On 3/18/2011 04:54:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
“Kita produk masa lalu, kita berteman karena masa lalu, bukan karena pekerjaan sekarang,” kata Etty Kasyanti, teman kami semasa kuliah dulu.
“Benar,” kata Kudri, teman saya, teman dia pula.
“Ya itu dia,” sambung Ristapawa Indra, teman yang paling senior di antara kami berempat. Mereka bertandang ke kantor saya.
Kami sama-sama belajar di jurusan sejarah FIPS IKIP Padang. Di antara kami berempat, saya paling yunior.
“Ba uda lah ka den lai,” kata Kudri, sekwan DPRD Agam itu. Tapi, ia tak bisa bersikeras benar pada saya, karena ia wartawan Singgalang. Saya atasannya he he he.
Kami berteman bukan karena keadaan hari ini, tapi karena proses masa lampau. Ketika kuliah ke Padang dari daerah masing-masing, tiap orang meninggalkan teman dan sahabatnya. Di Padang ia menemukan penggantinya. “Pergilah merantau, kamu akan mendapatkan ganti dari teman dan sahabatmu,” kata Imam Syafei. Kutipan itu saya baca dalam novel A Fuadi, Ranah 3 Warna.
Sekejap kami mengenang banyak hal tentang masa-masa kuliah. Ada yang nyambung dengan ingatan saya, ada yang tidak. Tak soal benar, sebab tokoh dalam ceritanya, saya kenal, karena satu jurusan.
Masa lalu, adalah sejemput kenangan yang sering menemui seseorang. Kadang datang tak terduga, lain kali datang diundang. Ada kebahagiaan kecil atau besar di masa lampau, ketika bersirobok di masa kini bisa membuat kita bahagia tak terperi. Bisa pula membuat celaka. Cinta misalnya semasa di SMA misalnya.
Soal cinta, kami sebenarnya iri melihat Atik, sapaan Ety Kasyanti. Kemana pergi selalu berdua dengan suaminya si Kopral itu. Ia suka bercanda, apalagi dengan suaminya sendiri.
Ibu guru yang satu ini murah senyum dan dermawan. Seingat saya, banyak isi dompetnya terkuras karena urusan teman-temannya sejak masa kuliah dulu.
Hari ini, banyak yang berubah dari kami, terutama penampilan, rezeki dan kepala. Kepala dalam artian sesungguhnya, juga rambut yang tumbuh di atasnya. Ada yang botak, ada yang beruban seperti saya. Yang botak tentulah Kudri dan satu lagi Ridwan Idma serta Wahdini Purba, teman kami semasa kuliah.
Di antara teman itu, ada yang kami lupa namanya, lupa-lupa ingat bahkan ada yang tak bertemu lagi sama-sekali. Entah kemana dia. Mengingat teman yang seolah lenyap ditelan bumi seperti itu, sering membuat kita rindu.
Bisa jadi karena itulah rembulan hadir di tengah malam menemami manusia yang merindukan banyak hal. Lukisan abadi ibu memeluk anak pada rembulan itu, seolah menemani anak manusia kemanapun ia melangkah. Malam adalah lautan ketidakpastian. Malam adalah juga tempat sunyi melabuhkan diri.
Saya tak bisa membayangkan jika kita tak punya teman. Padahal seribu teman belum cukup, satu musuh terlalu banyak. Dengan datangnya teman masa kuliah ke ruangan kerja saya, membuat hati ini riang. Bukankah hati yang riang adalah obat.
“Kita produk masa lalu, kita berteman karena masa lalu, bukan karena pekerjaan sekarang”
Kata-kata bijak, tak selalu lahir dari situasi yang serius, sambil bercanda pun bisa. Karena itu, bercandalah dengan teman-temanmu. Itu perlu. *

0 komentar :

Posting Komentar