On 3/25/2011 05:08:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Minta nomor si anu ciek, “ SMS seorang teman masuk ke HP saya. Nomor yang diminta saya kirim. Tak ada balasan lagi dari dia. Saya juga tak peduli lagi.
Hal semacam itu terjadi hampir tiap hari. Kalau lagi “musimnya”, bisa 10 kali setiap hari SMS serupa masuk. Semua dilayani. Hal yang saya alami, terjadi pula pada orang lain.
Suatu ketika saya meminta nomor seseorang kepada teman. Ia kirim, kemudian ia SMS saya.
“Lah co operator den, (sudah seperti operator saya) “ kata dia.
“He he he he,”
“Wk wk wk wk,” jawabnya.
Teman itu berkisah, soal seluk-beluk telepon genggam, kisahnya juga pernah saya alami. Suatu ketika, katanya, HP nya rusak, sehingga nomor yang tersimpan hilang. Terdengar sebuah dering, ia angkat.
“Hallo?”
“Di ma ang? (dimana kamu?)”
“Sedang bekerja, siapa ini?”
“Sok lo ang, ndak tau ang jo den lai, ndak bacatat nomor den? (Sombong kami, tidak tahu lagi dengan saya, apa tidak dicatat nomor saya?)
“Maaf, HP den ilang di angkot, ko HP baru mah, tapi kantau” kata si teman.
Ia jelaskan, HP nya rusak dan semua nomor hilang. Tapi si teman tak bisa menerima. Ia tetap percaya si teman sombong.
Peristiwa kedua dialami teman lain pula. Seorang temannya semasa sekolah dulu menelepon. Ia menyesali teman saya tak kenal lagi dengan dia, padahal, selama berpuluh tahun tak bersua dan tentu tak saling punya no HP. Tapi ia sama-sekali tidak bisa menerima kenyataan itu. Baginya, begitu ia bilang “hallo”, maka harus dijawab dengan riang gembira dan harus langsung tahu siapa dia.
Saya sendiri sering pula demikian, si teman langsung menyebut nama kecil saya ketika berbicara di HP dan sampai percakapan selesai, saya tak tahu siapa dia.
Sering pula masuk SMS dari teman ke HP saya  tapi nomornya tak ada. Belakangan banyak nomor di HP saya yang hilang, karena HP saya kena virus.
“Dima, pai wak bisuak? (dimana, pergi kita besok?) sebuah SMS.
“Caliak lu, (lihat dulu) jawab saya. Setelah itu tak ada lagi SMS.
Sepintas contoh di atas memang mengesankan seseorang sombong. Tapi, harap diingat, HP adalah benda yang gampang rusak. Bahkan hilang. Konsekwensinya, semua catatan lenyap. Pada saat itulah siapa yang menelepon tidak akan diketahui, kecuali orang-orang yang sudah sangap akrab.
Selain HP hilang, bisa juga nomornya tak tercatat, karena memang tak ada, lantas apanya yang dicatat.
Karena itu, dalam berkomunikasi dengan HP, kita harus rela menerima caci-maki teman lama atau teman biasa, ketika ia menganggap kita sombong.
Sebaliknya kepada siapa saja, seharusnya mencantumkan nama atau inisial di belakang SMS yang dikirim. Bukan apa-apa, tapi bisa jadi teman kita baru saja kehilangan HP, atau kartunya rusak, jadi ia ganti yang baru. Dengan mencantumkan nama dua hal terbantu, pertama membiasakan diri memperkenalkan siapa kita, kedua membantu teman yang kehilangan nomor. Si teman akan menyimpan kembali nomor Anda, begitu SMS Anda masuk, itupun jika SMS dibumbuhi inisial.
Dalam menelepon juga begitu, sebutkan nama terlebih dahulu, kecuali begitu kita bilang “hallo” ia langsung tahu siapa Anda. Tapi jangan tiap menelepon menyebut nama sendiri, dicekeknyo kaniang awak dek kawan. Dikira-kira sajalah, siapa yang mungkin mulai lupa dengan kita.
“Pak ambo KJ,”
“Yo ambo tau, angku tu KJ. A kaba?”
“ He he he, mau tau Pak lupo,”
“Palasik, angku kecek-an sombong den.”
“Kecek urang iyo.”
“Beko wak basuo, angku caliak yo sombong den ndak. Eee bilo wak pai?
Ah, kamari pentang, susah-susah sulit. (*)

0 komentar :

Posting Komentar