On 2/25/2011 06:25:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Uda Basril Djabar pemilik Harian Singgalang, di ruang kerjanya pekan lalu, menyergap saya dengan pernyataan, “bara dek angku sakupang tu? Saya menggeleng.
“Kalau saringgik Rp2,5,” jawab saya.
“Sakupang tu 50 sen,” kata Buya Bgd M Letter membantu.
Buya bersama pengurus inti LKAAM Sumbar bertamu ke Singgalang untuk suatu urusan. Pembicaraan yang awalnya soal adat istiadat melebar pada rencana pemerintah melakukan redenominasi, yaitu suatu tindakan penyederhanaan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya. Jika jadi dilakukan, maka uang Rp1.000.000 diganti dengan uang baru Rp1.000. Jika membeli sebuah benda seharga Rp1.000.000, tapi dibayar dengan uang baru yang Rp1.000, tak masalah. Jual beli akan tetap terjadi, sebab nilai kedua uang kertas itu sama. Biasanya, jika sebuah benda diberi label harga, maka ketika redenominasi berlaku, maka label yang ditempel adalah dua buah. Rp1 juta dan Rp1.000.
Berikut Rp100.000 akan jadi Rp100, Rp50.000 jadi Rp50 dan seterusnya ke bawah. Ketika memasuki wilayah bawah itulah muncul pembicaraan tentang uang lama.
Menurut Buya Letter, dulu pecahan uang memang kecil-kecil. Ada ciek piah Rp100. Berikut sebanggo sama dengan 2,5 sen. Saringgik Rp2,5. sakupang 50 sen, sasuku 50 sen. Sabilih 10 sen, satali 25 sen, sesen, 1 sen dan sarimih 1/2 sen. Inilah pecahan uang paling kecil. Semua dari koin.
Makanya, saat ini kita masih mendengar, “Indak bapitih den sarimih juo do ha.” Atau “Indak barimih den kini doh.” Sering pula terdengar, “Mopiah (lima rupiah) kariang se pitihnyo.”
Usia saya yang hampir 50 tahun, tapi hanya menemukan uang Rp2,5, Rp5, Rp10, Rp25 dan seterusnya ke atas. Nanti, jika penyederhanaan terjadi, maka pecahan uang Indonesia akan makin kecil dengan nilai tetap seperti sekarang, rasanya akan menarik. Di Eropa atau yang terdekat Malaysia dan Singapura, ada pecahan kecil yang banyak. Kalau kita berbelanja di Malaysia, sering tak hafal. Lantas ketika pulang ke Indonesia, koin itu dijadikan oleh-oleh.
Saat ini, Rp1 juta, seikat besar ditukar dengan dolar Amerika, hanya selembar. Membawa uang segepok besar ke luar negeri misalnya, dianggap enteng saja setiba di negeri orang. Satu sisi kita malu juga. Bahkan tak ada tempat penukaran rupiah. Sebagai sebuah bangsa, harga diri sangatlah penting. Harga diri bangsa.
Karena itu, penyederhanaan harus didahului dengan sosialisasi sebutan-sebutan satuan kecil-kecil di tengah masyarakat. Ini penting agar tidak gagap. Sebenarnya sebutan-sebutan mata uang tempo dulu itu, sudah didendangkan dalam lagu Minang. Saya lupa judul lagunya, tapi, ingat beberapa syairnya.
Apapun, saya teringat masa kecil belanja dengan koin. Hampir tidak ada anak kecil memegang uang kertas. Sekarang anak sekolah jajannya ribuan rupiah. Makin tahun nilai rupiah kian rapuh.
Rupiah makin rapuh kepala orang tua makin sakit. Sakit kepala menular kemana-mana karena inflasi kian tinggi. Rakyat semakin merasa miskin. Angka terakhir 30 juta jiwa. Itu angka resmi, yang tidak resmi sekitar 70 juta orang Indonesia miskin.
Di tengah rakyat yang miskin, mata uang kian besar. Uang pecahan Rp500 sudah tak ada, muncul Rp2.000 sebagai gantinya. Uang Rp1.000 sudah dengan koin pula. Makin tak bernilai.
Makin larut dalam ketidakberdayaan. (*)
On 2/20/2011 07:08:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
ANAK bujang itu sendu hatinya. Masih di Sungai Dareh, tapi rasanya sudah jauh di rantau. Ia hendak ke Jambi, membuka lembaran baru. Pagi kemarin, ia tinggalkan kampungnya, memohon izin pada orangtua hendak mengadu nasib di rantau orang.
“Dengan mamakmu di rantau baik-baik ya,” pesan mandehnya. Pesan mandehnya itulah yang kini terngiang-ngiang lagi. Sejak bus berangkat dari Pasa Banto, Bukittinggi, sudah tiga kali ia menangis.
Ini yang ketiga, tatkala bus antre hendak naik pelayangan di Sungai Dareh. Bujang baru pertamakali pergi ke rantau orang. Seperti ada yang direnggutkan dari dadanya, entah apa.
Sungai besar bernama Batang Hari itu membentang jauh ke mudik dan sejauh itu pula ke hilir. Matahari sudah condong ke Barat. Terasa amat jauh dari Bukittinggi, belum juga sampai ke perbatasannya. Tapi si Bujang sudah ngilu di ulu hatinya. Ia ingin berbalik, tapi mana mungkin.
Tapi itu dulu, sebelum 1975, ketika jembatan yang ada sekarang selesai dibangun oleh kontraktor RSCA dari Korea. Jembatan tersebut satu paket dengan Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) yang dibiayaI Korea. Proyek mimpi itu digagas sejumlah gubernur di Sumatra dengan tokohnya Harun Zain. Ketika jalan selesai, rakyat tak menamakannya Jalan Lintas, tapi jalan erse-a. Begitu hebatnya dan satu-satunya.
Cerita tentang jalan itu meluas ke seluruh penjuru Minangkabau. Licin, air di gelas takkan tumpah, sekencang apapun mobil dilarikan. Begitu benarlah rakyat bercerita kala itu.
Kenangan
Ketika Sabtu (19/2) rombongan peserta HUT Hari Pers Nasonal (HPN) 2011 tingkat Sumbar berada di Dharmasraya, sejumlah wartawan sempat menikmati senja di atas jembatan Sungai Dareh, pengganti pelayangan.
Lalulintas Jalinsum sangat sibuk. Truk-truk tonase tinggi berlalu-lalang, entah hendak kemana. Para remaja, seusai mandi, terlihat lambat-lambat dengan pasangannya. Melaju damai dengan motor. Ada yang berhenti di jembatan, menyaksikan sunset di Batang Hari.
Di bawah jembatan arah ke hulu, terlihat sejumlah truk sedang dimuati pasir. Di situlah dulu, pelayangan tertambat, tempat kendaraan diseberangkan. Ribuan orang menjadi saksi, betapa sulitnya hubungan darat antar provinsi ketika itu. Pelayangan yang sama, adalah juga saksi sejarah PDRI, Dewan Banteng di Sumatra Tengah dan PRRI.
Mata hati saya menyaksikan pelayangan itu masih menyisakan romantisme. Pasa Lamo, di sisi Batang Hari, sekarang ditata. Ada sebuah taman bagus di situ, tempat menikmati senja. Air sungai beriak kecil, sebuah perahu melaju ke hulu. Jauh di hilir, sayup, sebuah perahu lain terlihat melintas.
Sungai sejarah peradaban itu sebentar lagi akan disungkup malam.
Langit berwarna lembayung, rombongan kecil dari PWI Sumbar segera beranjak menuju ke Selatan. Kami hendak ke Gunung Medan. Kami tinggalkan Batang Hari halaman rumah bagi penduduk di tepiannya. Sungai itu tempat cinta dan kasih dipautkan, tempat keluh kesah dihanyutkan.
Kami sampai di Umega. Di rumah makan ini, beberapa generasi di atas si Bujang, anak Minang pernah menumpahkan air matanya. Ia pergi merantau tanpa melewati pelayangan lagi. Bukan ke Jambi, tapi ke Surabaya. Naik bus dari Padang Panjang dan ketika malam sampai, ia tiba di Umega.
“Penumpang APD dipersilahkan turun, selamat datang di Umega. Silahkan mencuci muka ke bagian belakang. Dan selamat jalan kepada penumpang Sampagul, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai di tujuan,” sebuah pesan dari pelantang suara menggema, mencabik malam. Remaja dari Batusangkar tadi, tiba-tiba hatinya seperti digunting. Telah jauh juga ia berjalan rupanya. Kekasih hatinya, ia tinggalkan di kampung. Sebentar lagi bus akan melaju membelah malam kian ke Selatan.

Dharmasraya yang tua
Kabupaten Dharmasraya menurut Bupati Adi Gunawan, adalah daerah pemakaran yang sedang mekar-mekarnya. Kabupaten ini terbaik tiga di Indonesia untuk sesama wilayah pemekaran.
Dharmasraya merupakan daerah termuda sekaligus tertua di Provinsi Sumbar. Termuda karena daerah itu baru dimekarkan dari kabupaten induk Sawahlunto Sijunjung tujuh tahun lalu. Sedangkan tertua karena daerah itu merupakan sumber awal peradaban kerajaan masa silam. Bahkan, menurut sejumlah literatur, Kerajaan Minangkabau berasal dari sana.
Karenanya, banyak peninggalan sejarah di Dharmasraya. Candi dan arca-arca bekas peradaban masa lalu seperti sejarah sedang bercakap-cakap dengan langit. Pelayaran Pamayu yang terkenal itu menyisakan patung Adityawarman yang sekarang disimpan di Musem Gadjah. Patung itu ditemukan di Padang Roco, Dharmasraya. Dharmasraya telah menjadi inspriasi hebat bagi Ridjaluddin Shar untuk menulis novel setebal 700 halaman. “Adityawarman, Matahari dari Sumatra,” sebuah novel yang luar biasa.
Kebudayaan yang ada di Dharmasraya dinilai juga menarik untuk diketahui. Dengan datangnya warga transmigrasi dari Pulau Jawa serta ditambah oleh perpindahan penduduk dari pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam, menjadikan daerah itu sangat heterogen dengan pencampuran kebudayaan dari pelbagai etnik dan suku bangsa. Maka jangan heran di sini akan ditemukan kesenian rakyat berupa randai, saluang, rabab, silat, kuda lumping, reog, wayang, ketoprak, calung, angklung, seudati, debus, ratok dan lain-lain.
Selain peninggalan sejarah, daerah yang terkenal kaya akan sumber daya alam ini. Jika dikelola dengan baik, maka makmurlah warganya.
Batang Hari sungai terpanjang di Sumatra yang melintasi Sumatra Barat dan Jambi, kini menjadi satu dari 22 sungai dengan kategori sangat kritis (super critical) di Indonesia. Di hulu, berbagai aktivitas dilakukan.
Sungai itu seolah kelelahan. (*)
On 2/13/2011 06:06:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Wina Armada Sukardi, seorang wartawan senior menjadi moderator dalam sebuah acara Hari Pers Nasional (HPN) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pekan lalu. Ia pun membuat joke dan diceritakan kembali oleh wartawan Darlis Syofyan kepada sejumlah wartawan dari Padang di sebuah rumah makan di Kupang. Karena menarik, ia ulang lagi di Bandara El Tari keesokan harinya.
Begini:
Seorang eksekutif muda menemukan robot pintar dan jujur di Jepang.
Ia pun membelinya, karena istri dan anak-anaknya suka berbohong. Sesampai di rumahnya yang asri di sebuah kota di Indonesia, sang eksekutif memperkenalkan fungsi robot tersebut kepada istri dan anaknya.
Beberapa hari setelah robot piket di depan pintu, anak lelakinya pulang larut malam.
“ Dari mana saja kamu, sudah larut begini baru pulang?”
“Dari rumah teman, diskusi kelompok,” jawab si anak. Sedetik kemudian, tangan robot bergerak memukul kening si anak. Sekejap pula kemudian keningnya berdarah.
“Kamu bohong sama papa,” kata si eksekutif muda.
“Iya Pa, maaf, saya sebenarnya pulang nonton film,” terang si anak. Robot diam dan itu pertanda si anak jujur.
“Nonton film apa?” Papa yang eksekutif ini menyelidik.
“Film koboi”
“Tang!” Kening si anak berdentang lagi kena pukul robot.
“Kamu bohong”
“Iya Pa, maaf, saya habis nonton film porno,” jawab si anak. Robot diam. jujur.
Sebagai ayah, si eksekutif muda teringat pesan moral gurunya di sekolah. Berilah anak contoh yang baik, ajari dengan pengalaman  yang otentik.
“Papa sudah setua ini tidak pernah nonton film porno, ini baru setahun jagung, sudah pandai-pandainya kamu nonton yang jorok-jorok,” kata si Papa.
“Tang...” kepala sang papa ditokok dengan keras oleh robot.
“Papa berdusta pula rupanya,” kata si anak.
“Iya, papa tadi lupa,” katanya.
Si papa waktu muda memang doyan film porno. Oleh robot jujur, berdusta atau lupa, bukan alasan. Asal jawaban tak sesuai kenyataan, kening ditokoknya.
Karena terdengar ribut-ribut, istri si eksekutif keluar dari kamarnya.
“Ada apa ribut-ribut?” Ia terperanjat melihat kening suami dan anaknya berdarah-darah. Ia marahi suaminya.
“Kamu jahat, anak sendiri dipukuli sampai berdarah-darah,” kata sang istri.
“Tangggggg” Robot pun memukul kening sang istri. Berdarah-darah pula.
“Kamu bohong, jadi dia anak siapa?”
“Anakmu, sumpah,” jawab sang istri.
“Drakkk..” sekali lagi ia ditokok robot.
“Anak siapa dia?”
“Maaf, anak saya dan selingkuhan saya,” jawab sang istri.
Robot diam.
Cerita robot Jepang ini, mirip cerita burung beo yang populer di kalangan wartawan Padang. Sering dituturkan oleh Gusfen Khairul dan Hasril Chaniago untuk mengocok perut kami saat jalan ke luar provinsi, semisal acara porwanas atau HPN.
Kalau robot main pukul, beo selalu berkata “selingkuh.... Selingkuh...” kalau suami pulang kerja.
Dengan demikian ketahuanlah tiap hari ia berselingkuh. Akhirnya beo itu ia bunuh, tapi sebelum ajal menjemput, beo masih sempat mengucapkan kata-kata selingkuh. Upaya terakhirnya itu terekam oleh CCTV buatan Jepang yang dipasang di rumahnya.
Makanya jangan suka berbohong pada pasangan Anda.
(*)