On 1/31/2011 03:58:00 AM by Khairul Jasmi in     2 comments
Malam sebentar lagi larut, tapi Payakumbuh semakin ramai. Sepanjang jalan nan lurus pedagang kaki lima berderet rapi. Cahaya lampu dari gerobaknya berpendar. Lalulintas agak ramai.
Di sebuah lorong, terlihat kerumunan. Sayup terdengar bunyi saluang. Sayup pula suara seorang wanita terdengar mengalun dan meliuk.
Saya membeli celana pendek untuk tidur. Kelupaan membawanya. Rp25 ribu/helai. Pas di badan. Teman saya juga begitu. Yang lain membeli pasta gigi, rokok dan makanan ringan.
Kemudian saya dan teman-teman melaju mencari makan. Mau makan nasi, atau makanan berat lainnya, semua tersedia. Apalagi makanan ringan.
Anak-anak muda, terlihat bergerombol, entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin tentang gadis manis di sekolahnya. Beberapa lelaki dewasa terpaku di depan televisi di sebuah rumah makan yang besar dan masih ramai.
Ramai nian Payakumbuh kalau malam rupanya. Berbeda dengan Padang. Mungkin karena di Payakumbuh terkonsentrasi, jadi terlihat kontras. Tapi tidak juga. Bukittinggi kalah olehnya, apalagi Batusangkar dan Solok.
Menurut pengamatan saya, Payakumbuh ternyata memang hidup jika malam. Ini mungkin didukung oleh warga sekitar, terutama kaum lelaki yang ke pasar mencari angin sejak sore hingga malam.
Tentang mencari angin, masih segar dalam ingatan, tatkala Payakumbuh masih dipenuhi sepeda. Kala sore — waktu itu — sepeda memenuhi jalan bak laron di sekitar neon.
Ah romantisnya dan saya terselip di antara mereka mengayuh sepeda teman yang belajar di Sekolah Teknik (ST). Lambat-lambat menyusuri jalan dalam kota, tak terasa lelah. Saya berhanti di Jembatan Ratapan Ibu, di bawah airnya mengalir, bersendandung, seperti nyanyian dari gunung.
Orang kampung saya doeloe candu benar ke Payakumbuh seperti juga ke Batusangkar. Pulang membawa kerupuk, panyiaram, galamai, serta makanan ringan lainnya. Kalau sakit dan obatnya harus daging kuda, maka dikejarkan sebentar ke Payakumbuh membelinya.
Beberapa orang dari kami pergi menonton pacu kuda ke Payakumbuh, seperti juga ke Bukittinggi dan yang pasti ke Batusangkar. Bahkan saya dan beberapa teman berjalan kaki dari kampung menembus bukit terus ke Tungkar, Situjuh dan sampailah di Payakumbuh. Sebentar saja sudah sampai. Pulang, tentu saja naik bus.
Lalu malam itu, saya nikmati Payakumbuh. Keramaiannya, kemeriahannya melebihi kota kecil lainnya di Sumatra Barat. Saya tidak tahu, pasti ada yang hilang di kota itu, tapi entah apa. Yang pasti sepeda sudah tak ada lagi, diganti motor yang menderu-deru. Sebuah lapangan luas nan hijau, tempat anak-anak dilepaskan bermain. Adakah ruang terbuka hijau (RTH) itu di Payakumbuh? Yang saya tahu ada mall, sebuah lambang ‘kemajuan’.
Bisa jadi RTH tidak ada, namun ada Ngalau Indah, tempat cinta pernah dipautkan. Nyamankan membawa anak-anak ke sana?
Ah, malam itu, salung mengalun terus. Mengimbau-imbau orang untuk singgah. Lewat saluang, cinta kasih, parasaian iduik dipaparkan sedemikian menariknya.
Siapa suka saluang? (*)

2 komentar :

  1. nice info
    tanks
    http://tokoonlinepayakumbuh.com/

    BalasHapus
  2. Halo semuanya, nama saya Indrias Priastuti seorang wanita dari indonesia, dan saya bekerja dengan negara yang berlipat ganda, dan kami telah mendengar dan juga dari perusahaan pinjaman, saya ingin segera menggunakan media ini untuk seluruh indonesia untuk mencari pinjaman internet Sangat hati-hati - Berhati-hatilah agar tidak jatuh ke tangan scammer dan penipu, ada banyak kreditor kredit palsu di sini di internet dan beberapa dalam usaha yang tulus dan nyata,

    Saya ingin memberikan testimonial saya tentang bagaimana ALLAH membimbing saya kepada pemberi pinjaman yang sebenarnya dan dana pinjaman nyata telah mengubah hidup saya dari rumput menjadi Rahmat, setelah saya dibodohi oleh beberapa kreditur kredit di internet, saya kehilangan banyak uang untuk biaya pendaftaran . . , Garansi, pajak, dan setelah pembayaran saya masih belum mendapatkan pinjaman saya.

    Setelah berbulan-bulan di internet dan banyaknya uang yang dikeluarkan tanpa mendapatkan pinjaman dari perusahaan mereka, kemudian saya menjadi sangat putus asa untuk mendapatkan pinjaman dari kreditur kredit asli online yang tidak akan menambah rasa sakit saya sehingga saya memutuskan untuk menghubungi teman saya yang baru saja mendapat Pinjaman online, kami meresmikan masalah ini dan dia menceritakan kisah seorang wanita bernama Nyonya ELINA JOHNSON yang merupakan CEO dari PINJAMAN GLOBAL ELINA JOHNSON.

    Jadi saya dan suami mengajukan pengajuan pinjaman (Rp1.000.000.000) dengan tingkat bunga rendah 2%, tidak mengindahkan usia saya, karena saya mengatakan apa yang saya inginkan untuk membangun bisnis saya dan pinjaman saya telah disetujui dengan mudah. Tanpa stres dan semua persiapan dilakukan dengan transfer kredit dan dalam waktu kurang dari sehari setelah sertifikat yang saya setorkan ke bank dan impian saya datang. Jadi saya ingin saran yang memerlukan panggilan cepat sekarang atau email di elinajohnson22@gmail.com
    Tak berhenti sampai disitu, sang ibu memastikan tim ahlinya membantu Anda tentang cara berinvestasi sehingga Anda tidak akan pernah bangkrut lagi dalam hidup Anda.
    Dia adalah wanita yang sangat baik dan dia tidak tahu saya melakukan ini. Saya berdoa agar ALLAH memberkatinya atas hal-hal baik yang telah dia lakukan dalam hidup saya. Anda juga dapat menghubungi saya di indriaspriastuti2@gmail.com info lebih lanjut ..

    BalasHapus