On 1/31/2011 03:50:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

“Ops jangan melirik, Pak, kalau mau melihat ke kiri atau ke kanan, Bapak melengong saja,” ini perintah karyawati sebuah toko kacamata di Padang kepada saya beberapa hari lalu.
“Lensa kacamata progresif, jadi tidak boleh melirik,” katanya.
Ammpun. Usia sudah 40-an, tapi soal lirik-melirik itu, masih sangat penting. Hanya itu lagi yang tersisa, sebab kalau lebih dari itu, banyak perkara yang akan muncul. Kini, melirik itu benar yang ia larang. Kalau waktu remaja dulu saya dilarang melirik, tentu akan saya buang kacamata itu, he he he.
Namun kini, kacamata menjadi bagian penting, meski saya tidak buta. Sesungguhnya tanpa kacamata tetap bisa membaca dan menulis. Terkadang tiba-tiba kepala terasa sakit kalau tanpa kacamata. Kata para ahli mata saya progresif. Karena itu, harus pakai kacamata.
Di Indonesia yang paling terkenal memang lensa multifocal, lazim disebut lensa progresif. Keunggulannya terletak pada segi estetika karena batas antara lensa jauh dan bidang lensa dekat didesain sedemikian rupa, sehingga sama-sekali tidak terlihat. Ada rasa nyaman dan tentu saja gaya.
banyak kacamata, mahal bingkai dari kacanya (frame). Aneh-aneh saja, padahal subyek dari benda itu adalah kaca. Tapi kaca saja tanpa bingkai apa gula gunanya.
Tak saya pikirkan benar hal itu. Saya tinggalkan Optikal Citra itu dan selanjutnya saya tenggelam di jalanan Padang yang tidak tertib. Lalulintasnya seenak perut. Pengendara motor bandelnya bukan main, seenaknya memancung dari kiri atau kanan. Kadang mengirim dan menerima SMS sambil membawa motor. Kalau tersengol, mulai dari mamaknya yang di kampung sampai yang di rantau diberitahu, seolah-olah hendak memberi warning kepada kita. “Jan main-main jo den” Digertak benar, dia ciut pula.
Tapi, ayah ibu atau bapak mandehnya memekik, keluar urat lehernya karena mencaci-maki, tak mau tahu dia bahwa anaknya yang salah. Pengemudi mobil setali tiga uang. Tak mau memberi jalan kepada orang yang melintas, kalau ada mobil depan mau berbelok, “mandeh ang, aden lo yang klason-klason,” begitulah rutapnya. Pokoknya mobil rancaknya tak boleh terganggu kalau sedang berjalan, kecuali ia sedang menelepon atau mengirim SMS. Itu urusan dia, orang lain harus sabar.
Sambil membawa mobil saya melirik-lirik juga. Benar juga kata si karyawati itu, mata saya terasa sakit. Kacamata ini telah merenggutkan satu kenikmatan saya, “melirik” apalagi melirik dari balik kaca mobil. Begitulah perangai suami kalau tak di samping istrinya. Hati-hati sama suami yang suka pakai kacamata hitam, he he he.
Padahal saya baru dapat sebuah kacamata hitam rancak pemberian teman yang baru pulang dari Batam. Saya tak tahu, apakah kacamata itu bagus atau alakadarnya. Tapi mata saya terasa sejuk kalau memakainya.
Sesampai di kantor saya menyalakan komputer, mengetik, membaca berita di situs-situs, mencari sesuatu. Kacamata saya memang baru, tapi sejarah yang kini bertengger di hidung saya sudah sangat panjang. Bangsa Eropa mengklaim merekalah penemu kacamata, tapi menurut literatur, justri ilmuwan Islamlah yang menjadi penemu. Memang banyak penemuan dunia Islam kemudian diklaim sebagai milik Eropa. Biasalah.
Yang tak biasa, kalau kita melirik-lirik terus, padahal pakai kacamata progresif apalagi usia sudah kepala 4.*

0 komentar :

Posting Komentar