On 1/31/2011 03:38:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
“Sabalun ado FB (facebook) ko, pasti dak sarami ko ucapan ultah da kaje e......dulu pakai kartu pos..kini pakai tulis di dinding. Semoga da kaje bersedia dicalonkan jadi gubernur Sumbar...dalam rangka ultah ko...” Maksudnya kira-kira begini: Sebelum ada FB orang mengucapkan selamat ulangtahun dengan kartu ucapan dan karena berulangtahun, sudilah kiranya dicalonkan jadi gubernur.
Ini pesan dinding Nasrul Azwar dari Bangka Belitung untuk saya yang pekan lalu berulangtahun. Ada dua bagian pesan Nasrul itu, pertama, dulu kalau orang berulangtahun, pesannya manual, kemudian pakai SMS dan kini makin canggih, lewat FB. Pesan kedua, saya didiminta jadi gubernur.
FB dan email telah dituding jadi penyebab banyak perkara, mulai dari Prita Mulyasari sampai empat anak SMA di Tanjung Pinang yang dikeluarkan dari sekolahnya. Orang mengeluh, kena hukum. Keluhan itu, sesungguhnya telah dibahasakan sehari-hari, tapi tak sampai ke alamat. Kali ini karena dituliskan, maka ketahuan. Lalu dihukum.
Pesan Nazrul Azwar, yang pertama — soal peran FB — ada benarnya. Pesan yang kedua — soal jadi gubernur — mungkin Nasrul Azwar senewen. Betapa takkan senewen, pertama disebabkan saya tak ada uang. Kalau saya bodoh-bodoh tanggung, tapi uang banyak, maka saya tancap gas menuju BA 1. Kedua, kalau ditanggapi pernyataannya itu, saya yang senewen dibuatnya. Jadi, itu garahnya saja. Bagaimana bisa jadi gubernur, sekarang saja calonnya sudah mendekati 50 orang, saya tak mau menambah daftar orang-orang gagal. Bayang-bayang harus sepanjang badan.
Soal ulangtahun, bagi saya datar saja. Bagi banyak orang, ulangtahun seperti tiba-tiba bertemu dengan orang yang dikaguminya, gerincang benar hatinya, riang tak terkira. Seperti mendapat adik baru.
Penafsiran saya atas ulangtahun itu, tak terlepas dari budaya pedesaan yang menyertai saya sampai hari ini. Mana pula di kampung saya ada ulangtahun, sebab bukan bagian dari siang dan malam saya yang lazim. Saya baru terlibat acara ulangtahun ketika di SPG Padang Panjang pada 1983. Seorang teman saya merayakannya dan saya diundang bersama teman-teman lain. Ketika ulangtahun saya tiba, teman-teman merayakannya. Maka saya gembira-gembirakan pula hati saya, tapi tetap saja tidak nyangkut.
Waktu pacaran dirayakan pula oleh pacar, saya yang habis dibuatnya, untuk mentraktir. Jadi, tidak ladang saya di perayaan ulangtahun tersebut.
Namun, ketika saya menerima ucapan selamat ulangtahun di FB dan di SMS, saya jadi berpikir, jangan-jangan saya yang salah. Saya yang memproteksi diri menganggap bahwa seharusnya tak ada perayaan ulangtahun, padahal itu penting. Kalau tak penting, kenapa ada peringatan segala. Untuk saya, tak tanggung banyaknya yang mengucapkan, baik dengan guyonan, serius atau mengirim kue dan bunga lewat FB. Tentu yang dikirim gambarnya saja.
Sahabat yang sama mengirimi juga ucapan selamat hari raya kalau lebaran datang. Habis pulsanya. Tapi di SMS ucapan untuk saya dan untuk ratusan orang lain sama bunyinya. Biasanya saya membalasnya satu persatu dengan menuliskan namanya sebagai tujuan SMS.
Kita hidup memang tidak sendiri, satu sama lain saling membutuhkan. Kita butuh bantuan, butuh membantu, butuh marah, butuh dimarahi, butuh cinta, butuh mencintai. Kita butuh dicuekin, kita butuh disanjung. Namun ada orang yang selalu merendah, rendah hati namanya. Ada pula yang tinggi hati, dia saja yang hebat, sombong namanya. Semua kita layani.
Begitulah, saya semakin tua saja dan pada hari yang sama mungkin jutaan orang merayakan hal yang sama. Jutaan orang lahir dan jutaan lainnya meninggal dunia. Tumbuh dan rontok bagai daun-daun.
Kalau diinap-inapkan, umur manusia memang pendek. Kebanyakan orang sejak kecil sampai tamat kuliah, menjadi makhluk yang tergantung sepenuhnya pada orangtua. Ketika itu umur 20-an. Kalau tak dapat kerja menganggur dulu. Setelah dapat kerja berumahtangga. Lalu memiliki anak, bekerja siang malam. Tak tahu hari sudah habis saja, rumah belum ada, anak sudah besar-besar, pendapatan tanggung.
Hidup menderita, sederhana, bahagia, sangat bahagia, merupakan nasib masing-masing. Bisa jadi, perayaan ulangtahun erat kaitannya dengan nasib.
Kepada seluruh sahabat, saya ucapkan terimakasih. Hidup memang sebentar, tergantung bagaimana kita mengelolanya. *

0 komentar :

Posting Komentar