keinginan yang ada di hati. Keinginan itu menggerakkan otak dan otak menggerakkan tangan. Tangan kita tak bergerak sendiri tanpa ada perintah. Tatkala tangan diperintah bergerak menulis, kita justru berhenti, itu namanya otoriter.
Menulis adalah alam yang lapang. Saya terus belajar untuk itu dan semua orang hebat juga melakukan hal itu. Tulisan ini memang bukan untuk penulis, tapi untuk orang yang mau menulis, tapi selalu tidak bisa. Kata orang, jika menulis jangan sampai menggurui, seperti tulisan saya sekarang. Ini namanya tulisan menggurui, seperti hebat benar awak. Bisa dicemoohkan orang. Tapi biarlah, bukankah saya kehabisan ide.
Kata sejumlah wartawan, menulis itu ibarat belajar bersepeda. Pada awalnya, kaki bisa bengkak-bengkak, lutut berkelukuran, luka, tapalekok dan sebagainya. Coba kalau sudah pandai, jadi pembalap pun kita bisa. Tak jadi pembalap juga tak apa-apa, tapi membawa sepeda sebelah tangan sudah bisa. Lepas tangan juga bisa, naik kaki ke stang bisa pula. Namanya mahir.
Kata sejumlah wartawan pula, menulis itu awalnya saja yang sulit, bak mencium pacar pertama kali. Coba untuk yang kedua dan ketiga, amboi gampangnya bukan main. Menulis juga begitu.
Banyak teman, termasuk saya tak selesai menulis cerpen. Baru satu atau setengah halaman ide habis. Lalu berhenti berhari-hari. Dibuat lagi yang baru, satu aliena stop. Maka banyaklah cerpan tak sudah. Hati keras, ide tak ada, begitulah jadinya.
Ide bisa ditopang oleh studi kecil atau riset kecil-kecilan. Bisa juga, ide yang satu dipadu dengan lainnya. Kejadian A disatukan dengan kejadian B dan C. Semua kejadian itu diramu sedemikian rupa, untuk sebuah tulisan atau cerpen.
Banyak guru, sahabat saya yang ingin menulis, tapi tak bisa-bisa juga. “Bagaimana caranya menulis, selalu saja tak bisa,” kata mereka.
Saya juga tak tahu kalau sudah begitu. *

0 komentar :

Posting Komentar