On 1/31/2011 03:48:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Saya tertawa sendiri karena belakangan ini, saya dibuat pusing oleh kunci rumah. Minta ampun banyaknya. Selama lebih dari 12 tahun saya tinggal di rumah yang kalau siang tidak pernah sekalipun dikunci, karena selalu saja ada orang di rumah.
Rumah itu, sederhana. Urusan kunci, di pintu masuk, pintu kamar tidur, lalu kunci-kunci lemari. Ada beberapa pintu lainnya seperti pintu samping, pintu-pintu lainnya, tapi jarang dikuncikan, melainkan digrendel saja.
Lalu awal tahun ini, saya pindah rumah. Sejak itulah saya mulai pusing oleh kunci. Mulai dari kunci pagar, kunci garase, kunci pintu dari garase ke ruang utama, pintu samping, pintu utama. Tiap kunci anaknya empat. Belum lagi kunci kamar, kunci lemari. Sekantong besar banyaknya.
Salah satu yang bikin ribet adalah kunci pagar. Kunci bagus itu, tak bisa dibuka. Putar kiri, putar kanan, bolak-balik. Tiga, empat hari, akhirnya bisa dibuka. Untung kuncinya tidak dipasang untuk mengikat, melainkan sekedar digayutkan saja di sana. Diganti dengan yang baru, dua hari kemudian tak bisa pula dibuka. Masih untung, sekedar tergayut saja. Akhirnya setelah masalah bisa diselesaikan, pagar tak pernah lagi saya kunci. A nan katajadi lah lai.
“Baa kok sabanyak iko bana kunci rumah ko koha,” kata saya pada istri. Dia tertawa saja, sebab ia juga ribet dibuatnya.
Tidak pernah saya sibuk, sesibuk ini oleh kunci. Apalagi, ketika saya bangun, tak ada lagi orang di rumah. Semua sudah terbang hambur melakukan aktivitasnya masing-masing.
Saya orang yang susah tidur. Terkadang pukul 03.00 pagi, saya masih duduk di ruang tamu atau di depan televisi, atau men-cigok-cigok dari jendela ke luar, memperhatikan malam yang sedang mengalun. Rasa-rasanya kalau semua pintu tak dikunci, tak soal, sebab terlihat aman. Tapi, kita harus waspada, karena itu diperlukan kunci.
Di banyak tempat saya melihat pintu orang berlapis. Setelah daun pintu nan rancak dilapisi lagi dengan pintu besi berteralis. Kedua-keduanya dikunci. Kalau ada kebakaran atau gempa di tengah malam buta, alangkah repotnya.
Saya lihat di film-film Amerika, di negeri itu, rumah orang tak perpagar. Jikapun ada, pagarnya hanya bunga. Halamannya luas dan di depan halaman yang luas itu, ada jalan sepatak yang rancak. Lalu ada rumput, baru jalan raya.
Saya lihat di Jakarta, pagar lebih tinggi dari rumah. Kuncinya besar-besar. Dibawa gergaji besi untuk “menyudahi” kunci itu, tak tahulah entah berapa jam akan selesai.
Tapi sudahlah. Tak ada rumah yang dikunci. Antisipasi. Karena antisipasi itulah, saya tak beranjak tinggal dari Kuranji ke Kuranji. Kata orang, makin berkeadaan awak, makin ke pusat kota tinggalnya.
Saya tak hirau dengan itu. Waktu masuk Padang saya tinggal di pusat kota. Setelah bekerja jadi wartawan saya justru tinggal di jantung kota, Jalan Imam Bonjol. Lalu kami memilih Kuranji karena konsep kota adalah untuk bekerja dan malam di luar kota. Apalagi belakangan ada ancaman tsunami. Nyenyak benar tidur saya di Kuranji karena tak terdengar deru mobil.
Banyak juga yang punya pandangan (ini urang darek), mencari atau membeli rumah, lebih dekat dengan jalan menuju utara. Di Lolong, Air Tawar, Tabing dan seterusnya ke sana, agar kalau orangtua datang, gampang menunggunya. Juga gampang menunggu mobil kalau beliau hendak pulang.
Tapi konsep itu nyaris berantakan karena ketiadaan terminal dan karena isu tsunami. Lalu, mengalirlah orang ke Kuranji. Orang banyak, jalan kecil.
Tapi jalan kecil itu, masalah Pak Wali, mudah-mudahan diperlebarnya. Masalah saya kecil saja, kunci! He he he...
Saya tertawa-tawa sendiri menghitung-hitung, jika tiap rumah di Padang ada lima saja pintu, maka anak kuncinya tentu 15, sebab tiapnya punya tiga anak. Berapa banyaknya kunci di kota ini. Berapa banyak pula mainan kunci, belum termasuk kunci kendaraan.
Mana yang banyak orang dari kunci di Padang? banyaklah kunci lai *

0 komentar :

Posting Komentar