On 1/31/2011 03:51:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Sejak punya meja sendiri, Malin Targondin sudah rapi jadual makan siangnya. Suapnya juga terukur, meski kunyah kiri, kunyah kanannya tidak 33 kali. Malin, masuk pagi pulang sore. Perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya disertai istri dan anak-anak. Biasanya, sekali seminggu mereka mampir ke toserba atau mall. Anaknya suka makanan pabrikan. Sedang istrinya suka kapas pembersih muka dan cemilan kampung, tapi belinya di toserba.
Malin punya satu mobil. Tiap pagi ia mandikan mobil itu. Sejak bermobil, bangkit rajinnya. Di atas mobilnya harum dan siapa pun tak boleh merokok , meski ia sendiri pecandu rokok.
Sejak kurs rupiah terhadap dolar naik dan harga emas fluktuatif, Malin jalan kincir-kincir bisnisnya. Kalau harga emas naik, ia suruh istrinya menjual emas di sekujur tubuhnya. Kalau lagi turun, dibeli lagi. Ia tak suka emas batangan, tapi suka emas perhiasan.
Ia hafal harga minyak dunia, tapi lupa satu barel itu berapa liter. Yang menarik, perhatiannya pada beras tak sehebat dulu lagi. Waktu kuliah, ia hafal harga satu liter beras dan satu gantang. Ia juga tahu satu gantang itu berapa cupak atau berapa liter. Mungkin karena soal beras-memberas sudah jadi urusan istrinya, maka pengetahuannya menjadi aus soal makanan pokok itu.
Di meja Malin ada sebuah figura, foto istri dan empat anaknya. Foto itu menghadap pada Malin. benar-benar bapak yang baik dia sejak dapat jabatan.
Namun suatu ketika, terjadi mutasi. Beberapa staf dikocok dan dipindah. Ada tiga orang baru masuk di bagiannya. Salah seorang gadis manis berkacamata minus dan berjilbab. Kini tak bisa lagi membedakan, seseorang berjilbab karena panggilan hati, atau karena perintah perda. Jadi jilbab bukan satu-satunya ukuran kealiman seseorang.
Neneang Malin melihat staf barunya itu. Sebenarnya semua lelaki di bagian itu, galinggaman pada cewek baru itu. Tapi, apa hendak dikata, salah awai bisa berabe jadinya. Tapi, Malin karena ia berjabatan, bisa memakai jalur lain untuk terus berhubungan dengan si staf kamek itu.
Tapi Malin salah kira. Staf yang kamek itu, seperti merpati. Jinak makannya di tapak tangan, ditangkap takkan pernah dapat. Sansai Malin dibuatnya.
Karena Malin baru ‘belajar’ roman mukanya gampang ditebak. Sekali waktu tertebak oleh istrinya.
“Bacewek uda di kantua yo..,” kata istrinya.
Istrinya iseng saja. Tapi Malin gelagapan, tak tentu yang akan disebutnya.
Mukanya merah, kerongkongannya kering.
Kini istrinya yang salah tebak. Dikira suaminya akan marah besar, sebab tertuduh yang tidak-tidak.
Karena istrinya sudah diam, Malin mulai tenang, dikira istrinya akan marah, rupanya dipendam di hati.
Malin berniat tatkan buruk pada staf kameknya. Tapi dua hari kemudian, pendiriannya berubah lagi. Tak kuasa menahan godaan rupanya.
“Egepe ajalah,” kata si kamek. Betapa takkan egepe, ia sudah duduk di jok sedan rancak di sebelah lelaki parlente. Lelaki itu adalah kontraktor yang baru saja memenangkan tender di kantor tempat si kamek bekerja.
Sore itu sedan rancak tadi berhanti di tepi jalan di bawah pohon jati tua. Hujan rintik-rintik pula. Lama juga sedan itu berhenti. Tak tahu entah mengapa mereka berdua di atas mobil ber-ac itu.
Sedan berjalan perlahan, si kamek memperbaiki letak jilbabnya yang tadi centang perenang.
Malin pada saat itu sedang manggalosoh di kantor, karena pekerjaan menumpuk. Jadual jemput istri, jemput anak, tak teratur lagi. Ke toserba dan mall sudah jarang. Bahkan oli mobil sudah lewat 15 hari tak digantinya.
Sudah sepekan ini, makan siangnya tak teratur, kunyah kiri, kunyah kanannya kini sembarangan saja.
Ia panik rupanya. Lantas kenapa Malin Targondin panik?
HP si kamek kalau sudah sore, selalu mati.*

0 komentar :

Posting Komentar