On 1/26/2011 05:25:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Bagai bola cogok di depan net di lapangan voli, pernyataan Presiden SBY soal gaji sudah 7 tahun tak naik, dismash habis oleh berbagai kalangan. Tak bisa diblok lagi. Masuk dan bola pindah, pemain berputar. Bola dipukul, melambung ke udara, melewati net. Di seberang disambut pemain tengah, diberikan kepada teman. Tiga pemain bersiap di depan net, satu bersiap memukul, satu lagi mengintai di belakang. Braaak. Bola dipukul, masuk.
Begitulah main voli di lapangan politik Indonesia. Net kendor, bola balak-balak, peluit tak ada, garis lapangan kabur, pemain tak bersepatu, juga tak berbaju seragam. Main tanpa pemanasan, posisi tidak sesuai keahlian. Maka banyaklah pelanggaran. Yang penting bukan mainnya, tapi candu lepas, keringat keluar.
Lalu muncul sebuah bola cogok. Lama tak memukul. Bola manis depan net disambar habis. Pastilah masuk. Penonton bersorak, kebanyakan anak-anak pulang mengaji. Induak-induak mengintip sebab mereka sedang memasak di dapur. Oh ya, ini lapangan voli di sebuah kompleks perumahan
Awalnya adalah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY) soal gajinya yang tidak naik. Pernyataan itu, “diselipkan” begitu saja dalam pidato. Tapi, itulah, sumbarang mengecek saja. Saya melihat reaksi dari para politisi justru berlebihan, sampai-sampai membuka kotak “Koin untuk Presiden” di DPR-RI. Hemat saya, hal semacam itu sudah masuk pada penghancuran wibawa SBY.
Pilihan kata-kata memang sinis, tidak negawaran, terutama dari lawan-lawan politik SBY. Dari sisi “seberang” pilihan kata itu sudah benar, tokh yang memulai SBY sendiri. Mengapa dia bicara gaji di tengah kehidupan rakyat yang sulit. Saat persoalan bangsa yang banyak, terutama masalah korupsi. Tuntaskan dulu kasus Gayus, selesai satu tahap. Mau bicara gaji silahkan.
Dari sisi pendukung SBY, terbaca ungkapan, perbuatan lawan terasa nyinyir dan sinis. Inilah yang dikeluhkan Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
“Itu lebih merupakan cermin dari sinisme dan kenyinyiran politik yang tidak mengesankan, dan jauh dari asas manfaat,” katanya.
Sedangkan Ketua MK, Mahfud MD menilai apa yang dikemukakan presiden SBY soal gajinya, bukan keluhan. “Jika memang SBY ingin naik gaji, Keppres Renumerasi pasti sudah ditandanganinya sejak empat tahun lalu,” kata Mahfud.
Mahfud menilai, SBY merasa tidak etis menaikan gajinya sendiri. Dia mengaku ketika akan menjadi Ketua MK, masalah gaji termasuk salah satu hal yang diperhitungkan.
Teman saya pengamat hukum dari Universitas Andalas, Tasman juga gusar. “Keterlaluan, tidak intelelek,” kata Tasman.
Menurut dia, bagaimanapun juga presiden tetaplah presiden, harus dihormati. Malah, katanya, keluhan SBY itu, sebenarnya menunjukkan kepeduliannya pada aparatur negara, TNI dan Polri. SBY memastikan gaji semua naik, biarlah gajinya tak naik.
Tasman dulu juga ‘naik pitam’ terhadap SBY yang dinilai lambat. Tapi cobalah lihat, kata dia, menteri-menteri banyak dari daerah, semua golongan dan agama dirangkul.
Ibarat menonton pertandingan sepakbola, penonton lebih pintar dari pemain. Disuruh benar main, lima menit, ia sudah angkat tangan. Begitulah kita. Tapi bukan berarti, mentang-mentang jadi penonton nyinyir, lantas harus main bola, dimana pula rumusnya begitu? Penonton tetaplah penonton dan harus nyinyir. Karena itu, jangan marah diteriaki penonton.
Tapi, hemat saya, membuka “Koin untuk Presiden” memang sebuah sarkasme politik. Sarkasme adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Majas ini dapat melukai perasaan seseorang. Biasanya sarkasme digunakan dalam konteks humor.
Itulah politik, melukai, meninabobokan, ketika yang lain tak peduli pada siapapun, meski sebelumnya menghamba-hamba pada rakyat. Politik adalah main incek kapeh.
SBY berada dalam putaran cepat politik Indonesia. Dulu ia dipuja, akibat politik pencitraan. Induak-induak berbondong-bondong memilihnya. Kini ia mulai digerogoti. Sekuat apa SBY bisa bertahan dan sekuat apa lawan menghantamnya, akan menjadi pemandangan yang menarik pada setelah ini.
Intinya, tetap saja berebut kekuasaan. “Koin untuk Presiden” juga merupakan salah satu bentuk baru dalam menghantam SBY. Semakin dihantam, semakin mantap tegak SBY. Jangan-jangan semua ini diskenariokan dari Istana.
Ibarat mengejar tupai, dikejar, dipungkang, ia melayang ke batang surian. Dipanjat batang surian, awak sampai di tengah, ia lari ke pucuk, dihoyak, tupai pindah ke pohon lain. Awak turun ke tanah, tupai pindah ke pohon dadok, dipungkang sekali lagi, pindah ke batang anau. Dilantiang, ia melompat ke pohon cempedak. Digigitnya buah cubadak itu sambil lari. Yang mengejar napasnya sesak dan tupai kian menjauh. Hari senja, perut lapar.
Tanggal 1 pun tiba, ini hari gajian. Anggota dewan pun tak luput. Gaji diterima segepok bulek. Akhir pekan libur bersama anak istri. Hari libur bukan untuk berpolitik, apalagi memikirkan rakyat.
Sebentar lagi, isu lain akan muncul, sasaran tembak tetap SBY. Makin banyak isu hebat, makin besar beritanya. SBY memang pandai mencarikan ide liputan.
“I don’t care,” kata SBY suatu ketika. Jadi berita pula. He he he... (*)

0 komentar :

Posting Komentar