On 1/31/2011 03:57:00 AM by Khairul Jasmi in     2 comments
Khairul Jasmi

”Georgia,” anak saya, Jombang Santani Khairen menjawab dengan tangkas, tatkala pembawa acara di RCTI Tamara Geraldine mengajukan pernyataan ketika Piala Dunia 2002 Korea Jepang, digelar.Saya lupa apa pernyataannya, yang saya ingat, untuk menelepon ke RCTI, susahnya minta ampun, tapi anak saya yang waktu itu berusia 11 tahun, berhasil. Ia mendapat hadiah Rp1 juta. Malam besoknya:”Kamu lagi Jombang, nga boleh lagi, kamu terus, kemarin sudah, ini anak lihai amat,” Tamara terkejut, sebab orang lain susah nyambung, Jombang justru bisa. Hadiah harus dibagi rata, maka Jombang ditolak untuk ikut menebak kedua kalinya.Pekan lalu, saya membaca tanya jawab pembaca lewat SMS dengan Tamara di Kompas. Serta merta, saya teringat anak saya Jombang yang sekarang sudah kuliah. Dialah yang memberitahu saya bahwa dulu, ia menjawab “Georgia”.Saya memang menggagumi Tamara kalau ia tampil membawa acara bola, tapi tidak untuk acara lain. Ketika membaca Kompas, saya menjadi kecil, saat Tamara bicara:”Saya lebih bahagia ketika akhirnya dipanggil ‘inang’ oleh anak-anak dan keponakan-keponakan saya, ketimbang panggilan-panggilan sebelumnya, yaitu ‘bunda’, ‘mama’, atau ‘mommy’”Tamara memang orang Batak dan ia bangga dipanggil inang. Anak-anak saya mamanggil mama dan papa kepada kami. Waktu anak pertama lahir, saya berperang dengan diri sendiri, harus memanggil apa anak pada kami. Saya takluk di bawah keangkuhan zaman. Maka jadilah papa dan mama.
Namun untuk memberi nama, zaman tarompa kida ini, takluk di tangan saya. Anak pertama saya namanya, Jombang Santani Khairen, sebuah khasanah sangat Minang. Ketakutan saya tak pernah terjadi, “jangan-jangan dia kesulitan menjelaskan namanya pada orang lain”.Di Universitas Indonesia, dimana ia kuliah, tak pernah ia kesulitan untuk itu. Sejak kecil kepadanya sudah saya beritahu, namanya adalah sebuah nama yang indah. “Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia,” kata saya padanya. Rupanya, ia juga menguji namanya di terjemahan google, ternyata artinya handsome, gagah.Anak kedua kami perempuan, Seruni Puti Rahmita namanya. Dari khasanah Minang tentunya. Ia bangga dengan nama itu. Seperti juga saya dan istri.Saya baca lagi soal Tamara di Kompas 13 Juli 2010 itu sambil minum kopi luwak di Atrium Plaza, Jakarta. Teringat saya Umi saya memilih biji-biji kopi yang dijatuhkan tupai di parak kaki bukit di desa dulu. Teringat Umi saya menumbuk kopi. Betapa kopi menjadi berbeda jika diminum di tempat berbeda.”Saat ini, setelah lebih dari 15 tahun bekerja, sudah seharusnya uang yang bekerja buat saya. Bukan sebaliknya.” Kata-kata Tamara ini, kembali memukul saya dengan telak. Menurut dia pada usia 30-40, kewajiban kredit rumah dan mobil sudah tidak ada lagi, jadi giliran kita menikmati hasil jerih payah.Inilah yang disebut kemakmuran itu. Kebahagiaan itu, antara lain juga karena hal tersebut. Cuma saja, saya dan jutaan orang lainnya, di usia 40 tahun lebih masih bekerja untuk uang, bukan sebaliknya. Bahkan, seperti saya baca di Majalah Intisari, tentang wanita-wanita perkasa dari lereng Merapi, Jawa Tengah, sejak subuh membanting tulang mencari uang. Saya bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikanNya. Istri saya selalu nyinyir mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Apalagi Umi saya.
Namun saya gelisah melihat kehidupan orang-orang sekitar yang tak bercekupan. Orang-orang yang datang ke Redaksi Singgalang, menceritakan tak punya uang untuk mengobati anak, suami dan istrinya yang terbaring lemah, yang tersandera di rumah sakit dan sebagainya. Ibu-ibu yang sederhana meneteskan air mata, tatkala bercerita tentang anaknya yang lulus tanpa tes di perguruan tinggi, tapi tak ada uang. Segalanya diceritakan dan kami memberitakannya. Dan para dermawan membantunya. Syukur ya Tuhan.Saya baca sampai habis tanya jawab Tamara, saya ulang beberapa bagian. Ia wanita yang sukses, tapi sebelumnya saya telah gagal mengontaknya untuk menulis komentar Piala Dunia di Harian Singgalang. Saya ingin ada wartawati Singgalang secerdas dia menguliti bola. Tapi wartawati saya menyukai bidang lain, tidak bola.Kopi luwak tinggal setengah, rasanya nikmat memang. Segelas kopi yang mahal telah saya bayar untuk sebuah selera bercita rasa tinggi. Jujur, saya menyesal membayar segelas kopi semahal itu. Tapi, bukankah gaya hidup harganya memang mahal? Sesekali, tak apalah.(*)

2 komentar :

  1. Salut abang menang mematrikan indentitas keminangan di nama anak. Kalau saya gagal soal ini karena takluk dengan penolakan istri. Dia nilai itu udah ketinggalan. padahal saya sudah siapkan nama nama hebat keminangan. Akhirnya, saya tidak kalah 100% karena masih bisa menang dengan usulan nama ke araban. ya akhir disetujui nama Dhiya Shakila Insani. he he he.
    Soal ocehan Tamara supaya duit yang bekerja, saya setuju juga. Akan tetapi kalau filosofinya soal kebahagiaan saya tidak setuju! Saya kadang iri sama orang gunung dan kampuang yang pergi subuh pulang menjelang maqrib. Saat ini, justru banyak oran kaya justru merindukan itu. Ada kedamaian terbayang dalam lamunan saya soal rutinitas orang kampuang itu. Kalau itu ekspresi kebahagian maka berarti kehidupan seperti itu ternyata lebih membahagiakan. Sekarang manusia meletakkan kebahagiaan pada seberapa banyak uang yang didapat atau seberapa baru keluaran mobil yang bisa dibeli. Akhirnya kebahagiaan seperti bayangan diri, makin dikejar makin menjauh dan tidak pernah diraih. Hanya kemelaratan yang tidak membahagiakan. Untuk itu jangan hidup sampai melarat. Kalau kaya alhamdulillah, biar bisa sedekah dan membantu membangun mesjid atau sekolah. Orang banting tulang di sawah atau proyek bangunan bisa jadi lebih berbahagia karena ada semangat dan cita-cita yang terus hidup dalam dirinya.

    BalasHapus