On 1/31/2011 03:48:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Sebuah pesawat terbang terlambat berangkat satu jam gara-gara dua orang penting atau merasa penting berebut kursi nomor satu. Orang penting lainnya di kursi lain gelisah menunggu. Selain gelisah mungkin juga muak.
Kisah nyata ini, dituturkan oleh seorang pejabat BUMN kepada saya.
Katanyanya:
Seorang bapak yang sudah jadi pelanggan istimewa dan mendapat perlakuan khusus oleh maskapai penerbangan, sepagi itu hendak naik pesawat. Ia dipersilahkan naik dan ia boleh memilih kursi nomor berapa saja yang ia inginkan. Maka dipilihnyalah kursi nomor satu. Sebut saja 1 F
Maklum sudah sangat biasa naik pesawat, tentu ia tak canggung lagi. Pesawat sudah seperti rumah sendiri. Tak lama kemudian naik pula orang hebat lainnya. Waktu chek in, ia diberi kursi nomor satu. Kursi 1 F
Maka terjadilah pertengkaran. Di atas pesawat, semua orang merasa hebat, merasa penting, merasa sama-sama punya uang, merasa sama-sama berpengaruh. Jangankan di atas pesawat di jalan raya saja juga begitu.
Keduanya merasa sama-sama memiliki kursi 1 F. Yang satu karena bebas memilih, yang satu karena memang kursinya di sana.
Awak kabin merasa serba salah. Tadi dia yang menyuruh si bapak memilih kursi nomor berapa saja. Sekarang, ada yang datang dan berhak atas kursi itu.
Jangankan terselesaikan, malah makin rumit. Dua orang itu sama-sama induk semang, sering menghardik orang. Kini, awak pula yang disuruh pindah. Tentu saja ia tak mau. Malu dong sama pejabat dan pengusaha lain yang ada di pesawat.
Mereka bertengkar hebat, sehebat anak-anak memperebutkan kelereng, sehebat tukang angkat berebut segoni gula yang akan diangkat, sehebat kameraman televisi berebut mencari posisi yang tempat untuk mengambil gambar.
Terjadilah “perang” dua orang penting memperebutkan kursi nomor 1. Satu sama lain tak mau mundur, tak mau mengalah.
Habislah waktu satu jam untuk itu saja.
Co anak-anak saja. Tapi kemudian berhasil dilerai. Tapi saya lupa, bapak mana yang akhirnya mengalah.
Kisah berebut kursi nomor satu itu, saya ceritakan pada teman.
“Apak-apak tu gilo mah” (Maksudnya bapak yang berebut itu gila)
Tentu bukan gila leterlek, tapi ya gitulah.
“Banyak orang yang gila sekarang,” sambungnya.
“Tidak masuk di akal saya, berebut kursi di pesawat, tenggen, katanya lagi.
Tapi, kata saya padanya, harga diri itu di atas segala-galanya.
“Itu gilo juo mah,” katanya lagi.
“Kok gilo?”
“Engak,” katanya lagi.
Teman saya pun berciloteh: Pasti kedua bapak itu membanggakan diri sering naik pesawat, pangkat tinggi, pergaulan luas, uang banyak, iyakan?
“Tak tahu saya.”
Ia pun menasehati saya, kalau naik pesawat jangan sok mantap. Kalau perlu bertanya, bertanyalah, kalau perlu permisi, permisi, kalau perlu minta tolong, minta tolong saja.
“Soal sering naik pesawat, tak ada yang akan mengalahkan pilot,” katanya.
“Jan den lo ang salah an,” kata saya.
Akhirnya kami bertengkar pula berdua. Kemudian sama-sama tertawa. Tapi bapak yang di pesawat itu, tidak mengakhiri pertengkarannya dengan tertawa, tapi dengan muka masam dan sesak di dada. Orang penting, memang sering bertindak bodoh, dia saja yang sok tidak bodoh. *

0 komentar :

Posting Komentar