On 1/31/2011 03:46:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Tatkala putusan pengadilan dianggap salah dan tidak memihak rakyat kecil, rakyat bukannya melawan putusan itu, tapi melakukan gerakkan yang sama-sekali tidak terduga oleh Ketua Mahkamah Agung sekalipun. Itulah yang terjadi dengan kasus Prita Mulyasari, iburumatangga yang saleh itu, dihukum harus membayar denda Rp204 juta oleh hakim yang agung bijak bestari, lurus tabung, tak pernah salah sedikitpun.
Prita dijatuhi hukuman oleh hakim yang kita tak pernah tahu siapa namanya. Ia dituntut oleh jaksa yang kita juga tak tahu namanya.
Karena dalam hukum yang tegak lurus itu hanya rakyat yang salah, maka rakyat yang salah itu dibantu oleh rakyat lain yang juga salah di mata hukum. Rakyat yang salah itu ratusan juta orang banyaknya, maka ia kumpulkan koin. Namanya Koin Cinta untuk Prita. Koin tadi dirogoh dari saku terdalam rakyat. Jangan campurkan koin rakyat busuk ini dengan uang tebal pejabat. Jangan, nanti uang pejabat hebat setinggi langit itu kena najis.
Koin rakyat itu busuk, kena keringat berjuta-juta orang. Koin itu tadinya bersentuhan dengan ikan, kol, cabai, keringat tukang ojek, sopir angkot, anak sekolah, buruh, nelayan, anak jalanan, pengamen. Pokoknya rakyat kecil yang tak punya tulang punggung.
Maka terkumpullah sangat banyak, sebentar lagi bisa Rp1 miliar, jauh di atas denda yang diberikan pada Prita.
Maka tatkala rakyat sedang menghitung koin, dipersilahkan kepada paduka tuan yang amat berhormat menyaksikannya. Saksikanlah rakyat memilah-milah koin itu. Nanti jumlahnya mungkin dua atau tiga truk fuso. Ah, uang receh sebanyak itu, belum seberapa, hanya selembar cek yang terselip di meja yang dipertuan.
Tapi, jangan marah. Ini adalah bentuk perlawanan paling remah dari rakyat kepada penguasa yang mabuk kepayang. Rakyat sebenarnya sedang membuktikan teori pertentangan kelas. Rakyat sedang menghukum negara ini dan seluruh penguasanya yang sangatlah sombongnya pada rakyatnya sendiri. Bapak-bapak yang mulia, memang tak tertanggungkan lagi sombong dan congkaknya. Bicara legal formal dan memijak keadilan sosial.
Rakyat kalau bisa melawan akan melawan, tapi bukankah keputusan pengadilan tak boleh dilawan, kalau dilawan awak pula yang akan kena hukum. Wartawan pun dilarang memengaruhi jalannya sidang, begitu hebatnya. Maka kalau salah hukumannya, terima sajalah. Karena itu, makelar kasus, atau suap menyuap dilakukan bukan di ruang pengadilan tetapi sebelumnya. Rekayasa pasal-pasal dilakukan sebelum masuk ruang sidang.
Bagaimana kita bisa membiarkan rekayasa disidangkan? Tapi tetap saja rakyat tak boleh melawan. Kalau melawan, awas Anda dihukum. Hukum jangan dilawan, apalagi menegak hukum.
Itulah sebabnya, rakyat mengumpulkan uang receh untuk membayar denda Prita Mulyasari. Denda yang ditimpakan pada seorang ibu yang mencoba mengeluh tentang pelayanan rumah sakit yang buruk. Oh ya, pada rumah sakit, dokter dan manajemen rumah sakit, diingatkan jangan melawan pula, nanti awak dituntutnya pula. Urut sajalah dada, kalau anak awak mati oleh kesalahan dokter. Mereka bagak-bagak, uangnya banyak, rakyat hanya punya uang receh.
Perlawanan rakyat dengan koin merupakan sebuah satire, pertama du dunia sejak dunia terkembang. Inilah gerakan rakyat yang akan tercatat dalam bab tersendiri dalam sejarah umat manusia. Tidakkah negeri ini akan berubah?
Subhanallah. Ampunilah kami ya Tuhan*

0 komentar :

Posting Komentar