On 1/31/2011 03:31:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Akhirnya, saya selesai juga menulis sebuah novel. Judulnya Asrama Bidadari. Masalahnya, dimana akan dicetak, lantas apakah novel itu disukai orang. Okelah, novel telah selesai, tapi tak dibaca orang, apalah gunanya. Di depan awak, ia acungkan semua jempolnya, di belakang, ia cibirkan. Mana tahu.
Tak pernah saya segelisah ini sebelumnya. Kalau membuat cerpen, saya bisalah sedikit-sedikit. Kalau menulis novel, habis hari saya dibuatnya. Untung menulisnya saat malam sepulang kerja. Mulai 16 Mei 2009, lalu berhenti, mulai lagi, berhenti beberapa bulan. Mau mulai lagi datang bencana gempa 30 September. Baru kemudian Februari 2010 dimulai secara intensif dan selesai 25 Maret 2010.
Jika ada penerbit yang mau menerima, maka inilah novel pertama saya yang dijual di pasar. Jika tak ada yang mau menerima, saya punya penerbit sendiri namanya Citra Budaya, sudah ratusan buku diterbitkan oleh Citra Budaya yang kami — saya, Yusrizal KW dan Nita serta Ucok — dirikan beberapa tahun silam.
Tapi letak soalnya bukan di sana rupanya, melainkan itu tadi, “apa akan dibaca orang?” Jika sudah muncul pertanyaan itu, saya kembali cuek. Mau dibaca orang atau tidak, tak soal benar. Tapi, saya yakin, akan ada yang membacanya, karena menurut sejumlah pihak, saya punya gaya bahasa yang khas. Entah apanya yang khas, saya tak tahu pula.
Asrama Bidadari adalah kisah nyata saya sendiri, ditambah kisah nyata orang lain yang saya menjadi saksi matanya, kemudian kisah nyata orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan saya, kemudian beberapa bagian dikarang-karang saja. Meski dikarang-karang, tetap bertolak dari kisah nyata juga. Semuanya dipadu, menjadi sebuah kisah nyata dengan tokoh “Aku” dan “Zeta”. Kisah keseluruhannya tak lain masa-masa saya sekolah di SPG Padang Panjang tahun 1981/1982 sampai 1983/1984. SPG Padang Panjang adalah sekolah yang romantis, setidaknya bagi saya. Dalam satu kelas, 40 orang, hanya delapan laki-laki. Tiga tahun lamanya, bergaul dengan cewek-cewek ranum. Amboi mak.
Kisah nyata dijadikan novel, sebenarnya sebuah pekerjaan amat berat. Membongkar rahasia pribadi. Tapi apa pula ruginya, apalagi ini sebuah kisah cinta yang terpelanting dari orbitnya, sehingga “aku” kehilangan masa-masa indahnya.
Sebenarnya, keinginan menulis novel sudah muncul sejak lama, tapi tak bisa-bisa, karena kesibukkan dan kerena setiap menulis, yang selesai selalu cerpen. Saya pikir-pikir, sebagai seorang wartawan, adalah ganjil menulis novel saja tak bisa. Maka saya keras-keraskanlah hati ini. Alangkah sulitnya melewati 50 halaman, tapi kemudian lancar-lancar saja hingga 200 halaman. Melewati 200 halaman muncul lagi kesulitan. Kesulitan bukan pada meteri, tapi apakah kisah selanjutnya akan dipisah atau disatukan dengan Asrama Bidadari. Saya ingin menulis minimal dua novel, maka Asrama Bidadari diakhiri sampai 240 halaman saja. Mana tahu, mumbang jadi kelapa, laris pula novel saya ini, maka saya tulis novel kedua, ya ndak?
Celakanya, ketika saya minta tolong sama Zulfadli, staf Singgalang di bagian pracetak untuk diprint-kan naskah itu, ia malah melayoutnya menjadi novel benaran, dikasihnya kulit, dijilidnya pula. Sampai di sana, sebenarnya sebuah karya saya sudah selesai, sebab sudah berbentuk novel. Untuk sejarah hidup, terpenuhi sudah.
Ah, pada usia 40-an, ada-ada saja yang teringat. Masa remajalah yang indahlah. Jika tak disalurkan dengan tepat, alamat bacakakawak dengan istri di rumah. Untung saya menyalurkannya lewat tulisan, he he he he *

0 komentar :

Posting Komentar