On 1/31/2011 03:39:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Orang Padang menyebutnya lauak, Orang Darek menyebutnya, ikan padang, maksudnya sama, yaitu ikan laut. Sebutan itu berlaku sejak dulu hingga sekarang.
Kamis pekan lalu saya makan kapalo lauak di RM Pauh, Khatib Sulaiman, Padang. “Kalau kita makan di Jakarta, terasa mahalnya, kalau di sini terasa enaknya,” kata Suparto Har, orang Singgalang di Jakarta yang baru datang. Biasa, kalau ada tamu, diajak makan lamak.
Ia makan lauak goreng, saya makan kapalo lauak, yang lain sesukanya pula. Selera orang tak sama, meski bersantap di meja makan yang sama. Selera adalah otoritas orang perorang. Tapi kecenderungannya, condong selero ka nan lamak, condong mato ka nan rancak. Makanya kalau memilih pasangan hidup, pilihlah yang rancak, karena ia akan dipatut-patut tiap hari. Tapi, rancak saja tak cukup, ada kriteria lain yang lebih kuat, agamanya dan keturunan. Namun kalau mau jujur, biasanya, dalam hati kecil banyak orang (tidak semua), rancaklah yang nomor satu. Kawan bergelut, tentulah dipilih sedemikian rupa, ya ndak. Apalagi kalau sudah galinggaman tiap hari, petir pun dihadang.
Sudahlah. Ikan padang hampir lupa. Semua teman-teman saya di darek (Tanah Datar) menyebut ikan laut itu sebagai ikan padang. Jarang kami bisa makan ikan padang, sebab belinya mahal dan mendapatkannya susah. Kalau dibeli di pasar Batusangkar, baunya sudah anyir. Betapa takkan anyir di beli di pantai Padang saja sudah demikian, apalagi di darek. Makanya, ikan padang termasuk hidangan mewah. Hari raya harus ada.
Suatu ketika tahun 1070-an saya ke Padang naik bus dari kampung saya, nama busnya Usaha Bersama. Sesampai di Terminal Lintas Andalas, saya dan teman langsung menuju rumah makan yang berada di tengah-tengah terminal. Saya langsung minta ikan padang. Pelayan tersenyum-senyum kecil saja. Tak tahu apa yang menyebabkan ia tersenyum.
“Di siko namoe ndak ikan padang doh, tapi lauak,” (di sini namanya bukan ikan padang, tapi lauak), bisik teman saya. Berat lidah saya mengucapkan lauak. Tapi sudahlah.
Kalau ke Padang, kami memang harus sempat mencicipi ikan padang. Selain itu, pulang harus membawa bingkuang yang rasa hambar itu. Tak ada bingkuang, berarti tak ke Padang. Setelah tinggal di Padang, saya hampir tak pernah lagi menyentuh bingkuang. Sombong saya itu, mungkin juga sombong warga Padang lainnya.
Soal ikan, kami tak peduli, apakah ikan itu memang ditangkap nelayan Padang atau nelayan Pesisir Selatan atau Sasak dan Air Bangis. Pokoknya, asal ikan dari laut, namanya ikan padang.
Sekarang, hampir tiap hari di meja makan saya ada lauak, seolah-olah di Padang ini, tak ada menu lain. Tak di rumah tak di luar, sama saja. Tanpa disadari, ternyata sumbangan nelayan sangat besar untuk meja makan kita. Mereka mengharungi laut pada malam tak bertepi, bersimba ombak dan keringat. Pulang mereka membawa ikan.
Ikan itu kemudian diantar ke pasar dan dijual dalam transaksi yang diwarnai tawar-menawar. Sebagian diantar oleh pedagang keliling ke perumahan. Di perumahan, ibu-ibu berkerumun membeli ikan tersebut. Selesai, pulang membawa ikannya dengan kantong asoi.
Besok dan besoknya terulang lagi. Sebuah rutinitas yang sederhana, tapi rantai bisnis telah berjalan sedemikian rupa. uang beredar sedemikian rupa.
Ikan yang kita makan tiap hari itu, merupakan anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang paling beraneka ragam. Menurut sejumlah sumber, spesiesnya lebih dari 27 ribu di seluruh dunia.
Biasanya, ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Waktu saya sempat ke Belanda, di tepi pantai, seorang teman memakan ikan, saya juga. Teman tadi merah-merah badannya karena alergi. Sampai sekarang saya tak tahu, ikan apakah yang kami makan tersebut. Tapi, kalau dibawa ke kampung saya, pasti dinamakan ikan padang.
Ikan seperti juga orang, ukurannya berbeda-bedan. Ada yang ketek bondek, ada yang panjang manjelo. Ada yang bulat berat ada yang kecil ringkih.
Hiu misalnya, ukurannya bisa belasan meter dan ada ikan yang panjangnya hanya tujuh milimeter.
Di Indonesia dikenal beberapa nama ikan, seperti barakuda, haring, hiu, tengiri, tongkol, terubuk, kerapu, kakap, teri dan lainnya.
Saya tak pusing benar dengan nama dan jenis ikan itu. Tapi, pada saat-saat tertentu, seusai makan ikan, tangan saya gatal. Kata orang alergi.
Dan lauak tetap gurih bagi saya. Kalau pulang ke kampung, otomatis lidah saya menamakannya ikan padang.
Sore, ketika tulisan ini hendak dibuat, saya minum kopi di sebuah kafe di Pantai Padang. Saya lirik pelayannya, cantik juga. Tapi, saya tak berani mengulangnya. Kemudian saya memandang ke laut lepas. Pantai Padang terlihat indah dengan tatanan bangunan beratap di tepinya. Tiangnya terlihat kecil, saya khawatir, jangan-jangan tiang-tiang bangunan itu dipatahkan oleh angin laut. Kenapa bukan besi yang agak besar dipasang di sana.
Di laut itulah ikan padang hidup. Laut yang mahaluas. Kabarnya di sana akan dibuat Padang Bay City. Apa pula itu, saya tak bisa benar-benar mengerti. Terlihat perahu nelayan membelah laut, terlihat pasangan remaja memadu kasih di pantainya. Pantai Padang, adalah tujuan wajib orang darek, jika pertama kali masuk Padang. Mereka akan melihat aie gilo alias ombak. Saya dulu juga begitu. Saya pacaran pertama kali juga di Pantai Padang itu. Entah berapa juta orang telah memadu kasih sebelum dan sesudah saya ke sana untuk pertama kalinya berpuluh tahun silam. Luar biasa banyaknya kisah kasih di sana. Tak siang, tak malam.
Tak lama kemudian saya menyisir pantai menuju Singgalang. Di jalan saya menemukan orang menjual lauak. Banyak juga yang membelinya, meski sudah sore.
Di kantor, teman-teman bersepakat membeli nasi bungkus. Lagi-lagi, tiap orang punya selera yang berbeda. Tapi, tetap ada yang memesan, “dek awak lauk goreng”.
“Ikan padang namoe tumah,” kata saya.
Seorang teman terkekeh. Ia orang darek.*

0 komentar :

Posting Komentar