On 1/31/2011 03:44:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Pemerintah ingin ada pendidikan karakter di sekolah-sekolah, sebab banyak yang sudah melenceng, terutama sopan santun dan moral. Dalam bahasa kerennya, diperlukan segera pendidikan dengan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi.
Ini sama saja dengan menyuruh petani memakai pupuk kandang, setelah dipaksa oleh pemerintah memakai pupuk pabrik. Dulu pemerintah hebat ini sudah dingatkan, tapi tak dihiraukannya. Lalu kini, seperti bergegas ingin menanamkan pendidikan karakter di sekolah.
Jam pelajaran agama dikurangi, jam pelajaran sejarah, sejarah perjuangan bangsa dipangkas, jam pelajaran PMP ditiadakan, jam pelajaran. Kini merentak-rentak dan risau. Anak panah sudah tuan lepas dari busurnya, lalu tuan gelisah sendiri.
Kini, anak sekolah kekurangan waktu karena sepulang sekolah langsung les. Les apa saja asal tentang pelajaran di sekolah. Staf pengajarnya guru-guru yang tadi pagi mengajarkan hal yang sama di sekolahnya. “Karakter-karakter a juo lai ko ha, awak ka les,” kata anak-anak.
Sekolah dan pemerintah yang hebat itu juga membagi ruang kelas — di SMA — menjadi kelas IPS dan IPA. Amboi mak, anak IPS dianggap bodoh, anak IPA dianggap pintar, tapi waktu ujian SNMPTN anak IPA memilih IPS. Kalau tetap pilih IPA, banyak maunya kedokteran saja. Guru membuat garis pemisah bahwa anak IPA harapan bangsa sampai ke langit. Anak IPS? Tukang ribut. Pokoknya kalau anak suka bertanya, suka interupsi, itu namanya tukang ribut. Guru tak suka itu. Anak baik adalah, menekur saja sepanjang jam pelajaran, tak ribet dan suka mencatat. Kalau pendapat guru digugat, alamat orangtua akan dipanggil ke sekolah. “Anak ibu suka menyolang guru, payah kami dibuatnya, tapi anak IPS memang begitu, jadi tolong perhatikan anak kita di rumah.” Hebat nian guru sekarang dan itulah dosa guru yang tidak ia sadari.
Lalu, ada pula kelas internasional hebat bana sangaik. Kalau masuk ke kelas itu, tak dapat lagi yang akan disebut. Si anak hebat, sekolah hebat, orangtua hebat. Naik bahu awak kalau berjalan dibuatnya.
Banyak orangtua yang keluar urat lehernya karena marah, kenapa anaknya tak masuk kelas IPA. Kadang, orangtuanya yang heboh sendiri, sebab anaknya ingin di IPS bukan IPA. “Kok ndak mama se lah sikolah ha, masuak nah lah ama ka IPA itu,” ini kata teman saya, tatkala anaknya tak mau masuk kelas IPA. Taduduak si Mama dibuatnya.
Anak punya kemampuan, kecenderungan dan kemauannya sendiri. Jika ia mau masuk MAN, jangan dipaksa masuk SMA. Jika mau SMK, jangan dipaksa masuk SMA. Jika IPA jangan dipaksa masuk IPS dan sebaliknya.
Ketika kusut masai di ruang belajar tak kunjung terselesaikan, ketika guru dibebani tugas yang maha berat, kini muncul lagi tugas baru: pendidikan karakter.
Sementara itu, sekolah membantah telah membuat kastanisasi, meminggirkan anak miskin, tapi ribuan anak miskin tak bisa sekolah. Tak ada uang sama sekali. Pemerintah Sumbar yang peduli pendidikan ini, katanya, belum mampu menolong semua anak miskin.
Bacalah Harian Singgalang, hampir tiap hari, ada berita anak miskin yang menangis karena tak bisa kuliah, padahal mereka, lulus di perguruan tinggi.
Jadi pendidikan karakter memang perlu, terutama untuk menajamkan kembali kepedulian sosial agar hati pejabat pemegang kuasa, mau menolong anak-anak miskin, misalnya dengan segera mengoperasionalkan Yayasan Pendidikan Sumatra Barat yang uangnya ratusan miliar itu.
Jika gubernur baru besok, fokus pada satu persoalan saja, yaitu pendidikan, maka sukseslah dia. Kalau semua akan dikaca, sukses juga, tapi menurut dia saja, menurut orang lain tidak.

0 komentar :

Posting Komentar