On 1/31/2011 03:43:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

He he he, jujai diperlombakan oleh PKK Sumbar. Boleh jugalah, perintang-rintang hari. Soal lomba-melomba, itu urusan PKK lah.
“ Anak cia kooo, buruak cia koo, temok cia koo, bantuak aba e bana...” Begitu benarlah jujai nantun.
Jujai, adalah bahasa keakraban seseorang dengan bayi atau anak kecil. Anak kecil kalau dijujai bisa terpingkal-pingkal. Senang benar hatinya. Jujai adalah bahasa bathin ibu dan anak kesayangannya. Tapi, jujai masih jauh bobotnya di bawah pelukan atau dekapan hangat sang bunda.
Siapa saja bisa menjujai. Kini orang berpacaran juga saling menjujai. Dalam kamus Bahasa Minang ditulis Gouzali Saydam, disebutkan jujai adalah melakukan gerak-gerik agar seseorang (anak kecil dan sebagainya) dapat tertawa atau menangis.
Meski dalam kamus disebutkan ‘agar seseorang dapat tertawa atau menangis’ namun dalam pemahaman awam, jujai berarti membuat seseorang tertawa, tapi tidak menangis.
Tentu saja yang paling senang menjujai adalah nenek. Menurut orang yang sudah punya cucu, jadi nenek itu sangat indah, nyaman dan membahagiakan. Ada anak kecil yang akan dijujai tiap sebentar. Dugaan teman saya, jadi kakek atau nenek memang enak, sebab kalau cucu lagi riang, digendong oleh nenek, namun kalau sakit, ayah bundanyalah yang kalang kabut.
Tapi, bagi Anda yang sudah dewasa dan pernah merasakan kasih sayang nenek, memang enak jadi cucu. Tak lalu pinta sama orang tua, merengeklah sama nenek. Pinta jo pinto pasti dapat, asal jangan minta kereta api atau kapal terbang saja. Dilecut awak oleh mandeh, nenek marah. Dimarahi oleh kakak, nenek memburansang. Tapi kalau nenek itu benar yang marah, awak galak-galak saja, karena biasanya marah nenek icak-icak saja.
Kedekatan bayi dengan orang-orang di sekitarnya memang menjadi peransang amat kuat bagi tumbuh berkembangnya fisik dan jiwanya. Menurut pakarbayi.com, kita bisa memulai mengajarkan bayi bahasa atau bahasa isyarat ketika usianya sudah enam bulan, meski pada beberapa kasus ada yang baru bisa menerima bahasa isyarat ketika ia berusia 12 bulan.
Penelitian telah menunjukan, perkembangan otak bayi lebih cepat daripada pembendaharaan kata mereka. Bayi mengetahui apa yang mereka inginkan dan kapan mereka menginginkannya, sebelum mereka mampu untuk memintanya.
Dan jujai adalah salah satu kebutuhan bayi sekaligus juga kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Bisa habis hari dibuatnya kalau sudah bermain dengan anak kecil. Kita sesungguhnya memang makhluk bermain.
Jujai orang Minang pada anak-anaknya adalah jujai warisan, seperti juga dongeng nenek sebelum tidur. Hal yang sama juga kita rasakan dalam dendang ketika si bayi berada dalam ayunan.
Kita orang-orang di sekitar bayi, adalah selimut hangat bagi dirinya. Karena itu, “selimut” harus bersih. Wariskan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi mendatang.
“ Anak cia kooo, buruak cia koo, temok cia koo, bantuak aba e bana...”
Mari menjujuai, tapi jangan asal jujai saja, nanti terjujai bini atau laki orang.*

0 komentar :

Posting Komentar