On 1/31/2011 03:52:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

Meja makam. Pasti, meja makan tak ada di setiap rumah. Di rumah saya ada, tapi saya nyaris tak menggunakannya. Entah kenapa, mungkin karena sudah terbiasa sejak kecil makan baselo. Padahal lauk alias samba semua ditarok istri saya di meja itu.
Saya juga tak pernah minta istri mengambilkan nasi, seperti gaya orang-orang mapan, nasi diambilkan sampai ke tengah piring. Kata orang kalau kita tertib di meja makan, maka tertiblah sampai ke ujung dunia.
Saya ambil piring sendiri dan ambil nasi sendiri. Sebenarnya sejak awal saya sudah diberlakukan sebagai suami yang terhormat oleh istri saya, piring putih diambilkan, nasi disanduak-an, air diambilkan. Tinggal makan saja.
Tapi jujur saja, hati saya tidak enak. Kenapa harus diambilklan istri, padahal saya bisa? Seperti raja diraja benar saya rasanya di rumah. Maka setiap diambilkan, saya risih, sejak itu istri saya maklum. Cuma saja, segalanya selalu dekat sekali dari meja. Semua gampang. Hal-hal gampang, kenapa harus dibantu? Tapi sesekali terbit pula manja saya. Semua diambilkan, tapi tak disuapkan.
Setelah mengambil nasi, saya segera duduk di kursi tamu, atau di depan televisi. Tidak formal, sebab kalau di meja makan, formal benar terasa oleh saya, malas hati ini dibuatnya. Namun begitu, dari tiga hari agak sekali dua saya duduk juga di meja, karena bolak-balik tambuah dari depan TV ke meja makan, kurang nyaman juga.
Intinya, di rumah sendiri, mau makan dimana, suka hati den lah. Suka-suka kitalah. Jadwal makan saya hanya malam hari sepulang kerja. Dihidangkan benar, tak ada gunanya, karena istri saya sudah tidur. Mana pula ada istri masih bangun pukul 12 malam, menunggu suami pulang. Kalau ada suami yang tega-teganya menyuruh istrinya tak tidur sampai ia pulang, meski sudah dinihari, harus dihentikan, sebab istri bisa kurang darah dibuatnya. Itu namanya menyiksa dan sok mantap. Tapi kalau matanya yang tak tidur, biarkan saja, jangan dipaksa pula tidur.
Kalau pagi? Saya bangun kesiangan karena saya tidur pukul 02.00. Ada yang meremehkan saya karena ‘rezeki saat pagi sudah disikat orang semua’. Agama menyuruh orang bangun pagi dan betebaranlah mencari rezeki. Namun ada nasihat agama yang lainnya, “bekerjalah sampai tengah malam,” saya memilih yang terakhir. Ada bagian masing-masing. Karena itu, wajar saya bangun kesingan.
Saat selesai mandi pagi, saya dihidangkan secangkir teh hangat oleh istri. Nikmat niat. terasa benar sayangnya istri kepada kita di kala pagi. Kalau istri sudah pergi bekerja, saya seduh sendiri. Ini kan gaya kaum profesional perkotaan, semua bekerja, anak-anak sekolah. Jadi nikmati saja. Anda kan sudah tahu dimana letak gula, kopi, cangkir dan air panas. Secangkir teh, gulanya tiga ujung sendok gula. Sendok kecil itu. Kalau sakit gula, ada gula tebu, bungkusnya kecil-kecil, sudah ada takarannya, seperti di hotel, jika Anda sering nginap, tahulah.
Menurut teman anak-anak saya, keluarga kami adalah keluarga lucu. “Semua lucu,” kata teman anak-anak saya. Padahal saya pendiam juga orangnya. Tapi kalau sudah akrab, saya akan jadi murai.
Memang saya membangun rumahtangga tidak secara formal. Saya dan istri tidak mengajari anak-anak berbahasa Indonesia di rumah, sebab lafaz kami, lafaz kampung. Diajari benar, selepas dari jenjang, anak-anak akan berbahasa Minang. Jadi untuk apa mereka direnggutkan dari bahasa ibu. Hari ini, anak-anak saya mahir sekali berbahasa Minang dan cakap berbahasa Indonesia, pintar berbahasa Inggris.
Jika saya pulang, atau anak-anak saya pulang, kami tampil apa adanya. Jika cemberut, teruskanlah cemberut itu. Jika riang, ayo kita “syah”. Itu, gerakan saling adu telapak tangan agak di atas kepala seperti orang bertepuk. Tapi, kalau mau berangkat, anak saya cium tangan, seperti anak-anak lainnya.
“Kama tu, lah pai se,” tanya saya pada salah seorang anak saya.
“Ka India, pai Pa,” katanya.
Ketika lain, ditanya, ia menjawab, “ Ka Arab lomba azan, ikuik Pa ndak,” katanya.
Kami terkekeh-kekeh.
“Bara ari lai, baju tu salasai dijahit?” tanya saya pada istri.
“Sajuta tiga ratuih duo puluah anam ari lai,” jawab istri saya.
“Sa triliun-triliun ari lai,” tambah anak saya.
Di rumah saya tak suka menjawab pertanyaan, jika jawabannya ada di buku atau du koran.
“Baco buku tu ha, ado sinan mah,” kata saya. Karena saya sering begitu, maka buku dan koran serta majalah selalu disantap anak-anak saya.
Begitulah meja makan, yang harganya mahal itu, tidak maksimal penggunaanya oleh saya.
Di rumah Anda? *

0 komentar :

Posting Komentar