On 1/31/2011 03:51:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Di musim Ujian Nasional (UN) ini kita sering membaca atau mendengar kata-kata “kelulusan.” Pada ketika lain, terdengar pula “pelepasan.” Misalnya, “gubernur hadir pada acara pelepasan atlet...” Kemudian juga ada kata, “mengenai pemidahan kios darurat itu...”
Mungkin dalam kamus Bahasa Minang tidak ada, tapi di banyak nagari atau hampir semua nagari di Minangkabau, kata-kata seperti “pelepasan”, sama dengan dubur. Kemudian kata-kata “kelulusan” sama dengan keguguran. Lalu “mengenai” ini lebih parah lagi, apalagi kalau fonem yang sedang berbicara kurang jelas, akan semakin parah. Kata-kata itu berada dalam wilayah tabu.
Sebaiknya, pejabat pemerintah kalau mau berpidato, apalagi membuat spanduk, pilihlah kata-kata yang tidak multiarti seperti ini, apalagi artinya janggal.
Selain itu, masih ada kata lain, yaitu “kalian.” Mungkin dalam Bahasa Indonesia “kalian” berari Anda semua, kalau di sini, “kalian” itu, tak usahlah dipakai, kecuali kita sedang marah besar pada anak-anak yang melempar atap rumah Anda. Juga kata-kata “bika” kue si Mariana yang terkenal dari Koto Baru Padang Panjang itu, di beberapa daerah bika, bukan kue, tapi... ya sudahlah.
Dari sekian kata yang bermasalah yang sering didengar adalah kata “pelepasan”. Pelepasan bibit ikan, pelepasan guru matematika ke Bogor, pelepasan rombongan studi banding. Pelepasan kelulusan anak SMA. Saya heran kenapa mereka sampai tidak tahu hal-hal semacam itu.
Memang, penggunaan kata-kata dalam Bahasa Minang kian waktu kian berkurang, diganti oleh kosakata lain. Abuak, atau obuak, kini tak terpakai lagi, diganti dengan rambuik. Ngangak, jarang terdengar, digantikan oleh bodoh. Bongak, tergantikan oleh ongeh atau sombong. Sudu diganti oleh sendok, pinggan diganti dengan piriang, tekong diganti galeh.
Hal ini alami saja, sebab tak ada yang statis. Cuma saja, untuk beberapa kata tabu, sebaiknya, dihindari pemakaiannya. Apalagi di musim kampanye seperti sekarang, sedang riang-riangnya hati para calon, pilih-pilihlah kata yang pas. Nanti kalau salah berucap, jadi tertawaan orang.
Masih untuk kandidat kepala daerah, sebaiknya sebelum berkampanye di suatu daerah, pelajari jugalah agak sedikit kebiasaan-kebiasaan warga setempat. Logat mereka dan kecenderungan mereka menilai orang. Padang Pariaman, berbeda dengan Dharmasraya, tak sama dengan Tanah Datar, berlain pula dengan Solok Selatan. Akan lebih terasa dekat, jika saat berkampanye tak melulu berbahasa Indonesia, tapi diselingi dialek lokal. Akan lebih mengena.
“Maka janganlah kalian sedih melihat angka kelulusan, nanti akan ada acara pelepasan bersama dengan makanan ringan bika, karena itu mengenai hutang-piutang nanti saja kita selesaikan.” He he he *

0 komentar :

Posting Komentar