On 1/31/2011 03:38:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Batin anak terpaut di dapur ibunya. Semua anak pasti menyukai masakan ibu. Sejak pandai makan nasi, hingga berpisah tempat tinggal — biasanya kuliah atau beristri/suami — anak hampir tiap hari menyantap masakan ibu.
Tiap orang dewasa adalah anak. Karena itu, ia merindukan masakan ibu. Ada suami, yang meminta secara khusus pada istrinya, agar ia dibuatkan masakan seperti masakan ibunya. Pada beberapa kasus, ada anak yang sampai beranak pula, tak bisa lepas dari masakan ibunya.
Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anaknya. Barangkali, ini menjadi salah sebab kenapa Minang memakai garis keturunan ibu.
Orang yang sedari kecil ditinggal mati ibu ibunya, akan diberi Tuhan kebahagiaan lain. Mungkin lewat ayah atau nenek atau saudara perempuannya dan saudara laki-lakinya.
Ibu adalah payung bagi anak-anaknya. Ibu adalah juga tiang kokoh tempat anak berpagut. Ibu adalah ayunan sang anak ketika lelap. Ibu adalah peradaban.
Seorang teman yang lama di rantau bercerita kepada saya tentang kerinduannya akan masakan ibu. Ceritanya bercampur baur dengan kerinduan pada kampung halaman. Tapi pada saat bersamaan ia menyampaikan keluh kesahnya tentang telah terjadinya berbagai perubahan di kampung halaman.
Ia tak menyangka sama-sekali, di Padang remaja berpacaran sembari berpegangan tangan di jalan raya. Ia tak menyangka banyak hal. Yang tidak ia ceritakan kepada saya perangainya dulu waktu pacaran. Saya tahu, tapi sudahlah.
Kebudayaan dan tradisi-tradisi bergerak seperti bola besar, menggelindingi di lantai kehidupan. Ada saatnya ia tergilas dan ada waktunya bertahan. Setiap detik di dunia terjadi perubahan. Pada detik yang sama ada satu kata tak diucapkan lagi oleh penuturnya dan kemudian pada detik berikut, kata itu, mati, lenyap dan punah.
Hampir tak ada lagi orang Minang yang menyebut rambut dengan obuak, tapi diganti dengan rambuik. Kata-kata sudu untuk menyuap nasi dengan sendok hampir tak diucapkan lagi.
Begitu juga dengan kebiasaan-kebiasaan. Pun dengan cinta. Tiap orang mungkin berbeda memaknai dan menafsirkan cinta. Tapi menurut sebuah penelitian, cinta pertama adalah yang paling agung di antara cinta sesama manusia. Karena itu, pesan si peneliti, jangan biarkan pasangan Anda pergi reuni SMA sendirian, sebab bisa jadi di sana cinta pertamanya sedang menunggu.
Cinta kita terhadap apa saja dibentuk dalam kandungan ibu kita. Rahim yang hangat adalah rumah nan damai. Apa yang dimakan ibu adalah untuk buah hatinya di rahim.
Tapi penghormatan kepada ibu juga berubah. Prilaku fisik cara menghormati ibu oleh anak-anaknya juga berbeda. Ibu sendiri juga berbeda cara menikmati rasa hormat anaknya. Antar budaya juga berbeda cara penghormatan. Sungkem di Jawa dengan duduk bersimpuh di kaki kedua orangtua, rasa-rasanya tidak ditemukan di Minangkabau. Sopan santun kita, juga dibentuk oleh tradisi. Karena itu, ada yang menunjuk dengan ibu jari ada yang menunjuk dengan telunjuk. Saya tak diajari oleh ibu menunjuk dengan ibu jari, karena itu, saya menunjuk dengan telunjuk.
Tiap kita diajari ibu tentang sesuatu yang istimewa dan tanpa disadari hal itu menjadi kekuatan setelah kita dewasa. Salah satu bekal paling kuat yang diberikan ibu pada kita adalah asupan. Makan.
Karena itu, masakan ibu, di manapun kita berada, setinggi dan sehebat apapun seseorang, senantiasa merindukan masakan ibunya. Entah kalau ada persoalan lain, maka jangankan masakan, ibunya pun ia tak ingat lagi.
Oh ya, jangan lupa, ayah. Ayah dan ibu adalah dua batin yang mengalirkan rasa kasih sayang pada anaknya. Sejak dulu!*

0 komentar :

Posting Komentar