On 1/31/2011 03:26:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Lembah Anai kini menakutkan. Batu tergaing-gaing di tebing yang tegak lurus. Jika jatuh, hinggap di atas mobil, maka alamat penumpangnya celaka, bisa-bisa tewas. Selain itu, tebing-tebingnya yang ditumbuhi kayu, terlihat rimbun, tapi, rupanya akar-akar kayu itu mencengkram ke bukit batu. Ini, gampang terkelupas dan longsor. Itulah yang terjadi di sisi Air Mancur beberapa hari lalu. Seorang meninggal, beberapa lainya luka-luka.
Sebelum musim gempa-gempa ini, kita melagakkan hilir mudik, betapa Lembah Anai itu eksotis, panoramanya tiada duanya. Bertanding pun kita mau dengan obyek wisata Bali. Tak hanya Lembah Anai, semua obyek wisata yang ada, kita nomor satu, nomor dua orang lain. Sebutlah Maninjau, Singkarak, Lembah Harau, Danau Diateh Danau Dibawah, Ngarai Sianok, Bukittinggi, Gunung Marapi, Gunung Singgalang, serta deretan panjang obyek lainnya.
Tapi sejak musim gempa, tanah di sana labil. Lembah Anai itu menjadi ladang pembantaian, tiap sebentar orang mati di sana, dihaban batu atau kayu. Memang sudah diperingatkan lewat papan besar, agar berhati-hati, kalau hujan jangan lewat, berbahaya. Tapi, peringatan itu tidak mangkus, sebab orang harus lewat, orang banyak urusan.
Hilang sudah eksotis Lembah Anai. Jangankan menikmati alam, membawa kendaraan lewat di sana saja kita takut. Harus kencang, sebab tebing tegak lurus dengan bebatuan yang siap jatuh setiap saat, merupakan ancaman yang serius.
Membawa anak-anak ke lokasi Air Mancua, atau air terjun, kini sia-sia. Betapa takkan sia-sia, air bisa sewaktu-waktu berubah keruh, besar dan menghondoh orang-orang yang bermain di bawahnya. Di hulu hutan sudah gundul. Hutan gundul, rakyat disuruh menanam pohon. Kayu ditebang di hutan, pejabat menanam pohon di kota, tak bertemu ruas dan buku. Satu orang tiga pohon, itulah kampanyenya dalam Bahasa Inggris. Pohon ditanam terus, hutan dirambah juga.
Dan Lembah Anai, obyek wisata nan elok itu, sebaiknya diwaspadai. Tidak cukup hanya dengan membuat papan mengumuman, sebab sudah beberapa orang tewas di sana dan mobilnya rusak berat. Harus ada upaya lain, misalnya menyingkirkan batu-batu yang mengancam itu.
Nanti wisatawan Malaysia atau wisatawan asing lainnya, dihimpok batu besar itu, baru kita tahu rasa, apalagi kalau bule Amerika yang dapat kecelakaan di sana. Berabe urusannya. Lebih baik memintas sebelum hanyut, mencari sebelum hilang. Kalau sudah terjadi bencana, pers pula yang disalahkan. “Beritanya terlalu dibesar-besarkan, padahal tidak begitu parah,” kata pejabat atau pelaku wisata. Hal serupa pernah terjadi pascagempa 30 September. “Kenapa pers hanya memberitakan rumah yang rusak, kan tidak semua rusak, sorot pulalah yang tidak rusak itu, sehingga orang luar dapat gambaran yang jelas soal Sumbar,” kata beberapa pelaku wisata.
Dia asal ngomong, wartawan pula yang diajarinya membuat berita. Kalau rumah tak rusak, untuk apa disorot, banyak rumah seperti itu di daerah lain, ratusan juta jumlahnya. Makanya disorot yang rusak, karena di sini ada bencana. Karena perslah kemudian bantuan datang berjibun banyaknya.
Karena itulah, sebelum Lembah Anai makin banyak mencabut nyawa, sekali lagi, tolonglah dicarikan jalan keluarnya. *

0 komentar :

Posting Komentar