On 2/20/2011 07:08:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
ANAK bujang itu sendu hatinya. Masih di Sungai Dareh, tapi rasanya sudah jauh di rantau. Ia hendak ke Jambi, membuka lembaran baru. Pagi kemarin, ia tinggalkan kampungnya, memohon izin pada orangtua hendak mengadu nasib di rantau orang.
“Dengan mamakmu di rantau baik-baik ya,” pesan mandehnya. Pesan mandehnya itulah yang kini terngiang-ngiang lagi. Sejak bus berangkat dari Pasa Banto, Bukittinggi, sudah tiga kali ia menangis.
Ini yang ketiga, tatkala bus antre hendak naik pelayangan di Sungai Dareh. Bujang baru pertamakali pergi ke rantau orang. Seperti ada yang direnggutkan dari dadanya, entah apa.
Sungai besar bernama Batang Hari itu membentang jauh ke mudik dan sejauh itu pula ke hilir. Matahari sudah condong ke Barat. Terasa amat jauh dari Bukittinggi, belum juga sampai ke perbatasannya. Tapi si Bujang sudah ngilu di ulu hatinya. Ia ingin berbalik, tapi mana mungkin.
Tapi itu dulu, sebelum 1975, ketika jembatan yang ada sekarang selesai dibangun oleh kontraktor RSCA dari Korea. Jembatan tersebut satu paket dengan Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) yang dibiayaI Korea. Proyek mimpi itu digagas sejumlah gubernur di Sumatra dengan tokohnya Harun Zain. Ketika jalan selesai, rakyat tak menamakannya Jalan Lintas, tapi jalan erse-a. Begitu hebatnya dan satu-satunya.
Cerita tentang jalan itu meluas ke seluruh penjuru Minangkabau. Licin, air di gelas takkan tumpah, sekencang apapun mobil dilarikan. Begitu benarlah rakyat bercerita kala itu.
Kenangan
Ketika Sabtu (19/2) rombongan peserta HUT Hari Pers Nasonal (HPN) 2011 tingkat Sumbar berada di Dharmasraya, sejumlah wartawan sempat menikmati senja di atas jembatan Sungai Dareh, pengganti pelayangan.
Lalulintas Jalinsum sangat sibuk. Truk-truk tonase tinggi berlalu-lalang, entah hendak kemana. Para remaja, seusai mandi, terlihat lambat-lambat dengan pasangannya. Melaju damai dengan motor. Ada yang berhenti di jembatan, menyaksikan sunset di Batang Hari.
Di bawah jembatan arah ke hulu, terlihat sejumlah truk sedang dimuati pasir. Di situlah dulu, pelayangan tertambat, tempat kendaraan diseberangkan. Ribuan orang menjadi saksi, betapa sulitnya hubungan darat antar provinsi ketika itu. Pelayangan yang sama, adalah juga saksi sejarah PDRI, Dewan Banteng di Sumatra Tengah dan PRRI.
Mata hati saya menyaksikan pelayangan itu masih menyisakan romantisme. Pasa Lamo, di sisi Batang Hari, sekarang ditata. Ada sebuah taman bagus di situ, tempat menikmati senja. Air sungai beriak kecil, sebuah perahu melaju ke hulu. Jauh di hilir, sayup, sebuah perahu lain terlihat melintas.
Sungai sejarah peradaban itu sebentar lagi akan disungkup malam.
Langit berwarna lembayung, rombongan kecil dari PWI Sumbar segera beranjak menuju ke Selatan. Kami hendak ke Gunung Medan. Kami tinggalkan Batang Hari halaman rumah bagi penduduk di tepiannya. Sungai itu tempat cinta dan kasih dipautkan, tempat keluh kesah dihanyutkan.
Kami sampai di Umega. Di rumah makan ini, beberapa generasi di atas si Bujang, anak Minang pernah menumpahkan air matanya. Ia pergi merantau tanpa melewati pelayangan lagi. Bukan ke Jambi, tapi ke Surabaya. Naik bus dari Padang Panjang dan ketika malam sampai, ia tiba di Umega.
“Penumpang APD dipersilahkan turun, selamat datang di Umega. Silahkan mencuci muka ke bagian belakang. Dan selamat jalan kepada penumpang Sampagul, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai di tujuan,” sebuah pesan dari pelantang suara menggema, mencabik malam. Remaja dari Batusangkar tadi, tiba-tiba hatinya seperti digunting. Telah jauh juga ia berjalan rupanya. Kekasih hatinya, ia tinggalkan di kampung. Sebentar lagi bus akan melaju membelah malam kian ke Selatan.

Dharmasraya yang tua
Kabupaten Dharmasraya menurut Bupati Adi Gunawan, adalah daerah pemakaran yang sedang mekar-mekarnya. Kabupaten ini terbaik tiga di Indonesia untuk sesama wilayah pemekaran.
Dharmasraya merupakan daerah termuda sekaligus tertua di Provinsi Sumbar. Termuda karena daerah itu baru dimekarkan dari kabupaten induk Sawahlunto Sijunjung tujuh tahun lalu. Sedangkan tertua karena daerah itu merupakan sumber awal peradaban kerajaan masa silam. Bahkan, menurut sejumlah literatur, Kerajaan Minangkabau berasal dari sana.
Karenanya, banyak peninggalan sejarah di Dharmasraya. Candi dan arca-arca bekas peradaban masa lalu seperti sejarah sedang bercakap-cakap dengan langit. Pelayaran Pamayu yang terkenal itu menyisakan patung Adityawarman yang sekarang disimpan di Musem Gadjah. Patung itu ditemukan di Padang Roco, Dharmasraya. Dharmasraya telah menjadi inspriasi hebat bagi Ridjaluddin Shar untuk menulis novel setebal 700 halaman. “Adityawarman, Matahari dari Sumatra,” sebuah novel yang luar biasa.
Kebudayaan yang ada di Dharmasraya dinilai juga menarik untuk diketahui. Dengan datangnya warga transmigrasi dari Pulau Jawa serta ditambah oleh perpindahan penduduk dari pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam, menjadikan daerah itu sangat heterogen dengan pencampuran kebudayaan dari pelbagai etnik dan suku bangsa. Maka jangan heran di sini akan ditemukan kesenian rakyat berupa randai, saluang, rabab, silat, kuda lumping, reog, wayang, ketoprak, calung, angklung, seudati, debus, ratok dan lain-lain.
Selain peninggalan sejarah, daerah yang terkenal kaya akan sumber daya alam ini. Jika dikelola dengan baik, maka makmurlah warganya.
Batang Hari sungai terpanjang di Sumatra yang melintasi Sumatra Barat dan Jambi, kini menjadi satu dari 22 sungai dengan kategori sangat kritis (super critical) di Indonesia. Di hulu, berbagai aktivitas dilakukan.
Sungai itu seolah kelelahan. (*)

0 komentar :

Posting Komentar