On 1/31/2011 03:56:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Saya dibelenggu oleh kartu seluler saya sendiri. Beberapa bulan ini, nomor yang saya pakai sering berulah. Sedang bicara, putus. Kalau tersambung, suara tak jelas. Kalau ngirim SMS tersangkut, SMS orang tak masuk-masuk. Paginya, SMS yang tersangkut itu, masuk berketuntang.
Saya bawa ke Telkomsel di Khatib Sulaiman, katanya, HP yang rusak. Tak tahu saya apanya yang rusak. Saya reparasi. Beres. Tak lama kemudian muncul lagi penyakit serupa. Katanya memori HP saya penuh, pada yang terisi baru sedikit.
Keluhan serupa bukan datang dari saya saja, tapi hampir dari banyak orang.
“Ini nomor yang bagus, ganti saja,” kata teman. Saya ambil nomor dari operator lain itu. Selain nomor cantik, tak ada suara putus-putus. Masalah muncul, orang sudah kenal dengan nomor saya sebelumnya. Menggantinya repot. Ketika itulah saya merasa terbelenggu oleh telepon genggam saya sendiri.
Banyak hal yang disayangi membelenggu kita. Banyak hal yang membelenggu, kita sayangi. Dibelenggu atau pun tidak, kita enjoy-enjoy saja. Tapi untuk urusan telepon genggam, saya sering geram dibuatnya.
Mau protes, tak dihiraukan benar. Protes kecil-kecil semacam ini, kita akan dihadapkan pada barisan antre di gerai pelayanan. Lalu pelayan dengan suara yang amat ramah, menayakan kepada kita, apa yang bisa dibantu dan sebagainya. Untuk bisa sampai ke meja si gadis manis yang melayani kita, ambil dulu nomor antre, seperti di bank. Syukurlah kalau semua meja pelayanan ada orangnya, kalau tidak, maka antrean akan kian panjang dan masa yang terpakai kian lama.
Karena saya sudah lama memakai nomor yang sekarang, saya sayang menggantinya. Namun kalau berulah juga, apa boleh buat. Jalan keluarnya sudah saya temukan. Ganti dan kirim SMS ke semua nomor di kontak untuk mengabarkan, “saya sekarang pakai nomor ini.” Banyak orang sudah melakukan hal serupa.
Kehilangan satu pelanggan, bukan hal besar. Namun sesungguhnya, bagi kalangan pebisnis, hal itu, sangat merugikan. Bisa jadi pada hari yang sama ribuan pelanggan pindah ke lain hati.
Mereka yang loyal dengan satu merek adalah yang sudah betul-betul lama bersama merek tersebut. Namun mayoritas pemakai karyu seluler, adalah konsumen yang tidak loyal. Tiap sebentar ganti kartu. Mau ganti atau tidak itu urusan mereka. Urusan pemegang merek adalah bagaimana mempertahankan pelanggan yang sudah ada.
Itu urusan bisnis. urusan konsumen kalau menelepon tak ada gangguan dan kalau pulsa habis, tambah, atau bayar saat jatuh tempo. Tak ada pulsa, tak bisa menelepon. Urusan kedua belah pihak yang saling terkait dengan erat itu, berlangsung dalam bisu, tanpa tegur sapa. Itulah bisnis modern.
Keluhan, dalam bisnis yang sudah menggurita, sering terabaikan. Jika terlayani, cenderung dalam skala terbatas. Keluhan, jika sama jenisnya dari banyak pelanggan, harus diatasi secara profesional dan diumumkan secara luas. Jika didiamkan, konsumen melakukan hal lain: lari.
Lari ke nomor lain, itulah yang sedang saya rancang sekarang. *

0 komentar :

Posting Komentar