On 1/31/2011 03:54:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Oleh Khairul Jasmi

Seringkali kalau berbelanja di mall atau swalayan, kita menerima permen sebagai uang kembalian. Pada tahun 1988, di Palembang Jenderal Koesparmono Irsan (mantan Kapolda Sumbar) menyampaikan kepada saya dan Hasril Chaniago, bahwa dengan ‘alat tukar permen’ itu, maka miliran uang tiap hari terkumpul dan itu menjadi keuntungan yang tersembunyi.
Harga barang-barang di Indonesia memang aneh, misalnya Rp499.900. Kembalian uang seratus perak tidak ada. Padahal koin Rp100 ada, tapi seenaknya diganti saja dengan permen. Jika hanya satu orang yang menerima pengembalian dengan permen setiap hari, tak soal benar. Jika 100 orang, di satu mall atau swalayan atau apalah namanya, kalikan saja berapa jumlah mall di Indonesia. Kalikan pula sebulan. Jadi, kata Koesparmono, itu bentuk ‘penipuan’ kepada masyarakat. Ia minta hal itu dihentikan.
Tapi kini sudah 2008, permen tetap saja akan jadi alat tukar. Meski kita tahu, permen bukan uang. Tapi saya yakin, hal itu akan makin marak. Betapa tidak, sebentar lagi ongkos angkot akan turun Rp200/penumpang, menyusul turunnya harga BBM Rp500/liter.
“Jika tarif semula Rp3.000, kemudian turun jadi Rp2.800 maka uang kembalian akan sulit dilakukan. Akibatnya, kembalian bisa ditukar dengan permen saja. Kami harapkan penumpang tak keberatan. Karena uang pecahan Rp200 saat ini sudah jarang ditemui atau dianggap tak bernilai,” kata Ketua Departemen Angkutan dan Prasarana DPP Organda, Rudy Thehamihardja, di Jakarta, Selasa pekan lalu.
Nah, Organda sudah minta kepada masyarakat, ‘harap maklum’.
Inilah nasib kita, seperti main-main tapi serius. Pemerintah sudah lama melecehkan mata uangnya. Pecahan Rp100, dibiarkan tak berharga. Tidak ada lagi yang bisa dibeli dengan pecahan itu, kecuali permen. Mata uang kita kian lama kian berkurang harganya. Itu kenyataan di tengah-tengah masyarakat.
Ketika ongkos turun Rp200, maka hal itu akan memperpanjang usaha pemerintah mengajak rakyatnya melecahkan mata uangnya sendiri. Tak ada kembalian Rp200. Uang koin pecahan Rp100 sulit didapat, jika pun ada ringan, seringan kapas. Uang pecahan Rp500 saja sudah ringan, tak berwibawa lagi. Tidak tahu, kenapa bangsa ini kurang peduli dengan koin, padahal negara maju memerlukan koin untuk banyak hal.
Bank Indonesia (BI) juga ikut melecehkan uang yang ia cetak sendiri. Mereka yang bekerja di bank sekolahnya tinggi, jadi tak mungkin bertindak salah. Tapi, menurut mata awam, dengan cara memperbesar nominal koin, maka sebenarnya pemerintah dan bank telah merendahkan mata uangnya sendiri.
Rupiah memang rapuh, tiap sebentar balambin,  cengeng dan rentan terhadap dolar. Ini, juga nasib buruk lagi!
Tempo hariBI menyatakan dalam waktu dekat akan menerbitkan uang lembaran Rp2.000 dan pada saat bersamaan lembaran Rp1.000 akan ditarik. Tapi untung kemudian dibatalkan. Kalau lembaran Rp1.000 tak ada lagi, coba bayangkan.
Memang satu persatu nominal terendah uang rupiah telah menjadi almarhum. Makin berjalan waktu, kian hilang nominal terkecil uang kita. Tak tahu apakah di negeri orang juga begitu, tapi rasanya, untuk dolar AS, tidak demikian.
Tapi sudahlah, naik sajalah angkot, kalau disonsongnya uang kita dengan dua biji permen, jangan rewel, terima sajalah, sebab akan membuat pusing.
Atau ada cara lain, kumpulkan koin Rp100, kalau tak ada tukarkan ke BI. Kan ado semboyan ‘Ayo ke Bank’, ya mari kita ke bank, tukarkan uang kita dengan koin.
Tapi aneh juga, kenapa koin itu tidak disebar saja ke pasar, atau adakan operasi pasar uang koin. Bukan untuk mengatasi kembalian dengan permen saja, tapi untuk menumbuhkan rasa cinta uang sendiri. Rasa terpikat pada koin.
Sayang ya, koin kita ringan, tak ada harganya. Saya rindu memasukan koin ke box, kemudian keluar berketunyang minuman segar seperti Coca Cola, Aqua dingin berpeluh dan minuman dingin lainnya. Masukan uang, keluar koran, seperti di negeri orang yang ada hampir di setiap tikungan.*

0 komentar :

Posting Komentar