On 1/31/2011 03:49:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Libur Sabtu dan Minggu pekan lalu, saya nikmati benar dengan pergi baralek (pesta pernikahan) pada beberapa tempat di Padang. Maklum orang kota, he he he...
Hasilnya saya terkagum-kagum dengan anak-anak, semuanya masih di SD, pintar membawakan lagu orang dewasa. Saya juga terkagum-kagum saat nenek-nenek menghampai dua lagu Minang diiringi organ tunggal yang gedebag gedebum. “Sekarang uwak dulu, anak muda sebentar lagi,” katanya. Ampun den.
Dan, empat anak kecil di atas pentas membawakan lagu dengan rancaknya. Lagu T2 (Tika dan Tiwi)
“....
Dan aku sudah pernah bilang
Pacarku bukan cuma kamu saja
Ku mempunyai dua hati
Yang tak bisa untuk kutinggali
Olala, habis main saya dibuatnya.
Lagu itu, pasti ia hafal karena menjadi pemirsa televisi yang setia. Itu jelas lagu orang dewasa, bukan lagu anak-anak.
Televisi memang berperan besar dalam ‘mendidik’ anak-anak kita. Tapi televisi tak bisa disalahkan. Yang salah adalah keadaan. Orangtua kini kehilangan akal, karena lagu anak-anak sejak si orangtua jadi anak sampai ia beranak pula, tak beringsut dari Pelangi, Balonku Ada Lima, Kereta Api. Sementara lagu orang dewasa diciptakan tiap jam dan ditayangkan televisi hampir setiap hari.
Maka pantas, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak (IGTK) Kec. Kuranji, Padang Rawina, sebagaimana diberitakan Singgalang, (2/6), menyatakan,  lagu anak-anak yang ada sekarang sudah tidak menarik lagi. Setelah era Joshua, Trio Kwek-Kwek dan lainnya, lagu untuk anak-anak seakan hilang begitu saja.
Bahkan, tambah guru TK lainnya Elya Defita, jam tayang untuk lagu anak-anak, sekarang sudah tidak ada lagi. Jika pun ada acara untuk anak-anak, lagu yang mereka bawakan kebanyakan juga lagu dewasa.
Karena itu, guru TK ini mendesak pihak televisi yang notabene berhasil membius anak-anak di depan televisi, harus membuat program lagu untuk anak-anak. Mau diapakan generasi yang akan datang, jika mereka sudah diberi konsumsi dewasa saat usianya masing balita.
Kerisauan guru TK itu, tentu tak dipikirkan benar oleh orang televisi. Selain itu, seniman mau saja membuat lagu anak-anak, tapi siapa yang akan memproduksi. Produser hari ini lebih mengejar keuntungan, ketimbang idealisme. Untuk apa memproduksi lagu anak-anak, kalau tak lagi. Untuk apa kita peduli dengan anak-anak kalau pemerintah saja tidak peduli. Kalau kita asyik masgul dengan mempertontonkan aurat di layar kaca. Saya pernah membaca sepintas entah dimana, “agama” (hati-hati ini tanda kutip) adalah uang dan “kiblat” kita hari aurat, terutama aurat perempuan. Maka jangan heran, pemeluk Islam yang setengah radikal akan semakin radikal, sebab hal-hal tabu telah terbiasakan akibat ulah segelintir orang.
Pengelola televisi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, sebab kita, sebagian besar masyarakat luas ini juga suka dengan tontotan semacam itu.
Saya menikmati suasana baralek. Menikmati anak-anak membawakan lagu orang dewasa dengan mahir. Kita juga sering merampas hak anak-anak. Kita tidak menciptakan lagu untuk mereka, lalu ketika mereka membawakan lagu orang dewasa, kita seperti orang bermoral Allahurobbi.
Di tempat beralek lainnya, sambil mengunyah-nyunyah hidangan saya menikmati lagu Minang, Mudiak Arau.
...
Indak dapek musim manuai, yo tuan oi
Musim manyikek den nanti juo
Indak dapek barago gadih, yo tuan oi
Baranak ampek den nanti juo

Ondeh mandeh sansai badan de

Lagu ini dibawakan nenek-nenek. Nikmat, suaranya merdu. Sebenarnya tidak cocok juga. Tapi, janganlah serius benar, namanya lagu boleh dibawakan siapa saja. Yang namanya baralek, pasti ada nyanyinya, kalau tak organ tunggal, kaset pun jadi.
Bukankah negeri ini sedang stres? Yuk, mari kita berdendang... *

0 komentar :

Posting Komentar