On 3/18/2011 04:54:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Setelah dierami ayam, anak itik cigin masuk air. “Di luar adat kita nak, jangan masuk air,” kata ayam. Tapi si anak cuek bebek.  Ia tak peduli.
“Jangan ganggu ibuku,” kata anak pisang yang tumbuh mengelilingi ibunya. Dipancung, ia tumbuh lagi, dipancung tumbuh lagi. Ditebang, datang yang baru.
“Jangan ganggu ibuku,” kata si anak pisang. Anak pisang pantang mati sebelum berbuah.
“Buk izinkan aku pergi, nanti aku akan lekas pulang,” kata anak kunci pada ibunya. Anak kunci membuat nyaman ibu dan rumah besar tenpat ibunya ditugasi menjaga banyak benda berharga.
“Jangan lasak juga, marasai benar ibu olehmu,” kata batu lado (tempat gilingan cabai) pada anak batu lado. Tapi si anak tak mau tahu. Ia menari dan berdansa terus, hingga akhirnya ibunya kian pipih.
“Jaga anak ya, aku cari makan dulu,” kata ibu puyuh pada suaminya. Ia terbang menyuruk-nyuruk mencari makan demi anak dan suaminya.
“Kenapa ayah bu, kok belum pulang juga?” anak ayam bertanya pada ibunya. Ayam jantan si gajo kokok itu, gila maggarese saja ke sana ke mari. Mencari ayam betina, anak tak ia urus.
“Sudah, saya sudah bertelur biarkan saja mau jadi anak atau tidak, terserah,” kata itik pada suaminya. Dan telur itu dierami ayam.
Ayah dan ibu bekerjasama membesarkan anaknya. Berhujan berpanas, dikejar pemburu, tapi kedua orangtua ini dengan gigih melindungi anaknya. Itulah keluarga balam.
“Lai jaleh? itu pengajaran ambo ari ko, (Sudah jelas? Itu pengajaran saya hari ini) “ kata Buya Bagindo Letter kepada beberapa orang, termasuk saya di rumah makan Cik Elok Khatib Sulaiman, Padang, pekan lalu.
Kurang masuk ke otak saya pengajaran Buya itu, karena makan kekenyangan. Untung saya catat di telepon genggam. Kebiasaan menjadi wartawan, mencatat segala sesuatunya, sangat baik. Ketika kita memerlukannya tinggal perlu dibaca lagi. Kali ini nasihat Buya Letter itu, saya bagi kepada Anda semua.
Sebenarnya pada kesempatan lain hal yang sama sudah ia sampaikan pula kepada saya. Tapi waktu di Khatib Sulaiman, ia lupa bilang tentang “anak peluru” . Anak peluru sekali meninggalkan rumah, takkan pernah kembali lagi. Begitu lepas, ia akan menciderai orang lain.
Ia menyarankan jadilah anak pisang yang menjaga ibu dengan sepenuh jiwa. Dan katanya, jadilah keluarga balam yang membagi tanggungjawab dengan mizan kasih sayang.
Sebagai anak, jadilah anak pisang, pesan Letter. Tapi anak pisang tak pernah merantau. Bisa jadi perpaduan antara anak pisang dan anak kunci, mirip dengan kebiasaan merantau orang Minang.
Mungkin karena hal-hal semacam di atas maka orang Minang punya filosofi alam takambang jadi guru. Apa saja fenomena alam bisa dijadikan pelajaran, asal kita mau.Ah, terserahlah. Anak-anak Anda adalah anak zaman. (*)

0 komentar :

Posting Komentar